Meski hina, Titin bertahan
demi suatu alasan. “Saya
sebenarnya menolak, saya
gak mau menjadi sampah
masyarakat, saya gak mau.
Tetapi, demi anak saya,
saya mau ngelakuin apa aja.
Apa yang dibilang orang
tentang saya, saya gak
pernah dengerin.”
Lambat laun perasaan jijik
itu terlupakan dan uang
menjadi penawarnya. “Yang
ada dalam pikiran saya,
Cuma uang, uang, uang dan
uang. Saya mau tunjukkin
sama mantan suami saya
bahwa tanpa dia, saya bisa
menghidupi anak saya”
Seorang pria kaya berhasil
ia pikat. “Saya dijadiin istri
muda..Kebetulan dari istri
yang tua, dia tidak punya
anak. Habis itu hubungan
kami diketahui istri tua.”
Untuk kedua kalinya, Titin
harus merasakan sakit
dicampakkan oleh pria.
Dendamnya pun semakin
bergejolak. “Bukan hanya
laki-laki yang bisa menyakiti
perempuan, bahkan
perempuan pun bisa lebih
melakukannya. Saya juga
bisa balas dendam sama
semua laki-laki”
Pria ini adalah Robert, tamu
langganan panti. Entah
kenapa, ada sesuatu yang
berbeda darinya. “Untuk pria
yang satu ini, dia baik, dia
memperhatikan saya lebih
dan dia tidak memandang
saya hina seperti orang-
orang memandang saya.
mulai dari situ, kami tinggal
serumah”
“Waktu itu hanya mencari
kepuasan aja. Ya, saya
berpikir daripada saya
mengeluarkan uang. Jadi,
saya tinggal bersamanya
sebatas karena kebutuhan
nafsu saja,” ujar Robert
Hutabarat.
Hubungan Titin dan Robert
semakin intim dan dalam.
Rahasia dan sisi gelap
mereka mulai terkuak.
“Ternyata, waktu itu dia gak
benar-benar berhenti.
Waktu itu, dia mengenal
seorang pria yang berduit,
mampu menopang hidup dia.
Waktu itu saya juga
berpikir, ya gapapa ia
berhubungan dengan pria
tersebut, yang penting uang
tersebut dibawa ke rumah.
Itulah pikiran jahat saya
waktu. Walaupun saya tahu
dia menjalin hubungan
dengan pria lain, saya
biarkan saja. Jadi, ibarat
kasarnya, saya menjual
Titin”
Satu tahun mereka hidup
satu atap tanpa status
sampai akhirnya atas
desakan keluarga, mereka
menikah. Babak baru pun
akan segera dimulai.
“Memang waktu itu kita
menikah bukan atas dasar
cinta, tetapi nafsu. Jadi,
untuk memikirkan Titin saja,
tidak terlintas dalam pikiran
saya,” kata pria berkumis
tipis tersebut.
Sikap dingin Robert semakin
membuat Titin dipenuhi rasa
curiga.
”Iya, kalau dia pulang
terlambat, saya itu
pikirannya jelek. Jadi, saya
pikir dia mampir ke panti
lagi”
“Lewat setengah jam dari
pulang kerja udah dia ribut.
‘Kamu darimana, begini
begitu’, Padahal saya sendiri
tidak mau diatur seperti itu,”
kata Robert.
Titin mulai naik pitam,
amarahnya siap untuk
meledak.
”Ya, udah saya tinggal tidur.
Nah dia, kalau udah begitu,
dia lompat. Itu saya ditekan
dari atas, ditidurin,
pokoknya saya tidak bisa
bergerak. Udah diam aja
begitu kayak batu,” kenang
Robert.
“Biasanya saya tidak hanya
pukul saya, saya peluk dia
dari belakang sampai
sekencang-kencangnya.
Saya gak mau kalah lagi,
saya gak mau disakitin lagi.
jadi sebelum dia sakitin
saya, saya duluin”
Di bawah alam sadarnya,
dendam Titin terhadap
seorang pria dilampiaskan
kepada suaminya. Berkali-
kali Robert menjadi bulan-
bulanan amarah Titin.
"Kalau dibilang saya ini
otoriter banget. Maunya apa
yang saya bilang dia harus
turutin. Jadi, keputusan itu
seolah-olah ada di tangan
saya. Saya yang harus
mengatur semuanya. Saya
tidak pernah merasa itu ada
kesalahan saya dan harus
memperbaiki itu. Yang ada
dalam pikiran saya adalah ya
dia memang salah ”
“Kalau udah begitu, saya
keluar, jalan entah kemana.
Kalau udah capek jalan, ya
saya berhenti dan pulang
lagi. Waktu itu saya berpikir,
bagaimana berhentikan ini
keluarga,” ujar Robert.
Titin sadar oleh tangannya
sendiri, keluarganya
perlahan-lahan hancur.
Keputusasaan mulai
mengusik batinnya.
“Kok saya begini ya. Kok
saya itu galak. Saya sadar
saya cerewet. Lama
kelamaan saya rindu bahwa
saya gak mau seperti ini.
Saya pengen berubah”
Sebuah titik terang muncul
secara tidak sengaja.
Berawal saat ia mengantar
anaknya belajar, rasa
penasaran Titin
membawanya ke sebuah
ibadah. Di tempat itu ia
menemukan sebuah jawaban.
“Hal pengampunan. Di saat
itu saya belum bisa
mengampuni mantan suami
saya. Pada saat firman
Tuhan disampaikan, saya
benar-benar menangis. Saya
menyadari semua kesalahan
saya ada di depan saya.
Bahkan saya anggap diri
saya tidak berguna. Saya itu
lebih hina dari sampah”
Hati Titin kacau. Rasa sakit
teramat dalam membuatnya
sulit untuk menerima
kebenaran itu sampai ia
ditantang untuk membuang
semua masa lalunya.
“Kebetulan ada formulir.
Formulir itu berisi tentang
apa aja yang ingin kita
lepaskan. Saya menulis
tentang pelacur. Tidak
gampang untuk mengakui
semua itu karena itulah yang
saya sembunyiin selama
hidup saya. Juga mengenai
mantan suami saya. Semua
saya tulis tanpa terkecuali”
Saat itu, Titin juga ditantang
untuk melakukan apa yang
tidak diinginkan selama ini.
“Ketika ada tantangan untuk
maju, saya maju. Saya
katakan, ‘Saya banyak
kesalahan ya Tuhan, bahkan
saya berlumuran dosa ”
“Yang saya ingat, cuma
Tuhan kasih saya kekuatan,
‘Aku pun bisa, Aku mati di
atas kayu salib. Aku bisa
mengampuni semua
kesalahan kamu. Kamu
siapa?’ Tuhan angkat saya,
semua dosa-dosa diampuni
oleh-Nya, saya ini siapa?’
Saya harus bisa mengampuni
dia yang menyakiti saya.
Saya mengampuni Haryono,
apapun kesalahannya saya
bisa mengampuni dia.”
“Itu rasanya legaaaa banget.
Saya Udah gak ada pikiran
dendam atau marah. Saya
juga bisa menyebut ayah
saya, mertua saya”
Hari itu adalah awal yang
baru bagi Titin. Dengan
penuh keberanian, ia juga
mendatangi suaminya dan
mengakui kesalahannya
selama ini.
“Saya bisa terbuka bahkan
sama suami saya yang
selama ini saya
sembunyikan. Saya sudah
bisa mengakui. Saya minta
maaf, saya minta ampun”
“Dia meminta maaf, dia basuh
kaki saya. Saya bingung.
Habis itu Dia bilang, ‘Saya
minta maaf atas apa yang
selama ini saya perbuat.
Saya mau memulai hidup baru
sebagai istri yang seperti
Tuhan inginkan’” kata
Robert.
Perubahan drastis juga Titin
lakukan dengan melepaskan
semua harta yang pernah ia
terima dari pria lain.
“Di depan saya waktu itu dia
telepon itu si bapak, ‘Cukup,
saya gak mau seperti ini lagi.
Saya mau hidup saya
berubah,” kisah Robert.
“Jadi memang gak mudah.
Gak segampang, ‘O..bisa
kok’ tapi ternyata nggak.
Tapi, di dalam Tuhan tidak
ada yang mustahil. Asal kita
berserah diri sama Tuhan,
semuanya bisa”
Bukan hanya Titin yang
dipulihkan, perlahan-lahan
pernikahannya pun
mengalami pemulihan.
“Saya ambil komitmen bahwa
saya harus benar-benar
total mengasihi keluarga ini.
Entah itu anaknya berapa
kalau memang dia istri yang
kukasihi, itu dia bagian dari
tulang rusuk saya. Itu bisa
semua saya terima. Bahkan
anaknya yang besar, saya
usahakan sekolah disini,”
ujar Robert.
“Saya mau hidup saya
dipakai oleh Tuhan. Jadi, apa
yang kami lakukan
sekeluarga kami serahkan
sama Tuhan. Jadi, apa
maunya Tuhan, kami ikut aja
deh,” kata Titin menutup
kesaksiannya.
Kisah ini ditayangkan 31
Mei 2010 dalam acara Solusi
Life di O'Channel.
Sumber Kesaksian:
Titin Sumarsih
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment