Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno
Pentakosta merupakan kekuatan besar dan indah dalam kehidupan orang percaya di tengah jaman yang semakin gelap. Dalam perjalanan sejarah, dunia makin menjadi postmodern yang relativistik, skeptik dan agnostik karena pada hakekatnya manusia telah mencapai titik dimana ia mulai kecewa serta putus asa khususnya ketika hendak mengerti kebenaran, melakukan pertimbangan dengan tepat, mengambil keputusan dan hidup secara benar. Ketika ia meyakini sesuatu itu benar, suatu saat terbukti anggapannya salah.
Karl Popper, filsuf science, pernah menekankan bahwa dunia terus berteori dan tiap teori hanya menunggu kejatuhannya. Tapi manusia tak boleh berhenti berteori karena sangat diperlukan. Akhirnya muncullah falsification (false = salah) dimana tiap orang hanya melempar teori termasuk science. Contohnya, dulu selama ribuan tahun, teori geosentris (oleh Ptolemeus) dipercaya benar. Suatu saat Galileo menumbangkannya dengan teori heliosentris yang kemudian didukung oleh Copernicus. Padahal juga belum tentu benar. Contoh lain, dulu orang juga percaya pada teori Newton. Sekarang, teori tersebut dianggap kuno dan tak akurat. Sebagai gantinya, muncullah teori relativitas oleh Einstein. Maka terjadilah pergeseran paradigma. Ilustrasinya, teori falsifikasi diibaratkan seperti segenggam jagung dilempar ke tengah sekumpulan ayam. Orang yang melemparkannya tinggal menunggu jagung tersebut habis. Setelah itu, dilemparkan lagi segenggam jagung dan seterusnya. Selain Karl Popper, ada filsuf science lain yang juga sangat terkenal yaitu Thomas Kuhn. Ia berpendapat bahwa dunia science menjadi sekedar permainan pergeseran paradigma. Sebenarnya dengan segala macam teori, dunia hanya ingin mencapai kebenaran asasi.
Di dunia, manusia masuk ke dalam ketegangan dimana sifat skeptisisme dan pragmatisme mulai meracuni hingga tak seorangpun berhak menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa pegangan hidupnya benar. Abad 21 sungguh mendapat warisan postmodern system dari abad 20 yang mirip gerakan sophies di jaman filsafat Yunani kuno. Dalam gerakan tersebut juga tiap hari ada orang berteori baru hingga dibentuk teater khusus yaitu aeropagus. Paulus pernah mengajar Kekristenan di sana. Bahkan 200 tahun sebelum Tuhan lahir ke dunia, skeptisisme, agnostik dan relativisme telah merajalela. Harus disadari bahwa masalah tersebut memang tak dapat diselesaikan selamanya.
Sesungguhnya dunia mendapat conviction (keyakinan) akan kebenaran hanya dari Kristus (Yoh 18:37). Ironisnya, ketika berhadapan denganNya, Pilatus dengan sinis langsung jawab, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh 18:38a) Sebenarnya ia tak bermaksud bertanya melainkan justru tak mau tahu tentang kebenaran. Ayat 38b mencatat bahwa setelah itu ia langsung keluar.
Semakin mau belajar, dunia makin jatuh ke dalam skeptisisme karena ketika mencari kebenaran, mereka malah melupakan, menolak dan tak berusaha menemukan sumbernya terlebih dulu yaitu Allah. Padahal semakin pandai, seharusnya makin sadar sedang bermain dengan kebenaran palsu. Inilah gejala ironik yang fatal dalam dunia akademis modern. Itu pula titik pertama mereka membodohi diri sendiri karena mengabaikan Ams 1:7.
Secara signifikan, orang yang bukan anak Tuhan sejati takkan memiliki Roh Kudus dalam dirinya. Tuhan pernah berdoa, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu.” (Yoh 17:9)
Pengajaran Kristus sesungguhnya terdiri dari 3 level berdasarkan cara Ia mengajarkannya yang berbeda dengan kebanyakan guru: (1)general teaching (pengajaran umum). Seringkali Ia menggunakan cerita dan perumpamaan tanpa penjelasan lebih jauh apalagi doktrin penting karena didengar oleh banyak orang. Pengajaran tersebut bersifat sangat dasar. (2)extensial teaching. Pengajaran tersebut diberikan pada kelompok kecil terdiri dari mereka yang berkomitmen kepadaNya. Mereka biasanya bertanya dan minta penjelasan yang tak diperoleh dalam general teaching. Contohnya tercatat di Mat 13. Dan mereka mampu mengerti karena telah mendapat anugerah (Mat 13:10-13). Namun Ia tetap tak membuka beberapa bagian. (3)exclusive teaching. Pengajaran tersebut hanya bagi murid sejati. Jikalau didengar oleh murid palsu, ia takkan mampu mengerti. Sebaliknya malah memanipulasi dan menyesatkannya.
Banyak orang Kristen berpikir bahwa Roh Kudus akan membuat hal spektakuler. Padahal itu bukan misiNya. Kalau sekedar mukjizat dsb, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sebelum Roh Kudus turun, semua dapat dikerjakan. Banyak juga yang menyalahgunakan dengan menyatakan bahwa Ia menyebabkan kesurupan. Pengertian tentang Ia tinggal dalam diri anak Tuhan memang sulit dimengerti sebelum terjadi pertobatan. Cara kerjaNya tentu beda dengan Setan yang suka menguasai dan merasuk orang hingga tak sadar sedangkan Ia memimpin. Beberapa Gereja rusak karena mengatasnamakan pekerjaan Setan sebagai karyaNya. Contoh, ketawa sambil berguling-guling tiada henti bahkan berhari-hari.
Pekerjaan Roh Kudus membuat orang Kristen berada dalam Tuhan. Inilah the main point. Yoh 14:25-26 menunjukkan bahwa pengertian tentang Dia harus dikoneksikan dengan pusatNya yaitu Kristus. Selain itu juga dijelaskan bahwa Ia memiliki 2 tugas di dunia, “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah (Kristus) Kukatakan kepadamu.” Ia takkan pernah mengajar dari DiriNya karena Kristuslah Firman yang berinkarnasi (Yoh 16:13-15). Maka jikalau ada yang mengatakan bahwa Ia memberi ajaran baru yang bertentangan dengan Kristus, itu pasti pekerjaan Setan. Dengan demikian, signifikansi hari Pentakosta antara lain:
Pertama, peranan Roh Kudus dalam pengajaran iman, kebenaran dan prinsip Firman. Di dunia, Roh Kudus berposisi sebagai pengganti Kristus setelah kenaikanNya. Maka Ia menjadi sumber kebenaran dalam diri orang percaya. Inilah anugerah pertama terbesar dan terutama. Betapa bahagia anak Tuhan yang dididik dengan ketajaman pengertian karena sumber kebenaran telah jadi bagian hidupnya. Berbahagialah orang yang takluk dan tunduk kepada Allah. Realita tersebut tak dapat dimengerti dengan logika apalagi perasaan. Tanpa semua itu, orang berani menaikkan diri melampaui segalanya, melakukan dan mengatakan apapun.
Roh Kudus takkan berbagi dengan kegelapan. Prinsip kebenaran timbul dalam hidup orang Kristen karena Ia mulai mencerahkan pikirannya. Untuk itu, takkan ada gejala aneh. Memang Alkitab mencatat 4 tanda turunnya Roh Kudus yaitu di Yerusalem, Yudea, Samaria dan ujung bumi. Setelah itu, takkan pernah terjadi lagi. Di Yerusalem, Ia turun dalam rupa lidah api ke atas kepala para rasul agar semua orang mengetahui penggenapan janjiNya. Lalu mereka langsung berkhotbah dalam bahasa Yahudi tapi terdengar dalam 14 bahasa (Kis 2:1-13). Akibatnya, 3000 orang bertobat. Namun intinya bukan pada lidah api melainkan adanya perubahan internal.
Ketika belum bertobat, Paulus menganggap diri paling pandai dan benar. IQnya memang sangat tinggi dan tahu segala pengetahuan seperti Taurat, filsafat Yunani dan Yahudi. Tapi setelah pertobatan, ia mengaku bodoh karena tak mengerti bahwa kebenaran sejati justru berada dalam Kristus sehingga tega membunuh para murid.
Kedua, pekerjaan Roh Kudus memimpin dan mencerahkan pengertian interpretasi orang Kristen tentang kebenaran. Ketika Tuhan mengajar, tak semuanya dapat segera dimengerti karena tak mudah menangkap terobosan pemikiran melampaui logika. Contoh, Yoh 14:1-14. Namun suatu hari Roh Kudus pasti membuat mereka mengerti maksud Tuhan. Orang Kristen cenderung lebih suka iman yang sesuai logika. Padahal bagian tertinggi Alkitab justru sangat tajam dan teliti hingga melampaui pemikiran. Maka diperlukan interpretasi realita yang tepat. Dan itu di luar kuasa manusia. Ironisnya, mereka seringkali take it for granted.
Ketiga, Roh Kudus mengingatkan orang Kristen akan segala perkataan Kristus atau Firman yang sangat solid. Hanya mereka yang lahir baru dan mendapat pembasuhan darahNya boleh menikmati anugerah tersebut. Ia mencelikkan dan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:7-11). Ia takkan membiarkan umat Allah bermain dengan dosa. TanpaNya, manusia dengan tenang berbuat dosa mengikuti bisikan Setan. Ketika diingatkan, ia malah marah dan melawan.
Selain mengingatkan, Ia juga memberitahukan kebenaran yang seharusnya dijalankan. Ia memimpin anak Tuhan masuk ke dalam righteousness (kebenaran berproses) dan bukan truth (kebenaran azasi). Hanya Kristuslah the Truth sedangkan manusia masih harus diproses dalam kebenaran.
Kadangkala orang Kristen enggan membaca Alkitab dengan sungguh. Padahal Roh menyatakan Diri melalui Firman. Semua yang pernah dikatakan sebelumnya pasti digenapi. Alkitab mencatat mulai dari dunia dicipta hingga kesudahannya, atau dari alpha menuju omega point. Dengan kata lain, Firman menyatakan totality sejarah manusia.
Orang Kristen seharusnya membaca Alkitab mulai dari bagian awal hingga terakhir berulang kali namun tak perlu dihafalkan. Dengan demikian, ia dapat mengalami Roh Kudus yang senantiasa mengingatkan dan menguatkannya. Di tengah kondisi sulit, tiba-tiba Firman muncul kembali dalam ingatan meskipun ayatnya tak hafal. Ketika mendengar ajaran sesat, Firman langsung menyadarkannya. Sedangkan ketika tak ada masalah, Firman yang pernah dibaca sepertinya mengendap dalam pikiran.
Roh Kudus juga mengingatkan adanya keadilan mutlak dari Tuhan. Penghakiman yang tercatat di Yoh 16:11 sangat positif. Orang Kristen seharusnya menyadari bahwa penghakiman pasti datang. Jadi, ketika difitnah atau diperlakukan secara tak adil, ia sebaiknya tenang dan tak membantah karena Roh Kudus mengetahui perbuatan dan pikirannya. Karena orang lain tak tahu motivasinya hingga timbul rasa tak percaya maka penjelasan tak berguna sama sekali. Makin bereaksi menunjukkan Roh Kudus tak ada dalam dirinya hingga ia merasa ketakutan. Padahal ketika anak Tuhan dipermainkan maka itu menjadi urusan Allah.
Selain itu, penghakiman juga dapat berkonotasi negatif. Ketika berdosa, orang Kristen pasti menerima hukuman karena Roh penghakiman tinggal dalam dirinya. Ia berusaha menghalanginya berbuat dosa. Orang lain dapat dikelabui tapi Roh Kudus tidak.
Jadi, penghakiman seharusnya membuat orang Kristen lebih tenang dalam pelayanan. Roh Kudus merupakan kekuatan untuk melangkah dan tetap hidup dalam terang di tengah dunia yang makin gelap. Di dunia yang skeptik, ia telah memiliki kebenaran pasti. Ketika dunia bingung dengan segala keputusan hidup, ia dengan tenang dapat minta pimpinanNya yang tak mungkin salah. Amin.?[b]
Wednesday, April 28, 2010
Apakah Sudah Terlambat?
Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : PARAKALEO No. 2 Edisi: April-Juni 2005
Penulis/Narasumber : Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D
Penerbit :
Halaman : 1-3
Apakah yang harus kami lakukan jikalau segala nasehat sudah tidak mempan lagi, dan anak kami tetap pacaran dengan orang yang tidak seiman? Pertanyaan ini seringkali muncul pada saat ada seminar tentang pernikahan dan keluarga Kristen. Memang hidup sebagai anak- anak Tuhan di tengah dunia yang berdosa ini selalu menghadapi risiko kontaminasi dan kehilangan. Apalagi setelah kita kurang berhasil membekali anak-anak kita dengan pertumbuhan pribadi yang cukup.
Pergaulan yang terbuka selalu membuka peluang untuk menjadi bebas, sehingga anak-anak kita berjumpa, berinteraksi, membangun keakraban, dan bahkan lebih dari itu. Satu pihak, realita ini wajar dan sehat, tetapi pihak lain menjadi ajang pergumulan yang sangat serius karena menentukan wujud kehidupan yang akan mereka jalani kelak. Bekal yang kurang, akan membuat anak-anak kita menjadi manusia yang digerakkan oleh insting yang primitif. Sehingga pikiran, perasaan, dan orientasi hidupnya semata-mata pada pencarian pemenuhan kebutuhan daging. Sebaliknya, dengan bekal yang lebih sehat mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang berjiwa dewasa, yang arah tujuan hidupnya diatur oleh prinsip dan sistim nilai yang tinggi. Dengan demikian, pergaulan yang terbuka, yang memang seringkali tak terhindari, tidak akan menjadi pergaulan bebas. Rasa tertariknya kepada individu yang lain pun tidak terletak pada penampilan luar, tetapi pada kehidupan batinnya. Bahkan sebagai orang beriman, ia tidak mungkin mempunyai ketertarikan untuk mengikatkan diri dengan individu-individu yang tidak seiman.
Sayang sekali, realita hidup tidak selalu seperti yang seharusnya. Banyak anak orang beriman yang lahir dan tumbuh dengan bekal yang kurang, memasuki masa remaja dengan "role confusion/kebingungan peran". Mereka tidak mempunyai prinsip dan sistim nilai yang cukup, sehingga mereka sangat rapuh di tengah pergaulan mereka. Kondisi yang tidak menguntungkan ini seringkali masih ditambah lagi dengan watak keras kepala maunya sendiri dan menutup pintu terhadap nasehat kedua orangtuanya. Sebagai contoh, coba perhatikan kasus di bawah ini.
Mindi (bukan nama sesungguhnya) merasa bahwa kedua orangtuanya terlalu kolot dan prejudis terhadap agama dan suku yang lain. Mindi memang remaja yang suka bergaul, sehingga dengan kecantikannya ia begitu cepat populer di sekolah atau di mana saja ia berada. Ia bangga bisa berkawan dengan siapa saja sehingga untuk segala urusan, termasuk cari bahan-bahan contekan, ia begitu mudah mendapatkannya.
Sejak di bangku SMP, bapak dan ibu Purnomo (ayah dan ibu Mindi), sudah melihat gelagat pemberontakan anak keduanya ini. Mindi memang berani melawan, dan kata-katanya seringkali dirasakan kurang ajar. Ia sudah beberapa kali minggat dan menginap di rumah temannya.
Hari ini bapak dan ibu Purnomo datang untuk meminta bantuan Anda. Mereka bingung sekali menghadapi sikap Mindi yang terlalu dekat dengan Anto pemuda putus sekolah yang pernah dipenjara karena menjadi pengedar ganja. Rasanya peran orangtua sudah tidak ada lagi. Nasihat, dari lembut sampai kasar sudah diberikannya. Apa yang harus dilakukan?
Menghadapi kasus "sudah terlambat" seperti ini memang tidak mudah. Posisi dilematik dari kedua orangtua ini dapat dirasakan. Meskipun demikian, beberapa prinsip konseling di bawah ini dapat Anda pertimbangkan, yaitu a.l.:
1.
Kembali ke basic dan serahkan semua persoalan dan kekuatiran Anda kepada Tuhan.
Menghadapi kondisi yang dilematik, hampir selalu manusia terjebak pada pencarian resep sehingga fokus perhatian terikat pada fenomena persoalan. Artinya, menghadapi kondisi sejenis ini, manusia hampir selalu mengutamakan pertanyaan bernuansa resep "why and how" padahal pertanyaan terpenting sebenarnya adalah "what". Artinya, "apa" yang sudah dan sedang terjadi dan "apa" peran orang percaya di tengah kondisi tersebut.
Hubungan antara bapak dan ibu Purnomo dengan Mindi merupakan realita interaksi dari sistim komunikasi yang disfungsional. Apa yang sudah terjadi adalah kesalahan interaksi yang membentuk sistim komunikasi yang tidak dialogis. Manifestasi kepribadian Mindi yang seringkali tidak disukai bapak dan ibu Purnomo telah memancing mereka mengambil sikap mencoba menaklukkan atau menjinakkan Mindi. Suatu keinginan yang wajar tetapi ketidak berhasilannya sudah menghasilkan pembentukan sistim dengan muatan-muatan prasangka negatif. Akibatnya, hubungan tersebut memasuki tahapan komunikasi yang cukup rawan akan ekses. [Tahapan komunikasi antara orangtua "yang cukup baik" dan anak "yang difficult":
1.
Tahap persiapan pembentukan sistim.
Pada tahap ini (usia lahir sampai 6 bulan), sikap orangtua diatur oleh keinginan untuk "merasa bahagia dengan kehadiran anak tsb.". Sebagian besar orangtua mencoba menciptakan suasana supaya anak senang. Pelayanan diberikan maksimal, tetapi umumnya diakhiri dengan "mental fatigue," karena anak tersebut rewel dan sulit di-handled.
2.
Tahap awal pembentukan sistim (usia sampai kira-kira tahun masuk sekolah).
Pada tahap ini orangtua sudah mulai memakai kekerasan atau punishment untuk menaklukan si anak. Biasanya metode tersebut tidak berhasil, dan anak mulai memanipulir inconsistency/ketidakjelasan sikap orangtua.
3.
Tahap tengah pembentukan sistim (usia mulai sekolah sampai pra remaja).
Pada tahap ini, kedua belah pihak merasakan adanya "tug of war" dengan masing-masing memakai peran yang keliru untuk saling menaklukan.
4.
Tahap puncak pembentukan sistim (usia mulai dari remaja).
Pada tahap ini masing-masing pihak sudah mempunyai prasangka negatif/prejudice sehingga niat baik pun ditanggapi negatif.]
Hubungan antara mereka sudah masuk dalam tahapan puncak pembentukan sistem, sehingga upaya apa pun juga tak akan berhasil memperbaiki komunikasi yang sudah ada. Ekses-ekses negatif sudah ada (minggat, bergaul, dan pacaran dengan individu yang bermasalah tanpa rasa takut mengecewakan kedua orangtuanya).
Meskipun demikian, di tengah kondisi dimana kemampuan manusia "sudah terhenti", kita sebagai orang beriman masih mempunyai pengharapan. Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, yang masih terus memberikan kesempatan bagi anak-anak-Nya untuk bertobat. Pertobatan yang sejati akan menempatkan mereka dalam posisi yang benar dihadapan-Nya sehingga pilihannya menjadi pilihan dari orang-orang benar yang sedang meresponi panggilan Allah (Yesaya 44:22). Dengan pertobatan, bapak dan ibu Purnomo tidak lagi menjadi individu-individu yang sedang terjebak kerumitan hidup oleh karena kesalahannya sendiri. Jadi:
1.
Bapak ibu Purnomo harus mulai dengan langkah pertama, yaitu pertobatan. Mereka harus waspada, karena pertobatan dalam konteks seperti ini biasanya justru sulit sekali karena naturnya "subtle" dan kesalahan dan dosanya seringkali tidak benar-benar disadari. Dosa struktural yang seringkali mengambil bagian dalam proses kehidupan natural ini seringkali diulang-ulang sehingga membentuk sistem seolah-olah hidup memang harus dijalani demikian. Sebagai contoh, kedua orangtua bekerja sehingga di tengah sempitnya waktu mereka tidak pernah secara khusus dan terencana mendidik anak-anak mereka. Mereka menyerahkan pengasuhan anak mereka pada babysitter dan hanya bereaksi natural spontan atas gejala-gejala yang muncul dari anak mereka. Jelaslah, dalam konteks dosa struktural seperti ini peran dan tanggung jawab orangtua sebenarnya diabaikan.
Alkitab menyaksikan manifestasi dosa struktural seperti ini berulang kali dengan risiko yang berat sekali. Imam Eli misalnya, ia harus menerima akibat yang begitu mengerikan karena kelalaian meresponi peran dan tanggung jawab sebagai orangtua atas anak-anaknya (1Samuel 3:11-14). Kesadaran atas dosa struktural seperti ini memang harus dipupuk dan dihidupkan, atau pertobatan sebenarnya tidak pernah terjadi.
2.
Bapak ibu Purnomo harus belajar mengenal dan menghidupi "basics" tanggung jawab mereka sebagai orangtua Kristen. Pertobatan sejati biasanya akan disertai dengan tindakan kembali ke posisi yang semestinya. Oleh sebab itu, orangtua yang bertobat haruslah mengenal dan belajar menghidupi prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan sekitar tanggung jawab orangtua terhadap anak-anak mereka. Sebagai contoh, seperti yang tercantum dalam kitab Ulangan 6:7-9, yaitu supaya komunikasi pribadi terbina dengan isi percakapan sekitar kebenaran firman Allah. Kalau tadinya komunikasi yang dibangun secara alami merupakan pertukaran pikiran dan perasaan subjektif tentang hal-hal tertentu, maka sekarang komunikasi harus dibangun secara sengaja sebagai dialog antarpribadi dengan isi kebenaran firman Allah. Bagaimana itu dapat begitu saja tercipta setelah komunikasi menjadi rusak?
PERTAMA, pertobatan yang sejati akan memberikan "hati yang baru" pada bapak ibu Purnomo. Sehingga mereka berdua diperbaharui baik dalam perasaan, sikap, maupun cara pandang mereka atas apa saja yang dikomunikasikan Mindi anak mereka tersebut. Untuk itu, mereka harus waspada atas reaksi spontan insting mereka sendiri dan belajar mengontrolnya.
KEDUA, mereka harus terus-menerus berdoa memohon pertolongan, penguasaan diri, dan kebijaksanaan dari Tuhan. Untuk itu mereka perlu membekali diri dengan bacaan-bacaan yang memang diperlukan, dan bertemu dengan konselor secara rutin sehingga tahapan langkah-langkah yang diambil dapat direncanakan dengan baik.
2.
Perlakukan Mindi secara dewasa, sehingga pendekatan lama yang semata-mata untuk mengontrol dan menaklukkan harus ditanggalkan.
Memang risikonya selalu ada, tetapi dengan bekal bagian I, yaitu pertobatan yang sejati, bapak dan ibu Purnomo tidak lagi berhadapan dengan Mindi sebagai pribadi dengan kelemahan- kelemahannya. Mereka sekarang melihat Mindi dengan kaca mata dan perspektif baru yaitu sebagai "hamba-hamba Tuhan menghadapi jemaat yang terjerat dengan dosa." Itulah sebabnya, mereka mampu berkomunikasi secara dewasa, tidak lagi terjerat muatan subjektivitas perasaan dan pikiran mereka sendiri. Belas kasihan dari Tuhan akan hadir dan mengalir melalui hati, pikiran, perasaan, dan sikap mereka berdua sehingga Mindi akan mengalami suatu pengalaman yang baru yang akan memberikan kesadaran yang baru pula. Minimal, Mindi akan mulai bisa berkomunikasi secara dialogis dengan kedua orangtuanya, sehingga masalah demi-masalah dapat dibicarakan secara objektif dalam terang kebenaran firman Allah.
Apa yang dihasilkan kemudian, terserah kepada Mindi sendiri. Tetapi bapak ibu Purnomo sudah melaksanakan apa yang memang seharusnya dilakukan orangtua Kristen menghadapi kasus "terlambat". Tuhan memberkati.
Judul Buku/Buletin : PARAKALEO No. 2 Edisi: April-Juni 2005
Penulis/Narasumber : Pdt. Yakub B. Susabda, Ph.D
Penerbit :
Halaman : 1-3
Apakah yang harus kami lakukan jikalau segala nasehat sudah tidak mempan lagi, dan anak kami tetap pacaran dengan orang yang tidak seiman? Pertanyaan ini seringkali muncul pada saat ada seminar tentang pernikahan dan keluarga Kristen. Memang hidup sebagai anak- anak Tuhan di tengah dunia yang berdosa ini selalu menghadapi risiko kontaminasi dan kehilangan. Apalagi setelah kita kurang berhasil membekali anak-anak kita dengan pertumbuhan pribadi yang cukup.
Pergaulan yang terbuka selalu membuka peluang untuk menjadi bebas, sehingga anak-anak kita berjumpa, berinteraksi, membangun keakraban, dan bahkan lebih dari itu. Satu pihak, realita ini wajar dan sehat, tetapi pihak lain menjadi ajang pergumulan yang sangat serius karena menentukan wujud kehidupan yang akan mereka jalani kelak. Bekal yang kurang, akan membuat anak-anak kita menjadi manusia yang digerakkan oleh insting yang primitif. Sehingga pikiran, perasaan, dan orientasi hidupnya semata-mata pada pencarian pemenuhan kebutuhan daging. Sebaliknya, dengan bekal yang lebih sehat mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang berjiwa dewasa, yang arah tujuan hidupnya diatur oleh prinsip dan sistim nilai yang tinggi. Dengan demikian, pergaulan yang terbuka, yang memang seringkali tak terhindari, tidak akan menjadi pergaulan bebas. Rasa tertariknya kepada individu yang lain pun tidak terletak pada penampilan luar, tetapi pada kehidupan batinnya. Bahkan sebagai orang beriman, ia tidak mungkin mempunyai ketertarikan untuk mengikatkan diri dengan individu-individu yang tidak seiman.
Sayang sekali, realita hidup tidak selalu seperti yang seharusnya. Banyak anak orang beriman yang lahir dan tumbuh dengan bekal yang kurang, memasuki masa remaja dengan "role confusion/kebingungan peran". Mereka tidak mempunyai prinsip dan sistim nilai yang cukup, sehingga mereka sangat rapuh di tengah pergaulan mereka. Kondisi yang tidak menguntungkan ini seringkali masih ditambah lagi dengan watak keras kepala maunya sendiri dan menutup pintu terhadap nasehat kedua orangtuanya. Sebagai contoh, coba perhatikan kasus di bawah ini.
Mindi (bukan nama sesungguhnya) merasa bahwa kedua orangtuanya terlalu kolot dan prejudis terhadap agama dan suku yang lain. Mindi memang remaja yang suka bergaul, sehingga dengan kecantikannya ia begitu cepat populer di sekolah atau di mana saja ia berada. Ia bangga bisa berkawan dengan siapa saja sehingga untuk segala urusan, termasuk cari bahan-bahan contekan, ia begitu mudah mendapatkannya.
Sejak di bangku SMP, bapak dan ibu Purnomo (ayah dan ibu Mindi), sudah melihat gelagat pemberontakan anak keduanya ini. Mindi memang berani melawan, dan kata-katanya seringkali dirasakan kurang ajar. Ia sudah beberapa kali minggat dan menginap di rumah temannya.
Hari ini bapak dan ibu Purnomo datang untuk meminta bantuan Anda. Mereka bingung sekali menghadapi sikap Mindi yang terlalu dekat dengan Anto pemuda putus sekolah yang pernah dipenjara karena menjadi pengedar ganja. Rasanya peran orangtua sudah tidak ada lagi. Nasihat, dari lembut sampai kasar sudah diberikannya. Apa yang harus dilakukan?
Menghadapi kasus "sudah terlambat" seperti ini memang tidak mudah. Posisi dilematik dari kedua orangtua ini dapat dirasakan. Meskipun demikian, beberapa prinsip konseling di bawah ini dapat Anda pertimbangkan, yaitu a.l.:
1.
Kembali ke basic dan serahkan semua persoalan dan kekuatiran Anda kepada Tuhan.
Menghadapi kondisi yang dilematik, hampir selalu manusia terjebak pada pencarian resep sehingga fokus perhatian terikat pada fenomena persoalan. Artinya, menghadapi kondisi sejenis ini, manusia hampir selalu mengutamakan pertanyaan bernuansa resep "why and how" padahal pertanyaan terpenting sebenarnya adalah "what". Artinya, "apa" yang sudah dan sedang terjadi dan "apa" peran orang percaya di tengah kondisi tersebut.
Hubungan antara bapak dan ibu Purnomo dengan Mindi merupakan realita interaksi dari sistim komunikasi yang disfungsional. Apa yang sudah terjadi adalah kesalahan interaksi yang membentuk sistim komunikasi yang tidak dialogis. Manifestasi kepribadian Mindi yang seringkali tidak disukai bapak dan ibu Purnomo telah memancing mereka mengambil sikap mencoba menaklukkan atau menjinakkan Mindi. Suatu keinginan yang wajar tetapi ketidak berhasilannya sudah menghasilkan pembentukan sistim dengan muatan-muatan prasangka negatif. Akibatnya, hubungan tersebut memasuki tahapan komunikasi yang cukup rawan akan ekses. [Tahapan komunikasi antara orangtua "yang cukup baik" dan anak "yang difficult":
1.
Tahap persiapan pembentukan sistim.
Pada tahap ini (usia lahir sampai 6 bulan), sikap orangtua diatur oleh keinginan untuk "merasa bahagia dengan kehadiran anak tsb.". Sebagian besar orangtua mencoba menciptakan suasana supaya anak senang. Pelayanan diberikan maksimal, tetapi umumnya diakhiri dengan "mental fatigue," karena anak tersebut rewel dan sulit di-handled.
2.
Tahap awal pembentukan sistim (usia sampai kira-kira tahun masuk sekolah).
Pada tahap ini orangtua sudah mulai memakai kekerasan atau punishment untuk menaklukan si anak. Biasanya metode tersebut tidak berhasil, dan anak mulai memanipulir inconsistency/ketidakjelasan sikap orangtua.
3.
Tahap tengah pembentukan sistim (usia mulai sekolah sampai pra remaja).
Pada tahap ini, kedua belah pihak merasakan adanya "tug of war" dengan masing-masing memakai peran yang keliru untuk saling menaklukan.
4.
Tahap puncak pembentukan sistim (usia mulai dari remaja).
Pada tahap ini masing-masing pihak sudah mempunyai prasangka negatif/prejudice sehingga niat baik pun ditanggapi negatif.]
Hubungan antara mereka sudah masuk dalam tahapan puncak pembentukan sistem, sehingga upaya apa pun juga tak akan berhasil memperbaiki komunikasi yang sudah ada. Ekses-ekses negatif sudah ada (minggat, bergaul, dan pacaran dengan individu yang bermasalah tanpa rasa takut mengecewakan kedua orangtuanya).
Meskipun demikian, di tengah kondisi dimana kemampuan manusia "sudah terhenti", kita sebagai orang beriman masih mempunyai pengharapan. Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, yang masih terus memberikan kesempatan bagi anak-anak-Nya untuk bertobat. Pertobatan yang sejati akan menempatkan mereka dalam posisi yang benar dihadapan-Nya sehingga pilihannya menjadi pilihan dari orang-orang benar yang sedang meresponi panggilan Allah (Yesaya 44:22). Dengan pertobatan, bapak dan ibu Purnomo tidak lagi menjadi individu-individu yang sedang terjebak kerumitan hidup oleh karena kesalahannya sendiri. Jadi:
1.
Bapak ibu Purnomo harus mulai dengan langkah pertama, yaitu pertobatan. Mereka harus waspada, karena pertobatan dalam konteks seperti ini biasanya justru sulit sekali karena naturnya "subtle" dan kesalahan dan dosanya seringkali tidak benar-benar disadari. Dosa struktural yang seringkali mengambil bagian dalam proses kehidupan natural ini seringkali diulang-ulang sehingga membentuk sistem seolah-olah hidup memang harus dijalani demikian. Sebagai contoh, kedua orangtua bekerja sehingga di tengah sempitnya waktu mereka tidak pernah secara khusus dan terencana mendidik anak-anak mereka. Mereka menyerahkan pengasuhan anak mereka pada babysitter dan hanya bereaksi natural spontan atas gejala-gejala yang muncul dari anak mereka. Jelaslah, dalam konteks dosa struktural seperti ini peran dan tanggung jawab orangtua sebenarnya diabaikan.
Alkitab menyaksikan manifestasi dosa struktural seperti ini berulang kali dengan risiko yang berat sekali. Imam Eli misalnya, ia harus menerima akibat yang begitu mengerikan karena kelalaian meresponi peran dan tanggung jawab sebagai orangtua atas anak-anaknya (1Samuel 3:11-14). Kesadaran atas dosa struktural seperti ini memang harus dipupuk dan dihidupkan, atau pertobatan sebenarnya tidak pernah terjadi.
2.
Bapak ibu Purnomo harus belajar mengenal dan menghidupi "basics" tanggung jawab mereka sebagai orangtua Kristen. Pertobatan sejati biasanya akan disertai dengan tindakan kembali ke posisi yang semestinya. Oleh sebab itu, orangtua yang bertobat haruslah mengenal dan belajar menghidupi prinsip-prinsip kebenaran firman Tuhan sekitar tanggung jawab orangtua terhadap anak-anak mereka. Sebagai contoh, seperti yang tercantum dalam kitab Ulangan 6:7-9, yaitu supaya komunikasi pribadi terbina dengan isi percakapan sekitar kebenaran firman Allah. Kalau tadinya komunikasi yang dibangun secara alami merupakan pertukaran pikiran dan perasaan subjektif tentang hal-hal tertentu, maka sekarang komunikasi harus dibangun secara sengaja sebagai dialog antarpribadi dengan isi kebenaran firman Allah. Bagaimana itu dapat begitu saja tercipta setelah komunikasi menjadi rusak?
PERTAMA, pertobatan yang sejati akan memberikan "hati yang baru" pada bapak ibu Purnomo. Sehingga mereka berdua diperbaharui baik dalam perasaan, sikap, maupun cara pandang mereka atas apa saja yang dikomunikasikan Mindi anak mereka tersebut. Untuk itu, mereka harus waspada atas reaksi spontan insting mereka sendiri dan belajar mengontrolnya.
KEDUA, mereka harus terus-menerus berdoa memohon pertolongan, penguasaan diri, dan kebijaksanaan dari Tuhan. Untuk itu mereka perlu membekali diri dengan bacaan-bacaan yang memang diperlukan, dan bertemu dengan konselor secara rutin sehingga tahapan langkah-langkah yang diambil dapat direncanakan dengan baik.
2.
Perlakukan Mindi secara dewasa, sehingga pendekatan lama yang semata-mata untuk mengontrol dan menaklukkan harus ditanggalkan.
Memang risikonya selalu ada, tetapi dengan bekal bagian I, yaitu pertobatan yang sejati, bapak dan ibu Purnomo tidak lagi berhadapan dengan Mindi sebagai pribadi dengan kelemahan- kelemahannya. Mereka sekarang melihat Mindi dengan kaca mata dan perspektif baru yaitu sebagai "hamba-hamba Tuhan menghadapi jemaat yang terjerat dengan dosa." Itulah sebabnya, mereka mampu berkomunikasi secara dewasa, tidak lagi terjerat muatan subjektivitas perasaan dan pikiran mereka sendiri. Belas kasihan dari Tuhan akan hadir dan mengalir melalui hati, pikiran, perasaan, dan sikap mereka berdua sehingga Mindi akan mengalami suatu pengalaman yang baru yang akan memberikan kesadaran yang baru pula. Minimal, Mindi akan mulai bisa berkomunikasi secara dialogis dengan kedua orangtuanya, sehingga masalah demi-masalah dapat dibicarakan secara objektif dalam terang kebenaran firman Allah.
Apa yang dihasilkan kemudian, terserah kepada Mindi sendiri. Tetapi bapak ibu Purnomo sudah melaksanakan apa yang memang seharusnya dilakukan orangtua Kristen menghadapi kasus "terlambat". Tuhan memberkati.
Tips: Tentang Pacaran Kristen
Tips: Tentang Pacaran Kristen
Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : Pastoral Konseling
Penulis/Narasumber : Yakub B. Susabda
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 120 - 123
Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:
1. Proses Peralihan dari "Subjective Love" ke "Objective Love."
"Subjective love" sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu "kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima". Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan "sinful nature"nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan "subjective love". Dan "subjective love" ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan "subjective love" menjadi "objective love". Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.
2. Proses Peralihan dari "Envious Love" ke "Jealous Love."
"Envious" sering diterjemahkan sama dengan "jealous" yaitu cemburu. Padahal "envious" mempunyai pengertian yang berbeda. "Envious" adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan "jealous" adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang "jealous", yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.
Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan "jealous love". Mereka tidak boleh menuntut "sesuatu" yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari "Romantic Love" ke "Real Love."
"Romantic love" adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa "kehidupan ini manis semata-mata". Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada "romantic love". Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:
* apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
* apakah dia memang orang yang begitu sabar, "caring", penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
* apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?
Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal "dimabuk cinta". Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari "Activity Center" ke "Dialog Center."
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu "activity- center". Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi "center"nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, "I and Thou", by Walter Kauffmann, Charles Scribner's Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari "Sexual Oriented" ke "Personal Oriented."
Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah "keharusan". Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.
Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:
a. Imannya.
Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7) lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat- tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?
b. Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?
c. Temperamennya.
Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?
d. Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya, baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?
Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.
Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran- pemikiran:
1. Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.
2. Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar ... atau kami ingin selalu bercumbuan saja.
3. Saya rasa "dia akan meninggalkan saya" kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
4. Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.
Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : Pastoral Konseling
Penulis/Narasumber : Yakub B. Susabda
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 120 - 123
Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:
1. Proses Peralihan dari "Subjective Love" ke "Objective Love."
"Subjective love" sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu "kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima". Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan "sinful nature"nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan "subjective love". Dan "subjective love" ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan "subjective love" menjadi "objective love". Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.
2. Proses Peralihan dari "Envious Love" ke "Jealous Love."
"Envious" sering diterjemahkan sama dengan "jealous" yaitu cemburu. Padahal "envious" mempunyai pengertian yang berbeda. "Envious" adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan "jealous" adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang "jealous", yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.
Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan "jealous love". Mereka tidak boleh menuntut "sesuatu" yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari "Romantic Love" ke "Real Love."
"Romantic love" adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa "kehidupan ini manis semata-mata". Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada "romantic love". Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:
* apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
* apakah dia memang orang yang begitu sabar, "caring", penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
* apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?
Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal "dimabuk cinta". Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari "Activity Center" ke "Dialog Center."
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu "activity- center". Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi "center"nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, "I and Thou", by Walter Kauffmann, Charles Scribner's Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari "Sexual Oriented" ke "Personal Oriented."
Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah "keharusan". Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.
Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:
a. Imannya.
Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7) lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat- tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?
b. Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?
c. Temperamennya.
Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?
d. Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya, baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?
Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.
Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran- pemikiran:
1. Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.
2. Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar ... atau kami ingin selalu bercumbuan saja.
3. Saya rasa "dia akan meninggalkan saya" kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
4. Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.
Tips Pacaran Kristen | Tips Lov
=
1. Proses Peralihan dari “Subjective Love” ke “Objective Love.”
“Subjective love” sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu “kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima”. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan “sinful nature”nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan “subjective love”. Dan “subjective love” ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan “subjective love” menjadi “objective love”. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.
2. Proses Peralihan dari “Envious Love” ke “Jealous Love.”
“Envious” sering diterjemahkan sama dengan “jealous” yaitu cemburu. Padahal “envious” mempunyai pengertian yang berbeda. “Envious” adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan “jealous” adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang “jealous”, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.
Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan “jealous love”. Mereka tidak boleh menuntut “sesuatu” yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari “Romantic Love” ke “Real Love.”
“Romantic love” adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada “romantic love”. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:
* apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
* apakah dia memang orang yang begitu sabar, “caring”, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
* apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?
Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari “Activity Center” ke “Dialog Center.”
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu “activity- center”. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi “center”nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, “I and Thou”, by Walter Kauffmann, Charles Scribner’s Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari “Sexual Oriented” ke “Personal Oriented.”
Pacaran bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.
1. Proses Peralihan dari “Subjective Love” ke “Objective Love.”
“Subjective love” sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu “kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima”. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan “sinful nature”nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan “subjective love”. Dan “subjective love” ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan “subjective love” menjadi “objective love”. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.
2. Proses Peralihan dari “Envious Love” ke “Jealous Love.”
“Envious” sering diterjemahkan sama dengan “jealous” yaitu cemburu. Padahal “envious” mempunyai pengertian yang berbeda. “Envious” adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan “jealous” adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang “jealous”, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.
Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan “jealous love”. Mereka tidak boleh menuntut “sesuatu” yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari “Romantic Love” ke “Real Love.”
“Romantic love” adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada “romantic love”. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:
* apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
* apakah dia memang orang yang begitu sabar, “caring”, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
* apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?
Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari “Activity Center” ke “Dialog Center.”
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu “activity- center”. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi “center”nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, “I and Thou”, by Walter Kauffmann, Charles Scribner’s Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari “Sexual Oriented” ke “Personal Oriented.”
Pacaran bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.
Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:
Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:
1. Proses Peralihan dari Subjective Love ke Objective Love.
Subjective love sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan sinful naturenya, setiap anak kecil telah belajar mengembangkan subjective love. Dan subjective love ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan subjective love menjadi objective love. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima
2. Proses Peralihan dari Envious Love ke Jealous Love.
Envious sering diterjemahkan sama dengan jealous yaitu cemburu. Padahal envious mempunyai pengertian yang berbeda.Envious adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan jealous adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang jealous, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya. Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan jealous love. Mereka tidak boleh menuntut sesuatu yang bukan atau belum menjadi haknya ( seperti: hubungan seksual pra-nikah, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari Romantic Love ke Real Love.
Romantic love adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa kehidupan ini manis semata-mata. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada romantic love. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal: - apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya, - apakah dia memang orang yang begitu sabar, caring, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan - apakah realita hidup akan seperti ini terus penuh cumbu-rayu,rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan) Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal dimabuk cinta. Pacaran Kristen boleh?dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari Activity Center ke Dialog Center.
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu activity-center. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi centernya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, I and Thou, by Walter Kauffmann, Charles Scribner's Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari Sexual Oriented ke Personal Oriented.
Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb,bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran memang tidak lain daripada masa persiapan pernikahan.
Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah keharusan. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.
Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:
* Imannya.
Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7)?lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat-tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani
* Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua Apakah ia menghargai pendapat orang lain
* Temperamennya.
Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka Apakah emosinya cukup stabil
* Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya,baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.
Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.
Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran-pemikiran berikut:
* Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.
* Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar ... atau kami ingin selalu bercumbuan saja.
* Saya rasa dia akan meninggalkan saya kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
* Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.
*- Sumber -*-:
Judul Buku: Pastoral Konseling
Penulis : Yakub B. Susabda
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 120 - 123
1. Proses Peralihan dari Subjective Love ke Objective Love.
Subjective love sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan sinful naturenya, setiap anak kecil telah belajar mengembangkan subjective love. Dan subjective love ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan subjective love menjadi objective love. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima
2. Proses Peralihan dari Envious Love ke Jealous Love.
Envious sering diterjemahkan sama dengan jealous yaitu cemburu. Padahal envious mempunyai pengertian yang berbeda.Envious adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan jealous adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang jealous, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya. Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan jealous love. Mereka tidak boleh menuntut sesuatu yang bukan atau belum menjadi haknya ( seperti: hubungan seksual pra-nikah, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari Romantic Love ke Real Love.
Romantic love adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa kehidupan ini manis semata-mata. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada romantic love. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal: - apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya, - apakah dia memang orang yang begitu sabar, caring, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan - apakah realita hidup akan seperti ini terus penuh cumbu-rayu,rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan) Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal dimabuk cinta. Pacaran Kristen boleh?dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari Activity Center ke Dialog Center.
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu activity-center. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi centernya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, I and Thou, by Walter Kauffmann, Charles Scribner's Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari Sexual Oriented ke Personal Oriented.
Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb,bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran memang tidak lain daripada masa persiapan pernikahan.
Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah keharusan. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.
Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:
* Imannya.
Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7)?lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat-tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani
* Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua Apakah ia menghargai pendapat orang lain
* Temperamennya.
Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka Apakah emosinya cukup stabil
* Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya,baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.
Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.
Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran-pemikiran berikut:
* Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.
* Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar ... atau kami ingin selalu bercumbuan saja.
* Saya rasa dia akan meninggalkan saya kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
* Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.
*- Sumber -*-:
Judul Buku: Pastoral Konseling
Penulis : Yakub B. Susabda
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 120 - 123
Ada seorang gadis kecil berdiri di khalayak ramai sementarai ayahnya memberikan suatu kesaksian tentang apa yang telah diperbuat Tuhan dalam hidupnya. Dia menyaksikan bagaimana Tuhan telah menyelamatkan dia dan menarik dia dari gaya hidupnya sebagai seorang pemabuk.
Pada hari itu ada seorang sinis yang berdiri di antara kerumunan tersebut yang tidak tahan lagi mendengar segala percakapan kosong tentang agama tersebut. Dia berteriak, "Kenapa anda tidak duduk dan diam saja, orang tua. Anda hanyalah bermimpi."
Tak beberapa lama, orang ini merasa ada tarikan di lengan jaketnya. Dia menoleh ke bawah dan ternyata itu adalah gadis kecil ini. Anak itu menatapnya dan berkata, "Tuan, itu adalah ayah saya yang kamu sedang cakapkan. Anda mengatakan ayah saya seorang pemimpi? Biar saya ceritakan kepada kamu tentang ayah saya.
"Ayah saya dulu seorang pemabuk dan malam-malam pulang ke rumah, dan memukul ibu saya. Ibu menangis sepanjang malam. Dan tuan, kami tidak memiliki pakaian-pakaian bagus untuk dipakai kerana ayah saya membelanjakan seluruh wangnya untuk whiski. Kadang-kadang saya tidak memiliki kasut untuk dikenakan ke sekolah. Tapi lihatlah kasut dan baju ini! Ayah saya mempunyai pekerjaan yang baik sekarang!".
Lalu sambil menunjuk ke suatu arah, dia mengatakan, "Adakah anda melihat seorang wanita yang sedang tersenyum di sana? Itu adalah ibu saya. Dia tidak menangis sepanjang malam lagi sekarang. Sekarang dia menyanyi."
Kemudian suatu pukulan yang hebat. Anak itu berkata, "TUHAN telah merubah ayah saya. TUHAN telah mengubah rumah kami. Tuan, jika ayah saya sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan dia!"
Pada hari itu ada seorang sinis yang berdiri di antara kerumunan tersebut yang tidak tahan lagi mendengar segala percakapan kosong tentang agama tersebut. Dia berteriak, "Kenapa anda tidak duduk dan diam saja, orang tua. Anda hanyalah bermimpi."
Tak beberapa lama, orang ini merasa ada tarikan di lengan jaketnya. Dia menoleh ke bawah dan ternyata itu adalah gadis kecil ini. Anak itu menatapnya dan berkata, "Tuan, itu adalah ayah saya yang kamu sedang cakapkan. Anda mengatakan ayah saya seorang pemimpi? Biar saya ceritakan kepada kamu tentang ayah saya.
"Ayah saya dulu seorang pemabuk dan malam-malam pulang ke rumah, dan memukul ibu saya. Ibu menangis sepanjang malam. Dan tuan, kami tidak memiliki pakaian-pakaian bagus untuk dipakai kerana ayah saya membelanjakan seluruh wangnya untuk whiski. Kadang-kadang saya tidak memiliki kasut untuk dikenakan ke sekolah. Tapi lihatlah kasut dan baju ini! Ayah saya mempunyai pekerjaan yang baik sekarang!".
Lalu sambil menunjuk ke suatu arah, dia mengatakan, "Adakah anda melihat seorang wanita yang sedang tersenyum di sana? Itu adalah ibu saya. Dia tidak menangis sepanjang malam lagi sekarang. Sekarang dia menyanyi."
Kemudian suatu pukulan yang hebat. Anak itu berkata, "TUHAN telah merubah ayah saya. TUHAN telah mengubah rumah kami. Tuan, jika ayah saya sedang bermimpi, tolong jangan bangunkan dia!"
Kesatuan iman bagi pasangan Kristian
Shallom saudara/i...
Hari ini saya terdorong untuk membawa saudara/i untuk berkongsi tentang topik ini. Sebelum itu, saya ingin berdoa untuk mendapatkan lebih pengetahuan sebelum saya menghuraikan firman Tuhan pada kali ini.
Haleluya Tuhan...terima kasih atas kasihMu yang tidak berbelah bahagi bagi kami..kasihMu yang cukup sempurna. Kami tahu Tuhan, setiap apa yang kami minta, Engkau akan berikan. Setiap ketukan pintu, Engkau akan bukakan sebab kami tahu Tuhan dalam setiap pencarian kami, Engkau yang menjadi Penyuluhnya agar kami beroleh kehidupan yang sempurna di dalamMu. Allah Bapa, turunkanlah kuasa Roh Kudus ke atas hambaMu ini dan berkaryalah di dalamku yang sebentar lagi ingin berbicara tentang firmanMu. Kami merasakan Tuhan Yesus, yang kami tidak layak dalam segala hal tetapi Engkau Tuhan yang mengangkat kami agar kami menjadi sempurna. Berkati kami ya Yesus agar menjadi saluran berkatMu di dunia ini. Engkaulah Bapa segala pengetahuan ya Tuhanku..berikanlah hambaMu ini pengetahuan dariMu dan kami mahu Tuhan Engkau sendiri yang berbicara. Berilah kefahaman bagi kami Tuhan agar kami tahu segala kehendakMu serta memahami setiap firmanMu. Segala kuasa kegelapan yang mengganggu serta menghalang kami ya Bapa...kami usir di dalam nama Tuhan Yesus supaya tidak mengganggu perjalanan firmanMu yang bakal menuai banyak lagi jiwa untuk datang kepadaMu...agar namaMu Bapa..terus dimuliakan. Haleluya Tuhan Yesus...hanya di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur..amen.
2 Korintus 6:14 "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap."
Saudara/i, di sini firman Tuhan jelas mengatakan janganlah kita bersekutu dengan orang yang tidak seiman dengan kita. Ini bukannya bermaksud kita tidak boleh berkawan dengan siapa-siapa. Kita amat digalakkan untuk bergaul dengan siapa-siapa sahaja asalkan tidak mempengaruhi imanmu terhadap Kerajaan Allah. Tetapi 2 Korintus 6:14 jelas mengatakan bahawa jangan ada yang meninggalkan Tuhan gara-gara pasangannya. Di sini adalah lebih ditekankan kepada muda mudi kerana kita belum punya pasangan hidup yang akan sedaging dengan kita. Cinta duniawi mengaburkan mata serta hati kita. Cinta ini tidak kekal malah hanya akan menyesatkan lagi perjalanan hidup kita. Kekristianan seseorang itu bukan hanya dipandang atas dasar nama atau selalu ke gereja. Tetapi..hati kita yang taat dan setia kepada firmanNya serta iman kita dalam Kristus (Mazmur 1:1-2). Itulah disebut anak Allah. Kristian pun orang itu, sekiranya tidak taat akan perintah Allah..orang itu juga digelar tidak seiman.
Hendaklah kita menjadi pendengar serta pelaku firman Tuhan yang setia. Yakobus 1:22-25 "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenar di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna,yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."
Apa gunanya kita setiap minggu ke gereja kalau tidak mengaplikasikan firman Tuhan yang telah kita dengar? Bukankah membazir duit untuk keluar?? Kenapa tidak kita manfaatkannya dengan melakukan setiap firman Tuhan dalam hidup kita. Sebagai hamba Allah, kita hendaklah menjauhkan diri dari kehendak daging dan cuba untuk melawan jiwa (1 Petrus 2:11). Kuasa kegelapan semakin bergerak aktif untuk menyesatkan anak-anak Tuhan. Secara tidak langsung, roh-roh iblis menggunakan cara ini untuk menyesatkan kita iaitu melalui pasangan yang tidak seiman. Dengan itu, kita akan tertipu dengan segala muslihat iblis. Walaupun orang itu baik...mengamalkan kehidupan yang sempurna tetapi tidak hidup menurut firman Allah dan tidak menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, orang itu tiada tempatnya di syurga. Selain itu juga, orang Kristian yang imannya tidak teguh akan mengalami kehidupan yang terumbang ambing. Anda mendengar firman Allah pada hari minggu tetapi tidak mengaplikasikannya. Bukankah ini juga disebut Kristian yang rapuh? Cuba kita perhatikan perumpamaan tentang seorang penabur oleh Yesus Kristus (Lukas 8:4-15) untuk anda memahami dengan lebih tentang pelaku firman.
Oleh itu saudara/i di sini saya ingin mendorong semua termasuk diri saya sendiri untuk lebih menguatkan iman kita. Hati-hati dalam memilih pasangan hidup kerana itulah yang akan menentukan kehidupan rohani anda. Jangan tertipu dengan muslihat iblis. Jangan terpedaya dengan paras wajah serta perangai baik seseorang itu sekiranya iman dia bukan diletakkan bersama Kristus. Apakah yang dapat mengalahkan dunia kalau bukan iman kita. 1 Yohanes 5:4-5 "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" Mari saya mengajak saudara/i berdoa bersama-sama saya.
Puji Tuhan...terima kasih Tuhan Yesus atas kehadiranMu di hati kami. HambaMu ingin berhenti berbicara. Tetapi Tuhan, firmanMu biarlah terus menerus berbicara di dalam hati kami agar kami tidak mudah goyah dan terpedaya dengan tipu muslihat duniawi. Berilah kami anak-anak mudaMu Tuhan pasangan yang seiman dengan kami. Yang taat akan perintahMu dan mengasihiMu Bapa lebih daripada kami. Kerana Tuhan kami tahu, tiada kasih yang ternilai berbanding kasihMu terhadap anak-anakMu. Engkau akan memberi apabila kami meminta, sesuai dengan iman kami ya Yesus Engkau berkatilah seluruh hidup kami serta segala pekerjaan kami agar semuanya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kuduslah namaMu Bapa..Terpujilah namaMu Yesus, Raja di atas segala raja..Sahabat yang setia bagi kami. Terima kasih Tuhan..terima kasih Yesus..Segala doa ini kami serahkan hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, amen.
YOHANES 14:6-7 "KATA YESUS KEPADANYA: 'AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DATANG KEPADA BAPA, KALAU TIDAK MELALUI AKU. SEKIRANYA KAMU MENGENAL AKU, PASTI KAMU JUGA MENGENAL BAPAKU. SEKARANG INI KAMU MENGENAL DIA DAN KAMU TELAH MELIHAT DIA."
Hari ini saya terdorong untuk membawa saudara/i untuk berkongsi tentang topik ini. Sebelum itu, saya ingin berdoa untuk mendapatkan lebih pengetahuan sebelum saya menghuraikan firman Tuhan pada kali ini.
Haleluya Tuhan...terima kasih atas kasihMu yang tidak berbelah bahagi bagi kami..kasihMu yang cukup sempurna. Kami tahu Tuhan, setiap apa yang kami minta, Engkau akan berikan. Setiap ketukan pintu, Engkau akan bukakan sebab kami tahu Tuhan dalam setiap pencarian kami, Engkau yang menjadi Penyuluhnya agar kami beroleh kehidupan yang sempurna di dalamMu. Allah Bapa, turunkanlah kuasa Roh Kudus ke atas hambaMu ini dan berkaryalah di dalamku yang sebentar lagi ingin berbicara tentang firmanMu. Kami merasakan Tuhan Yesus, yang kami tidak layak dalam segala hal tetapi Engkau Tuhan yang mengangkat kami agar kami menjadi sempurna. Berkati kami ya Yesus agar menjadi saluran berkatMu di dunia ini. Engkaulah Bapa segala pengetahuan ya Tuhanku..berikanlah hambaMu ini pengetahuan dariMu dan kami mahu Tuhan Engkau sendiri yang berbicara. Berilah kefahaman bagi kami Tuhan agar kami tahu segala kehendakMu serta memahami setiap firmanMu. Segala kuasa kegelapan yang mengganggu serta menghalang kami ya Bapa...kami usir di dalam nama Tuhan Yesus supaya tidak mengganggu perjalanan firmanMu yang bakal menuai banyak lagi jiwa untuk datang kepadaMu...agar namaMu Bapa..terus dimuliakan. Haleluya Tuhan Yesus...hanya di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa dan mengucap syukur..amen.
2 Korintus 6:14 "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap."
Saudara/i, di sini firman Tuhan jelas mengatakan janganlah kita bersekutu dengan orang yang tidak seiman dengan kita. Ini bukannya bermaksud kita tidak boleh berkawan dengan siapa-siapa. Kita amat digalakkan untuk bergaul dengan siapa-siapa sahaja asalkan tidak mempengaruhi imanmu terhadap Kerajaan Allah. Tetapi 2 Korintus 6:14 jelas mengatakan bahawa jangan ada yang meninggalkan Tuhan gara-gara pasangannya. Di sini adalah lebih ditekankan kepada muda mudi kerana kita belum punya pasangan hidup yang akan sedaging dengan kita. Cinta duniawi mengaburkan mata serta hati kita. Cinta ini tidak kekal malah hanya akan menyesatkan lagi perjalanan hidup kita. Kekristianan seseorang itu bukan hanya dipandang atas dasar nama atau selalu ke gereja. Tetapi..hati kita yang taat dan setia kepada firmanNya serta iman kita dalam Kristus (Mazmur 1:1-2). Itulah disebut anak Allah. Kristian pun orang itu, sekiranya tidak taat akan perintah Allah..orang itu juga digelar tidak seiman.
Hendaklah kita menjadi pendengar serta pelaku firman Tuhan yang setia. Yakobus 1:22-25 "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenar di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna,yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."
Apa gunanya kita setiap minggu ke gereja kalau tidak mengaplikasikan firman Tuhan yang telah kita dengar? Bukankah membazir duit untuk keluar?? Kenapa tidak kita manfaatkannya dengan melakukan setiap firman Tuhan dalam hidup kita. Sebagai hamba Allah, kita hendaklah menjauhkan diri dari kehendak daging dan cuba untuk melawan jiwa (1 Petrus 2:11). Kuasa kegelapan semakin bergerak aktif untuk menyesatkan anak-anak Tuhan. Secara tidak langsung, roh-roh iblis menggunakan cara ini untuk menyesatkan kita iaitu melalui pasangan yang tidak seiman. Dengan itu, kita akan tertipu dengan segala muslihat iblis. Walaupun orang itu baik...mengamalkan kehidupan yang sempurna tetapi tidak hidup menurut firman Allah dan tidak menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, orang itu tiada tempatnya di syurga. Selain itu juga, orang Kristian yang imannya tidak teguh akan mengalami kehidupan yang terumbang ambing. Anda mendengar firman Allah pada hari minggu tetapi tidak mengaplikasikannya. Bukankah ini juga disebut Kristian yang rapuh? Cuba kita perhatikan perumpamaan tentang seorang penabur oleh Yesus Kristus (Lukas 8:4-15) untuk anda memahami dengan lebih tentang pelaku firman.
Oleh itu saudara/i di sini saya ingin mendorong semua termasuk diri saya sendiri untuk lebih menguatkan iman kita. Hati-hati dalam memilih pasangan hidup kerana itulah yang akan menentukan kehidupan rohani anda. Jangan tertipu dengan muslihat iblis. Jangan terpedaya dengan paras wajah serta perangai baik seseorang itu sekiranya iman dia bukan diletakkan bersama Kristus. Apakah yang dapat mengalahkan dunia kalau bukan iman kita. 1 Yohanes 5:4-5 "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?" Mari saya mengajak saudara/i berdoa bersama-sama saya.
Puji Tuhan...terima kasih Tuhan Yesus atas kehadiranMu di hati kami. HambaMu ingin berhenti berbicara. Tetapi Tuhan, firmanMu biarlah terus menerus berbicara di dalam hati kami agar kami tidak mudah goyah dan terpedaya dengan tipu muslihat duniawi. Berilah kami anak-anak mudaMu Tuhan pasangan yang seiman dengan kami. Yang taat akan perintahMu dan mengasihiMu Bapa lebih daripada kami. Kerana Tuhan kami tahu, tiada kasih yang ternilai berbanding kasihMu terhadap anak-anakMu. Engkau akan memberi apabila kami meminta, sesuai dengan iman kami ya Yesus Engkau berkatilah seluruh hidup kami serta segala pekerjaan kami agar semuanya hanya untuk kemuliaan nama Tuhan. Kuduslah namaMu Bapa..Terpujilah namaMu Yesus, Raja di atas segala raja..Sahabat yang setia bagi kami. Terima kasih Tuhan..terima kasih Yesus..Segala doa ini kami serahkan hanya di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, amen.
YOHANES 14:6-7 "KATA YESUS KEPADANYA: 'AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DATANG KEPADA BAPA, KALAU TIDAK MELALUI AKU. SEKIRANYA KAMU MENGENAL AKU, PASTI KAMU JUGA MENGENAL BAPAKU. SEKARANG INI KAMU MENGENAL DIA DAN KAMU TELAH MELIHAT DIA."
Tips Berpacaran Bagi orang Kristian..
1.. Belajarlah untuk mengutamakan Tuhan dalam hidup Anda! Persiapkan diri Anda untuk sebuah pernikahan Kristen! Bacalah Alkitab Anda, berjemaatlah di gereja dimana Anda bertumbuh. Pelajarilah hikmat Tuhan untuk pernikahan, suami-suami dan istri-istri. Alkitab telah memberikan kita satu perintah yang sangat penting untuk bidang ini, yaitu “menjadi pasangan yang seimbang (2 Korintus 6 :14). Pelajarilah ayat ini dan cobalah untuk dapat mengerti arti sebenarnya!
2.. Kenali diri Anda! Ambillah waktu untuk membuat perubahan apapun yang Anda butuhkan untuk dapat menjadi pasangan yang baik bagi seseorang. Anda TIDAK dapat menjadi bahagia dalam pernikahan MANAPUN tanpa bahagia terlebih dahulu dengan diri Anda sendiri!
3.. Mengetahui apa yang Anda butuhkan! Anda harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan Anda, dengan demikian Anda dapat mengkomunikasikannya dengan pasangan Anda di masa depan. Ini adalah hal yang tidak dapat Anda kompromikan! Tanyakan juga kepada pasangan Anda apa yang dia butuhkan. Kemudian carilah tahu apakah Anda berdua dapat saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Kami bahkan tidak dapat cukup meyakinkan Anda bahwa hal ini sangatlah penting!
4.. Belajarlah untuk peka terhadap tanda-tanda peringatan yang Anda rasakan ketika Anda sedang pacaran dengan seseorang! Menyadari bahwa seseorang yang sedang menjalin hubungan dengan Anda bukanlah “seseorang yang special” adalah separuh dari perjuangan Anda. Anda bisa saja berusaha agar hubungan itu dapat berjalan dengan baik seumur hidup Anda, yang kemudian pada akhirnya, tidak akan pernah berhasil! Semua orang mempunyai kualitas yang baik dan buruk. Hanya karena Anda tidak cocok dengan seseorang, bukan berarti bahwa orang itu tidak akan menjadi pasangan yang baik bagi orang lain! Apabila memang tidak “cocok”, hormati diri Anda dan pasangan Anda dengan mengakhiri hubungan Anda. Anda berdua layak untuk memiliki hidup yang berbahagia.
5.. Jangan hidup dalam ketakutan dengan kemungkinan bahwa Anda akan tetep sendiri seumur hidup Anda. Ketakutan akan menumbuhkan kegilaan ketika Anda sedang menjalin hubungan! Kebutuhan Anda menjadi tidak berarti sama sekali bagi diri Anda! Anda bahkan dapat membuat keputusan-keputusan bodoh ketika ketakutan ini mengambil alih diri Anda. Isilah kehidupan Anda dengan hal-hal yang dapat membuat Anda merasa gembira. Serahkan semuanya kepada Tuhan dan TINGGALKAN itu di sana!
6.. Minum-minum yang berlebihan (alkoholik, pesta minuman keras di akhir pekan, dll), orang yang bertindak dengan kekerasan dan sejenisnya, adalah orang-orang yang “TIDAK MAMPU” untuk sebuah hubungan dengan komitmen.
Orang-orang ini membutuhkan pertolongan dan “penyakit-penyakit” mereka membuat mereka untuk saat itu, tidak mampu membangun suatu hubungan yang sehat. Tentu saja Allah tidak berkenan bahwa ada sesuatu yang kita ‘sembah’ selain Dia. Allah harus selalu menjadi yang pertama. “Hubungan” sejenis ini terbukti hanya akan terus menyakiti Anda berulang-ulang kali. Doronglah mereka selalu, sesering mungkin, untuk mencari pertolongan yang mereka butuhkan, sehingga satu hari nanti mereka akan dapat mengalami hidup yang telah Allah rencanakan bagi mereka. Sumber Kristen untuk pemulihan dalam hal ini di internet, dapat Anda temui di www.christians-in-recovery.com
7.. Carilah seorang konselor Kristen dengan reputasi yang baik, bila memungkinkan, untuk membantu Anda dalam membuat keputusan yang benar.
Pernikahan adalah KOMITMEN untuk SEUMUR HIDUP. Anda bertanggung jawab terhadap diri Anda sendiri untuk membuat keputusan terbaik yang bisa Anda buat. Menemukan pasangan yang tepat dan membuat komitmen untuk seumur hidup dengan orang tersebut adalah sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan
2. Bagaimana Saya Mengetahuinya?
Pertanyaaan yang ditanyakan oleh semua orang, inilah tips nya:
1.. Apakah Anda merasakan DAMAI..DAMAI..DAMAI..Damai di hati Anda? Apabila sama sekali tidak ada perasaan itu di dalam diri Anda maka Anda tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres! “Tapi mungkin segala sesuatunya akan berubah”, jawab Anda. Apakah Anda sedang membuat alasan-alasan untuk seseorang, bahkan ketika Anda tidak setuju, atau itu memukul pusat dari diri Anda yang sebenarnya? Apabila Anda harus membuat alasan, bahkan hanya satu alasan, maka Anda benar-benar harus mengawasi dengan benar arah yang sedang Anda tuju. Ini adalah masalah besar, sobat!
2.. Apakah Anda bertengkar/berbaikan lagi.. bertengkar/berbaikan lagi? Ini bukanlah tanda bahwa kalian berdua dapat berpasangan dengan cukup baik.
Tuhan tidak pernah memaksudkan pernikahan sebagai medan peperangan dari keinginan-keinginan kita. Apabila ini terjadi ketika Anda sedang berpacaran, yakinlah bahwa hal ini akan terus berlanjut ketika Anda telah menikah. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan prinsip pernikahan yang kita ketahui.
Kembali lagi kepada kebutuhan-kebutuhan. Kebutuhan seseorang sedang diabaikan, kadang-kadang, kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi. Adalah sangat penting untuk dapat mengetahui apakah pasangan Anda di masa depan dapat memenuhi kebutuhan Anda atau tidak dan sebaliknya. Mengetahui perbedaan yang ada di antara Anda akan dapat menghindarkan Anda dari sakit hati di masa yang akan datang.
3.. Kami beranggapan bila Anda membaca artikel ini maka Anda adalah seorang Kristen atau berniat untuk menjadi kristen, oleh karena itu, seks.. seharusnya tidak pernah menjadi bagian dalam pacaran!! Apa yang kami maksud adalah sebagai berikut. Apabila salah satu dari pasangan itu merasa ditekan oleh seks, maka itu bukanlah hubungan/pernikahan Kristen yang sedang dijalin. Anda dapat yakin bahwa hubungan ini tidak berdasarkan prinsip-prinsip yang Tuhan kehendaki. Anda harus kembali lagi untuk mengetahui apa yang Anda butuhkan. Apabila Anda menginginkan dan membutuhkan pernikahan Kristen, maka ini akan memberitahukan kepada Anda kemana arah yang sedang Anda tuju! Tidak ada alasan apapun untuk yang satu ini! Tuhan memaksudkan bahwa hubungan seks hanya untuk suami dan istri di dalam sebuah pernikahan kudus!
Ingatlah ini:
Sangatlah mudah untuk menemukan “pasangan yang salah”.
Dibutuhkan mengetahui siapa diri Anda sebenarnya, doa yang setia dan kesabaran untuk menemukan yang tepat! Isilah hidup Anda dengan hal-hal yang Anda sukai, bacalah Alkitab maka Anda akan mampu untuk dapat mengikuti kehendak Tuhan di dalam hidup Anda.
Tuhan ingin supaya ANDA memiliki hidup luar biasa seumur hidup Anda dengan pasangan yang istimewa,… demikian juga kami!
3. Cinta Sejati..!
Penuh Kedamaian, Lemah Lembut dan Baik Hati!
Cinta yang sejati menenangkan hati kita dari kekacauan, membuat hati kita merasa lebih santai dan bahagia serta memberikan kehangatan dan kedamaian bagi jiwa kita.
Rendah Hati
Cinta sejati adalah cinta yang rendah hati. Orang yang rendah hati akan menjadi pasangan yang terbaik. Kerendahan hati diri mereka akan menjadi dasar dari kemampuan mereka untuk mencintai.
Jujur dan Penuh kebenaran!
Cinta sejati selalu ingin untuk menjadi jujur setiap waktu! Ini adalah satu-satunya cara agar cinta sejati dapat bertahan. Kejujuran akan membangun kepercayaan. Kepercayaan adalah tulang punggung dari sebuah pernikahan yang baik! Tanpa kepercayaan maka Anda tidak dapat membuat diri Anda menjadi diri Anda yang sebenarnya. Apabila kepercayaan gagal, maka semuanya akan berakhir.
Tidak Mementingkan Diri Sendiri
Cinta sejati adalah seorang “pemberi”. Masing-masing dari pasangan itu menyadari kebutuhan satu sama lain, dan ingin memberi kepada satu sama lain.
Pasangan yang tidak mementingkan diri sendiri tahu bahwa mereka harus mencintai satu sama lain seperti Kristus mengasihi gereja-Nya, dengan sikap seorang hamba.
Abadi
Cinta sejati mengikatkan diri mereka yang satu kepada yang lain untuk seumur hidup! Inilah apa yang Tuhan maksudkan untuk sebuah pernikahan. Tidak ada satupun alasan yang cukup kuat untuk mengkhianati “cinta” yang Tuhan sedang berikan bagi Anda. Kesetiaan adalah satu-satunya cara untuk menguatkan kepercayaan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pernikahan dari tahun ke tahun!
Memberikan Pengharapan!
Cinta sejati selalu menginginkan apa yang terbaik bagi orang lain.
Kecemburuan ataupun iri hati tidak pernah masuk ke dalamnya karena cinta sejati hanya peduli untuk melihat yang lain menjadi yang terbaik dari apa yang mereka bisa!
Sabar
Cinta sejati tidak pernah terburu-buru, selalu mengambil waktu untuk melihat melalui setiap situasi. Cinta sejati menunggu satu sama lain, tidak peduli apapun yang terjadi, untuk apapun, dan … kapanpun.
1.. Cinta Sejati Bukanlah!
Apa yang “DUNIA” ingin Anda percayai tentang apa sebenarnya CINTA itu!
SEKS!
Cinta sejati tidak didasarkan pada cinta secara seksual. Banyak orang yang mencampuradukan CINTA dengan seks, dan ini adalah kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka yang terikat dengan seks pranikah tidak akan mampu untuk membangun “cinta sejati” ketika emosi mereka telah terikat dengan cinta seksual. Seks adalah anugerah dari Tuhan yang disediakan secara khusus hanya untuk pernikahan! Sebaliknya, mereka yang ingin menikah hanya untuk memenuhi kebutuhan seks, mereka akan selalu dikecewakan! Banyak pasangan yang telah menikah dan sudah memiliki anak, menemukan bahwa mereka hanya memiliki waktu yang sangat sedikit untuk keintiman, terutama dalam masa awal-awal pertumbuhan anak mereka. Apabila hubungan Anda didasarkan pada seks sebelum dan/atau sesudah menikah, Anda dapat yakin bahwa masalah-masalah akan bermunculan! Cinta sejati yang dikombinasikan dengan cinta seksual antara dua orang yang telah menikah adalah anugerah yang indah dari Tuhan, penting untuk kesatuan dari hubungan itu, tapi BUKAN tujuan akhir dari “kehidupan pernikahan!” Apabila Anda menyimpan sesuatu dari artikel ini ke dalam hati Anda, maka adalah harapan kami yang paling tulus bahwa Anda mendengar pesan kami. Pernikahan lebih dari sekedar “SEKS”! Membuat hal ini sebagai prioritas Anda atau mendasarkan pernikahan Anda akan SELALU membawa Anda kepada kekecewaan. Jagalah agar seks tetap ada dalam perspektif yang Tuhan inginkan! Bila tidak, maka Anda akan mendapati diri Anda tidak pernah merasa puas.. dan hasilnya sangat merusak! Jangan masuk daerah ini sebelum anda menikah!
Apa Yang Anda Lihat!
Cinta sejati TIDAK ditemukan dari apa yang terlihat dari luar! Anda pernah mendengar cerita lama… “Anda tidak dapat menilai buku yang bagus dengan melihat sampulnya!“ Menikahi seseorang karena mereka tampan/cantik dan itu sesuai dengan Anda, tidak akan memberikan Anda kebahagiaan! Cinta sejati melihat seseorang dari dalam, dimana terdapat “kecantikan sejati”, jangan membuat kesalahan untuk yang satu ini! Orang-orang yang “kelihatan”
biasa-biasa saja dari luar akan menjadi lebih dari biasa-biasa saat Anda mengetahui siapa sebenarnya diri mereka yang ada di dalamnya. Ada banyak, banyak lajang yang akan menjadi pasangan yang luar biasa, tetapi diremehkan hanya karena mereka tidak dapat menjadi cover dari majalah kesukaan Anda.
Dengan berfokus hanya pada apa yang nampak di luar akan membawa kita kepada kekecewaan! Intinya disini adalah bahwa cinta yang sejati terletak jauh di dalam hati, TIDAK PERNAH di luar! Kita harus mengubah pandangan mata kita jauh ke dalam ketika kita sedang mencari pasangan untuk seumur hidup. Apa yang tidak Anda lihat.. adalah apa yang akan Anda dapatkan!
Menyelamatkan!
Cinta sejati TIDAK menghancurkan hidup Anda hanya karena seseorang memiliki masalah. Semua orang bertanggungjawab atas hidup, tindakan, dan keputusan-keputusan mereka sendiri. Apabila keputusan seseorang membuat Anda “gila” atau Anda mencoba untuk mengendalikan kelakuan mereka, Anda cenderung untuk menyakiti diri mereka dan juga diri Anda sendiri. Cinta sejati hanya ada pada orang yang dapat mengurus diri mereka sendiri. Apakah Anda meletakkan hidup dan kebahagiaan Anda dalam keadaan yang berbahaya hanya karena kelakuan buruk orang lain? Apabila Anda mempertimbangkan hendak menikah dan saat ini Anda sendiri sedang tidak bahagia, mengendalikan, atau sedang berusaha menyingkirkan kelakuan buruk seseorang, maka Anda akan membawa diri Anda ke dalam dunia yang penuh dengan penderitaan! Ini bukanlah CINTA jika Anda berusaha “menyelamatkan” seseorang dari keputusan mereka sendiri!! Semua orang harus menerima konsekuensi dari tindakan-tindakan mereka sendiri! Anda tidak dapat ‘menyelamatkan’ seseorang dari diri mereka sendiri.
Mementingkan Diri Sendiri!
Cinta sejati TIDAK mementingkan diri sendiri! Orang yang mementingkan diri sendiri akan menjadi pasangan yang sangat buruk! Cinta sejati hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Mereka tahu bahwa mereka akan menemukan kebahagiaan saat mereka memberi kepada yang lain.
Tidak ada kebahagiaan yang lebih baik di dunia ini daripada kebahagiaan karena memberi. Orang yang mementingkan diri sendiri hanya peduli pada diri mereka sendiri, apa yang mereka miliki dan inginkan. Memenuhi kebutuhan satu sama lain sangatlah penting dalam pernikahan yang sehat. Sangatlah mustahil bagi orang yang egois untuk dapat memberikan apa yang ANDA butuhkan karena kebutuhan mereka selalu lebih pen ing!
Mementingkan Uang!
Cinta yang sejati TIDAK dapat diukur dengan uang! Tidak ada uang dalam jumlah berapapun yang dapat memberikan cinta sejati kepada Anda. Cinta akan uang adalah “akar dari segala kejahatan!” Uang dapat membuat orang melakukan apa yang biasanya tidak mereka lakukan. Bila Anda berpikir Anda harus menikah demi uang untuk menemukan cinta, untuk memiliki pernikahan yang baik, dan/atau agar semua masalah Anda berakhir, maka Anda sangat salah!
Masalah-masalah hanya akan menjadi jauh lebih mahal dengan uang!
Harga Diri yang rendah!
Cinta sejati TIDAK ditemukan pada kepercayaan diri yang tidak sehat! Berapa banyak orang di dunia ini yang percaya bahwa cinta akan membuat mereka bahagia? Apabila Anda tidak bahagia sekarang, maka tidak akan ada satu orangpun yang dapat memberikan kebahagiaan bagi Anda! Anda harus menemukan cinta dalam diri Anda sebelum Anda dapat mencintai seseorang sebagaimana seharusnya. Ada dongeng yang sangat menyesatkan dimana dikatakan “temukan saja seorang pria atau wanita” maka Anda akan bahagia. Pernikahan yang bahagia ditemukan pada dua orang yang telah mencintai diri mereka sendiri dan peduli akan siapa diri mereka saat ini. Mereka tidak mencari pasangan untuk “membuktikan” bahwa mereka dapat dicintai. Sebaliknya, ketika Anda menyadari bahwa Anda sangat berharga… maka Anda akan membuat pilihan-pilihan yang lebih baik. Orang-orang yang menyakiti dan yang merasa tidak dicintai seringkali akan berbalik kepada orang yang pertama kali datang kepada mereka untuk mengisi kehampaan yang mereka rasakan. Kebanyakan hal ini tidak menghasilkan pernikahan yang sehat. Apabila Anda mendapati diri Anda dalam situasi yang seperti ini, maka Anda perlu melangkah mundur sejenak dari hubungan Anda dan bekerja ke dalam diri Anda untuk mencari akar dari ketidakbahagiaan Anda. Sampai saat itu… maka Anda tidak akan mampu membuat keputusan terbaik yang layak Anda terima untuk diri Anda sendiri!
Penyiksaan secara Verbal Atau Fisik!
Cinta yang sejati tidak menyakiti! Tidak diragukan lagi, tindakan pelecehan dalam bentuk apapun yang dilakukan seseorang BUKANLAH CINTA! Cinta adalah kelembutan dari hati manusia! Cinta tidak menghasilkan kesakitan. Rasa sakit yang dikatakan “atas nama cinta” sangatlah jauh dari kebenaran yang dapat Anda peroleh. Cinta selalu membangun, dan tidak pernah menjatuhkan!
Pelecehan secara verbal maupun fisik dapat dikatakan sebagai kelainan tanpa peduli alasan apa yang menyebabkannya. Penyiksaan dalam bentuk apapun sebelum pernikahan dapat dipastikan akan terus berlanjut sampai kepada pernikahan. Konseling bagi pelaku pelecehan adalah SATU-SATUYA langkah yang harus diambil!
Dimanakah Cinta dalam hidup Anda hari ini? Apabila Anda pernah ragu apakah Anda telah menemukan “cinta yang sejati” maka cobalah untuk membaca 1 Korintus 13. Disana Anda akan menemukan apa yang Tuhan katakan mengenai Cinta, bagaimanapun, Dia adalah Cinta itu sendiri!
Apabila Anda masih belum menikah, tolonglah ambil waktu untuk membuat pilihan yang tepat dalam memilih pasangan seumur hidup Anda. Hidup Anda dan orang-orang yang ada di sekitar Anda akan dipengaruhi oleh pilihan ini.
Membuat “pilihan yang tepat” untuk diri Anda mengharuskan Anda untuk melihat secara obyektif diri Anda sendiri dan orang yang akan Anda nikahi. Apabila Anda berkata kepada diri Anda sendiri “Yah, aku kan bisa bercerai!”
Berhentilah sekarang dan ujilah kembali keputusan yang Anda buat! Anda harus menyadari bahwa pasangan hidup Anda adalah untuk seumur hidup. Tuhan tidak berkenan dan sangat membenci perceraian dan itu untuk alasan yang baik karena kehancuran yang dihasilkannya akan berlangsung seumur hidup, bahkan untuk generasi yang akan datang!
Semua orang layak untuk memperoleh kebahagiaan. Tuhan menginginkan agar Anda menjadi bahagia. Ambillah waktu untuk mencari pasangan hidup yang tepat bagi diri Anda. Ijinkan Tuhan untuk bekerja dalam diri Anda dan dalam diri orang lain sehingga suatu hari nanti Anda berdua akan dapat disatukan dalam suatu kesatuan yang sempurna seperti apa yang Bapa inginkan bagi Anda. Anda TIDAK AKAN pernah MENYESAL harus menunggu ketika Anda telah menemukan “ORANG YANG TEPAT”!
Tuhan Memberkati Anda!
Sumber: Elia-Story
2.. Kenali diri Anda! Ambillah waktu untuk membuat perubahan apapun yang Anda butuhkan untuk dapat menjadi pasangan yang baik bagi seseorang. Anda TIDAK dapat menjadi bahagia dalam pernikahan MANAPUN tanpa bahagia terlebih dahulu dengan diri Anda sendiri!
3.. Mengetahui apa yang Anda butuhkan! Anda harus mengetahui kebutuhan-kebutuhan Anda, dengan demikian Anda dapat mengkomunikasikannya dengan pasangan Anda di masa depan. Ini adalah hal yang tidak dapat Anda kompromikan! Tanyakan juga kepada pasangan Anda apa yang dia butuhkan. Kemudian carilah tahu apakah Anda berdua dapat saling memenuhi kebutuhan satu sama lain. Kami bahkan tidak dapat cukup meyakinkan Anda bahwa hal ini sangatlah penting!
4.. Belajarlah untuk peka terhadap tanda-tanda peringatan yang Anda rasakan ketika Anda sedang pacaran dengan seseorang! Menyadari bahwa seseorang yang sedang menjalin hubungan dengan Anda bukanlah “seseorang yang special” adalah separuh dari perjuangan Anda. Anda bisa saja berusaha agar hubungan itu dapat berjalan dengan baik seumur hidup Anda, yang kemudian pada akhirnya, tidak akan pernah berhasil! Semua orang mempunyai kualitas yang baik dan buruk. Hanya karena Anda tidak cocok dengan seseorang, bukan berarti bahwa orang itu tidak akan menjadi pasangan yang baik bagi orang lain! Apabila memang tidak “cocok”, hormati diri Anda dan pasangan Anda dengan mengakhiri hubungan Anda. Anda berdua layak untuk memiliki hidup yang berbahagia.
5.. Jangan hidup dalam ketakutan dengan kemungkinan bahwa Anda akan tetep sendiri seumur hidup Anda. Ketakutan akan menumbuhkan kegilaan ketika Anda sedang menjalin hubungan! Kebutuhan Anda menjadi tidak berarti sama sekali bagi diri Anda! Anda bahkan dapat membuat keputusan-keputusan bodoh ketika ketakutan ini mengambil alih diri Anda. Isilah kehidupan Anda dengan hal-hal yang dapat membuat Anda merasa gembira. Serahkan semuanya kepada Tuhan dan TINGGALKAN itu di sana!
6.. Minum-minum yang berlebihan (alkoholik, pesta minuman keras di akhir pekan, dll), orang yang bertindak dengan kekerasan dan sejenisnya, adalah orang-orang yang “TIDAK MAMPU” untuk sebuah hubungan dengan komitmen.
Orang-orang ini membutuhkan pertolongan dan “penyakit-penyakit” mereka membuat mereka untuk saat itu, tidak mampu membangun suatu hubungan yang sehat. Tentu saja Allah tidak berkenan bahwa ada sesuatu yang kita ‘sembah’ selain Dia. Allah harus selalu menjadi yang pertama. “Hubungan” sejenis ini terbukti hanya akan terus menyakiti Anda berulang-ulang kali. Doronglah mereka selalu, sesering mungkin, untuk mencari pertolongan yang mereka butuhkan, sehingga satu hari nanti mereka akan dapat mengalami hidup yang telah Allah rencanakan bagi mereka. Sumber Kristen untuk pemulihan dalam hal ini di internet, dapat Anda temui di www.christians-in-recovery.com
7.. Carilah seorang konselor Kristen dengan reputasi yang baik, bila memungkinkan, untuk membantu Anda dalam membuat keputusan yang benar.
Pernikahan adalah KOMITMEN untuk SEUMUR HIDUP. Anda bertanggung jawab terhadap diri Anda sendiri untuk membuat keputusan terbaik yang bisa Anda buat. Menemukan pasangan yang tepat dan membuat komitmen untuk seumur hidup dengan orang tersebut adalah sebuah anugerah yang luar biasa dari Tuhan
2. Bagaimana Saya Mengetahuinya?
Pertanyaaan yang ditanyakan oleh semua orang, inilah tips nya:
1.. Apakah Anda merasakan DAMAI..DAMAI..DAMAI..Damai di hati Anda? Apabila sama sekali tidak ada perasaan itu di dalam diri Anda maka Anda tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres! “Tapi mungkin segala sesuatunya akan berubah”, jawab Anda. Apakah Anda sedang membuat alasan-alasan untuk seseorang, bahkan ketika Anda tidak setuju, atau itu memukul pusat dari diri Anda yang sebenarnya? Apabila Anda harus membuat alasan, bahkan hanya satu alasan, maka Anda benar-benar harus mengawasi dengan benar arah yang sedang Anda tuju. Ini adalah masalah besar, sobat!
2.. Apakah Anda bertengkar/berbaikan lagi.. bertengkar/berbaikan lagi? Ini bukanlah tanda bahwa kalian berdua dapat berpasangan dengan cukup baik.
Tuhan tidak pernah memaksudkan pernikahan sebagai medan peperangan dari keinginan-keinginan kita. Apabila ini terjadi ketika Anda sedang berpacaran, yakinlah bahwa hal ini akan terus berlanjut ketika Anda telah menikah. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan prinsip pernikahan yang kita ketahui.
Kembali lagi kepada kebutuhan-kebutuhan. Kebutuhan seseorang sedang diabaikan, kadang-kadang, kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi. Adalah sangat penting untuk dapat mengetahui apakah pasangan Anda di masa depan dapat memenuhi kebutuhan Anda atau tidak dan sebaliknya. Mengetahui perbedaan yang ada di antara Anda akan dapat menghindarkan Anda dari sakit hati di masa yang akan datang.
3.. Kami beranggapan bila Anda membaca artikel ini maka Anda adalah seorang Kristen atau berniat untuk menjadi kristen, oleh karena itu, seks.. seharusnya tidak pernah menjadi bagian dalam pacaran!! Apa yang kami maksud adalah sebagai berikut. Apabila salah satu dari pasangan itu merasa ditekan oleh seks, maka itu bukanlah hubungan/pernikahan Kristen yang sedang dijalin. Anda dapat yakin bahwa hubungan ini tidak berdasarkan prinsip-prinsip yang Tuhan kehendaki. Anda harus kembali lagi untuk mengetahui apa yang Anda butuhkan. Apabila Anda menginginkan dan membutuhkan pernikahan Kristen, maka ini akan memberitahukan kepada Anda kemana arah yang sedang Anda tuju! Tidak ada alasan apapun untuk yang satu ini! Tuhan memaksudkan bahwa hubungan seks hanya untuk suami dan istri di dalam sebuah pernikahan kudus!
Ingatlah ini:
Sangatlah mudah untuk menemukan “pasangan yang salah”.
Dibutuhkan mengetahui siapa diri Anda sebenarnya, doa yang setia dan kesabaran untuk menemukan yang tepat! Isilah hidup Anda dengan hal-hal yang Anda sukai, bacalah Alkitab maka Anda akan mampu untuk dapat mengikuti kehendak Tuhan di dalam hidup Anda.
Tuhan ingin supaya ANDA memiliki hidup luar biasa seumur hidup Anda dengan pasangan yang istimewa,… demikian juga kami!
3. Cinta Sejati..!
Penuh Kedamaian, Lemah Lembut dan Baik Hati!
Cinta yang sejati menenangkan hati kita dari kekacauan, membuat hati kita merasa lebih santai dan bahagia serta memberikan kehangatan dan kedamaian bagi jiwa kita.
Rendah Hati
Cinta sejati adalah cinta yang rendah hati. Orang yang rendah hati akan menjadi pasangan yang terbaik. Kerendahan hati diri mereka akan menjadi dasar dari kemampuan mereka untuk mencintai.
Jujur dan Penuh kebenaran!
Cinta sejati selalu ingin untuk menjadi jujur setiap waktu! Ini adalah satu-satunya cara agar cinta sejati dapat bertahan. Kejujuran akan membangun kepercayaan. Kepercayaan adalah tulang punggung dari sebuah pernikahan yang baik! Tanpa kepercayaan maka Anda tidak dapat membuat diri Anda menjadi diri Anda yang sebenarnya. Apabila kepercayaan gagal, maka semuanya akan berakhir.
Tidak Mementingkan Diri Sendiri
Cinta sejati adalah seorang “pemberi”. Masing-masing dari pasangan itu menyadari kebutuhan satu sama lain, dan ingin memberi kepada satu sama lain.
Pasangan yang tidak mementingkan diri sendiri tahu bahwa mereka harus mencintai satu sama lain seperti Kristus mengasihi gereja-Nya, dengan sikap seorang hamba.
Abadi
Cinta sejati mengikatkan diri mereka yang satu kepada yang lain untuk seumur hidup! Inilah apa yang Tuhan maksudkan untuk sebuah pernikahan. Tidak ada satupun alasan yang cukup kuat untuk mengkhianati “cinta” yang Tuhan sedang berikan bagi Anda. Kesetiaan adalah satu-satunya cara untuk menguatkan kepercayaan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pernikahan dari tahun ke tahun!
Memberikan Pengharapan!
Cinta sejati selalu menginginkan apa yang terbaik bagi orang lain.
Kecemburuan ataupun iri hati tidak pernah masuk ke dalamnya karena cinta sejati hanya peduli untuk melihat yang lain menjadi yang terbaik dari apa yang mereka bisa!
Sabar
Cinta sejati tidak pernah terburu-buru, selalu mengambil waktu untuk melihat melalui setiap situasi. Cinta sejati menunggu satu sama lain, tidak peduli apapun yang terjadi, untuk apapun, dan … kapanpun.
1.. Cinta Sejati Bukanlah!
Apa yang “DUNIA” ingin Anda percayai tentang apa sebenarnya CINTA itu!
SEKS!
Cinta sejati tidak didasarkan pada cinta secara seksual. Banyak orang yang mencampuradukan CINTA dengan seks, dan ini adalah kondisi yang sangat menyedihkan. Mereka yang terikat dengan seks pranikah tidak akan mampu untuk membangun “cinta sejati” ketika emosi mereka telah terikat dengan cinta seksual. Seks adalah anugerah dari Tuhan yang disediakan secara khusus hanya untuk pernikahan! Sebaliknya, mereka yang ingin menikah hanya untuk memenuhi kebutuhan seks, mereka akan selalu dikecewakan! Banyak pasangan yang telah menikah dan sudah memiliki anak, menemukan bahwa mereka hanya memiliki waktu yang sangat sedikit untuk keintiman, terutama dalam masa awal-awal pertumbuhan anak mereka. Apabila hubungan Anda didasarkan pada seks sebelum dan/atau sesudah menikah, Anda dapat yakin bahwa masalah-masalah akan bermunculan! Cinta sejati yang dikombinasikan dengan cinta seksual antara dua orang yang telah menikah adalah anugerah yang indah dari Tuhan, penting untuk kesatuan dari hubungan itu, tapi BUKAN tujuan akhir dari “kehidupan pernikahan!” Apabila Anda menyimpan sesuatu dari artikel ini ke dalam hati Anda, maka adalah harapan kami yang paling tulus bahwa Anda mendengar pesan kami. Pernikahan lebih dari sekedar “SEKS”! Membuat hal ini sebagai prioritas Anda atau mendasarkan pernikahan Anda akan SELALU membawa Anda kepada kekecewaan. Jagalah agar seks tetap ada dalam perspektif yang Tuhan inginkan! Bila tidak, maka Anda akan mendapati diri Anda tidak pernah merasa puas.. dan hasilnya sangat merusak! Jangan masuk daerah ini sebelum anda menikah!
Apa Yang Anda Lihat!
Cinta sejati TIDAK ditemukan dari apa yang terlihat dari luar! Anda pernah mendengar cerita lama… “Anda tidak dapat menilai buku yang bagus dengan melihat sampulnya!“ Menikahi seseorang karena mereka tampan/cantik dan itu sesuai dengan Anda, tidak akan memberikan Anda kebahagiaan! Cinta sejati melihat seseorang dari dalam, dimana terdapat “kecantikan sejati”, jangan membuat kesalahan untuk yang satu ini! Orang-orang yang “kelihatan”
biasa-biasa saja dari luar akan menjadi lebih dari biasa-biasa saat Anda mengetahui siapa sebenarnya diri mereka yang ada di dalamnya. Ada banyak, banyak lajang yang akan menjadi pasangan yang luar biasa, tetapi diremehkan hanya karena mereka tidak dapat menjadi cover dari majalah kesukaan Anda.
Dengan berfokus hanya pada apa yang nampak di luar akan membawa kita kepada kekecewaan! Intinya disini adalah bahwa cinta yang sejati terletak jauh di dalam hati, TIDAK PERNAH di luar! Kita harus mengubah pandangan mata kita jauh ke dalam ketika kita sedang mencari pasangan untuk seumur hidup. Apa yang tidak Anda lihat.. adalah apa yang akan Anda dapatkan!
Menyelamatkan!
Cinta sejati TIDAK menghancurkan hidup Anda hanya karena seseorang memiliki masalah. Semua orang bertanggungjawab atas hidup, tindakan, dan keputusan-keputusan mereka sendiri. Apabila keputusan seseorang membuat Anda “gila” atau Anda mencoba untuk mengendalikan kelakuan mereka, Anda cenderung untuk menyakiti diri mereka dan juga diri Anda sendiri. Cinta sejati hanya ada pada orang yang dapat mengurus diri mereka sendiri. Apakah Anda meletakkan hidup dan kebahagiaan Anda dalam keadaan yang berbahaya hanya karena kelakuan buruk orang lain? Apabila Anda mempertimbangkan hendak menikah dan saat ini Anda sendiri sedang tidak bahagia, mengendalikan, atau sedang berusaha menyingkirkan kelakuan buruk seseorang, maka Anda akan membawa diri Anda ke dalam dunia yang penuh dengan penderitaan! Ini bukanlah CINTA jika Anda berusaha “menyelamatkan” seseorang dari keputusan mereka sendiri!! Semua orang harus menerima konsekuensi dari tindakan-tindakan mereka sendiri! Anda tidak dapat ‘menyelamatkan’ seseorang dari diri mereka sendiri.
Mementingkan Diri Sendiri!
Cinta sejati TIDAK mementingkan diri sendiri! Orang yang mementingkan diri sendiri akan menjadi pasangan yang sangat buruk! Cinta sejati hanya dimiliki oleh orang-orang yang tidak mementingkan dirinya sendiri. Mereka tahu bahwa mereka akan menemukan kebahagiaan saat mereka memberi kepada yang lain.
Tidak ada kebahagiaan yang lebih baik di dunia ini daripada kebahagiaan karena memberi. Orang yang mementingkan diri sendiri hanya peduli pada diri mereka sendiri, apa yang mereka miliki dan inginkan. Memenuhi kebutuhan satu sama lain sangatlah penting dalam pernikahan yang sehat. Sangatlah mustahil bagi orang yang egois untuk dapat memberikan apa yang ANDA butuhkan karena kebutuhan mereka selalu lebih pen ing!
Mementingkan Uang!
Cinta yang sejati TIDAK dapat diukur dengan uang! Tidak ada uang dalam jumlah berapapun yang dapat memberikan cinta sejati kepada Anda. Cinta akan uang adalah “akar dari segala kejahatan!” Uang dapat membuat orang melakukan apa yang biasanya tidak mereka lakukan. Bila Anda berpikir Anda harus menikah demi uang untuk menemukan cinta, untuk memiliki pernikahan yang baik, dan/atau agar semua masalah Anda berakhir, maka Anda sangat salah!
Masalah-masalah hanya akan menjadi jauh lebih mahal dengan uang!
Harga Diri yang rendah!
Cinta sejati TIDAK ditemukan pada kepercayaan diri yang tidak sehat! Berapa banyak orang di dunia ini yang percaya bahwa cinta akan membuat mereka bahagia? Apabila Anda tidak bahagia sekarang, maka tidak akan ada satu orangpun yang dapat memberikan kebahagiaan bagi Anda! Anda harus menemukan cinta dalam diri Anda sebelum Anda dapat mencintai seseorang sebagaimana seharusnya. Ada dongeng yang sangat menyesatkan dimana dikatakan “temukan saja seorang pria atau wanita” maka Anda akan bahagia. Pernikahan yang bahagia ditemukan pada dua orang yang telah mencintai diri mereka sendiri dan peduli akan siapa diri mereka saat ini. Mereka tidak mencari pasangan untuk “membuktikan” bahwa mereka dapat dicintai. Sebaliknya, ketika Anda menyadari bahwa Anda sangat berharga… maka Anda akan membuat pilihan-pilihan yang lebih baik. Orang-orang yang menyakiti dan yang merasa tidak dicintai seringkali akan berbalik kepada orang yang pertama kali datang kepada mereka untuk mengisi kehampaan yang mereka rasakan. Kebanyakan hal ini tidak menghasilkan pernikahan yang sehat. Apabila Anda mendapati diri Anda dalam situasi yang seperti ini, maka Anda perlu melangkah mundur sejenak dari hubungan Anda dan bekerja ke dalam diri Anda untuk mencari akar dari ketidakbahagiaan Anda. Sampai saat itu… maka Anda tidak akan mampu membuat keputusan terbaik yang layak Anda terima untuk diri Anda sendiri!
Penyiksaan secara Verbal Atau Fisik!
Cinta yang sejati tidak menyakiti! Tidak diragukan lagi, tindakan pelecehan dalam bentuk apapun yang dilakukan seseorang BUKANLAH CINTA! Cinta adalah kelembutan dari hati manusia! Cinta tidak menghasilkan kesakitan. Rasa sakit yang dikatakan “atas nama cinta” sangatlah jauh dari kebenaran yang dapat Anda peroleh. Cinta selalu membangun, dan tidak pernah menjatuhkan!
Pelecehan secara verbal maupun fisik dapat dikatakan sebagai kelainan tanpa peduli alasan apa yang menyebabkannya. Penyiksaan dalam bentuk apapun sebelum pernikahan dapat dipastikan akan terus berlanjut sampai kepada pernikahan. Konseling bagi pelaku pelecehan adalah SATU-SATUYA langkah yang harus diambil!
Dimanakah Cinta dalam hidup Anda hari ini? Apabila Anda pernah ragu apakah Anda telah menemukan “cinta yang sejati” maka cobalah untuk membaca 1 Korintus 13. Disana Anda akan menemukan apa yang Tuhan katakan mengenai Cinta, bagaimanapun, Dia adalah Cinta itu sendiri!
Apabila Anda masih belum menikah, tolonglah ambil waktu untuk membuat pilihan yang tepat dalam memilih pasangan seumur hidup Anda. Hidup Anda dan orang-orang yang ada di sekitar Anda akan dipengaruhi oleh pilihan ini.
Membuat “pilihan yang tepat” untuk diri Anda mengharuskan Anda untuk melihat secara obyektif diri Anda sendiri dan orang yang akan Anda nikahi. Apabila Anda berkata kepada diri Anda sendiri “Yah, aku kan bisa bercerai!”
Berhentilah sekarang dan ujilah kembali keputusan yang Anda buat! Anda harus menyadari bahwa pasangan hidup Anda adalah untuk seumur hidup. Tuhan tidak berkenan dan sangat membenci perceraian dan itu untuk alasan yang baik karena kehancuran yang dihasilkannya akan berlangsung seumur hidup, bahkan untuk generasi yang akan datang!
Semua orang layak untuk memperoleh kebahagiaan. Tuhan menginginkan agar Anda menjadi bahagia. Ambillah waktu untuk mencari pasangan hidup yang tepat bagi diri Anda. Ijinkan Tuhan untuk bekerja dalam diri Anda dan dalam diri orang lain sehingga suatu hari nanti Anda berdua akan dapat disatukan dalam suatu kesatuan yang sempurna seperti apa yang Bapa inginkan bagi Anda. Anda TIDAK AKAN pernah MENYESAL harus menunggu ketika Anda telah menemukan “ORANG YANG TEPAT”!
Tuhan Memberkati Anda!
Sumber: Elia-Story
Suka, Cinta, dan Kasih Sayang(buat kamu yang lagi jatuh cinta)
Walau belum Valentine’s Day, boleh donk kita bahas ini. Siapa pun di dunia pasti pernah merasakan perasaan suka, cinta, dan kasih sayang. Perasaan yang konon katanya indah, buat jantung deg-deg-an, buat hati berbunga – bunga, buat perasaan seakan terbang melayang. Tapi apakah selalu semuanya begitu indah?
Suka-Cinta-Kasih Sayang, ketiga itu seperti anak tangga. Ketiga merupakan sebuah tahapan. Mulai dari yang paling bawah yaitu perasaan suka, lalu meningkat ke cinta, dan terakhir adalah perasaan sayang. Suka itu datang dari mata, cinta itu masuk ke hati, dan kasih sayang itu keluar dari jiwa.
Kita mulai dari suka dulu. Suka itu adalah sebuah kata yang umum, ditujukan kepada siapa saja. Tidak harus pria dan wanita, juga tidak harus manusia ( loh???). Contoh aja, aku suka banget sama kura-kura, aku juga suka makan, suka maen game, juga suka denger musik. Tapi jika kata suka ditujukan antar pria dan wanita, secara umum kita menanggapi dengan arti berbeda. Itu gak salah kok. Suka itu memang dasar dan mula, kalo gak suka, ya… gak akan dilakukan. MIsal aku gak suka ke bioskop, ya aku gak mau ke sana. Tapi perasaan suka ini sangat dangkal. Akan cepat luntur, terutama bila sudah bosan.
Kemudian cinta. Cinta lebih dalam dari suka. Cinta ini perasaan yang ingin memberi, ingin berbagi. Lihat aja waktu Valentine’s Day, banyak dewi-dewi dan dewa-dewa cinta berlomba memberikan hadiah pada pasangannya. Tapi perasaan cinta ini punya sifat jelek, EGOIS. Cinta itu harus memiliki, cinta itu pencemburu. Ini gak buruk kok, memang itu sifat dasar dari cinta, gak bisa dipungkiri. Tapi cinta itu adalah tahap penjajakan. Masih rentan. Masi banyak yang mementingkan ego. Cinta tu masi menuntut balasan atau imbalan. Cinta yang “terluka” bisa menjadi “kebencian” loh! Lihat tu banyak pasangan yang putus tengah jalan, setelah itu jadi tak acuh kalo bertemu, ada yang biasa saja, tapi terkadang ada yang buang muka, seolah menghindar. Lalu, bagaimana dengan orang yang sampai rela mati demi cinta? Nanti kita lihat lebih dalam.
Lalu yang terakhir adalah Kasih Sayang. Sayang ini perasaan tertinggi. Sayang ni gak ada batasan, UNLIMITED. Kasih sayang tu gak menuntut apa – apa sebagai balasan. Berbeda dengan cinta. Ia “benar – benar rela” dalam memberi, atau yang kita sebut pengorbanan. Kasih sayang gak akan pernah luntur, entah karena “waktu”, ataupun karena “luka”.
Untuk mencapai tahapan-tahapan ini butuh proses, butuh waktu. Ada pepatah, tak kenal maka tak sayang itu benar. Semua gak bisa terjadi secara instan, perlu diuji oleh waktu. Pernah liat film “Titanic” kan? Kata orang itu film tentang “cinta sejati”. Ya benar, mereka baru sampai tahap cinta. Lalu sang Leonardo kan sampe rela mati? Jangan salah, cinta itu memberikan suatu perasaan ” menggebu” di dalam hati ( apa jantung ya?). Pada saat cinta itu “baru” bersemi, perasaan itu kuat sekali, tetapi seiring berjalannya waktu, akan semakin berkurang. Bahkan bisa hilang.
Dalam bahasa Inggris, cinta maupun sayang itu gak bisa dibedakan. Keduanya disebut “LOVE”. Tetapi yang pasti, LOVE itu adalah kata “kerja aktif” ( i love you = aku mencintaimu). Jadi Love itu adalah kata kerja aktif satu arah ( mencintai), dia tidak menuntut balasan(bukan saling mencintai). Sementara dalam bahasa Indonesia, cinta itu lebih cenderung dianggap dianggap kata benda. Tetapi yang benar seharusnya “aku cinta kamu”, bukan “aku mencintaimu”. Maka benarlah definisi “cinta” yang artinya dalam bahasa inggris “love”, bahwa “cinta” itu sama dengan “sayang”. Tetapi karena bahasa Indonesia rancu, secara harafiah kita akan, menyebut cinta itu love dan sayang itu true love ( download dan lihat diary-7 di “Diary dan Renungan”).
Lalu perasaan “Sayang” tu bagaimana? Dua hari yang lalu aku bertemu dengan seorang opa-opa(kakek) bersama isterinya (juga sudah oma-oma alias nenek). Aku memang mengenal opa itu, sering ngobrol, tetapi baru kali ini aku benar – benar memperhatikan opa dan oma ini. Opa itu memboncengi oma dengan sebuah sepeda motor “MIO”. Mio itu di cat dengan warna kulit DALMATION 101, karena kata opa oma suka dengan anjing dalmation. Mereka tipa sore memang sering berkeliling naik sepeda motor itu. Lalu ketika turun dari sepeda motor, opa ini menurunkan standart dari motornya, lalu ia turun lebih dahulu, dan lalu memegang tangan si oma untuk membantunya turun dari mio itu. Dulu aku pernah berbincang dengan si opa, usianya sudah 50 tahun lebih. Dan ia sudah menikah kurang lebih 30 tahun. Aku benar – benar terkagum, dan terharu melihat opa dan oma ini, bagaimana kasih sayang mereka bisa bertahan. Tentu gak mudah. Semua butuh proses. Mereka sudah lalui proses itu selama 30 tahu, lebih jika dihitung masa pacaran.
Lihat saja contoh yang nyata, bagaimana orang tuamu sangat menyayangi kamu. Mereka rela bekerja keras, membanting tulang dan memeras keringat untuk kebahagiaan dan masa depanmu. Lalu apa mereka menuntut balas.
Menurut Firman Tuhan, sayang itu rela berkorban tanpa harus saling memiliki. Semua tau kan kisah bagaimana Raja Salomo dengan kebijakannya memecahkan perkara dua orang ibu yang mengaku memiliki dan berebut atas seorang anak? Yang belum tau baca I Raja-Raja 3:16-28. Kita bukan membahas bagaimana kebijakan Salomo, tetapi bagaimana sikap ibu yang benar – benar adalah ibu anak itu, dan bagaimana “kasih sayang dan cintanya” kepada anaknya. Disini jelas bahwa Firman berkata bahwa “cinta dan sayang” itu tidak harus memiliki, melainkan rela berkorban. Kisah cinta sejati terbesar lainnya adalah bagaimana Tuhan rela mati di kayu salib untuk kita semua. Tuhan gak menuntut balasan apapun dari kita. Itu teladan dari cinta dan sayang yang luar biasa yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita.
Jadi sudah jelaskan? Mari kita koreksi diri masing – masing, bagaimana perasaan kamu terhadap orang yang konon katanya kamu sayangi. Yang bisa menilai hanya diri kalian sendiri. Jawablah kepada pribadi masing – masing. Jangan membohongi diri sendiri. Uji diri kalian, apakah kalian gak egois, bukan ingin memiliki, relakah kalian bila suatu saat harus kehilangan bila demi kebahagiaan orang yang kalian sayangi? Uji diri sendiri, jangan sampai Tuhan yang menguji kalian ( Amsal 21:2 setiap jalan orang adalah lurus menurut jalannya sendiri, tetapi Tuhan lah yang menguji hati). Jika benar – benar sudah saling menyayangi, pertahankan itu, berdoa terus minta Tuhan jaga. Jika ternyata belum, berdoa, dan minta Tuhan murnikan perasaan itu.
Bagaimana, suka, cinta dan sayang gak selamanya membawa kebahagiaan kan? Kadang ia juga membawa air mata dan kesedihan. Sudah siapkah kamu menghadapinya? Kalo kamu mencintai dan menyayangi, jadilah “kuat”, supaya bisa bertahan kalo ujian datang. Ingatlah, bahwa Cinta sejati dan Kasih Sayang itu hanya ada di dalam Tuhan, HE IS RIVER OF LOVE.
Aku pribadi suka pada banyak hal dan banyak orang. Tetapi aku hanya pernah satu kali “Cinta dan Sayang” kepada seseorang. Ya, dia yang bisa menyadarkan aku mengenai apa yang bisa aku sharingkan ini. Itu aja yang bisa aku bagikan.
Jesus Bless you all.
Suka-Cinta-Kasih Sayang, ketiga itu seperti anak tangga. Ketiga merupakan sebuah tahapan. Mulai dari yang paling bawah yaitu perasaan suka, lalu meningkat ke cinta, dan terakhir adalah perasaan sayang. Suka itu datang dari mata, cinta itu masuk ke hati, dan kasih sayang itu keluar dari jiwa.
Kita mulai dari suka dulu. Suka itu adalah sebuah kata yang umum, ditujukan kepada siapa saja. Tidak harus pria dan wanita, juga tidak harus manusia ( loh???). Contoh aja, aku suka banget sama kura-kura, aku juga suka makan, suka maen game, juga suka denger musik. Tapi jika kata suka ditujukan antar pria dan wanita, secara umum kita menanggapi dengan arti berbeda. Itu gak salah kok. Suka itu memang dasar dan mula, kalo gak suka, ya… gak akan dilakukan. MIsal aku gak suka ke bioskop, ya aku gak mau ke sana. Tapi perasaan suka ini sangat dangkal. Akan cepat luntur, terutama bila sudah bosan.
Kemudian cinta. Cinta lebih dalam dari suka. Cinta ini perasaan yang ingin memberi, ingin berbagi. Lihat aja waktu Valentine’s Day, banyak dewi-dewi dan dewa-dewa cinta berlomba memberikan hadiah pada pasangannya. Tapi perasaan cinta ini punya sifat jelek, EGOIS. Cinta itu harus memiliki, cinta itu pencemburu. Ini gak buruk kok, memang itu sifat dasar dari cinta, gak bisa dipungkiri. Tapi cinta itu adalah tahap penjajakan. Masih rentan. Masi banyak yang mementingkan ego. Cinta tu masi menuntut balasan atau imbalan. Cinta yang “terluka” bisa menjadi “kebencian” loh! Lihat tu banyak pasangan yang putus tengah jalan, setelah itu jadi tak acuh kalo bertemu, ada yang biasa saja, tapi terkadang ada yang buang muka, seolah menghindar. Lalu, bagaimana dengan orang yang sampai rela mati demi cinta? Nanti kita lihat lebih dalam.
Lalu yang terakhir adalah Kasih Sayang. Sayang ini perasaan tertinggi. Sayang ni gak ada batasan, UNLIMITED. Kasih sayang tu gak menuntut apa – apa sebagai balasan. Berbeda dengan cinta. Ia “benar – benar rela” dalam memberi, atau yang kita sebut pengorbanan. Kasih sayang gak akan pernah luntur, entah karena “waktu”, ataupun karena “luka”.
Untuk mencapai tahapan-tahapan ini butuh proses, butuh waktu. Ada pepatah, tak kenal maka tak sayang itu benar. Semua gak bisa terjadi secara instan, perlu diuji oleh waktu. Pernah liat film “Titanic” kan? Kata orang itu film tentang “cinta sejati”. Ya benar, mereka baru sampai tahap cinta. Lalu sang Leonardo kan sampe rela mati? Jangan salah, cinta itu memberikan suatu perasaan ” menggebu” di dalam hati ( apa jantung ya?). Pada saat cinta itu “baru” bersemi, perasaan itu kuat sekali, tetapi seiring berjalannya waktu, akan semakin berkurang. Bahkan bisa hilang.
Dalam bahasa Inggris, cinta maupun sayang itu gak bisa dibedakan. Keduanya disebut “LOVE”. Tetapi yang pasti, LOVE itu adalah kata “kerja aktif” ( i love you = aku mencintaimu). Jadi Love itu adalah kata kerja aktif satu arah ( mencintai), dia tidak menuntut balasan(bukan saling mencintai). Sementara dalam bahasa Indonesia, cinta itu lebih cenderung dianggap dianggap kata benda. Tetapi yang benar seharusnya “aku cinta kamu”, bukan “aku mencintaimu”. Maka benarlah definisi “cinta” yang artinya dalam bahasa inggris “love”, bahwa “cinta” itu sama dengan “sayang”. Tetapi karena bahasa Indonesia rancu, secara harafiah kita akan, menyebut cinta itu love dan sayang itu true love ( download dan lihat diary-7 di “Diary dan Renungan”).
Lalu perasaan “Sayang” tu bagaimana? Dua hari yang lalu aku bertemu dengan seorang opa-opa(kakek) bersama isterinya (juga sudah oma-oma alias nenek). Aku memang mengenal opa itu, sering ngobrol, tetapi baru kali ini aku benar – benar memperhatikan opa dan oma ini. Opa itu memboncengi oma dengan sebuah sepeda motor “MIO”. Mio itu di cat dengan warna kulit DALMATION 101, karena kata opa oma suka dengan anjing dalmation. Mereka tipa sore memang sering berkeliling naik sepeda motor itu. Lalu ketika turun dari sepeda motor, opa ini menurunkan standart dari motornya, lalu ia turun lebih dahulu, dan lalu memegang tangan si oma untuk membantunya turun dari mio itu. Dulu aku pernah berbincang dengan si opa, usianya sudah 50 tahun lebih. Dan ia sudah menikah kurang lebih 30 tahun. Aku benar – benar terkagum, dan terharu melihat opa dan oma ini, bagaimana kasih sayang mereka bisa bertahan. Tentu gak mudah. Semua butuh proses. Mereka sudah lalui proses itu selama 30 tahu, lebih jika dihitung masa pacaran.
Lihat saja contoh yang nyata, bagaimana orang tuamu sangat menyayangi kamu. Mereka rela bekerja keras, membanting tulang dan memeras keringat untuk kebahagiaan dan masa depanmu. Lalu apa mereka menuntut balas.
Menurut Firman Tuhan, sayang itu rela berkorban tanpa harus saling memiliki. Semua tau kan kisah bagaimana Raja Salomo dengan kebijakannya memecahkan perkara dua orang ibu yang mengaku memiliki dan berebut atas seorang anak? Yang belum tau baca I Raja-Raja 3:16-28. Kita bukan membahas bagaimana kebijakan Salomo, tetapi bagaimana sikap ibu yang benar – benar adalah ibu anak itu, dan bagaimana “kasih sayang dan cintanya” kepada anaknya. Disini jelas bahwa Firman berkata bahwa “cinta dan sayang” itu tidak harus memiliki, melainkan rela berkorban. Kisah cinta sejati terbesar lainnya adalah bagaimana Tuhan rela mati di kayu salib untuk kita semua. Tuhan gak menuntut balasan apapun dari kita. Itu teladan dari cinta dan sayang yang luar biasa yang Tuhan ingin ajarkan kepada kita.
Jadi sudah jelaskan? Mari kita koreksi diri masing – masing, bagaimana perasaan kamu terhadap orang yang konon katanya kamu sayangi. Yang bisa menilai hanya diri kalian sendiri. Jawablah kepada pribadi masing – masing. Jangan membohongi diri sendiri. Uji diri kalian, apakah kalian gak egois, bukan ingin memiliki, relakah kalian bila suatu saat harus kehilangan bila demi kebahagiaan orang yang kalian sayangi? Uji diri sendiri, jangan sampai Tuhan yang menguji kalian ( Amsal 21:2 setiap jalan orang adalah lurus menurut jalannya sendiri, tetapi Tuhan lah yang menguji hati). Jika benar – benar sudah saling menyayangi, pertahankan itu, berdoa terus minta Tuhan jaga. Jika ternyata belum, berdoa, dan minta Tuhan murnikan perasaan itu.
Bagaimana, suka, cinta dan sayang gak selamanya membawa kebahagiaan kan? Kadang ia juga membawa air mata dan kesedihan. Sudah siapkah kamu menghadapinya? Kalo kamu mencintai dan menyayangi, jadilah “kuat”, supaya bisa bertahan kalo ujian datang. Ingatlah, bahwa Cinta sejati dan Kasih Sayang itu hanya ada di dalam Tuhan, HE IS RIVER OF LOVE.
Aku pribadi suka pada banyak hal dan banyak orang. Tetapi aku hanya pernah satu kali “Cinta dan Sayang” kepada seseorang. Ya, dia yang bisa menyadarkan aku mengenai apa yang bisa aku sharingkan ini. Itu aja yang bisa aku bagikan.
Jesus Bless you all.
Cinta Kasih Menutupi Banyak Kesalahan
Dalam perumpamaan mengenai orang Farisi dengan pemungut cukai, ada dua tokoh yang dikemukakan, yaitu orang Farisi dan pemungut cukai. Orang Farisi dalam kalangan Yahudi, merupakan golongan yang terpandang, dan boleh dikatakan sebagai tokoh-tokoh agama Yahudi, orang-orang yang berpengaruh, memerintah, terpandang, dan dihormati orang. Mereka itu umumnya menganggap dirinya sebagai ahli waris dari agama Yahudi, memandang dirinya sebagai orang yang saleh, orang yang benar yang mengikuti peraturan-peraturan agama dengan tepat. Dalam perumpamaan ini diperlihatkan bahwa orang Farisi tersebut mengikuti hukum dan tidak sama seperti orang lain. Dia berkata bahwa dia tidak pernah merampok, tidak pernah mencuri, tidak pernah berbuat salah seperti orang lain, berpuasa dua kali seminggu, membayar persepuluhan, dan dia juga tidak seperti pemungut cukai yang memeras orang lain.
Kita lihat dalam diri orang Farisi tersebut, ia seorang tokoh yang begitu yakin akan dirinya karena ia merasa telah memenuhi peraturan agamanya dengan baik. Oleh karena itu, ia memandang dirinya hebat, sehingga ia memandang orang lain dengan sebelah mata. Ia menghakimi dan menuduh orang lain pembunuh, pezinah, perampok, dan lain-lainnya.
Sekarang kita akan beralih pada tokoh pemungut cukai. Pemungut cukai di sini artinya tukang pajak. Tukang pajak pada zaman orang Yahudi seringkali juga merupakan seorang pemeras, lebih-lebih pada zaman Yesus ini. Mereka memeras dari orang-orang Yahudi sendiri dan bekerja bagi para penjajah, yaitu orang-orang Roma. Pada waktu itu sistemnya adalah sistem target. Pemerintah Roma memberi target kepada tukang pajak, yaitu bahwa mereka harus memasukkan sejumlah uang yang ditentukan untuk pajak. Akibatnya, mereka berusaha memenuhi target tersebut. Dan dalam pemenuhan target itu, mereka bisa memeras dari rakyat kecil sebanyak dua kali lipat. Mereka memeras berdasarkan kekuasaan yang diterimanya dari penjajah itu. Karena mereka memeras rakyat, mereka dibenci sekali oleh rakyat. Mereka dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai sampah masyarakat, sebagai pengkhianat, pengemis, dan lain-lain. Dengan kata lain, pemungut cukai dianggap orang yang tidak bermoral dan berperikemanusiaan lagi oleh masyarakat, dan juga bertentangan dengan hukum. Demikianlah keadaan para pemungut cukai.
Lalu apakah yang ingin disampaikan perumpamaan ini bagi kita? Melalui perumpamaan ini Tuhan mengungkapkan suatu kebenaran yang barangkali bisa membingungkan hati kita karena kita juga seringkali berpikir seperti orang Farisi. Kita merasa perlu untuk membenarkan diri, menganggap diri lebih baik, atau kita sering menghakimi dan menyalahkan orang lain supaya tampak lebih baik dalam pandangan sendiri dan juga dalam pandangan orang lain. Dari situlah timbul segala macam gosip dan dengan mudah kita memfitnah dan membicarakan kejelekan orang lain.
Oleh karena itu, kita harus bersikap jujur dan polos serta berani mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita sebetulnya rapuh dan lemah. Kita hanyalah abu dan pendosa, tetapi kita dapat melihat bagaimana sikap Yesus terhadap pemungut cukai, orang yang berdosa itu. Pemungut cukai itu mengakui dosanya di hadapan Tuhan, "Tuhan, saya telah berdosa, ampunilah aku. Kasihanilah aku orang yang berdosa ini.” Dan Yesus tidak mengatakan bahwa berdosa itu tidak apa-apa. Namun, dikatakan bahwa Tuhan datang untuk memanggil orang-orang berdosa supaya mereka bertobat dan kembali kepada Allah maka dengan demikian mereka hidup.
Jadi, bagaimana sikap Yesus terhadap orang-orang berdosa? Pertama-tama kita melihat sikap-Nya terhadap perampok yang disalibkan bersama Dia. Kita bisa bayangkan kehidupan perampok itu, yang selama hidupnya ia hanya tahu kekerasan. Mungkin ia tidak pernah mengalami kasih, maka ia juga tidak bisa memberikan kasih. Yang ada padanya hanyalah kekerasan dan kekejaman: ia membunuh, merampok, tidak peduli nyawa orang lain, tidak lagi bisa berbelaskasihan, dan melakukan berbagai macam kejahatan, sampai akhirnya ia tertangkap. Dia disalibkan bersama Tuhan Yesus, dan saat itulah dia sempat mengamat-amati sikap Yesus yang lembut dan penuh kesucian. Ia melihat keagungan Tuhan Yesus, kebesaran jiwa Yesus, dan dia mulai tergerak hatinya, lalu dia berkata, "Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23: 42-43) Yesus tidak mengatakan engkau harus bertobat dan lain-lain, tetapi Yesus tahu kejujuran dan kepolosannya, yaitu bahwa orang ini telah mulai berbalik. Penjahat tadi tidak usah melakukan hal-hal yang baik lagi kecuali bertobat saat-saat akhir hidupnya dan Yesus tidak lagi memandang dosa dan perbuatannya yang jahat. Yesus menerima doanya dan permohonannya. Dan hari itu juga ia ada bersama Yesus di Taman Firdaus.
Mari kita lihat lebih dalam sikap Yesus terhadap orang berdosa. Dalam Injil Lukas (Luk 7: 36-50) juga diceritakan tentang seorang perempuan pendosa. Ia seorang pelacur. Ia begitu terkenal di kota itu. Kemudian ia tersentuh dan tergerak oleh khotbah-khotbah Yesus. Ia datang kepada Yesus ketika Yesus sedang makan di suatu perjamuan pesta. Ia tidak peduli akan orang-orang yang ada di sana, tetapi ia masuk, menangis, dan kemudian meminyaki kaki Yesus. Dapat kita bayangkan bagaimana reaksi orang-orang yang ada di dalam rumah itu. Misalnya, pada waktu perempuan itu masuk, pasti mata semua orang tertuju kepadanya dan pasti perasaan malu ada pada perempuan itu. Akan tetapi, ia tahu bahwa ia datang kepada Yesus yang Maha murah, Maha rahim, dan Maha belaskasihan sehingga ia tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Ia melakukan perbuatan yang tidak biasa. Tiba-tiba ia mendekati kaki Yesus, mulai menangis dan mencium kaki Yesus serta meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya.
Dalam Injil Lukas juga dikatakan bahwa yang mengundang Yesus adalah seorang Farisi. Lalu ia berpikir tentang Yesus dan berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Kalau Ia ini nabi, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipegang oleh seorang yang najis, seorang pendosa, dan pelacur? Akan tetapi Tuhan Yesus berkata: "Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih." (Luk. 7:47)
Seringkali justru inilah yang paling sukar diterima oleh manusia, yaitu menerima pengampunan secara cuma-cuma dari Allah. Kita sering beranggapan bahwa kita hanya bisa menerima kasih Allah kalau kita telah berjasa, berbuat baik, telah berpuasa, dan sebagainya. Mengapa kita sering mempunyai anggapan yang keliru demikian? Karena kita kurang percaya, kita kurang berani membuka diri kepada Allah, dan karena dalam pengalaman sehari-hari seringkali kita mengalami penolakan, mengalami penghakiman, dan pengadilan. Maka dalam hidup sehari-hari, orang tidak berani terbuka terhadap orang lain karena kurang yakin akan cintanya.
Tentu saja mengenai yang baik-baik orang berani terbuka, tetapi mengenai yang buruk-buruk orang tidak berani terbuka. Mengapa? Itu semua bisa saja karena takut, orang beranggapan kalau dia ceritakan semuanya, maka dia akan ditolak. Maka yang jahat, yang buruk, dan dosa itu dipendam sendiri, sampai-sampai menjadi nanah dalam hatinya dan menjadi borok. Prasangka dan dorongan si jahat dalam hati manusia mengakibatkan manusia menjadi takut untuk membuka diri. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya di dalam lubuk hati manusia, dia selalu ingin diterima. Bila kita renungkan, bukankah kita semua sebetulnya ingin diterima, lebih-lebih oleh orang yang paling dekat dengan kita? Kalau kita ditolak, sakitnya setengah mati.
Kita takut untuk jujur dan berpikir, “Kalau saya terbuka maka nanti saya tidak diterima”, dan akhirnya seringkali kita menjadi tidak berani membuka diri. Segala kesalahan disimpan sendiri. Oleh karena itu, juga hubungan dengan sesama tidak bisa harmonis lagi. Akan tetapi, jika sungguh-sungguh ada hubungan cinta kasih yang sejati, maka apa yang dikatakan oleh Santo Petrus, "Cinta kasih menutupi banyak kesalahan" (1 Ptr. 4: 8) akan terwujud. Artinya, kalau ada hubungan kasih yang sejati, kita berani terbuka kepada orang lain karena kita yakin ia akan menerima kita seperti apa adanya.
Bila kita membuka diri, biarpun kita telah berdosa dan banyak berbuat kesalahan, Tuhan tetap mengasihi kita, orang yang berdosa. Seandainya, kita yakin bahwa Tuhan akan mengatakan, "Engkau adalah kekasih-Ku. Aku tetap mencintai engkau. Aku selalu mengasihimu," maka kita tidak usah takut untuk membuka diri di hadapan-Nya. Demikianlah sikap Allah terhadap kita.
Kita lihat contoh lain bagaimana sikap Tuhan terhadap orang berdosa, yaitu dalam perumpamaan anak yang hilang. (Luk. 15) Bapa itu sebetulnya tahu, bahwa anaknya telah menyakiti hatinya begitu rupa, yaitu dengan berfoya-foya, main pelacur, berjudi, dan membuat hidupnya tidak karuan. Namun, bapa itu senantiasa merindukan anak itu kembali. Ia tidak mau memaksa anaknya, walaupun ia merindukan anak itu pulang dan kembali ke rumahnya. Dan ketika anak itu datang dari jauh, bapa itu sudah tahu karena tiap hari bapa itu keluar, menunggu dan memandang dari jauh dan berpikir, “Barangkali anakku datang”.
Anaknya pergi dari rumah bapanya sebagai hartawan besar, tetapi kembali ke rumah dengan pakaian yang compang-camping, seperti seorang pengemis. Ketika anaknya mengatakan, "Bapa, aku telah berdosa…”, bapanya tidak membiarkan anaknya itu meneruskan kata-katanya. Namun, ia merangkul, menciumnya, dan menyuruh para pelayannya mengambil pakaian yang paling baik. Ayah itu berkata, "Mari kita bersukaria, karena anakku telah kembali, dia telah mati sekarang hidup kembali.”
Inilah sikap hati Allah. Kalau kita tahu bagaimana Allah itu, maka kita juga akan berani membuka diri kepada-Nya. Seringkali kita tidak berani mengakui diri kita di hadapan Allah, "Tuhan, saya telah berdosa, saya tidak berdaya, saya tidak mampu.” Oleh karena itu, kita bertopeng di hadapan Allah. Kita seolah-olah seperti orang yang hebat dengan beranggapan telah melakukan ini atau itu, berjasa ini atau itu, dan sebagainya, seolah-olah dengan sombong kita berkata, “Tuhan, lihat, saya telah berjasa, memberi ini, memberi itu, berkhotbah dengan baik, melakukan karya sosial dengan sukses”, dan seperti doa seorang Farisi, kita mengatakan, “Saya telah berpuasa dua kali seminggu, saya telah memberi perpuluhan, saya telah giat dalam pelayanan ini dan itu, aktif dalam kelompok serta organisasi ini dan itu, kalau begitu, Tuhan, apa upahku?” Kita mengharapkan balas jasa dari Allah.
Dengan terang Roh Kudus kita mampu melihat bahwa sebetulnya dalam diri kita masih banyak segi yang gelap, segi yang negatif, tetapi kita tidak berani melihatnya. Pada umumnya kita tidak berani menerima diri sendiri karena memandang diri begitu jelek sehingga kita menjadi putus asa dan takut. Karena tidak bisa menerima diri sendiri, kita akhirnya bisa menyalahkan orang lain, menganggap orang lain yang selalu salah.
Seringkali kita tidak berani melihat bahwa sumber dari banyak kesukaran sebetulnya bukan pada orang lain, tetapi dari dalam diri sendiri. Karena kita menutupi diri sendiri, kita tidak berani melihat kebaikan pada orang lain dan pada diri sendiri, tidak berani bercermin. Kita tidak mau melihat kenyataan, yaitu bahwa diri kita diciptakan indah.
Kalau secara fisik kita tidak bisa mengubah, tetapi secara rohani, setiap manusia itu sebetulnya mempunyai keindahan. Setiap manusia itu seperti batu permata yang perlu digosok supaya bersinar-sinar di hadapan Allah dan hanya Allah yang bisa menggosoknya. Akan tetapi, kalau kita menutup-nutupi hal-hal yang jelek terhadap Allah, seolah-olah semuanya sudah beres, seolah-olah semuanya tidak ada apa-apa lagi, maka Allah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Yesus berkata, "Putera manusia datang untuk orang berdosa, tetapi bukan untuk orang sehat.” Namun, karena orang Farisi menganggap semuanya baik, seolah-olah Yesus berkata terhadap mereka, "Kalau kamu menganggap dirimu sudah sehat, maka Aku tidak dapat berbuat apa-apa.”
Agar kita dapat disembuhkan, kita harus menyadari bahwa kita sakit. Kalau kita tidak menyadari bahwa kita sakit maka kita tidak bisa disembuhkan. Berani melihat diri sendiri seperti apa adanya merupakan hal yang sangat peka dan sangat dalam. Kita berani menerima diri kita apa adanya, kalau kita yakin bahwa Allah sungguh mengasihi kita, bahwa Ia tidak mengadili kita dan tidak memperhitungkan segala kesalahan dan dosa kita. Tuhan Yesus bersabda, "Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi, jangan kamu menghukum supaya kamu tidak dihukum.” Yesus berkata demikian karena Dia lebih dahulu mempraktikkannya sendiri.
Jika kita lihat dalam seluruh Injil, dapatkah kita menemukan di mana Yesus tidak bersikap keras terhadap para pendosa? Yesus bersikap keras sekali terhadap orang yang munafik, yang tidak mau mengakui dirinya sebagai orang berdosa. Namun, terhadap Zakheus, walaupun banyak sekali dosanya, Yesus tidak menyinggung satu pun dosanya. Yesus hanya mengatakan, "Zakheus, hari ini Aku mau tinggal di rumahmu." Lalu orang-orang lain yang menganggap dirinya baik berontak, “Mengapa Yesus tinggal pada rumah orang berdosa?”
Kalau kita terbuka kepada Tuhan dan dengan jujur mengatakan, “Tuhan, aku telah berdosa,” maka saat itu juga kita akan mendengarkan suara Tuhan, "Dosa-dosamu telah diampuni.” Oleh karena itu, kalau kita menyadari hal tersebut dengan sungguh, lalu bagaimana sikap kita, apakah kita tidak perlu berpuasa, tidak perlu berbuat baik, tidak perlu menderma, dan sebagainya? Itu semua tetap perlu, tetapi motivasinya, dorongannya lain, yaitu bahwa kita melakukan semua itu supaya berkenan kepada Allah. Sebagai contoh, seorang anak karena ingin selalu berkenan kepada ayahnya yang menuntut agar dia pintar, lalu belajar setengah mati supaya mendapat nilai yang tinggi di sekolahnya. Ia tahu kalau tidak begitu, maka ayahnya pasti marah. Oleh karena itu, ia berusaha mati-matian untuk mencapai nilai yang tinggi, dan memang ia sering juara. Akan tetapi anak itu menjadi tegang terus, ia tidak percaya bahwa ayahnya juga akan mencintai dia kalau nilainya rendah. Dan seringkali kita juga seperti anak tadi terhadap Allah. Kita seringkali tidak percaya bahwa cinta Bapa tidak berubah walaupun kita adalah pendosa berat. Oleh karena itu, setelah kita yakin akan kasih dan cinta Allah, kita akan melakukan segalanya. Bukan kalau kita melakukan hal ini, kita dicintai oleh Allah, tetapi kita akan melakukannya sebagai ungkapan syukur dan terima kasih supaya kita bisa berkembang dalam kasih Allah.
Contoh di atas menggambarkan bagaimana anak tersebut melakukan pekerjaan baik dengan tegang. Namun, sebaiknya tidaklah demikian dengan kita. Kalau kita tahu bahwa Allah mengasihi dan mencintai kita, maka kita dengan rela dan senang hati akan melakukan itu demi cinta kita kepada-Nya. Cintakasih Allah menutupi banyak kesalahan. Walaupun kita memiliki banyak dosa, kita tetap boleh bersatu dalam Dia sehingga kita dapat berkembang dalam kasih Allah. Dengan demikian, kita melakukan segala sesuatu bukan lagi untuk mendapat jasa. Sebaliknya karena kita mencintai Allah, kita akan melakukan segala perbuatan itu dengan senang hati, tanpa balas jasa dari Bapa.
Demikian juga dengan pemungut cukai yang ada dalam perumpamaan ini. Ia tidak pernah menghitung jasanya kepada Tuhan: saya telah melakukan ini, saya telah melakukan itu, tetapi di hadapan Tuhan ia mengatakan, "Ya Allah, kasihanilah aku, orang yang berdosa ini.” Ia bahkan tidak berani menengadah karena kerapuhannya, ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan. Bila kita sadar juga seperti pemungut cukai ini di hadapan Tuhan, kita akan berbahagia karena setiap kali kita berdoa, doa kita pasti didengarkan dan dikabulkan oleh Allah. Kita bersyukur kepada Tuhan karena bisa melakukan segala yang Tuhan berikan kepada kita.
Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan rahmat kerendahan hati supaya kita bisa menyadari siapa kita ini di hadapan Tuhan. Kita hanyalah manusia yang begitu rapuh, kecil, dan lemah. Namun demikian, kita juga menyadari bahwa Allah itu Mahabesar dan Maharahim. Oleh karena itu, Ia mau menerima kita apa adanya.
Kita lihat dalam diri orang Farisi tersebut, ia seorang tokoh yang begitu yakin akan dirinya karena ia merasa telah memenuhi peraturan agamanya dengan baik. Oleh karena itu, ia memandang dirinya hebat, sehingga ia memandang orang lain dengan sebelah mata. Ia menghakimi dan menuduh orang lain pembunuh, pezinah, perampok, dan lain-lainnya.
Sekarang kita akan beralih pada tokoh pemungut cukai. Pemungut cukai di sini artinya tukang pajak. Tukang pajak pada zaman orang Yahudi seringkali juga merupakan seorang pemeras, lebih-lebih pada zaman Yesus ini. Mereka memeras dari orang-orang Yahudi sendiri dan bekerja bagi para penjajah, yaitu orang-orang Roma. Pada waktu itu sistemnya adalah sistem target. Pemerintah Roma memberi target kepada tukang pajak, yaitu bahwa mereka harus memasukkan sejumlah uang yang ditentukan untuk pajak. Akibatnya, mereka berusaha memenuhi target tersebut. Dan dalam pemenuhan target itu, mereka bisa memeras dari rakyat kecil sebanyak dua kali lipat. Mereka memeras berdasarkan kekuasaan yang diterimanya dari penjajah itu. Karena mereka memeras rakyat, mereka dibenci sekali oleh rakyat. Mereka dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai sampah masyarakat, sebagai pengkhianat, pengemis, dan lain-lain. Dengan kata lain, pemungut cukai dianggap orang yang tidak bermoral dan berperikemanusiaan lagi oleh masyarakat, dan juga bertentangan dengan hukum. Demikianlah keadaan para pemungut cukai.
Lalu apakah yang ingin disampaikan perumpamaan ini bagi kita? Melalui perumpamaan ini Tuhan mengungkapkan suatu kebenaran yang barangkali bisa membingungkan hati kita karena kita juga seringkali berpikir seperti orang Farisi. Kita merasa perlu untuk membenarkan diri, menganggap diri lebih baik, atau kita sering menghakimi dan menyalahkan orang lain supaya tampak lebih baik dalam pandangan sendiri dan juga dalam pandangan orang lain. Dari situlah timbul segala macam gosip dan dengan mudah kita memfitnah dan membicarakan kejelekan orang lain.
Oleh karena itu, kita harus bersikap jujur dan polos serta berani mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita sebetulnya rapuh dan lemah. Kita hanyalah abu dan pendosa, tetapi kita dapat melihat bagaimana sikap Yesus terhadap pemungut cukai, orang yang berdosa itu. Pemungut cukai itu mengakui dosanya di hadapan Tuhan, "Tuhan, saya telah berdosa, ampunilah aku. Kasihanilah aku orang yang berdosa ini.” Dan Yesus tidak mengatakan bahwa berdosa itu tidak apa-apa. Namun, dikatakan bahwa Tuhan datang untuk memanggil orang-orang berdosa supaya mereka bertobat dan kembali kepada Allah maka dengan demikian mereka hidup.
Jadi, bagaimana sikap Yesus terhadap orang-orang berdosa? Pertama-tama kita melihat sikap-Nya terhadap perampok yang disalibkan bersama Dia. Kita bisa bayangkan kehidupan perampok itu, yang selama hidupnya ia hanya tahu kekerasan. Mungkin ia tidak pernah mengalami kasih, maka ia juga tidak bisa memberikan kasih. Yang ada padanya hanyalah kekerasan dan kekejaman: ia membunuh, merampok, tidak peduli nyawa orang lain, tidak lagi bisa berbelaskasihan, dan melakukan berbagai macam kejahatan, sampai akhirnya ia tertangkap. Dia disalibkan bersama Tuhan Yesus, dan saat itulah dia sempat mengamat-amati sikap Yesus yang lembut dan penuh kesucian. Ia melihat keagungan Tuhan Yesus, kebesaran jiwa Yesus, dan dia mulai tergerak hatinya, lalu dia berkata, "Yesus, ingatlah akan aku apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Luk 23: 42-43) Yesus tidak mengatakan engkau harus bertobat dan lain-lain, tetapi Yesus tahu kejujuran dan kepolosannya, yaitu bahwa orang ini telah mulai berbalik. Penjahat tadi tidak usah melakukan hal-hal yang baik lagi kecuali bertobat saat-saat akhir hidupnya dan Yesus tidak lagi memandang dosa dan perbuatannya yang jahat. Yesus menerima doanya dan permohonannya. Dan hari itu juga ia ada bersama Yesus di Taman Firdaus.
Mari kita lihat lebih dalam sikap Yesus terhadap orang berdosa. Dalam Injil Lukas (Luk 7: 36-50) juga diceritakan tentang seorang perempuan pendosa. Ia seorang pelacur. Ia begitu terkenal di kota itu. Kemudian ia tersentuh dan tergerak oleh khotbah-khotbah Yesus. Ia datang kepada Yesus ketika Yesus sedang makan di suatu perjamuan pesta. Ia tidak peduli akan orang-orang yang ada di sana, tetapi ia masuk, menangis, dan kemudian meminyaki kaki Yesus. Dapat kita bayangkan bagaimana reaksi orang-orang yang ada di dalam rumah itu. Misalnya, pada waktu perempuan itu masuk, pasti mata semua orang tertuju kepadanya dan pasti perasaan malu ada pada perempuan itu. Akan tetapi, ia tahu bahwa ia datang kepada Yesus yang Maha murah, Maha rahim, dan Maha belaskasihan sehingga ia tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Ia melakukan perbuatan yang tidak biasa. Tiba-tiba ia mendekati kaki Yesus, mulai menangis dan mencium kaki Yesus serta meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya.
Dalam Injil Lukas juga dikatakan bahwa yang mengundang Yesus adalah seorang Farisi. Lalu ia berpikir tentang Yesus dan berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” Kalau Ia ini nabi, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipegang oleh seorang yang najis, seorang pendosa, dan pelacur? Akan tetapi Tuhan Yesus berkata: "Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih." (Luk. 7:47)
Seringkali justru inilah yang paling sukar diterima oleh manusia, yaitu menerima pengampunan secara cuma-cuma dari Allah. Kita sering beranggapan bahwa kita hanya bisa menerima kasih Allah kalau kita telah berjasa, berbuat baik, telah berpuasa, dan sebagainya. Mengapa kita sering mempunyai anggapan yang keliru demikian? Karena kita kurang percaya, kita kurang berani membuka diri kepada Allah, dan karena dalam pengalaman sehari-hari seringkali kita mengalami penolakan, mengalami penghakiman, dan pengadilan. Maka dalam hidup sehari-hari, orang tidak berani terbuka terhadap orang lain karena kurang yakin akan cintanya.
Tentu saja mengenai yang baik-baik orang berani terbuka, tetapi mengenai yang buruk-buruk orang tidak berani terbuka. Mengapa? Itu semua bisa saja karena takut, orang beranggapan kalau dia ceritakan semuanya, maka dia akan ditolak. Maka yang jahat, yang buruk, dan dosa itu dipendam sendiri, sampai-sampai menjadi nanah dalam hatinya dan menjadi borok. Prasangka dan dorongan si jahat dalam hati manusia mengakibatkan manusia menjadi takut untuk membuka diri. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya di dalam lubuk hati manusia, dia selalu ingin diterima. Bila kita renungkan, bukankah kita semua sebetulnya ingin diterima, lebih-lebih oleh orang yang paling dekat dengan kita? Kalau kita ditolak, sakitnya setengah mati.
Kita takut untuk jujur dan berpikir, “Kalau saya terbuka maka nanti saya tidak diterima”, dan akhirnya seringkali kita menjadi tidak berani membuka diri. Segala kesalahan disimpan sendiri. Oleh karena itu, juga hubungan dengan sesama tidak bisa harmonis lagi. Akan tetapi, jika sungguh-sungguh ada hubungan cinta kasih yang sejati, maka apa yang dikatakan oleh Santo Petrus, "Cinta kasih menutupi banyak kesalahan" (1 Ptr. 4: 8) akan terwujud. Artinya, kalau ada hubungan kasih yang sejati, kita berani terbuka kepada orang lain karena kita yakin ia akan menerima kita seperti apa adanya.
Bila kita membuka diri, biarpun kita telah berdosa dan banyak berbuat kesalahan, Tuhan tetap mengasihi kita, orang yang berdosa. Seandainya, kita yakin bahwa Tuhan akan mengatakan, "Engkau adalah kekasih-Ku. Aku tetap mencintai engkau. Aku selalu mengasihimu," maka kita tidak usah takut untuk membuka diri di hadapan-Nya. Demikianlah sikap Allah terhadap kita.
Kita lihat contoh lain bagaimana sikap Tuhan terhadap orang berdosa, yaitu dalam perumpamaan anak yang hilang. (Luk. 15) Bapa itu sebetulnya tahu, bahwa anaknya telah menyakiti hatinya begitu rupa, yaitu dengan berfoya-foya, main pelacur, berjudi, dan membuat hidupnya tidak karuan. Namun, bapa itu senantiasa merindukan anak itu kembali. Ia tidak mau memaksa anaknya, walaupun ia merindukan anak itu pulang dan kembali ke rumahnya. Dan ketika anak itu datang dari jauh, bapa itu sudah tahu karena tiap hari bapa itu keluar, menunggu dan memandang dari jauh dan berpikir, “Barangkali anakku datang”.
Anaknya pergi dari rumah bapanya sebagai hartawan besar, tetapi kembali ke rumah dengan pakaian yang compang-camping, seperti seorang pengemis. Ketika anaknya mengatakan, "Bapa, aku telah berdosa…”, bapanya tidak membiarkan anaknya itu meneruskan kata-katanya. Namun, ia merangkul, menciumnya, dan menyuruh para pelayannya mengambil pakaian yang paling baik. Ayah itu berkata, "Mari kita bersukaria, karena anakku telah kembali, dia telah mati sekarang hidup kembali.”
Inilah sikap hati Allah. Kalau kita tahu bagaimana Allah itu, maka kita juga akan berani membuka diri kepada-Nya. Seringkali kita tidak berani mengakui diri kita di hadapan Allah, "Tuhan, saya telah berdosa, saya tidak berdaya, saya tidak mampu.” Oleh karena itu, kita bertopeng di hadapan Allah. Kita seolah-olah seperti orang yang hebat dengan beranggapan telah melakukan ini atau itu, berjasa ini atau itu, dan sebagainya, seolah-olah dengan sombong kita berkata, “Tuhan, lihat, saya telah berjasa, memberi ini, memberi itu, berkhotbah dengan baik, melakukan karya sosial dengan sukses”, dan seperti doa seorang Farisi, kita mengatakan, “Saya telah berpuasa dua kali seminggu, saya telah memberi perpuluhan, saya telah giat dalam pelayanan ini dan itu, aktif dalam kelompok serta organisasi ini dan itu, kalau begitu, Tuhan, apa upahku?” Kita mengharapkan balas jasa dari Allah.
Dengan terang Roh Kudus kita mampu melihat bahwa sebetulnya dalam diri kita masih banyak segi yang gelap, segi yang negatif, tetapi kita tidak berani melihatnya. Pada umumnya kita tidak berani menerima diri sendiri karena memandang diri begitu jelek sehingga kita menjadi putus asa dan takut. Karena tidak bisa menerima diri sendiri, kita akhirnya bisa menyalahkan orang lain, menganggap orang lain yang selalu salah.
Seringkali kita tidak berani melihat bahwa sumber dari banyak kesukaran sebetulnya bukan pada orang lain, tetapi dari dalam diri sendiri. Karena kita menutupi diri sendiri, kita tidak berani melihat kebaikan pada orang lain dan pada diri sendiri, tidak berani bercermin. Kita tidak mau melihat kenyataan, yaitu bahwa diri kita diciptakan indah.
Kalau secara fisik kita tidak bisa mengubah, tetapi secara rohani, setiap manusia itu sebetulnya mempunyai keindahan. Setiap manusia itu seperti batu permata yang perlu digosok supaya bersinar-sinar di hadapan Allah dan hanya Allah yang bisa menggosoknya. Akan tetapi, kalau kita menutup-nutupi hal-hal yang jelek terhadap Allah, seolah-olah semuanya sudah beres, seolah-olah semuanya tidak ada apa-apa lagi, maka Allah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Yesus berkata, "Putera manusia datang untuk orang berdosa, tetapi bukan untuk orang sehat.” Namun, karena orang Farisi menganggap semuanya baik, seolah-olah Yesus berkata terhadap mereka, "Kalau kamu menganggap dirimu sudah sehat, maka Aku tidak dapat berbuat apa-apa.”
Agar kita dapat disembuhkan, kita harus menyadari bahwa kita sakit. Kalau kita tidak menyadari bahwa kita sakit maka kita tidak bisa disembuhkan. Berani melihat diri sendiri seperti apa adanya merupakan hal yang sangat peka dan sangat dalam. Kita berani menerima diri kita apa adanya, kalau kita yakin bahwa Allah sungguh mengasihi kita, bahwa Ia tidak mengadili kita dan tidak memperhitungkan segala kesalahan dan dosa kita. Tuhan Yesus bersabda, "Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi, jangan kamu menghukum supaya kamu tidak dihukum.” Yesus berkata demikian karena Dia lebih dahulu mempraktikkannya sendiri.
Jika kita lihat dalam seluruh Injil, dapatkah kita menemukan di mana Yesus tidak bersikap keras terhadap para pendosa? Yesus bersikap keras sekali terhadap orang yang munafik, yang tidak mau mengakui dirinya sebagai orang berdosa. Namun, terhadap Zakheus, walaupun banyak sekali dosanya, Yesus tidak menyinggung satu pun dosanya. Yesus hanya mengatakan, "Zakheus, hari ini Aku mau tinggal di rumahmu." Lalu orang-orang lain yang menganggap dirinya baik berontak, “Mengapa Yesus tinggal pada rumah orang berdosa?”
Kalau kita terbuka kepada Tuhan dan dengan jujur mengatakan, “Tuhan, aku telah berdosa,” maka saat itu juga kita akan mendengarkan suara Tuhan, "Dosa-dosamu telah diampuni.” Oleh karena itu, kalau kita menyadari hal tersebut dengan sungguh, lalu bagaimana sikap kita, apakah kita tidak perlu berpuasa, tidak perlu berbuat baik, tidak perlu menderma, dan sebagainya? Itu semua tetap perlu, tetapi motivasinya, dorongannya lain, yaitu bahwa kita melakukan semua itu supaya berkenan kepada Allah. Sebagai contoh, seorang anak karena ingin selalu berkenan kepada ayahnya yang menuntut agar dia pintar, lalu belajar setengah mati supaya mendapat nilai yang tinggi di sekolahnya. Ia tahu kalau tidak begitu, maka ayahnya pasti marah. Oleh karena itu, ia berusaha mati-matian untuk mencapai nilai yang tinggi, dan memang ia sering juara. Akan tetapi anak itu menjadi tegang terus, ia tidak percaya bahwa ayahnya juga akan mencintai dia kalau nilainya rendah. Dan seringkali kita juga seperti anak tadi terhadap Allah. Kita seringkali tidak percaya bahwa cinta Bapa tidak berubah walaupun kita adalah pendosa berat. Oleh karena itu, setelah kita yakin akan kasih dan cinta Allah, kita akan melakukan segalanya. Bukan kalau kita melakukan hal ini, kita dicintai oleh Allah, tetapi kita akan melakukannya sebagai ungkapan syukur dan terima kasih supaya kita bisa berkembang dalam kasih Allah.
Contoh di atas menggambarkan bagaimana anak tersebut melakukan pekerjaan baik dengan tegang. Namun, sebaiknya tidaklah demikian dengan kita. Kalau kita tahu bahwa Allah mengasihi dan mencintai kita, maka kita dengan rela dan senang hati akan melakukan itu demi cinta kita kepada-Nya. Cintakasih Allah menutupi banyak kesalahan. Walaupun kita memiliki banyak dosa, kita tetap boleh bersatu dalam Dia sehingga kita dapat berkembang dalam kasih Allah. Dengan demikian, kita melakukan segala sesuatu bukan lagi untuk mendapat jasa. Sebaliknya karena kita mencintai Allah, kita akan melakukan segala perbuatan itu dengan senang hati, tanpa balas jasa dari Bapa.
Demikian juga dengan pemungut cukai yang ada dalam perumpamaan ini. Ia tidak pernah menghitung jasanya kepada Tuhan: saya telah melakukan ini, saya telah melakukan itu, tetapi di hadapan Tuhan ia mengatakan, "Ya Allah, kasihanilah aku, orang yang berdosa ini.” Ia bahkan tidak berani menengadah karena kerapuhannya, ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan. Bila kita sadar juga seperti pemungut cukai ini di hadapan Tuhan, kita akan berbahagia karena setiap kali kita berdoa, doa kita pasti didengarkan dan dikabulkan oleh Allah. Kita bersyukur kepada Tuhan karena bisa melakukan segala yang Tuhan berikan kepada kita.
Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan rahmat kerendahan hati supaya kita bisa menyadari siapa kita ini di hadapan Tuhan. Kita hanyalah manusia yang begitu rapuh, kecil, dan lemah. Namun demikian, kita juga menyadari bahwa Allah itu Mahabesar dan Maharahim. Oleh karena itu, Ia mau menerima kita apa adanya.
Monday, April 26, 2010
KETIKA HATI MULAI RAGU
Matius 11 : 28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Sebagai manusia, kita mempunyai kemampuan yang terbatas. Terbatas pemikiran, terbatas pengetahuan masa yang akan datang, terbatas kekuatan untuk menanggung beban yang begitu berat dan lain sebagainya. Di tengah-tengah keterbatasan itu, kadang kala kita menjadi putus harapan, menjadi ragu dan tidak lagi mempercayai hal yang selama ini kita imani sebagai pemberi jalan keluar yaitu Tuhan. kita yang terbatas ragu kepada yang tidak terbatas. Ragu akan janji Tuhan, ragu akan kekuatan Tuhan, ragu akan kemampuan Tuhan untuk memberikan jalan keluar dan lain sebagainya.
Di tengah ombak dan arus pencobaan, kadang kala kita hampir kehilangan arah dan tujuan hidup. Kita bagaikan kapal yang diombang-ambingkan ke sana kemari, tidak ada pegangan hidup dan tidak ada pengharapan serta tidak ada tempat menaruh sauh kehidupan kita untuk bersandar. Lelah dan letih selalu menyertai kita. Ada begitu banyak orang yang mulai bimbang dan ragu dan sebagai pelampiasan pergi mencari damai ke tempat hiburan yang menawarkan begitu banyak kenikmatan atau ketempat-tempat lain.
Yesus menawarkan kita pertolongan agar tidak menjadi letih lesu dan berbeban berat. Dia berkata dan mengajak kita semua yang letih lesu dan berbeban berat, agar datang kepadaNya karena dia akan memberi kelegaan kepada kita. (Matius 11:28). Tapi kita terkadang lupa bahwa ada Yesus yang telah menawarkan hal tersebut sehingga ketika ada permasalahan, kita sering kali mengeluh dan rasa letih lesu tersebut tidak segera berlalu. Atau kita tahu dan mengerti akan perkataan Yesus ini tetapi kita meragukan akan janjiNya seakan-akan Yesus dianggap sebagai tukang obat yang menawarkan barang daganganNya kepada pelanggan tanpa tahu khasiatnya. Inilah persoalan utama umat Tuhan yang mengabaikan dan meragukan janji Tuhan. Kita lupa bahwa Yesus adalah Tuhan yang tiada pernah terlambat memberi pertolongan. Kita lupa bahwa Yesus adalah yang berkuasa untuk memberikan segala sesuatu termasuk mengangkat segala beban hidup yang begitu berat, memberikan jalan keluar dari permasalahan kita, memberikan kesembuhan atas penyakit yang sangat parah. Dia tidak pernah terlambat menepati janjiNya. Ingatlah, bahwa janjiNya seperti fajar pagi hari, yang tiada pernah terlambat bersinar. (Zefanya 3:5). Jangan ragu dan bimbang, datanglah kepada Yesus. Ketika mempunyai masalah, datang kepada Yesus bukan ke tempat hiburan dan obat-obat terlarang. Ketika sakit, datang kepada Yesus dan bukan kepada dukun. Ketika belum dapat jodoh, datang kepada Yesus dan bukan kepada paranormal. Ketika belum memiliki karir yang meningkat, datang kepada Yesus dan bukan kepada orang lain. Ketika mengalami kehancuran rumah tangga, datang kepada Yesus dan bukan kepada orang tua atau tetangga. Ada begitu banyak masalah dan persoalan yang dihadapi di dalam kehidupan dan Yesus memanggil kita untuk memberikan jalan keluar. Oleh karena itu, dikala perasaan bimbang dan ragu menyelimuti hati dan perasaan kita akan janji Tuhan, kita diingatkan bahwa janji Tuhan ya dan amin. Dia akan memenuhi segala janjiNya karena JanjiNya seperti fajar pagi hari yang tiada pernah terlambat bersinar. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (07042010)
Sebagai manusia, kita mempunyai kemampuan yang terbatas. Terbatas pemikiran, terbatas pengetahuan masa yang akan datang, terbatas kekuatan untuk menanggung beban yang begitu berat dan lain sebagainya. Di tengah-tengah keterbatasan itu, kadang kala kita menjadi putus harapan, menjadi ragu dan tidak lagi mempercayai hal yang selama ini kita imani sebagai pemberi jalan keluar yaitu Tuhan. kita yang terbatas ragu kepada yang tidak terbatas. Ragu akan janji Tuhan, ragu akan kekuatan Tuhan, ragu akan kemampuan Tuhan untuk memberikan jalan keluar dan lain sebagainya.
Di tengah ombak dan arus pencobaan, kadang kala kita hampir kehilangan arah dan tujuan hidup. Kita bagaikan kapal yang diombang-ambingkan ke sana kemari, tidak ada pegangan hidup dan tidak ada pengharapan serta tidak ada tempat menaruh sauh kehidupan kita untuk bersandar. Lelah dan letih selalu menyertai kita. Ada begitu banyak orang yang mulai bimbang dan ragu dan sebagai pelampiasan pergi mencari damai ke tempat hiburan yang menawarkan begitu banyak kenikmatan atau ketempat-tempat lain.
Yesus menawarkan kita pertolongan agar tidak menjadi letih lesu dan berbeban berat. Dia berkata dan mengajak kita semua yang letih lesu dan berbeban berat, agar datang kepadaNya karena dia akan memberi kelegaan kepada kita. (Matius 11:28). Tapi kita terkadang lupa bahwa ada Yesus yang telah menawarkan hal tersebut sehingga ketika ada permasalahan, kita sering kali mengeluh dan rasa letih lesu tersebut tidak segera berlalu. Atau kita tahu dan mengerti akan perkataan Yesus ini tetapi kita meragukan akan janjiNya seakan-akan Yesus dianggap sebagai tukang obat yang menawarkan barang daganganNya kepada pelanggan tanpa tahu khasiatnya. Inilah persoalan utama umat Tuhan yang mengabaikan dan meragukan janji Tuhan. Kita lupa bahwa Yesus adalah Tuhan yang tiada pernah terlambat memberi pertolongan. Kita lupa bahwa Yesus adalah yang berkuasa untuk memberikan segala sesuatu termasuk mengangkat segala beban hidup yang begitu berat, memberikan jalan keluar dari permasalahan kita, memberikan kesembuhan atas penyakit yang sangat parah. Dia tidak pernah terlambat menepati janjiNya. Ingatlah, bahwa janjiNya seperti fajar pagi hari, yang tiada pernah terlambat bersinar. (Zefanya 3:5). Jangan ragu dan bimbang, datanglah kepada Yesus. Ketika mempunyai masalah, datang kepada Yesus bukan ke tempat hiburan dan obat-obat terlarang. Ketika sakit, datang kepada Yesus dan bukan kepada dukun. Ketika belum dapat jodoh, datang kepada Yesus dan bukan kepada paranormal. Ketika belum memiliki karir yang meningkat, datang kepada Yesus dan bukan kepada orang lain. Ketika mengalami kehancuran rumah tangga, datang kepada Yesus dan bukan kepada orang tua atau tetangga. Ada begitu banyak masalah dan persoalan yang dihadapi di dalam kehidupan dan Yesus memanggil kita untuk memberikan jalan keluar. Oleh karena itu, dikala perasaan bimbang dan ragu menyelimuti hati dan perasaan kita akan janji Tuhan, kita diingatkan bahwa janji Tuhan ya dan amin. Dia akan memenuhi segala janjiNya karena JanjiNya seperti fajar pagi hari yang tiada pernah terlambat bersinar. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (07042010)
SEBELUM NASI JADI BUBUR
Mat 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."
Memasak nasi memang gampang-gampang susah. Adakalanya niat hati memasak nasi yang enak, malah bubur yang didapat. Kondisi nasi yang sudah jadi bubur tidak dapat lagi dikembalikan menjadi nasi yang baik. Nasi sudah jadi bubur, sering dipakai sebagai kiasan di dalam kehidupan yang terlanjur melangkah ke jalan yang salah. Ketika melangkah ke jalan yang salah, ketika melakukan hal yang merupakan pelanggaran dan mempunyai dampak bagi kehidupan, maka kita tidak dapat mengembalikan kondisi itu kepada keadaan semula. Inilah yang disebut nasi sudah jadi bubur.
Raja Daud pernah melakukan kesalahan yang dampaknya berkelanjutan dan turun temurun serta tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Ketika Daud tertarik kepada Batsyeba, istri Uria, dia melakukan hal yang telah merusak kehidupan orang lain dan juga kehidupan dirinya sendiri yang tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Akibat nafsu duniawi yang tidak terkendalikan, dia melakukan perzinahan dan bersetubuh dengan istri orang lain (2 Samuel 11:4) yang berbuntut panjang dengan pembunuhan Uria (2 Samuel 11:17) dan pedang tidak menyingkir dari garis keturunannya sampai selamanya. (2 Samuel 12:10). Segalanya telah dilakukan oleh Daud dan dia tidak dapat mengembalikan kondisi Besyeba, keadaan Uria dan keadaan dirinya sendiri kepada keadaan yang semula ketika belum melakukan perzinahan. Nasi sudah jadi bubur dan dia harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan.
Ada begitu banyak orang yang melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Daud. Sebagai manusia yang hidup masih diliputi keinginan daging, sering keinginan daging yang terpenuhi daripada keinginan roh karena memang daging lebih lemah daripada roh. (Matius 26:41). Hati kita berkata agar mengikuti perkataan firman yang mengatakan jangan berzinah, tapi kita sering kali terjebak kepada keinginan untuk memuaskan hasrat daging dan melakukan perzinahan dengan orang lain yang berdampak kepada rusaknya hubungan rumah tangga, hamil di luar nikah, lahirnya anak di luar pernikahan yang sah dan lain sebagainya. Hati kita berbicara untuk tidak berdusta kepada orang lain, tetapi karena untuk menyelamatkan muka agar jangan malu, kita melakukan dusta. Hati kita mengatakan agar jangan membunuh, tetapi sering kali kita menyakiti hati sesama dengan menebar fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan dan lain sebagainya. Ketika kita telah melakukan pelanggaran-pelanggaran karena telah mengikuti keinginan daging, maka akan timbul dampak yang merupakan kelanjutannya. Hal ini membuat situasi menjadi lain dan tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Mungkin setelah melakukannya, kita segera menyadari kesalahan tersebut dan segera bertobat serta minta ampun kepada Tuhan. Tuhan akan segera mengampuni, pemulihan akan terjadi, namun dampak dari perbuatan kita masih harus dipertanggunjawabkan. Akibat melakukan perzinahan akan menghasilkan anak yang harus dibesarkan. Akibat berdusta, orang tidak mempercayai kita lagi. Akibat melakukan fitnah disana-sini, banyak orang yang hancur yang tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Nasi sudah jadi bubur. Oleh karena itu, SEBELUM NASI JADI BUBUR, mari kita diajak untuk selalu waspada dan berjaga-jaga, tetap menjaga hubungan dengan Tuhan dengan berdoa agar jangan jatuh ke dalam percobaan dengan melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan karena daging kita masih lemah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (06042010)
Memasak nasi memang gampang-gampang susah. Adakalanya niat hati memasak nasi yang enak, malah bubur yang didapat. Kondisi nasi yang sudah jadi bubur tidak dapat lagi dikembalikan menjadi nasi yang baik. Nasi sudah jadi bubur, sering dipakai sebagai kiasan di dalam kehidupan yang terlanjur melangkah ke jalan yang salah. Ketika melangkah ke jalan yang salah, ketika melakukan hal yang merupakan pelanggaran dan mempunyai dampak bagi kehidupan, maka kita tidak dapat mengembalikan kondisi itu kepada keadaan semula. Inilah yang disebut nasi sudah jadi bubur.
Raja Daud pernah melakukan kesalahan yang dampaknya berkelanjutan dan turun temurun serta tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Ketika Daud tertarik kepada Batsyeba, istri Uria, dia melakukan hal yang telah merusak kehidupan orang lain dan juga kehidupan dirinya sendiri yang tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Akibat nafsu duniawi yang tidak terkendalikan, dia melakukan perzinahan dan bersetubuh dengan istri orang lain (2 Samuel 11:4) yang berbuntut panjang dengan pembunuhan Uria (2 Samuel 11:17) dan pedang tidak menyingkir dari garis keturunannya sampai selamanya. (2 Samuel 12:10). Segalanya telah dilakukan oleh Daud dan dia tidak dapat mengembalikan kondisi Besyeba, keadaan Uria dan keadaan dirinya sendiri kepada keadaan yang semula ketika belum melakukan perzinahan. Nasi sudah jadi bubur dan dia harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan.
Ada begitu banyak orang yang melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Daud. Sebagai manusia yang hidup masih diliputi keinginan daging, sering keinginan daging yang terpenuhi daripada keinginan roh karena memang daging lebih lemah daripada roh. (Matius 26:41). Hati kita berkata agar mengikuti perkataan firman yang mengatakan jangan berzinah, tapi kita sering kali terjebak kepada keinginan untuk memuaskan hasrat daging dan melakukan perzinahan dengan orang lain yang berdampak kepada rusaknya hubungan rumah tangga, hamil di luar nikah, lahirnya anak di luar pernikahan yang sah dan lain sebagainya. Hati kita berbicara untuk tidak berdusta kepada orang lain, tetapi karena untuk menyelamatkan muka agar jangan malu, kita melakukan dusta. Hati kita mengatakan agar jangan membunuh, tetapi sering kali kita menyakiti hati sesama dengan menebar fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan dan lain sebagainya. Ketika kita telah melakukan pelanggaran-pelanggaran karena telah mengikuti keinginan daging, maka akan timbul dampak yang merupakan kelanjutannya. Hal ini membuat situasi menjadi lain dan tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Mungkin setelah melakukannya, kita segera menyadari kesalahan tersebut dan segera bertobat serta minta ampun kepada Tuhan. Tuhan akan segera mengampuni, pemulihan akan terjadi, namun dampak dari perbuatan kita masih harus dipertanggunjawabkan. Akibat melakukan perzinahan akan menghasilkan anak yang harus dibesarkan. Akibat berdusta, orang tidak mempercayai kita lagi. Akibat melakukan fitnah disana-sini, banyak orang yang hancur yang tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Nasi sudah jadi bubur. Oleh karena itu, SEBELUM NASI JADI BUBUR, mari kita diajak untuk selalu waspada dan berjaga-jaga, tetap menjaga hubungan dengan Tuhan dengan berdoa agar jangan jatuh ke dalam percobaan dengan melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan karena daging kita masih lemah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (06042010)
PENYANGKALAN DIRI
Askese adalah suatu istilah yang mempunyai makna bahwa seseorang mengasingkan diri dari dunia luar dan melakukan penyiksaan diri untuk dapat menjadi seorang yang suci dengan tujuan untuk memperoleh keselamatan. Pada jaman gereja mula-mula, ajaran ini masuk ke dalam gereja dan sampai sekarang masih ada orang yang melakukannya. Ada begitu banyak orang melakukan penyiksaan diri sebagai bentuk pengertian mereka akan penyangkalan diri yang dikatakan Tuhan Yesus karena menganggap bahwa tubuh ini jahat dan harus disucikan dengan cara demikian.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk dapat mengikut Dia, orang tersebut harus dapat menyangkal dirinya (Matius 16:24). Perkataan Tuhan Yesus ini sering disalahartikan dengan menganggap bahwa untuk dapat mengikut Yesus harus mengasingkan diri dari dunia luar, melakukan penyiksaan diri, menyakiti diri sendiri dan lain sebagainya. Ketika menghadapi Paskah, ada begitu banyak orang meniru penderitaan yang dialami oleh Yesus, ada yang disalib dan dipaku kaki dan tangannya, ada yang menyiksa diri, dan lain sebagainya. Menganggap hal demikian akan mempermuliakan Tuhan. Suatu tradisi yang telah turun temurun dan diikuti dari generasi ke generasi.
Saudara, pengertian yang benar mengenai penyangkalan diri yang dimaksud oleh Tuhan Yesus pada saat itu bukanlah dengan cara demikian yaitu dengan mengasingkan diri hiruk pikuknya dunia ini dan menyiksa diri sendiri. Kalau semua pengikut Yesus mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia ini, maka orang percaya tidak akan dapat menjadi berkat bagi orang lain dan nama Tuhan tidak dapat dipermuliakan. Tapi penyangkalan diri dimaksud tidak lebih adalah upaya manusia untuk mengeyampingkan kepentingan dirinya sendiri dan lebih mengutamakan kepentingan Tuhan. Rasa ego, hasrat diri, nafsu duniawi, keserakahan, iri hati dan lain sebagainya harus disingkirkan dari kehidupan kita. Dengan kata lain, kita dituntut untuk memikirkan perkara yang diatas dan bukan yang di bumi (Kolose 3:2). Kita dituntut untuk mematikan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.(Kolose 3:5). Kalau dahulu sebelum mengenal kebenaran kita suka melakukan hal-hal tersebut, maka setelah mengenal kebenaran, kita tidak lagi mau untuk melakukannya. Yang dahulu adalah suatu kebanggaan untuk dapat melakukan hal tersebut, sekarang menjadi suatu kejijikan untuk melakukannya. Dengan kata lain, mengikut Yesus berarti mengalami hidup baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Segala yang ada pada kita tidak lagi dianggap sebagai milik kepunyaan sendiri dalam arti kita menyadari bahwa harta yang dimiliki adalah milik Tuhan. Ketika kita menganggap bahwa kekayaan yang dimiliki adalah harta yang harus dipertahankan, maka kita tidak dapat mengikut Tuhan (Matius 19:21-23). Oleh karena itu, mari kita mengikut Tuhan dengan penyangkalan diri yang benar sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (05042010)
Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk dapat mengikut Dia, orang tersebut harus dapat menyangkal dirinya (Matius 16:24). Perkataan Tuhan Yesus ini sering disalahartikan dengan menganggap bahwa untuk dapat mengikut Yesus harus mengasingkan diri dari dunia luar, melakukan penyiksaan diri, menyakiti diri sendiri dan lain sebagainya. Ketika menghadapi Paskah, ada begitu banyak orang meniru penderitaan yang dialami oleh Yesus, ada yang disalib dan dipaku kaki dan tangannya, ada yang menyiksa diri, dan lain sebagainya. Menganggap hal demikian akan mempermuliakan Tuhan. Suatu tradisi yang telah turun temurun dan diikuti dari generasi ke generasi.
Saudara, pengertian yang benar mengenai penyangkalan diri yang dimaksud oleh Tuhan Yesus pada saat itu bukanlah dengan cara demikian yaitu dengan mengasingkan diri hiruk pikuknya dunia ini dan menyiksa diri sendiri. Kalau semua pengikut Yesus mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia ini, maka orang percaya tidak akan dapat menjadi berkat bagi orang lain dan nama Tuhan tidak dapat dipermuliakan. Tapi penyangkalan diri dimaksud tidak lebih adalah upaya manusia untuk mengeyampingkan kepentingan dirinya sendiri dan lebih mengutamakan kepentingan Tuhan. Rasa ego, hasrat diri, nafsu duniawi, keserakahan, iri hati dan lain sebagainya harus disingkirkan dari kehidupan kita. Dengan kata lain, kita dituntut untuk memikirkan perkara yang diatas dan bukan yang di bumi (Kolose 3:2). Kita dituntut untuk mematikan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.(Kolose 3:5). Kalau dahulu sebelum mengenal kebenaran kita suka melakukan hal-hal tersebut, maka setelah mengenal kebenaran, kita tidak lagi mau untuk melakukannya. Yang dahulu adalah suatu kebanggaan untuk dapat melakukan hal tersebut, sekarang menjadi suatu kejijikan untuk melakukannya. Dengan kata lain, mengikut Yesus berarti mengalami hidup baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Segala yang ada pada kita tidak lagi dianggap sebagai milik kepunyaan sendiri dalam arti kita menyadari bahwa harta yang dimiliki adalah milik Tuhan. Ketika kita menganggap bahwa kekayaan yang dimiliki adalah harta yang harus dipertahankan, maka kita tidak dapat mengikut Tuhan (Matius 19:21-23). Oleh karena itu, mari kita mengikut Tuhan dengan penyangkalan diri yang benar sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (05042010)
SAKSI BISU SEBUAH PAKU
Paku digunakan sebagai salah satu bahan bangunan di dalam membuat suatu rumah, perabotan atau hal-hal lainnya. Paku berfungsi untuk merekatkan dan mengikat tiang-tiang, papan atau penyanggah lainnya sehingga lebih kuat dan lebih erat menyatu dan terbentuklah sebuah karya yang begitu indah dalam bentuk rumah maupun perabotan. Tanpa paku sangat sulit dilakukan pembangunan sebuah rumah karena merupakan bahan utama. Tanpa paku sangat sulit untuk menciptakan sebuah mahakarya yang indah dan menawan.
Paku mempunyai bentuk lancip dan runcing di bagian ujungnya sehingga memudahkan untuk dimasukkan ke bagian dalam sebuah kayu. Kalau melihat bentuk paku yang demikian runcing, apa jadinya apabila paku ini mengenai bagian tubuh manusia. Ketika kaki tertusuk duri saja, rasanya minta ampun apalagi tertusuk sebuah paku. Waw, betapa menyakitkan. Dan itulah yang terjadi di dalam diri Yesus Kristus di kayu salib. Yesus telah mengalami yang namanya paku runcing menancap di kedua kaki dan tanganNya. Betapa sakit terasa dan tiada yang lebih sakit ketika sebuah paku menancap dan menembus telapak tangan dan kaki. Darah segar segera mengalir dan mengalir membasahi tangan dan kaki. Paku telah menciptakan sebuah mahakarya keselamatan di dalam diri Yesus Kristus.
Paku memang salah satu benda mati yang menjadi saksi bisu penderitaan Yesus Kristus di Kayu Salib. Sebagai saksi bisu, ada begitu banyak orang menjadi tidak percaya kepada kesakitan yang dialamiNya. Ada begitu banyak orang tidak mau menerima begitu saja, bahwa Yesus telah mati dipaku di kayu salib dan telah bangkit dari kematian, serta tidak percaya bahwa paku telah menciptakan sebuah Mahakarya keselamatan umat manusia dari dosa, termasuk salah seorang muridNya yang bernama Thomas. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."(Yohanes 20:25). Itulah perkataan Thomas kepada teman-temannya perihal kebangkitan Yesus. Dia tidak percaya bahwa goresan sebuah paku telah membuat kematian Yesus di kayu salib. Dia tidak percaya bahwa goresan sebuah paku telah membuat Yesus bangkit dari kematian dan bahwa goresan sebuah paku telah membuat suatu Mahakarya tentang berita keselamatan itu. Sebuah paku telah dilupakan orang, sebuah paku telah dibuang dan tidak diperhitungkan orang bahwa dia telah ikut andil di dalam membuat suatu mahakarya keselamatan itu. Yesus telah mati dipaku di kayu salib, dan telah bangkit mengalahkan maut untuk menebus segala dosa dan pelanggaran yang telah diperbuat oleh manusia. Percayakah saudara akan hal ini? Mari kita mengimani bahwa Yesus telah mati dipaku di kayu salib dan telah mengalahkan maut dengan bangkit di hari yang ketiga. Selamat merayakan hari raya Paskah. Terpujilah nama Tuhan. Haleluyah. Amin. (03042010)
Paku mempunyai bentuk lancip dan runcing di bagian ujungnya sehingga memudahkan untuk dimasukkan ke bagian dalam sebuah kayu. Kalau melihat bentuk paku yang demikian runcing, apa jadinya apabila paku ini mengenai bagian tubuh manusia. Ketika kaki tertusuk duri saja, rasanya minta ampun apalagi tertusuk sebuah paku. Waw, betapa menyakitkan. Dan itulah yang terjadi di dalam diri Yesus Kristus di kayu salib. Yesus telah mengalami yang namanya paku runcing menancap di kedua kaki dan tanganNya. Betapa sakit terasa dan tiada yang lebih sakit ketika sebuah paku menancap dan menembus telapak tangan dan kaki. Darah segar segera mengalir dan mengalir membasahi tangan dan kaki. Paku telah menciptakan sebuah mahakarya keselamatan di dalam diri Yesus Kristus.
Paku memang salah satu benda mati yang menjadi saksi bisu penderitaan Yesus Kristus di Kayu Salib. Sebagai saksi bisu, ada begitu banyak orang menjadi tidak percaya kepada kesakitan yang dialamiNya. Ada begitu banyak orang tidak mau menerima begitu saja, bahwa Yesus telah mati dipaku di kayu salib dan telah bangkit dari kematian, serta tidak percaya bahwa paku telah menciptakan sebuah Mahakarya keselamatan umat manusia dari dosa, termasuk salah seorang muridNya yang bernama Thomas. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."(Yohanes 20:25). Itulah perkataan Thomas kepada teman-temannya perihal kebangkitan Yesus. Dia tidak percaya bahwa goresan sebuah paku telah membuat kematian Yesus di kayu salib. Dia tidak percaya bahwa goresan sebuah paku telah membuat Yesus bangkit dari kematian dan bahwa goresan sebuah paku telah membuat suatu Mahakarya tentang berita keselamatan itu. Sebuah paku telah dilupakan orang, sebuah paku telah dibuang dan tidak diperhitungkan orang bahwa dia telah ikut andil di dalam membuat suatu mahakarya keselamatan itu. Yesus telah mati dipaku di kayu salib, dan telah bangkit mengalahkan maut untuk menebus segala dosa dan pelanggaran yang telah diperbuat oleh manusia. Percayakah saudara akan hal ini? Mari kita mengimani bahwa Yesus telah mati dipaku di kayu salib dan telah mengalahkan maut dengan bangkit di hari yang ketiga. Selamat merayakan hari raya Paskah. Terpujilah nama Tuhan. Haleluyah. Amin. (03042010)
Subscribe to:
Comments (Atom)

