D. Apa yang dimaksud dengan “Allah Tri-Tunggal” itu ?.
Sering ketika kita ditanya siapa Allah kita maka kita menjawabnya Allah Tri-Tunggal. Kalau pertanyaan itu dipertajam apa maksud kata Tri-Tunggal tersebut, maka kita akan menjawab “Satu esensi, tiga pribadi yang esa”.
Dalam pengakuan iman rasuli tidak terlihat perumusan kalimat tersebut di atas, namun dalam pengakuan tersebut tersirat akan adanya tiga pribadi Allah yakni Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Sedangkan dalam pengakuan iman Anasthasius, perumusan Allah Tri-Tunggal adalah Allah itu satu ousia dengan tiga hypostasis. Hal ini juga ditegaskan ulang oleh bapa-bapa kapodosian dan Augustinus. Namun dikarenakan keterbatasan bahasa latin maka sering digunakan istilah satu hakekat dengan tiga pribadi.
Ousia adalah hakekat, esensi atau kesejatian akan sesuatu. Sehingga kalau dikatakan ousia Allah, maka yang dimaksudkan adalah hakekat, esensi, keberadaan yang hanya ada pada diri Allah, yang menunjukkan diri-Nya itu adalah Allah, dan yang berbeda dari yang bukan Allah.[1]
Contoh:
Saya mempunyai esensi kemanusiaan yang sama dengan saudara-saudara sekalian, tanpa peduli ada diantara kita yang cacat atau sempurna, berkulit putih maupun hitam, berambut lurus maupun keriting. Pendek kata, segenap manusia di seluruh dunia hanya mempunyai esensi yang satu saja yaitu kemanusiaan. Hakekat kemanusiaan ini yang membedakan manusia dari lembu yang mempunyai hakekat ‘kelembuan’ dlsb.
Sedangkan meskipun sama-sama mempunyai hakekat yang sama sebagai manusia si Badu berbeda dengan si Andi. Andi dan Badu di sini adalah pribadi-pribadi. Jadi manusia yang satu mempunyai hakekat yang sama dengan yang lain, yang membedakan adalah pribadi, yang dalam pribadi itu melekat sifat-sifat atau ciri-ciri tertentu (mis. orang Indonesia berbeda dengan orang Eropa).
Untuk itulah jika kita terpaksa menggunakan kata ‘pribadi’ hendaknya perlu diingat bahwa kata ‘pribadi’ tersebut tidak boleh dimaknai sebagaimana kita memaknai kata pribadi seperti contoh Badu dan Andi di atas. Beberapa teolog (Grundem diantaranya) memakai istilah ‘pribadi ilahi’ untuk membedakan dengan pribadi Badu dan Andi dalam contoh di atas.
Alasan itu sepenuhnya benar, karena tentang jati diri Allah tidak mungkin ditemukan pencitraan atau penamaan yang memadai. Allah itu tidak mungkin di-seperti-apa-kan (Jawa: tan keno kinoyongopo) dan tidak mungkin dapat -di-rupa-kan (Jawa: tan keno kinirupo)[2].
Kata ‘pribadi’ dalam pengakuan iman di atas, semula diambil dari kata hypostasis (Yun: hypo = dasar, statsis = berdiri tegak; berpribadi), selanjutnya kata ini mengandung makna realitas konkrit atau sifat mutlak untuk mencirikan sesuatu. Dengan demikian perumusan Allah Tri-Tunggal adalah sbb:
Ousia (Dzat) Allah mempunyai sifat mutlak (hypostasis)[3] yaitu Roh dan Firman (Logos) yang sehahekat, sederajat, dan melekat dalam Dzat Allah.
Allah tanpa Firman bukanlah Allah, allah tanpa Roh (Kudus) bukanlah Allah, karena Firman dan Roh merupakan sesuatu yang wajib ada dan mustahil tidak ada pada diri Allah, maka Firman dan Roh itu bersama-sama dengan Allah sejak semula (en arche).
Dalam sistem kepercayaan kita, sang Firman itu menjadi manusia (Yoh 1:1, 14), Yesus merupakan perwujudan dari gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol 1:15, Ibr 1:3, Yoh 1:18 2Kor 4:4b). Sehingga barangsiapa melihat sang Anak maka dia telah melihat Bapa (Yoh 14:9b), sebab sesungguhnya Bapa dan Anak adalah satu (Yoh 10:30). Kalau dikatakan sang Anak lahir (keluar) dari Bapa bukan berarti kelahiran biologis atau sub-ordinasi sang Anak melainkan menekankan bahwa realitas Anak (Firman) itu merupakan hypostasis yang berasal dari relitas Allah (Bapa).
Demikian pula dengan Roh Kudus yang keluar dari Bapa. Ketika sang Firman berinkarnasi menjadi manusia tidak berarti ousia Allah menjadi tidak ada Firman atau menjadi berkurang (sama seperti halnya pikiran kita ketika kita memberi pengertian kepada orang lain), maka ketika Roh Kudus itu mendiami setiap kita Roh Kudus pada diri Allah menjadi berkurang.
Tentang sehakekat cukuplah jelas karena hanya ada satu hakekat Allah maka “ketiganya” adalah satu hakekat. Sedangkan mengenai kesederajatan dapatlah digambarkan diantara tubuh, jiwa atau roh tidak ada yang lebih tinggi (mulia) dan yang lebih rendah (hina), demikian pula antara Bapa, Anak dan Roh tidak ada perbedaan derajat. Mengenai kemelekatan ketiganya kiranya cukup jelas ousia Allah tanpa salah satu dari hypostasis tersebut bukan lah ousia Allah maka mustahil ketiganya terpisahkan.[4]
Jadi sebenarnya Allah Tri-Tunggal dimaksudkan untuk menjelaskan kebagaimanaan Allah dan bukan keberapaan Allah. Pergumulan perumusan ini yang semula dimulai dari Theofilus dari Antiokhia (181 M), dikembangkan oleh Tertulianus (160-225 M) dan dilanjutkan oleh Athanasius (373 M) yang hidup sezaman dengan Konsili Nicea (325 M) yang menegaskan keesaan Allah dan kebagaimanaan Allah bukan keberapaan Allah.
(Ke bagian 2)
E. PANDANGAN2 SALAH MENGENAI TRI-TUNGGAL
Akibat upaya penyederhanaan atau penolakan atas sebagian/lebih dari fakta-2 di atas akan menyebabkan penyimpangan sbb:
• Penolakan atas point #1 demi penekanan point ke #3 menghasilkan faham modalisme. Faham ini percaya hanya satu Allah yang esa, hanya saja Allah yang esa ini berganti-ganti peran, kadang sebagai Bapa, kadang sebagai Anak dan kadang sebagai Roh Kudus. Ketika menjadi Anak, maka Bapa dan Roh Kudus tidak nampak. Hal ini dimulai oleh tokoh Sabellius.
• Penolakan atas keilhaian Anak dan Roh Kudus (point #2) akan jatuh kepada faham subordinasisme. Pandangan ini dimulai oleh Arius (uskup Alexandria), sehingga faham ini sering disebut dengan arianisme. Pada era sekarang pengikut pandangan ini diwakili oleh saksi Yehova.
• Penolakan atas keesaan Allah (point #3) akan menyebabkan kepada faham triteisme.
F. HUBUNGAN ANTARA ‘PRIBADI-PRIBADI’ TRI-TUNGGAL[1]
Perlu dicatat bahwa pembedaaan ‘pribadi-pribadi’ Tritunggal telah ada sejak kekekalan. Hal itu melukiskan hubungan antara ‘pribadi-pribadi’ ketiga-Nya khususnya berkaitan dengan karya ketiga-Nya atas ciptaan-Nya. Secara ontologis (being, hakekat) ketiga ‘pribadi’ tersebut adalah sederajat namun secara ekonomis (tugas, peran) maka ‘terlihat’ seolah-olah ada subordinasi. Hal ini terekam dengan istilah sang Firman disebut dilahirkan, Roh Kudus keluar. Sang Anak diutus oleh Bapa dan Roh Kudus diutus oleh Sang Anak.
Subordinasi tidak secara otomatis berimplikasi kepada perbedaan esensi (ousios) antar ‘pribadi’.
Catatan : Dalam tradisi Yahudi kehadiran Allah baik Memra maupun Shekinnah sering mendapat personifikasi, demikian pula dengan hikmat (seperti yang ditulis dalam kitab Amsal).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment