Saturday, January 30, 2010

Kesaksian Chuck Norris

Lahir dengan nama Carlos Ray pada tahun 1940, "Chuck" kecil tumbuh tanpa seorang ayah. Sosok ayah yang sempat
diingatnya adalah seorang pria yang kasar dan suka mabuk, yang kemudian pergi meninggalkan keluarganya.
Meninggalkan ibu serta adik-adiknya begitu saja. Kehilangan figur ayah membuat Chuck menjadi seorang yang pemalu,
tidak pernah berprestasi dalam olahraga, apalagi dalam pergaulan. Chuck selalu minder dan dihindari teman-temannya.
Chuck si pemalu dan ramah ini kemudian masuk ke Angkatan Udara, dan ditugaskan di Korea. Di tanah ginseng inilah ia
secara tidak sengaja mempelajari seni bela diri Tae Kwon Do. Dan di negeri ini jugalah untuk pertama kali teman-teman
di baraknya memberi nama julukan "Chuck" yang berarti usapan, karena keramahan dan kelembutannya. Kemudian
penambahan nama Norris diambil dari marga ibunya. Dalam seni bela diri, Chuck seperti menemukan jati dirinya. Suatu
hal di mana dia tidak perlu berkomunikasi dengan orang lain atau pun bekerja dalam satu tim. Yang perlu dia lakukan
hanyalah berlatih keras dan lebih keras lagi, dalam kesendirian yang dinikmatinya. Ketekunannya di dalam dunia bela
diri, membuahkan hasil. Chuck diminta mempertunjukkan keahliannya dalam sebuah acara besar yang dihadiri seluruh
Angkatan Udara Amerika Serikat. Sebelum mempertunjukan kebolehannya, dia diharuskan untuk memberikan sebuah
pidato singkat sebagai kata sambutan. Chuck pun mempersiapkan pidatonya di atas sehelai kertas dan
menghafalkannya. Tiba pada waktunya, ia berdiri di depan ribuan prajurit Angkatan Udara yang menatapnya, Chuck
terdiam seribu bahasa di depan mikrofon, sangat gugup dan lupa akan semua kata-kata yang dihafalkannya. Tubuhnya
dibanjiri oleh keringat dingin. Ia pun lupa bahwa apakah ia sempat mengatakan sesuatu pada acara itu, yang jelas ia
tidak mau mengingat-ingatnya. Baginya, peristiwa itu adalah peristiwa yang paling memalukan dalam hidupnya.Tidak
lama kemudian, prestasinya mendunia. Ia menjuarai enam kali berturut-turut "World Karate Championships", dengan
mengalahkan para petarung terhebat kaliber dunia. Dan karena bosan tidak ada lagi yang bisa mengimbanginya,
kemudian ia mundur dari kejuaraan itu. Lagipula, seandainya ia tetap ikut dalam kejuaraan itu, para petarung cenderung
mundur teratur karena mereka gentar bila harus berhadapan dengannya. Chuck kemudian mendapat penghargaan
tertinggi dalam bela diri Korea tersebut, dengan mencapai Ban Hitam tingkat delapan dalam Tae Kwon Do. Dia adalah
orang pertama yang berhasil mencapai tingkatan itu sejak 4500 tahun sejarah beladiri Tae Kwon Do didirikan.Secara
bertahap, Chuck mundur dari olahraga bela diri karena tidak menemui lawan yang berarti lagi. Ia kemudian hijrah ke
Hollywood yang membuat namanya melambung dan dikenal oleh seluruh orang di dunia. Salah satu debutnya yang
terkenal adalah perannya dalam film "Enter The Dragon", sebuah pertarungan yang dikenang dalam sejarah perfilman
maupun sejarah bela diri, saat ia bertarung melawan legenda kungfu, Bruce Lee. Chuck Norris kini menjadi megabintang
dan terjun dalam kehidupan glamor selebriti. Pundi-pundi uangnya terus bertambah dari banyak perguruan bela diri
miliknya, apalagi setiap buku yang ditulisnya selalu menjadi "best seller". Segera ia masuk dalam jajaran "red carpet" di
semua acara selebriti dan segera menjadi teman baiksetiap presiden Amerika Serikat beserta para stafnya. Merasa
Ketakutan "Ada beberapa perisitiwa yang mengubah hidup saya," ujar bintang film seri "Walker Texas Ranger" ini. (Film
ini adalah salah satu film seri yang memiliki episode terpanjang dalam sejarah perfilman, diputar di televisi selama 12
tahun.) "Yang pertama adalah saat saya membesuk Lee Atwater -- mantan ketua kampanye Presiden George Bush, Sr. -
- di rumah sakit, Lee adalah orang yang berpengaruh besar dalam hidup saya, dan juga seorang teman dekat saya. Saat
saya sampai di rumah sakit, ada begitu banyak orang penting mengantri untuk datang menjenguk, namun mereka tidak
bisa masuk. Bahkan banyak keluarga dekatnya tidak diperkenankan masuk. Ia hanya mengizinkan orang-orang tertentu
untuk menjenguknya." "Saat saya sedang bercakap-cakap dengan orang-orang yang menanti di luar, tiba-tiba nama
saya dipanggil dan diperkenankan masuk. Saya merasa beruntung saat itu karena dipilih untuk boleh bertemu dengan
dia. Saya masuk dan melihat di dalam ruangan sudah ada beberapa orang yang sangat penting, sehingga saya memilih
tempat di pojok ruangan dan melihatnya dari jauh. Saya melihat Lee sedang sekarat, usianya jauh lebih muda dari saya,
baru 30-an tahun. Dia yang biasanya begitu bersemangat dan selalu menginspirasi banyak orang, kini sedang terbaring
lemah tak berdaya, bergulat dengan maut karena sebuah tumor besar di kepalanya, dan tidak ada satu pun yang dapat
dilakukan dokter untuk menyelamatkannya." "Lee memandang aku dengan lemah, dan melambai agar aku mendekat.
Aku harus menunduk untuk mendengar dia berbisik karena dia sudah sangat lemah untuk berbicara secara normal.
Katanya perlahan, `Chuck, percayalah pada Tuhan, aku mengasihimu ....` Aku terkejut mendengar hal itu, seperti
terpukul keras. Aku mundur perlahan darinya dan keluar dari tempat itu dengan sangat terkejut. Aku tahu itu adalah katakata
terakhir Lee bagiku. Entah sudah berapa kali aku mendengar kata-kata itu dari para rohaniwan, tetapi semua itu
seakan hanya lewat begitu saja seperti sebuah sampah bagiku. Sekarang aku mendengarnya dari sahabatku sendiri
yang sedang berada di ujung kematian, sebuah pesan terakhir yang sangat penting, tidak mungkin dia menyia-nyiakan
napas terakhirnya untuk berbicara padaku kalau itu tidak begitu penting." "Aku duduk terdiam di dalam mobil dan mulai
menangis, mengingat kehidupanku selama ini. Aku telah terlalu jauh dari Tuhan, terhisap dan terjebak dalam gemerlap
kehidupan seorang bintang, membuat hidupku berantakan. Keluargaku berantakan, dan aku bukan ayah yang baik bagi
anak-anakku. Melihat sahabatku sedang menjelang maut, membuat diriku merasa sangat dekat akan maut juga.
Sebelumnya, aku tidak pernah takut pada apa pun, bahkan dalam pertarungan bela diri hidup dan mati, tapi kini aku
merasa sangat gentar. Aku merasa hidupku menjadi sangat rapuh, dan aku tersadar bahwa semua kekuatanyang telah
kubangun selama ini ternyata tidak bisa menghindarkan aku dari maut." Malam yang Mencekam Tapi peristiwa "pesan
terakhir" dari Lee Atwater pun berlalu, Chuck kembali sibuk dengan bisnisnya. Kembali tenggelam dalam kehidupan
selebritisnya dan hanyut dalam pikiran bagaimana mencari uang lebih banyak lagi. Walaupun begitu, peristiwa itu telah
membawanya dalam sebuah pemikiran bahwa ia membutuhkan Tuhan. Peristiwa selanjutnya terjadi tidak lama
kemudian. Malam itu adalah malam di mana istrinya, Gena, akan melahirkan bayi kembar. Dokter mengatakan kelahiran
ini sangat berbahaya karena ada beberapa komplikasi. Paling kurang salah satu nyawa dipertaruhkan malam itu; kalau
tidak ibunya, maka salah satu dari kedua anaknya. Malam itu sangat mencekam bagi Chuck, ia tidak bisa berbuat apaapa.
Tidak ada lawan yang harus dikalahkannya selain rasa takutnya sendiri, tidak ada dokter yang bisa ia bayar untuk
www.YesusKristus.com
http://yesuskristus.com Powered by Joomla! Generated: 16 December, 2009, 21:00
menjamin keselamatan keluarganya. Ia menangis, karena sadar uang yang begitu berlimpah di rekeningnya yang
dikumpulkan sepanjang kariernya, ternyata tidak dapat menyelamatkannya. Dia lalu teringat, bahwa hanya satu Pribadi
yang dapat menyelamatkan keluarganya saat ini, yaitu Yesus. Seorang Pribadi yang lembut dan penuh kasih, yang
kepada-Nya ia pernah menyerahkan hidup masa remajanya di suatu KKR Billy Graham. Dan kini ia telah melupakan
komitmennya untuk mengikuti Dia, Chuck menangis, merasa begitu berdosa dan telah begitu jauh dari-Nya. Chuck juga
teringat ibunya. Dia adalah seorang ibu yang tangguh membesarkan Chuck serta adik-adiknya sendirian. Ibunya adalah
seorang yang rajin berdoa, dan selalu berkata pada Chuck, "Tuhan punya rencana untukmu." Selama ini, ia tidak
mengerti apa maksud ibunya itu, ia pikir semua ketenarannya ini adalah rencana Tuhan, sampai di situ saja. Tapi pada
peristiwa itu, ia kini menjadi mengerti apa yang berusaha disampaikan oleh ibunya. Malam itu pun ia berdoa, agar Tuhan
mengampuni semua dosanya, mengembalikan ia kembali dekat pada-Nya, menyelamatkan istri serta bayinya, dan agar
rencana Tuhan seutuhnya tergenapi dalam hidupnya. Sungguh luar biasa, Tuhan memberi tanda bahwa Dia
mendengarkan Chuck, dengan menyelamatkan istri dan kedua bayi kembarnya. Malam itu juga Chuck menyerahkan
seluruh hidupnya pada Tuhan. Sejak saat itu, ia menghentikan segala usahanya untuk menambahkan pundi-pundi
uangnya, dan terjun sangat aktif dalam kegiatan kemanusiaan yang begitu banyak. Menjadi wakil dan utusan
perdamaian, memimpin yayasan-yayasan kemanusiaan, masuk sampul-sampul majalah sebagai "Man Of The Year",
dan begitu banyak yang lain. Ia melihat setiap hari Gena membaca Alkitab, karena pada waktu itu Gena sudah terlebih
dahulu hidup dekat dengan Tuhan sebelum mengenal Chuck. Melihat hal itu, lama-kelamaan Chuck turut bergabung
dalam kegiatan membaca Alkitab. Dan menurutnya, hal itu menjadi sangat menyenangkan dan dinikmatinya, membaca
Alkitab bersama istrinya setiap hari. Orang sering datang pada Chuck dan berkata, "Chuck, engkau adalah orang paling
beruntung di dunia. Juara karate tak terkalahkan, bintang film terkenal, dan penulis buku-buku terlaris. Tidak ada orang
seberuntung engkau di dunia!" Chuck menjawab dengan tersenyum ramah, "Keberuntungan tidak ada hubungannya
dengan itu semua, Tuhanlah yang berhubungan dengan itu semua." Diambil dan disunting seperlunya dari:Judul
majalah: VOICE Indonesia, Edisi 83, Tahun 2006Penulis: LM (dari berbagai sumber)Penerbit: Communication
Department -- Full Gospel Business`s MenFellowship International -- Indonesia: Yayasan UsahawanInjil Sepenuhnya
Internasional (PUISI), Jakarta 2006 Halaman: 4 -- 9
www.YesusKristus.com
http://yesuskristus.com Powered by Joomla! Generated: 16 December, 2009, 21:00

No comments:

Post a Comment