by Revived - "Aku pernah dikecewakan oleh manusia dan dunia ini, tetapi tidak pernah sekalipun oleh Tuhanku." Amin.
Shalom semuanya!
Eh tunggu dulu, tau ngga arti kata 'Shalom'? Banyak orang berkata 'Shalom', di gereja semua orang menyapa dengan 'Shalom', bahkan orang Yahudi di dekat rumah saya pun menyapa dengan kata 'Shalom'....Apa sih shalom itu? Shalom itu artinya "Peace be with you", atau dengan kata lain "Damai besertamu". Nah, udah ngerti sekarang artinya? Kalo gitu, mulai detik ini, ucapkan kata 'Shalom' dengan Iman, dan orang yang anda salami akan memperoleh damai sejahtera itu.
Sekarang kita balik ke topik deh. Saya sangat menyukai membahas tentang kekecewaan (pada dasarnya, saya suka semuanya deh kalo berbicara tentang kebenaran), karena saya dulu juga pernah kecewa. Puji Tuhan, dari kekecewaan saya membuahkan sesuatu yang baik. Ya, Tuhan memanggil saya di saat saya kecewa, dan sampai detik ini saya tidak pernah kecewa sama sekali, baik kepada apapun dan siapapun (anti kecewa nih).
Saya yakin kita tentu pernah mengalami kekecewaan, entah kekecewaan kepada teman, keluarga, hidup, lingkungan, keadaan, bahkan kepada Tuhan sendiri. Kekecewaan merupakan sesuatu yang sering terjadi di dalam hidup manusia. Apa sih sebenarnya 'kecewa' itu? Kadang gara-gara persoalan sepele saja kita bisa kecewa. Kita kecewa karena sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi, atau karena kita disakiti, atau bisa juga karena kita diacuhkan.
Ada 4 jenis kekecewaan:
1. Kecewa terhadap suatu benda
Mungkin kita pernah membeli suatu barang dan kira mengharapkan benda itu dapat berguna bagi kita. Sebagai contoh, mobil. Anda membeli sebuah mobil Jerman, yang katanya terkenal baik mutunya. Ternyata baru dipakai 2 hari mesinnya udah mati. Tentu saja anda kecewa terhadap mobil itu, yang katanya mutunya bagus dan tahan banting. Lalu anda tidak pernah membeli lagi mobil Jerman dan tidak suka sama mobil Jerman, karena anda sudah dikecewakan. (Ini hanya contoh, bukan berarti mobil Jerman jelek lho!)
2. Kecewa terhadap Tuhan
Sebagai orang percaya, kita pasti selalu berdoa kepada Tuhan. Tetapi sudah bertahun-tahun anda berdoa, ternyata doa anda belum dikabulkan. Anda lalu menjadi kecewa dan tidak mau lagi berdoa, mulai jauh dari Tuhan, dan pada akhirnya meninggalkan Tuhan. Kecewa kepada Tuhan sering terjadi di kehidupan orang percaya. Setelah mereka capek berdoa, mereka tidak mau lagi berdoa dengan anggapan, orang dunia aja ngga berdoa tapi mereka bisa kaya, kenapa saya harus berdoa? Itu adalah pemikiran yang salah, Alkitab mengatakan untuk tetap berdoa dan jangan pernah berhenti, karena kita tidak tahu sampai kapan kita harus berhenti berdoa.
3. Kecewa terhadap keadaan/kehidupan
Ambil contoh yang paling gampang, kita lagi hidup enak berkelimpahan, tiba tiba datang krisis moneter. Ditambah lagi konflik dalam negeri dan kerusuhan dimana-mana. Kita semua pasti kecewa dengan keadaan, dan bahkan jadi muak dengan hidup kita, karena semakin hari semakin ruwet keadaannya.
4. Kecewa terhadap sesama manusia
Kekecewaan ini timbul akibat dari hubungan kita dengan sesama manusia. Paling sering terjadi dan paling susah untuk dihindari. (tapi tunggu dulu! baca sampai selesai yah, baru tau caranya!).
Kekecewaan ini bisa terhadap teman, orang tua, saudara, pasangan hidup, atau teman sekerja. Siapa saja yang kita temui tiap hari dapat mengakibatkan kekecewaan.
Dampak dari kekecewaan:
- Kepahitan (bitterness)
Orang yang mengalami kepahitan akan sulit berkembang rohaninya dan sangat susah untuk maju dalam kehidupannya. Bukan apa-apa, karena ada sesuatu yang membelenggu di hati orang tersebut, dan dia tidak pernah memiliki pandangan yang positif kepada orang-orang.
Saya ingin sekali membahas lebih lanjut tentang kepahitan di artikel lain (kalau Tuhan mengijinkan, dan pasti kok).
- Putus asa
Orang yang kecewa atau keseringan kecewa pasti ingin lari dari perasaan tersebut. Mereka kebanyakan lari ke obat-obatan, alkohol, rokok, dan free sex.
- Bunuh diri
Bunuh diri merupakan tindakan yang boleh dibilang paling extreme akibat dari kekecewaan. Banyak orang mengira bunuh diri adalah cara paling manjur untuk mengatasi problem, tetapi mereka memilih jalan yang salah.
Bagaimana mengatasi kekecewaan?
Di sini saya ambil contoh dari Perjanjian Lama, tentang kehidupan Yefta. Anda bisa baca Hakim Hakim 11:1-11. Singkat cerita, ayah Yefta suatu hari berhubungan dengan WTS dan dari hubungan tersebut, lahirlah Yefta. Lalu Yefta diolok-olok dan ditolak oleh saudara-saudara tirinya ketika Yefta beranjak besar. Hati Yefta sungguh kecewa dan sakit.
hmmm...apa yang Yefta lakukan dengan kekecewaan itu?
- Yefta membawa masalahnya ke dalam tangan Tuhan (ayat 11)
Yefta tahu bahwa satu-satunya tempat perlindungan dia adalah Tuhan. Semua kejadian yang telah terjadi dan akan terjadi di dalam kehidupan kita adalah seijin dari Tuhan. Dan percayalah apabila kita mendapat masalah dan kecewa, Tuhan tahu kok. Dia Allah yang ajaib kan?
- Yefta bangkit dari kekecewaannya dan menggali potensi yang positif (ayat 3-5)
Yefta dibuang oleh keluarganya, tetapi ia tidak lantas menjadi pengemis atau gembel dijalanan. Yefta dapat menguasai hatinya, sehingga ia tidak membiarkan hatinya dikuasai oleh kekecewaan. Ia punya prinsip : Apabila satu pintu tertutup, sepuluh pintu yang lain terbuka baginya.
Yefta bergabung dengan satu kelompok petualang. Mula-mula ia hanya sebagai bawahan, tetapi dengan cepat Yefta naik ke atas menjadi pimpinan kelompok petualang. Yefta menemukan potensinya, dan ia tidak merasa minder karena ia anak dari seorang WTS, tetapi dia terus berjuang untuk naik.
- Yefta belajar memandang manusia secara realistis (ayat 6-10)
Mengapa kita bisa kecewa dalam kehidupan kita kepada sesama manusia? Karena kita terlalu mengharapkan manusia, dan kita selalu mengharapkan harapkan kita terjadi. Misalnya: Apabila orang Kristen, harus suci 24 jam! Apabila bilang OK, selamanya harus OK! Apabila janjian, harus tepat waktu!
Kalau kita mengharapkan itu semua terjadi, ya kita harus siap siap kecewa dong! Gimana ngga, manusia kan tidak ada yang sempurna, dan kita sendiri juga tidak sempurna kok. Jadi kita harus berpikir positif dan realistis, bahwa manusia juga mempunyai kelemahan, dan dari kelemahan tersebut dapat menimbulkan kekecewaan.
Yeremia 17:5 "Terkutuklah orang yang berharap kepada manusia!" Jadi apabila kita berhadapan dengan manusia, kita harus siap untuk menerima rasa kecewa (tapi jangan kecewa lama-lama lho!)
Yefta belajar dari pengalaman ini, oleh karena itu pada waktu penatua Israel datang meminta pertolongannya, ia bersedia melupakan pengalaman pahit masa lalu dan membuka lembaran sejarah yang baru.
- Yefta bersama dengan Tuhan melakukan perkara yang besar (ayat 29)
Dikatakan bahwa Roh Tuhan mengurapi Yefta secara luar biasa, sehingga ia memperoleh kemenangan atas bani Amon yang telah menguasai Israel sekian lama.
Nah... bukankah dari kekecewaan itu akan timbul sesuatu yang besar? Tapi apabila kita mau melupakan kekecewaan itu lho,,,kalau disimpen-simpen sih ya ngga bakal terjadi. Marilah kita belajar seperti Yefta, dimana dari kekecewaannya dia dapat melakukan perkara besar. Apa sih gunanya kekecewaan disimpen simpen? Ngga ada kan? Mendingan juga kayak Yefta, iya gak?
Conclusion:
Apakah anda saat ini masih menyimpan kekecewaan terhadap seseorang, atau sesuatu? Kalau ada, maukah anda meninggalkan kekecewaan itu? Dan apabila anda tidak dapat mengampuni seseorang, maukah anda mengampuni orang itu? Sebutkanlah nama orang itu, dan ampunilah di dalam Nama Yesus, maka kekecewaanmu akan hilang dan digantikan dengan kasihNya yang baru.Shalom...Tuhan memberkati.
Shared By: "ubikan" From Ap Forum.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment