Saturday, January 30, 2010

Doa Syafaat dan Strategi Peperangan Rohani

• Peperangan Rohani

Salah satu kehidupan orang Kristen yang lain dari pada yang lain Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Apa pentingnya DOA SYAFAAT DAN STRATEGI PEPERANGAN ROHANI ? ini adalah salah satu PR buat murid-murid-Nya.
Doa:
-dapat menghancurkan pekerjaan setan
-mencari yang terhilang, memenangkan jiwa bagi Kristus.
Berdoa adalah usaha manusia membangun dirinya dihadapan Tuhan, banyak aturan ditawarkan oleh teolog,ujung2nya ke Amsal 16:25, anak2Nya harus bisa DOA BERSAMA ROH KUDUS!, Bagaiman caranya?
Praise & Worship
" Konser Doa / Praise & Worship adalah gabungan pujian dan penyembahan dalam roh jiwa dan terus mengalir menurut tuntunan Roh Kudus sampai masuk Ruang Maha Kudus dan yang sampai menghasilkan doa doa yang profetik dan doa doa yang menjamah hati Tuhan "
Umat Kristen harus BERIBADAH / berkebaktian seperti cara yang ditulis dalam Alkitab yaitu seperti gereja mula-mula, acuannya sytem Tabernakel dalam Perjanjian Lama, dengan memperhatikan ucapan Tuhan Yesus Kristus : tiga hari bait Allah akan runtuh berarti sejak peristiwa kematian & kebangkitNya , manusia berubah persepsinya tentang alamat Tuhan, dulu Tuhan di kemah suci, di bait Allah Salomo, ( NON Kristen : dilangit, ) sejak 2000 tahun yang lalu alamat Tuhan ada dalam tubuh orang percaya, karena itu manusia percaya bisa komunikasi langsung dengan Allah melalui jalan pikiran, kalau roh / jiwa ( hati nurani ) sudah bersih dan bebas dari belenggu iblis dengan bimbingan Roh Kudus, dalam arti manusia percaya harus mengalami TRANSFORMASI secara sempurna.
Bagaimana caranya menurut pikiran Allah dalam Alkitab? -----Apa itu kehendak Tuhan? Mengapa baptisan sangat penting dalam proses TRANSFORMASI? Apa kendala2 / hal2 yang bisa menghambat proses TRANSFORMASI? ini sangat penting untuk mengantarkan saudara2 kita yang ingin jadi orang Kristen, sebab apa ? sebab untuk jadi orang Kristen itu perlu mengalami proses SUPRA NATURAL, ( II Kor 5:7 ) lain dengan orang beragama non Kristen lainnya, hafal ayat2 kitab sucinya, pakai jubah putih, jubah hitam, mulut komat kamit waktu berdoa, tetapi tidak ketemu pikiran Allah malah bisa ngomong2 sama setan, maaf ini nyata, bukan menghakimi , saya pernah mengalami sendiri.
DIMENSI PEPERANGAN ROHANI
Tingkat Dasar:
Mengusir setan dan menyembuhkan yang sakit, serta menguatkan orang lemah;
Tingkat Okultisme:
Melakukan peperangan terhadap sesuatu yang menghalangi pekerjaan Tuhan, seperti dukun, new age, orang yang membacakan mantera ( penenung) dan pemujaan setan;
Tingkat Stategi:
Mengikat dan mengusir roh jahat / setan yang menguasai suatu daerah tertentu, termasuk di internet, ( Mat 11:12 ) dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
STRATEGI PEPERANGAN ROHANI :
A. Pikiran dan hati Kita harus berjuang melawan iblis :
Pada waktu kita masih hidup dan masih terikat dengan kutuk hukum Taurat, (belum mengalami TRANSFORMASI total) maka manusia jasmani dan manusia rohani kita terus berperang dalam pikiran dan hati kita , seperti yang ditulis dalam Rm7:14-25 yaitu coflict batin, kalau iblisnya menang ? orang itu meninggalkan Kristus, kembali keagama semula, atau mungkin bisa saja bunuh diri karean str4ess berat.
Tuhan menyuruh umatNya membunuh 7 suku menjelang mereka masuk Tanah Kanaan (Kis 13:13) ini artinya adalah : semua dosa yang ada dalam diri manusia, harus kita perangi, kita lawan, perbuatan2 iblis (I Yoh 3:8) macam apa ? I Kor 8:7-12 : menyembah berhala, I Tim 4:2 keras hati, Tit:1-15 kenajisan Ibr 10:22 jahat.
Solusi melawannya: sadarlah (I Pet 5:8) lawanlah dengan iman yang teguh (I Pet 5:9) tunduk kepada Allah (Ef 1:13-14) buang kuk perhambaan (Gal 5:1) bangkitkan semangat bertempur, jangan padamkan Roh (Yos 18:3)
B. Jangan Jadi Medium (Okultisme)
Paranormal, dukun, pesihir dll. Adalah manusia2 yang menjalin hubungan erat dengan kelompok iblis, mereka minta kaya dan power dari iblis, mereka akhir hayatnya tidak ada yang mati dengan sempurna, pasti mati secara tragis ditangan iblis.sebab mereka terikat dengan iblis, kalau mereka ingkar janji dengan iblis, iblis nagih janji, dia bisa gila atau mati bunuh diri
Manusia yang memilih dirinya dimasuki setan seperti jadi dukun, peramal, ahli sihir dsb.matinya pasti tragis.
Solusinya : cari hamba Tuhan, minta dan lakukan doa pelepasan!
Sasaran Utama peperangan rohani :
Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya(Mat 11:12)
Siapa golongan ini? menurut Alkitab adalah kelompok Gereja Super dan golongan anti Kristus (pemahamannya di Kitab Wahyu) .
Kita tidak boleh sendirian, harus militan, terorganisir, harus punya disiplin tinggi layaknya militer dimedan pertempuran.
Langkah Pertama :
survey / menyelidiki medan perang, pelajari adat istiadat, suatu budaya suku2 bangsa dan lain2
Langkah Kedua :
Buat Peta Rohani.
Bilangan 13 : 17 20, "Maka Musa menyuruh mereka untuk mengintai tanah Kanaan, katanya kepada mereka: "Pergilah dari sini ketanah Negep dan naiklah ke pegunungan. Dan amat amatilah bagaimana keadaan negeri itu, apakah bangsa yang mendiaminya kuat atau lemah, apakah mereka sedikit atau banyak : dan bagaimana negeri yang didiaminya : apakah baik atau buruk, bagaimana kota yang didiaminya, apakah mereka diam ditempat yang terbuka atau ditempat tempat yang berkubu, dan bagaimana tanah itu, apakah gemuk atau kurus, apakah disana ada pohon pohon atau tidak. Tabahkanlah hatimu dan bawalah sadikit dari hasil negeri itu. Waktu itu ialah musim hulu hasil anggur."
Teks ini menjelaskan apa yang dilakukan Musa sebelum umat Israel masuk untuk menguasai tanah kanaan. Ia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki keadaan tanah Kanaan dari jarak yang dekat. Berapa banyak orang yang tinggal di tanah itu? Apakah penduduknya kuat atau lemah apa keunikan kota masing masing? yang ditanam sayur sayuran atau pohon pohonan macam apa? bagaimana bentuk Geografi tanah Kanaan..?
Tindakan iblis semakin hari semakin bertambah licik dan berubah terus. Inilah realita pada akhir zaman ini, Menembak/ menghancurkan kuasa / karya iblis perlu senjata yang ampuh, dan harus jelas sasarannya.
Daerah
Musa mengintai tanah Kanaan untuk menyelidiki keadaan tanah perjanjian itu. Anak anak Allah yang penuh Roh Kudus otomatis memberitakan injil keseluruh dunia, dan daerahnya sangat luas, meliputi daerah seluruh dunia yang belum terjangkau oleh Injil Kristus, Dia berjanji mendampingi terus sampai akhir jaman (Mat 28:19-20) Saat ini daerah jendela 10-40 yang perlu jadi sasaran doa syafat kita.
Di dunia maya : INTERNET
Kita perlu tahu situs / website mana yang anti Kristus? kalau di yahoo groups group mana yang menyesatkan umatNya? Dan siapa yang tergolong "teolog Ampiang " buat daftar dan doakan dalam team doa syafaat.
Pada abad ke 21 banyak orang yang berkumpul di kota kota, ahli masa depan (futurolog) berkata bahwa 80 % seluruh penduduk kota di dunia ini akan tinggal di kota. Kota kota dibangun oleh Allah supaya dikota secara efektif banyak orang menerima Tuhan dan membangun kultur Allah. Tetapi kebanyakan kota menjadi kota yang menjatuhkan orang orang sehingga menjadi kota percabulan, kota yang menghancurkan dan kota yang dikuasi oleh Iblis. Akan tetapi kita diberi tugas untuk memulihkan kota diseluruh dunia ini dan menjadikan kota kota Allah yang memuliakan Allah sama seperti Yerusalem yang disebut kota Allah. Jadi kita mendoakan kota kota dengan cara berdoa syafaat. Kalau kita mendoakan sebuah kota melalui peta rohani bagi kota itu maka kita akan mengalami kemenangan yang sempurna.
Setiap kota, pulau punya ciri2 khas kuasa kegelapannya, kita harus tahu itu.
Bangsa
Didalam sejarah dunia kita sudah banyak melihat bangsa komunis tertutup dari berkat Allah. Bangsa yang tertinggal sebagai bangsa yang komunis murni adalah Korea Utara yang mengalami kelaparan dan kemiskinan dan kelaparan secara luar biasa, mengapa Rusia diruntuhkan walaupun Rusia memiliki sumber daya alam yang berlimpah limpah dan jumlah penduduk yang banyak? karena bangsa itu tidak mengakui realitas keberadaan Allah
Tanpa berkat Allah manusia tidak dapat menggunakan sumber daya alam dengan baik. Walaupun tersedia banyak, tetapi manusia menggunakan untuk kehancuran diri sendiri, sebaliknya ketika sebuah bangsa diberkati, bangsa itu dapat menikmati kelimpahan dan kekayaan walaupun ia memiliki sedikit sumber daya alam dan sedikit jumlah penduduknya. Dengan demikian kita perlu mendoakan sebuah bangsa supaya ia mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan. Kita juga perlu mendoakan supaya perbuatan kuasa gelap yang menghalangi hubungan baik dengan Allah dihancurkan. Di tahun2 mendatang bangsa Indonesia akan menuai Halliloyah, itu pasti.
Benua
Peperangan rohani bukanlah peperangan sendiri. Tetapi peperangan bagi umat Allah untuk memuliakan dan menyenangkan Allah. Sehingga mereka tidak terhalangi dalam menikmati berkat Allah melalui orang orang yang penuh suka cita dan damai sejahtera dan memuliakan nama Allah. Supaya hal itu terjadi, kita memerluka strategi doa dan peta rohani bagi daerah bangsa dan benua.
Kita melihat pemindahan pusat ekonomi dunia dari Eropa ke Inggris, kemudian ke Amerika Serikat. Mengapa hal itu terjadi? karena hal itu terkait dengan berkat Allah yang pindah bersama dengan kepindahannya umat Allah. Eropa diberkati oleh Allah karena kehadiran orang orang yang percaya kepada Tuhan. Begitu juga Amerika diberkati karena orang percaya pindah dari Inggris ke Amerika Serikat. Pada zaman sekarang banyak gereja yang besar dibangun dibenua Asia sehingga berkat Allah dicurahkan ke benua Asia. Ahli ahli ekonomi juga berkata bahwa zaman ini adalah zaman ekonomi benua Asia.
Seluruh Dunia
Doa Syafaat melalui peta rohani menolong kita mengerti pekerjaan Allah yang terjadi diseluruh dunia, sehingga kita dapat mendoakan seluruh dunia dengan jelas. Perhatian Allah mengubahkan seluruh bangsa dan dunia, juga menyertai orang yang percaya yang melayani Allah dengan baik.
Dimanapun kita berada, di daerah, bangsa atau benua, harus diberkati oleh Karena pendoa syafaat. Supaya berkat Allah dicurahkan kita harus menyelidiki apa yang menghalangi para penduduk untuk percaya dan melayani Tuhan. Ketika lebih banyak orang berdoa bersama sama maka tembok kuasa gelap diruntuhkan sehingga kota kota dan bangsa bangsa serta benua benua akan diberkati dan diubahkan, kita harus percaya bahwa berkat dan kasih karunia serta pekerjaan Allah dicurahkan oleh karena para pendoa yang mendoakan daerahnya.
Langkah Ketiga :
Serang terus menerus tidak boleh berhenti! Sepanjang hari 24 jam, sepanjang tahun sampai Tuhan Yesus datang kembali!
Ketika pendoa syafaat mendoakan sebuah daerah secara rinci, mereka pasti menemukan suatu daerah yang tidak benar dihadapan Allah.(seperti daerah pelacuran, daerah dimana banyak paranormalnya, daerah macam2 kejahatan ) Kita perlu bertanya kepada Tuhan didalam doa untuk mengerti bagaimana roh jahat menguasai daerah itu dan bagaimana kuasa roh jahat dihancurkan secara tragis. Tuhan akan memberitahukan cara yang tepat bagaimana kita mendoakan keluarga kita, masyarakat dan gereja di dalam peperangan rohani. Kita tidak dapat menghancurkan kuasa roh jahat dengan suatu doa yang meminta berkat saja. Didalam peperangan rohani, selain mengancurkan kuasa roh jahat, kita perlu berdoa secara rinci supaya kerajaan sorga dinyatakan dikota atau masyarakat. Untuk doa ini kita perlu mengetahui sejarah kota atau daerah itu. Misalnya didalam sejarah didaerah tertentu. Nenek moyangnya bermusuhan satu dengan yang lain atau mempunyai hubungan yang tidak baik. Sesudah masalah daerah diperiksa. Kita perlu tahu apakah ada perjanjian dengan roh jahat didaerah ini. Kita putuskan perjanjian itu dalam nama Yesus. Kita juga mengakui dosa yang dilakukan penduduk di daerah itu dan meminta belas kasihan Tuhan turun diatas daerah itu.
Kita perlu memutuskan segala ikatan atau pengaruh kuasa kegelapan yang mengganggu kehidupan rohani kita dalam nama Tuhan Yesus Kristus . Kita perlu berdoa dengan doa peperangan rohani kalau ada hal hal yang terikat dengan budaya, sosial, pendidikan yang mengganggu orang orang untuk bisa bertobat.
Kita perlu memelihara diri kita sendiri, jangan sampai ada kesempatan Iblis untuk memecahkan hubungan kita dengan Allah. Melalui peta rohani kita menyelesaikan masalah rohani kita sebelum kita diserang sehingga kita menikmati persekutuan dengan Allah secara berlimpah limpah. Apalagi jika kita mendoakan orang lain sebagai pendoa syafaat sehingga kita senantiasa menikmati kehidupan yang berkemenangan didalam Tuhan. Kita dapat melihat mezbah penyembahan berhala dan perdukunan didaerah atau dikota kita. Kebanyakan tempat itu adalah miskin dan kotor sehingga tempat itu digunakan sebagai tempat percabulan. Tempat untuk minum minuman keras dan tempat kemerosotan moralitas. Kebanyakan tempat semacam itu tembok kuasa kegelapan mulai diwujudkan.
Kita tidak mau tempat semacam itu berada didekat lingkungan kita. Karena kuasa kegelapan dapat menipu kita secara licik sehingga hubungan kita yang sempurna dengan Allah dihancurkan yang akhirnya menjauhkan kita dari Allah. Kita harus peka dalam pengetahuan rohani terhadap hal hal yang seperti itu dan berdoa untuk menghancurkan kuasa kegelapan.
Senjata Kita Dalam Peperangan
• Peperangan Rohani
Orang beriman harus senantiasa diperlengkapi dengan sejumlah jenis senjata. Efesus 6:10-11 berkata, "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis." Orang yang semacam ini adalah orang yang telah mantap dalam menghadapi musuh.
Iblis akan melakukan segala upaya untuk mencegah jangan sampai Anda memiliki ilmu pengetahuan dari Allah. Dan sekalipun Anda berhasil memiliki senjata itu, ia pun tetap akan berusaha untuk merebutnya dari Anda. Anda akan mengalami ujian dalam hal ini dan memang ada beberapa orang yang tidak berhasil lulus dalam ujian ini. Iblis akan menyatakan kepada Anda bahwa Anda tidak memerlukan senjata itu dan sebaiknya senjata itu dibuang saja, sebab senjata itu tidak bermanfaat bagi Anda. Pada suatu saat saya didatangi seorang laki-laki di dalam suatu kebaktian, tatkala saya lagi menyinggung soal ini di dalam khotbah. Ia menyatakan bahwa senjata itu tidak mempan baginya. Saya katakan kepadanya apabila senjata Allah itu tidak mempan, maka ia dapat menyebut Tuhan itu pembohong. Saya katakan kepadanya, bahwa saya lebih baik mati daripada harus mengatakan bahwa firman Allah itu tidak mengandung kebenaran. Kalau firman Allah itu sebagai senjata tidak mempan dalam hidup Anda, maka hal itu disebabkan oleh karena Anda menggunakannya secara tidak benar.
Sabda Allah itu tidak pernah gagal di dalam melaksanakan kebenaran. Memang musuh Anda dengan gigih menolak Anda masuk ke dalam kawasan yang pernah ia kuasai, karena ia senang menjalankan kekuasaan gelap yang penuh dengan roh jahat di udara. Ia ingin terus melanjutkan kekuasaannya atas diri umat manusia. Ia sangat menyesalkan adanya campur tangan Tuhan dalam hal ini. Ia akan memusatkan segala kekuatan dan tenaganya untuk merintangi Anda melalui suatu peperangan yang dahsyat. Kalau serangan-serangannya berhasil Anda patahkan dan ia tidak berhasil menguasai jalan pikiran Anda, maka ia akan mencoba mengusik Anda melalui jiwa Anda, keadaan tubuh Anda, keadaan keluarga Anda, atau kondisi kehidupan Anda. Oleh sebab itu hendaklah Anda siap sedia senantiasa menghadapi segala gangguan iblis itu, karena ia pasti tidak akan tinggal diam. Gangguan itu akan terus datang merongrong.
Tempat yang tadinya merupakan rahmat anugerah yang istimewa bagi Anda kini menjadi tempat yang luar biasa berbaya. Tidak ada kebenaran yang lebih tangguh dalam melawan musuh, kecuali kewibawaan iman pada orang yang percaya. Roh Tuhan berdoa melalui rasul Paulus kiranya mata sidang jemaat boleh terbuka lebar. Agar supaya mereka bisa menyadari sepenuhnya perlengkapan senjata yang ampuh yang telah diperuntukkan untuk menjaga keamanan diri mereka. Saya pernah menyaksikan sejumlah orang yang berhasil dijungkirbalikkan oleh iblis. Banyak pula orang yang berusaha dengan tekun untuk menguasai kebenaran Allah atau telah memperoleh pelajaran tentang kebenaran Allah itu. Mereka telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk dapat melaksanakan dengan baik apa yang diajarkan oleh firman Allah itu. Sering kali mereka berhasil ditaklukkan iblis dari segi kelemahan jasmaniah mereka, sebab mereka tidak bisa lagi ditaklukkan melalui kekuatan benteng iman rohani mereka. Iblis senantiasa berusaha mengalahkan mereka melalui segala cara, apa saja yang ia sanggupi. Namun kepada setiap orang telah disediakan perlengkapan senjata yang bisa menjamin keamanan diri mereka itu. Dan apabila manusia itu berhasil memanfaatkan senjata dari Allah itu dengan tepat, maka ia pun pasti akan berhasil untuk bisa mengalahkan si iblis.
Seorang yang beriman haruslah senantiasa tetap diperlengkapi dengan senjata. Efesus 6:10-17 berkata, "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap itu, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikat pinggangkan kebenaran dan berbaju zirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera, dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah." Berbagai macam bagian senjata yang disebutkan di sini melambangkan sikap kehidupan rohani tertentu yang harus dipertahankan oleh orang beriman. Dengan mengenakan senjata rohani ini maka seorang yang beriman akan terlindung dari bahaya musuh dan tidak terhalang dalam melaksanakan tugas pelayanannya. Yang ia perlukan hanyalah bagaimana caranya ia terus-menerus bisa bertahan agar senjatanya itu tetap cemerlang dan dapat dimanfaatkan bagi kepentingannya dengan mantap.
Ikat pinggang kebenaran merupakan lambang dari pemahaman yang mendalam terhadap isi firman Allah. Seperti halnya tugas sebuah ikat pinggang bagi seorang tentara, maka ikat pinggang itu pun merupakan tempat kaitan segala macam senjata lainnya baginya, agar tetap bisa bertahan pada tempatnya masing-masing. Tameng dada yang terbuat dari logam merupakan lambang keadilan. Hal ini memunyai dua macam penerapan, pertama, Yesus adalah lambang dari segala keadilan. Itulah sebabnya kita tempatkan Dia sebagai pelindung keadilan yang utama. Kedua, lukisan dari sikap ketaatan kita terhadap firman Tuhan. bahwa kaki kita harus beralaskan sepatu yang siap sedia untuk menyebarkan Injil pembawa damai bagi umat manusia. Hal ini merupakan tugas kepeloporan dalam menyampaikan firman Tuhan kepada manusia, yang patut dilaksanakan dengan setia. Keempat ialah tameng kepercayaan kita. Kita mengetahui bahwa tameng itu merupakan senjata pelindung bagi seluruh tubuh kita. Hal ini merupakan pelambang tentang keamanan diri kita selengkapnya dan merupakan tempat pengungsian yang aman di bawah darah yang telah ditumpahkan di atas bukit Kalvari, di mana tidak ada satu kekuatan musuh apa pun juga yang bisa berhasil menembusnya.
Kemudian kita dapati topi helm keselamatan, seperti yang disinggung dalam 1 Tesalonika 5:8, yang merupakan harapan terhadap keselamatan itu. Harapan akan keselamatan itu merupakan satu-satunya topi pengaman yang mampu melindungi bagian kepala kita dalam masa-masa penuh kepicikan, sehingga janganlah kepala kita jadi bingung atau pecah, sehingga kita berpaling dari sesuatu yang mengandung kebenaran. Dan akhirnya kita dapati pedang Roh, yang tiada lain adalah firman Tuhan itu sendiri. Bagi kita hal ini harus kita tafsirkan bahwa firman Allah itu hendaklah kita gunakan secara aktif sebagai senjata. Senjata-senjata yang lainnya itu tergolong jenis senjata yang dapat kita pakai dalam corak membela diri atau mempertahankan diri semata-mata.
Selanjutnya ayat ke 18 menyatakan, "Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus." Nah, kini kita telah siap siaga untuk melakukan peperangan itu melawan musuh, karena kita sudah diperlengkapi sepenuhnya dengan senjata yang ampuh. Oleh sebab itu apabila kita berdoa di dalam Roh, maka kita pun dapat melaksanakan tugas perjuangan kita dengan gilang-gemilang.
Peperangan Rohani
You can't request more than 20 challenges without solving them. Your previous challenges were flushed.
• Peperangan Rohani
Sama seperti kebanyakan para pemimpin Kristen lainnya, saya merasakan pada saat kita memasuki tahun 1990-an ini, Roh Kudus berkata, "Bersiaplah untuk berperang." Tampaknya, dekade ini merupakan masa peperangan rohani yang sangat menegangkan. Kita bisa menyaksikan beberapa kemenangan terbesar bagi Allah dan kerajaan-Nya, dan kita juga bisa menyaksikan beberapa kemerosotan yang paling serius. Akan tetapi, hasil akhirnya tidaklah meragukan. Kuasa setan telah dipatahkan di atas kayu salib, dan setan sangat mengetahui hal ini bahwa kesudahannya sudah dekat dan setan sedang berdiri pada benteng pertahanannya yang paling akhir yang akan dihancurkan pada perang Armagedon.
Hal ini tidak terjadi dalam suatu kevakuman. Selama beberapa dekade terakhir ini, Allah telah menggerakkan umat-Nya selangkah demi selangkah, melalui suatu tahap persiapan, menetapkan agenda bagi dekade sekarang ini. Ketika saya mempelajari kecenderungan-kecenderungan yang sedang terjadi, saya percaya bahwa pada tahun 1950 Allah mulai menuai tuaian rohani terbesar dalam sejarah kekristenan dan Dia menempatkan penginjilan di rumah-rumah dan penginjilan dunia pada tempat paling utama di dalam agenda kita. Tahun 1960 Allah mulai berbicara kepada kita tentang belas kasihan bagi orang-orang tertindas, tunawisma dan orang-orang miskin. Tanggung jawab sosial ditambahkan ke dalam agenda kita. Di tahun 1970 kita menyaksikan benih pertama yang sekarang sedang berkembang menjadi kegerakan doa paling akbar di dalam sejarah kehidupan. Pada tahun 1980, dimulai suatu pembaharuan pelayanan kenabian, dan ketika hal ini belum lagi dikenal secara luas, karunia bernubuat dan nabi-nabi muncul kembali. Sekarang di tahun 1990, peperangan rohani begerak ke garis depan.
Bila kita melihat ke belakang ke dalam konteks sejarah, gerakan kekudusan yang terjadi di akhir tahun 1800-an dan gerakan Pantekosta di awal tahun 1900-an memberikan dasar, baik bagi pertobatan pribadi di satu pihak maupun bagi pelayanan yang disertai dengan tanda-tanda dan mujizat-mujizat ajaib di pihak lainnya. Kedua hal ini telah berlangsung dan memegang peranan penting di dalam mempersiapkan gereja memasuki tahun 1990-an. Saya percaya, di tahun-tahun mendatang kita akan menyaksikan penekanan yang lebih lagi, baik dalam hal pelayanan kekudusan maupun pelayanan yang memiliki kuasa.
Apakah "Peperangan" Merupakan Istilah yang Tepat?
Sebenarnya, orang-orang Kristen bukanlah penyokong peperangan. Yesus dikenal sebagai Raja Damai. Jika secara pribadi saya harus memilih analogi bagi perjuangan kita melawan musuh, maka saya akan lebih suka untuk mengatakan bahwa perjuangan kita sama saja halnya seperti sebuah pertandingan sepak bola. Saya akan bisa lebih berpikir deskriptif pararel antara sepak bola dan hubungan permusuhan kita dengan setan. Pembicaraan dalam bahasa sepak bola akan lebih menyenangkan dibandingkan dengan pembicaraan dalam bahasa kemiliteran. Tetapi saya tidak dapat secara bebas memilihnya. Alkitab sendiri sudah menjelaskan, bahwa perjuangan kita melawan setan merupakan peperangan. Dan saya percaya, alasan untuk hal ini cukup jelas. Kita sedang berada dalam suatu perjuangan antara hidup dan mati. Permainan sepak bola sangat menegangkan ketika dimainkan, tetapi sangatlah sedikit orang yang sanggup mengingat siapa juara dalam pertandingan dua tahun yang lalu. Hal tersebut tidak jauh berbeda. Tetapi, tidak seperti sepak bola, perjuangan rohani kita menghasilkan konsekuensi kekekalan. Perjuangan kita bisa membuat perbedaan seperti surga atau neraka bagi berjuta-juta orang. Peperangan bukanlah sebuah permainan. Perang akan berhenti seperti aktifitas kemanusiaan lainnya.
Kerajaan Allah Menyatakan Penganiayaan
Rasul Paulus mengatakan, "untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara" (Kisah Para Rasul 14:22). Di dalam beberapa tulisannya, Paulus menunjukkan tentang jenis kesengsaraan. Dia mengatakan bahwa masa sukar akan datang dan manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterimakasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu daripada menuruti Allah (2 Timotius 3:1-5). Paulus berbicara mengenai penganiayaan yang dia alami, dan berkata, "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (2 Timotius 3:10-12). Paulus ingin kita "layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu" (2 Tesalonika 1:5). Secara fisik Paulus pernah diusir dari satu kota ke kota lainnya dan dilempari batu.
Setan beberapa kali disebut sebagai illah zaman ini atau penguasa kerajaan di udara. Dia telah mengambil otoritas Allah dan kemudian membangun kerajaannya di bumi. Kuasanya mempesona. Ketika Yesus datang, Ia menyerang kerajaan setan. Setan tidak hanya dipermalukan pada saat itu, tetapi kuasanya juga dipatahkan melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Setan tidak menerima serangan tersebut begitu saja. Itulah sebabnya mengapa penyerongan terjadi, baik di surga maupun di bumi. Itulah sebabnya pula Yesus mengatakan, "Kerajaan surga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya." (Matius 11:12). Karena itu pulalah Paulus berkata, "untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara." Ketika kita memasuki Kerajaan Allah, kita bisa memilih salah satu dari dua bentuk sikap. Kita bisa mundur dan melindungi diri kita dengan sikap bertahan atau kita bergerak maju dengan agresif dalam sikap menyerang. Mereka yang memilih sikap bertahan mencoba menghindari peperangan rohani.
Yesus Mengubah Keadaan
Yesus datang untuk meyerang kerajaan setan. Ketika Ia melakukannya, suatu periode waktu yang panjang yang ditutupi oleh Perjanjian Lama secara permanen diubahkan. Yesus membawa suatu perjanjian yang baru. Kapankah tepatnya perubahan itu terjadi? Secara teologis, perubahan itu terjadi di atas kayu salib. Paulus menjelaskan hal ini secara terperinci di dalam suratnya kepada jemaat di Kolose ketika ia mengatakan bahwa "Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih" (Kolose 1:13). Kemudian Paulus melanjutkankan dengan mengatakan bahwa di dalam Dia kita memiliki penebusan, yaitu pengampunan dosa melalui darah-Nya (Kolose 1:14). Darah yang Yesus tumpahkan di atas kayu salib telah mengalahkan musuh, atau seperti yang dikatakan oleh Paulus kemudian, "Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka" (Kolose 2:15). Paulus mengatakan, bahwa Yesus adalah "Kepala semua pemerintah dan penguasa."
Secara de jure kekalahan setan terjadi di atas kayu salib. Akan tetapi, suatu pertemuan kekuatan secara de facto terjadi lebih awal dan memberikan pengalaman tersendiri kepada setan. Yesus mengatakan, bahwa Yohanes Pembaptis adalah orang besar, "namun yang terkecil dalam Kerajaan surga lebih besar daripadanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan surga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya" (Matius 11:11-12). Bagaimana Yesus bisa mengatakan hal ini sebelum Dia disalib? Dia bisa mengatakan hal ini karena Dia sendiri telah bertemu langsung dengan setan di padang gurun. Pencobaan yang dialami oleh Yesus merupakan peperangan tingkat tinggi dimana setan dikalahkan secara telak. Perhatikanlah bahwa Yesus sejak awal sudah mengambil sikap menyerang. Perkara pertama yang terjadi setelah Yesus dibaptis, "Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis" (Matius 4:1). Episode peperangan rohani ini terjadi atas inisiatif Allah. Dan tentu saja, Yesus menang. Dan kita juga bisa menjadi seorang pemenang jika kita disatukan dengan-Nya dan mengizinkan kuasa-Nya mengalir melalui kita.
Empat Dimensi Kunci Peperangan Rohani
Peperangan rohani bukanlah lelucon dan permainan. Bukan seperti anak-anak kecil yang sedang berlari-lari keliling sambil mengenakan kostum setan di hari Hallowen atau seperti film-film horor yang menakutkan yang ditayangkan di televisi. Mungkin hal-hal tersebut merupakan bagiannya, tetapi semua itu tidak lebih dari sebuah penyamaran dari perkara yang sesungguhnya. Setan dan iblis-iblis berada dibawah kontrolnya dan mereka merupakan makhluk yang nyata dengan kepribadian yang menyesatkan, hati yang fasik, dan memiliki tujuan-tujuan yang jahat. Dibandingkan dengan manusia, mereka lebih berkuasa, tetapi mereka bukanlah Allah atau apapun yang dekat dengan Allah. Kita tidak mengharapkan suatu bentuk dualisme yang baru. Kenyataannya, bahwa Allah adalah yang menciptakan mereka sama halnya seperti Ia menciptakan kita. Meskipun kuasa setan itu terbatas, dan meskipun Allah sudah memberikan kuasa kepada kita atas mereka, hal yang paling berbahaya di dalam peperangan rohani adalah kepercayaan diri yang berlebihan. Banyak orang Kristen telah dihantam secara rohani, emosi, dan fisik karena mereka berlaku tidak bijaksana di dalam melakukan pendekatan. Di dalam menghadapi peperangan rohani, ada empat dimensi yang harus kita pertimbangkan dengan matang yaitu senjata yang kita gunakan di dalam peperangan, otoritas kerohanian kita, pertempuran kita melawan musuh, dan rencana tindakan kita.
1. Senjata Kita di dalam Peperangan
Pelajaran yang paling sulit untuk dipelajari bagi kebanyakan orang Kristen umumnya adalah bahwa senjata bagi peperangan rohani adalah senjata rohani. Secara teori kedengarannya sederhana. Akan tetapi, secara praktik hal ini sulit, karena kita yang menyebut diri sebagai orang Kristen Alkitabiah masih banyak yang hidup secara kedagingan. Dengan jelas Alkitab mengatakan, "Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng" (2 Korintus 10:3-4). Kita sudah terbiasa mencoba untuk memecahkan masalah sosial dan ekonomi melalui politik, atau masalah-masalah hukum melalui pengadilan, atau masalah ketidakcocokan melalui perdebatan, atau masalah hubungan internasional melalui perang, sehingga ketika kita mendengar bahwa Allah memiliki cara yang lebih tinggi dan efektif melalui senjata rohani, perkara tersebut dianggap sebagai suatu pikiran yang mengkhayal bahkan juga oleh banyak orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali. Sikap ini perlu diubah.
Lalu, apakah senjata peperangan kita? Kegiatan yang mendasar di dalam peperangan rohani adalah doa. Di satu sisi doa merupakan senjata peperangan dan di sisi lain doa merupakan media melalui mana semua senjata yang lainnya dipergunakan. Efesus 6:12 berkata, "Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara". Kita diperintahkan untuk mengambil seluruh perlengkapan senjata Allah, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh" (Efesus 6:18). Tanpa doa kita menjadi tidak berdaya di dalam perjuangan kita melawan musuh. Jika doa merupakan pusat aktifitas bagi peperangan rohani, maka pusat sikap kita di dalam peperangan rohani adalah iman dan ketaatan. Ketika Yesus berada di bumi, murid-murid-Nya mencoba untuk mengusir setan dari seorang anak yang memiliki penyakit ayan, tetapi mereka tidak sanggup. Setelah Yesus turun tangan, kemudian mengusir setan dan menyembuhkan anak tersebut, murid-murid-Nya bertanya mengapa mereka tidak bisa mengusir setan tersebut. Yesus berkata, "Karena kamu kurang percaya" (Matius 17:20).
Murid-murid kurang memiliki iman sehingga mereka tidak berhasil di dalam episode peperangan rohani tersebut. Kemudian Yesus berusaha untuk membesarkan hati mereka dengan mengatakan bahwa sesungguhnya sekiranya mereka memunyai iman sebesar biji sesawi maka mereka dapat berkata kepada gunung untuk pindah dari tempat ini ke sana -- maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu (Matius 17:20). Apakah yang dihasilkan oleh iman? Salah satunya, melalui iman kita bisa mengadakan hubungan dengan Allah. Karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman (Efesus 2:8). Kemudian, sekali kita ada di dalam persekutuan dengan Allah, maka kita akan masuk ke dalam hubungan yang lebih mendalam lagi dengan Bapa melalui iman. Itulah sebabnya Efesus 6:16 menyebutkan bahwa salah satu perlengkapan senjata Allah adalah "perisai iman". Iman tidak bisa dipahami dengan memisahkannya dari ketaatan kepada Allah. Bagaimanakah sesungguhnya kita bisa tahu bahwa kita memiliki iman yang membawa kita dalam persekutuan dengan Allah? "Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan didalamnya tidak ada kebenaran" (1 Yohanes 2:3-4). Iman tanpa perbuatan adalah mati.
Gabungan antara iman dan ketaatan dapat disimpulkan dalam satu kata: kekudusan. Kekudusan berarti dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah sehingga tidak ada tempat bagi yang lainnya. Itu artinya bahwa kita tidak lagi mencintai dunia ini atau hal-hal duniawi seperti keinginan daging, keinginan mata berahi, serta keangkuhan hidup. Sebagai ganti daripada melakukan perkara-perkara duniawi, seorang yang sudah dikuduskan selalu melakukan kehendak Allah. Semuanya ini tertulis di dalam 1 Yohanes 2 dan disimpulkan dalam konteks peperangan rohani: "karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat" (1 Yohanes 2:14). Jika kita berdoa dengan sikap iman dan ketaatan, maka senjata-senjata khusus yang sudah Allah berikan kepada kita untuk peperangan rohani akan berhasil guna di dalam mengalahkan musuh. Apakah senjata-senjata khusus itu?
a. Nama Yesus
Ada banyak ayat di dalam Alkitab yang menyebutkan akan pentingnya nama Yesus. Markus mengutip perkataan Yesus, bahwa kita mengusir setan di dalam nama Yesus (Markus 16:17). Yohanes mengutip perkataan Yesus, "Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya" (Yohanes 14:14). Paulus berkata bahwa Allah memberikan kepada Yesus nama di atas segala nama (Filipi 2:9). Apakah pentingnya sebuah nama? Nama membawa suatu kuasa. Seorang duta besar Amerika Serikat bagi negara lain berbicara atas nama Presiden Amerika Serikat. Seorang polisi mengetuk pintu dan berkata, "Atas nama hukum, buka!"
Ketika Yesus mengundang kita untuk menggunakan nama-Nya, Dia memindahkan kuasa kudus-Nya kepada kita. Nama Yesus merupakan suatu senjata yang mengagumkan, tetapi perlu hati-hati di dalam menggunakannya. Di dalam Kisah Para Rasul 19 diceritakan tentang tujuh orang anak-anak Skewa yang mencoba untuk mengusir setan di dalam nama Yesus. Roh yang merasuki orang tersebut mengetahui bahwa mereka palsu dan hanya sekedar menggertak. Orang yang kerasukan setan tersebut menerpa mereka dan menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka. Tidak seorang pun pernah memiliki kuasa Yesus kecuali kalau Yesus adalah Tuhan mereka. Pada hari terakhir banyak orang yang berseru, "Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu?" dan Yesus menjawab, "Aku tidak pernah mengenal kamu!" (Matius 7:22-23). Nama Yesus merupakan senjata yang penuh kuasa di dalam peperangan rohani, dan nama itu memiliki otoritas yang luar biasa, tetapi hanya bila kita menggunakannya seturut dengan kehendak-Nya.
b. Darah Yesus
Wahyu 12 menunjukkan satu dari episode-episode peperangan rohani yang paling dahsyat yang dapat dibayangkan. Mikhael dan para malaikatnya berperang melawan naga dan malaikat-malaikatnya. Mikhael mengalahkan dia "oleh darah Anak Domba" (Wahyu 12:11). Ketika Yesus mencurahkan darah-Nya di atas kayu salib, sesungguhnya kuasa setan benar-benar sudah dipatahkan. Di atas saliblah Yesus "melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum" (Kolose 2:14-15). Setan paling tidak suka bila diingatkan tentang darah Yesus. Salib merupakan sesuatu yang sangat mempermalukannya. Setiap jiwa yang sudah diselamatkan melalui darah Yesus benar-benar mempermalukan setan. Setan tidak sanggup bertahan berdiri menghadapi darah Yesus.
c. Kesehatian
Tidak diragukan lagi bahwa hari terbesar di dalam sejarah gereja adalah hari Pentakosta. Pada hari itu mereka "semua orang percaya berkumpul di satu tempat" (Kisah Para Rasul 2:1). Orang percaya yang berkumpul itu "bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama" (Kisah Para Rasul 1:14). Hanya sedikit senjata peperangan rohani yang lebih berdayaguna dibanding dengan kesehatian di dalam doa. Dalam hal apakah kita sehati dan sepikir? Perkara pertama ialah bahwa kita sehati dan sepikir mengenai apa yang sedang Allah firmankan kepada kita. Hal berikutnya, kita sehati dan sepikir mengenai pekerjaan yang kita saksikan Bapa lakukan melalui Roh Kudus. Bahkan Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia mengerjakan sesuatu seperti Ia melihat Bapa mengerjakannya (Yohanes 5:19). Adalah mungkin bagi kita untuk memahami secara pribadi apa yang sedang Bapa lakukan, tetapi adalah lebih baik jika kita memiliki kesehatian dan pikiran yang sama dengan orang lain. Yesus mengatakan hal tersebut, "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga." Inilah salah satu alasannya mengapa doa yang sehati dan sepikir begitu penting di dalam peperangan rohani. Jika sejumlah orang percaya dalam sebuah gereja setempat atau dari berbagai gereja berkumpul bersama dan bersehati di dalam doa, maka kekuatan untuk melawan musuh akan meningkat dengan luar biasa.
d. Puasa
Ada berbagai jenis puasa, tetapi di dalam bagian ini saya mengartikan puasa sebagai suatu kegiatan tidak makan yang dilakukan secara sukarela dalam suatu waktu tertentu. Ini merupakan batasan yang paling umum. Rupa-rupanya ada beberapa jenis peperangan rohani yang memprasyaratkan puasa, sebagai suatu syarat untuk memperoleh kemenangan. Ketika murid-murid-Nya tidak dapat mengusir setan dari seorang anak yang menderita penyakit ayan, Yesus menjelaskan, "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa" (Matius 17:21). Para Rasul berpuasa ketika mereka mencari kehendak Allah. Ketika para nabi dan guru di Antiokhia berpuasa, Roh Kudus berbicara dan memerintahkan mereka untuk mengutus Saulus dan Barnabas. Kemudian mereka berpuasa kembali sebelum mereka menumpangkan tangan dan mengutus mereka (Kisah Para Rasul 13:2-3). Tingkat peperangan terbesar dari segala zaman adalah ketika Yesus dicobai di padang gurun. Salah satu bagiannya adalah Yesus melakukan puasa selama 40 hari. Apakah hal itu membuat Dia lemah? Secara fisik Ia lemah, tetapi secara roh hal itu menguatkan-Nya. Paulus mengatakan, "Jika aku lemah, maka aku kuat" (2 Korintus 12:10).
Kita harus berhati-hati mengambil sikap selama berpuasa. Berpuasa merupakan suatu hak istimewa yang membawa kita lebih dekat kepada Allah dan membuat kita lebih sensitif dalam mendengarkan suara-Nya. Puasa bukanlah sebuah tanda penghargaan yang membuat kita lebih baik dari orang lain. Bukan pula merupakan suatu cara memanipulasi Allah agar Allah mau melakukan sesuatu seperti apa yang kita inginkan. Yesus berkata agar puasa kita tidak diketahui oleh orang lain, tetapi kita melakukannya secara tersembunyi di hadapan Bapa (Matius 6:16-18). Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh membicarakan puasa kita secara bijaksana, tetapi hal ini berarti bahwa kita tidak boleh menyombongkannya. Dengan sikap yang benar dan sesuai dengan waktunya Allah serta dengan pimpinan-Nya, maka puasa merupakan salah satu senjata yang sangat berdayaguna.
e. Puji-pujian
Kita seringkali menganggap pujian hanyalah sebagai ekspresi sukacita jika sesuatu yang baik terjadi atas kita. Bila kita mendengar suatu kemenangan, secara reflek kita berkata "Puji Tuhan!" Tetapi ada yang lebih dipuji daripada itu. Pujian kita, dalam keadaan apapun juga, menyukakan Allah. Pemazmur berkata, "Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya" (Mazmur 145:2). Paulus dan Silas menunjukkan kepada kita dengan jelas bagaimana kuasa puji-pujian bisa digunakan sebagai sebuah senjata di dalam peperangan rohani. Di Filipi, Paulus pernah mengusir roh dari seorang perempuan yang memiliki roh tenung. Tuan-tuan dari perempuan itu menjadi marah, sehingga mereka memukul Paulus dan Silas dan kemudian melemparkan mereka ke dalam penjara. Mereka dipenjarakan di ruang penjara paling dalam dan kaki mereka dibelenggu dalam pasungan. Satu hal yang paling sulit untuk dibayangkan adalah situasi yang menyedihkan dan membuat putus asa seperti itu. Apakah yang dilakukan oleh Paulus dan Silas? Mereka memuji Tuhan! "Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah" (Kisah Para Rasul 16:25). Hasilnya adalah suatu gempa bumi yang dahsyat yang melepaskan belenggu mereka dan membuka pintu-pintu penjara. Kepala penjara sendiri pun diselamatkan dan sebuah jemaat yang kuat ditanamkan. Paulus dan Silas penuh dengan kemenangan, tetapi rahasianya adalah bahwa mereka sudah memuji Allah bahkan sebelum mereka melihat kemenangan itu sendiri.
f. Firman Allah
Di dalam Efesus 6 seluruh perlengkapan senjata Allah digambarkan secara terperinci. Di antara enam buah perlengkapan senjata Allah, lima buah merupakan senjata untuk bertahan dan hanya satu yang dipergunakan untuk menyerang -- pedang roh yaitu Firman Allah (Efesus 6:17). Apakah Firman Allah itu? Penggunaan Firman Allah secara tertulis, ayat-ayat Alkitab, merupakan sebuah senjata perang yang penuh kuasa sebagaimana yang sudah kita lihat ketika Yesus dicobai. Sebagai balasan terhadap semua serangan iblis, Yesus mengutip ayat-ayat dari kitab Perjanjian Lama sehingga iblis tidak sanggup bertahan. Tetapi ada juga firman Allah yang dinyatakan, yaitu rhema. Mendengar perkataan Allah yang baru difirmankan-Nya merupakan suatu bagian penting dalam mepergunakan pedang Roh. Sebuah contoh dalam kitab Perjanjian Lama dapat kita lihat di Yeremia 32. Yeremia berkata, "Firman Tuhan datang kepadaku" (Yeremia 32:6). Firman ini datang dan menunjuk kepada seseorang yang bernama Hanameel yang akan menemuinya dan memintanya untuk membeli sebuah ladang. Ketika hal tersebut benar-benar terjadi, Yeremia berkata, "Maka tahulah aku, bahwa itu adalah firman Tuhan" (Yeremia 32:8).
Pedang Roh adalah mendengarkan perkataan Allah seperti yang sudah dilakukan oleh Yeremia. Yeremia tahu bahwa kehendak Allah ada dalam waktu dan tempat tertentu. Hal ini sesuai dengan langkah-langkah Yesus yang berkata, "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya" (Yohanes 5:19). Itulah sebabnya mengapa doa dituliskan di dalam bagian yang sama yang juga menyebutkan pedang Roh. Hanya dengan "berdoalah selalu di dalam Roh" (Efesus 6:18) kita dapat menerima firman Allah. Doa yang benar adalah percakapan dua arah dengan Allah. Kita berbicara kepada-Nya, dan Dia berbicara kepada kita. Mengetahui kehendak Allah dengan mendengar firman Allah dan melakukannya merupakan hal terpenting di dalam keberhasilan peperangan rohani. Puasa juga dihubungkan dengan hal ini, karena puasa membuat telinga rohani kita lebih sensitif. Juga kesehatian dengan orang-orang percaya lainnya akan melindungi kita ketika kita tidak peka. Jika kita sungguh-sungguh peka terhadap firman Allah, maka hal itu merupakan sebuah senjata yang benar-benar penuh kuasa.
Senjata peperangan kita adalah rohani, bukan duniawi. Ketika kita semakin dewasa di dalam Tuhan, kita akan belajar dengan lebih baik bagaimana mempergunakan nama Yesus, darah Yesus, kesehatian, puasa, puji-pujian, dan firman Tuhan. Bukan hanya senjata-senjata ini saja yang kita miliki dalam peperangan rohani, tetapi senjata-senjata tersebut juga merupakan senjata yang sangat berguna dalam mengalahkan musuh.
2. Otoritas Rohani Kita
Setelah kita memahami senjata-senjata rohani kita serta bagaimana cara menggunakannya, maka kemudian kita harus memfokuskan perhatian kita kepada otoritas rohani yang merupakan bentuk dasar bagi tindakan-tindakan kita. Salah satu senjata rohani kita yaitu nama Yesus, memberikan kepada kita petunjuk mengenai sifat dari otoritas kita. Di dalam nama Yesuslah kita memiliki otoritas untuk mengikat dan melepaskan. Apakah arti semuanya itu? Yesus berbicara mengenai masalah mengikat dan melepaskan di Kaisarea, Filipi dan peristiwa ini dianggap sebagai sebuah peristiwa penting yang pernah Yesus lakukan di dalam melatih kedua belas rasul. Peristiwa ini terekam di dalam Matius 16, dan Yesus menyatakan tiga hal penting:
a. Sang Mesias Sudah Datang
Simon Petrus mewakilli para murid dan mengakui bahwa, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup" (Matius 16:16). Mereka menyadari bahwa dunia tidak akan pernah menjadi sama lagi. Seseorang yang sudah dinanti-nantikan oleh orang-orang Yahudi selama ribuan tahun sedang ada di tengah-tengah mereka.
b. Gereja Sudah Datang
Kedua belas murid sekarang siap untuk mendengar, "di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Matius 16:18). Ini merupakan tujuan Yesus bahwa jemaat akan berkembang dan Ia menjamin mereka bahwa "alam maut tidak akan menguasainya" (Matius 16:18).
c. Kerajaan Sudah Datang
Yesus menjanjikan kepada para pengikut-Nya kunci kerajaan surga. Apakah kunci kerajaan surga itu? Ia mengatakan, "Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga" (Matius 16:19).
Beberapa saat kemudian Yesus mengulangi kembali pengajaran-Nya perihal mengikat dan melepaskan, serta menambahkan, "Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada ditengah-tengah mereka" (Matius 18:20). Hal ini berarti ada pendelegasian otoritas yang seharusnya dipergunakan oleh orang-orang Kristen awam saat ini. "Mengikat" (bahasa Yunaninya deo) biasanya dipergunakan untuk mengikat binatang. Oleh karena itu, Yesus berkata, "Atau bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu?" (Matius 12:29). Di dalam konteks peperangan rohani, mengikat berarti membatasi kuasa setan dalam semua tingkatan. "Melepaskan" (bahasa Yunaninya luo) berarti melepaskan tali kasut. Mengenai Lazarus, Yesus berkata, "bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi." Dia juga mengatakan bahwa wanita yang diikat oleh setan selama 18 tahun, "harus dilepaskan dari ikatannya" (Lukas 13:16).
Adalah penting bagi kita untuk menyadari bahwa otoritas yang kita miliki untuk mengikat dan melepaskan di dalam nama Yesus tidak dapat dipergunakan sekehendak hati kita untuk mengikat dan melepaskan sesuatu. Pengajaran Yesus dalam bahasa Yunaninya sesungguhnya berarti, Apa yang kamu ikat di bumi akan sudah di ikat di surga, dan apa yang kamu lepaskan di bumi akan sudah terlepas di surga. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sinkronisasi antara surga dan bumi. Urutan yang benar adalah pertama-tama surga baru bumi. Hal ini sekali lagi mengingatkan kepada kita akan betapa pentingnya mendengarkan suara Tuhan di dalam doa dan mengetahui apa yang Dia sedang kerjakan sebelum menjalani setiap aspek di dalam peperangan rohani. Bagaimanakah kita bisa mengetahui apa yang sedang Allah kerjakan di surga?
Perbedaan-perbedaan yang ada tentang firman Tuhan tidak dapat dihindarkan dan kita tidak mungkin membuat persamaan karena ada beberapa pengertian yang saling tumpang tindih. Beberapa ahli theologia aliran Pantekosta telah membuat suatu usulan dalam membedakan firman Tuhan yang disebut logos dan rhema. Logos adalah firman Allah yang kekal yang tertulis di dalam ayat-ayat Alkitab yang telah dikanonkan. Sebagai contoh, melalui ayat-ayat Alkitab yang tertulis itu kita bisa mengetahui bahwa dosa telah diikat di surga. Atau lebih spesifik lagi, bahwa hawa nafsu dan kesombongan serta kebencian dan yang sejenisnya telah diikat. Iblis juga sudah diikat. Kita tidak perlu melihat lebih jauh lagi bahwa kita sudah memiliki otoritas untuk mengikat kuasa-kuasa spiritual yang ada di belakang peperangan atau penindasan atau perlakuan kasar terhadap anak-anak atau rasisme atau pornografi karena firman Allah yang sudah tertulis memberikan informasi itu kepada kita. Rhema dianggap sebagai firman Allah yang Dia ucapkan dan tidak ditemukan di dalam ke-66 kitab yang ada di dalam Alkitab. Walaupun demikian, rhema tidak pernah bertentangan dengan firman Allah yang sudah tertulis, rhema merupakan sesuatu yang kita cari langsung dari Bapa.
Sebagai contoh, kita ingin membeli sebuah rumah dan kita berdoa, "Tuhan, apakah yang ini?" Atau ketika kita mencari sebuah pekerjaan dan berdoa, "Tuhan, jika ini kehendak-Mu, saya akan menerima tawaran ini." Kita berdoa dan kita percaya bahwa Dia akan memberikan jawaban kepada kita. Kata-kata hikmat biasanya juga dianggap masuk ke dalam kategori rhema (meskipun masih dipertanyakan). Bagaimanakah kita bisa mengetahui bahwa sebuah rhema itu benar? Bagaimanakah kita tahu apa yang kita dengar itu bukan sekedar imajinasi kita, atau lebih buruk lagi, sesuatu yang berasal dari dunia, kedagingan atau setan? Karunia-karunia roh, seperti karunia untuk bernubuat atau karunia untuk membeda-bedakan roh merupakan gambaran untuk masalah ini. Karunia-karunia tersebut sangat menolong. Begitu juga dengan pengalaman, kedewasaan, serta kekudusan kekristenan kita dan hubungan pribadi yang intim dengan Allah. Diperlukan waktu yang panjang dan lama untuk memperoleh keyakinan pribadi. Tetapi jaminan yang lebih besar bisa diperoleh jika firman yang kita peroleh itu di uji juga oleh yang lainnya. Itulah sebabnya mengapa Yesus dalam pengajaran-Nya perihal mengikat dan melepaskan, kemudian langsung melanjutkan pengajaran-Nya dengan berkata bahwa Dia hadir jika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya. "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga." Salah satunya adalah kita harus bersehati dalam memahami apa yang telah di ikat di surga.
Kita diingatkan, bahwa setan "berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8). Jelaslah bahwa setan tidak bisa hadir dimana-mana (omnipresent), karena itu dia menghalang-halangi kita untuk mengetahui kehendak Allah secara akurat melalui roh-roh jahat dari berbagai tingkatan. Semakin tinggi tingkatan roh jahat, maka semakin besar kekuatan yang diperlukan untuk mengikatnya. Sayangnya, ada banyak orang yang ada di gereja atau di dalam siaran-siaran televisi berteriak "Aku mengikat engkau, Setan!" Bertindak dalam suatu tingkat kuasa rohani yang rendah dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali suara yang gaduh saja. Ketika kita yakin bahwa setan telah benar-benar dikalahkan, kita akan menanggung resiko besar jika kita menyepelekan kelicikan dan kekuatannya. Meskipun demikian, ketika kita menyadari bahwa kita tidak berdaya untuk mengikat dan melepaskan, kita berusaha sebaikbaiknya untuk mencari penyebab yang mungkin di dalam dunia roh. Selain itu adalah mungkin bahwa beberapa di antara kita yang mencoba untuk masuk ke dalam peperangan rohani tidak sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Kristus. Jika kita tetap memiliki hubungan yang intim dengan-Nya, maka kuasa dan otoritas-Nya akan mengalir melalui kita. Pada saat kita tidak hidup di dalam kekudusan, maka kuasa rohani kita akan menurun.
3. Peperangan Kita Melawan Musuh
Setelah kita memahami senjata-senjata di dalam peperangan kita serta otoritas untuk menggunakannya, maka kita sekarang sudah siap untuk keluar berperang melawan musuh. Karena peperangan rohani ditempatkan pada tempat teratas di dalam agenda para pemimpin Kristen di berbagai belahan bumi ini, adalah mungkin berbagai macam pendapat akan muncul. Pembahasan ini hanya mengenai bagaimana sebaiknya kita berperang secara langsung melawan musuh, dan ini merupakan satu perkara yang benar-benar penting. Beberapa orang menjalaninya dengan melakukan pendekatan yang lebih hati-hati, sementara yang lainnya dengan tindakan yang lebih berani. Saya mengatakan bahwa peperangan ini penting, karena di sini kita sedang berhubungan dengan masalah
hidup dan mati.
Kehati-hatian seringkali datang ke dalam posisi mereka karena mereka pernah mengalaminya atau mereka pernah mendengarnya. Meremehkan kekuatan musuh merupakan bahaya utama, dan beberapa orang telah membayar harga yang mahal karena meremehkannya. Kehati-hatian yang benar diperlukan di dalam peperangan rohani. Akan tetapi juga harus seiring dengan otoritas yang sudah diberikan oleh Alkitab untuk berani melawan musuh. Jika kita bijaksana, beberapa jenis tantangan musuh mengharuskan kita bergerak sedikit demi sedikit ke arah kehati-hatian. Tantangan-tantangan lainnya mengharuskan kita untuk menjadi lebih agresif. Jika kita mendengar suara Tuhan yang memang seharusnya kita dengar, kita akan mendapat isyarat dari Dia dan bertindak dengan benar.
Dalam Efesus 6, kita melihat bahwa peperangan kita melawan musuh digambarkan secara terperinci. Karakteristik tulisan rasul Paulus adalah memakai kiasan campuran. Paulus secara bergantian memakai dua buah sinonim di dalam menggambarkan peperangan kita melawan musuh yakni pegulat dan prajurit.
a. Pegulat
Paulus mengatakan bahwa "perjuangan (atau pergulatan) kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara" (Efesus 6:12). Dalam budaya Graeco Roma, gulat merupakan olah raga utama. Gulat bahkan lebih dari, katakanlah tinju atau karate, membutuhkan kontak tubuh langsung yang banyak dengan musuh. Tujuan seorang pegulat bukanlah melindungi dirinya sendiri, walaupun hal tersebut merupakan hal penting. Tujuan utamanya adalah menundukkan musuh melalui pertempuran fisik. Pemenang ada di atas dan yang kalah ada di bawah. Bahkan kenyataannya, beberapa jenis gulat Yunani diakhiri dengan pertempuran hingga mati. Paulus berbicara mengenai masalah rohani yang sangat serius. Ketika Paulus berkata bahwa kita bergulat, dia tidak hanya mengacu kepada dirinya sendiri, Silas atau Timotius. Dia menunjuk kepada seluruh anggota tubuh Kristus yang sesungguhnya. Dia tidak menyebutkan bahwa kita bergulat secara langsung dengan setan karena setan, tidak dapat berada di mana-mana pada saat yang bersamaan.
Pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap dan roh-roh jahat di udara merupakan gambaran gerombolan iblisyang diutus oleh setan untuk mencuri, membunuh, membinasakan, dan mereka adalah makhluk-makhluk yang harus kita perangi. Dalam banyak kasus, kita akan diperhadapkan dengan perjuangan melawan roh-roh di tingkat yang paling rendah seperti yang sering disebutkan di dalam Injil. Mungkin beberapa dari antara kita diperhadapkan dengan perjuangan melawan roh-roh di tingkat menengah yang bekerja melalui dukun, pelaku okultisme, penyebar aliran Zaman Baru (New Age), jimat-jimat, dan lain sebagainya. Paulus berhadapan dengan salah satu dari perkara ini di Filipi, roh tenung yang menguasai seorang hamba perempuan, seorang peramal. Roh ini merupakan roh tingkat tinggi, sehingga berakibat dijebloskannya Paulus dan Silas ke dalam penjara (Kisah Para Rasul 16:16-24).
b. Prajurit
Paulus menerangkan bahwa peperangan kita melawan roh jahat adalah seperti seorang pegulat, Paulus mengubah sinonim dan menggambarkan senjata kita seperti seorang prajurit Romawi. Perlengkapan militer, seperti sekarang, terdiri dari alat yang sama baiknya untuk menyerang dan bertahan. Seluruh perlengkapan senjata Allah adalah pertahanan kita melawan musuh-musuh rohani. Cukup menarik bahwa perlengkapan senjata Romawi dirancang hanya untuk melindungi bagian depan seorang prajurit, bukan bagian belakangnya. Rupa-rupanya tujuannya adalah pada saat musuh mendekat, para prajurit bergerak maju ke arah musuh dan bukan melarikan diri. Tetapi sebagaimana yang sudah diketahui oleh setiap prajurit, tujuan akhir bukanlah untuk melindungi diri sendiri terhadap musuh, tetapi mengalahkan mereka. Sekali waktu Jenderal Palton mengatakan bahwa kunci untuk memenangkan sebuah peperangan bukanlah memberikan hidup Anda bagi negara, tetapi melihat bahwa musuh memberikan hidupnya bagi negaranya.
Dalam pasal ini, Paulus menyebutkan dua buah senjata untuk bertahan, satu yang dipergunakan oleh iblis dan satu lagi yang dipergunakan oleh prajurit Kristen. Senjata setan adalah busur dan panah (Efesus 6:16). Senjata ini dipergunakan pada suatu jarak tertentu. Adalah keinginan setan agar anak buahnya yang sudah ia persenjatai dengan baik tidak menyerang orang-orang Kristen dari jarak dekat. Sebaliknya, senjata orang Kristen adalah pedang, sebuah senjata jarak dekat. Setan mungkin akan terus memanah dari jarak tertentu, dan kita harus mempergunakan perisai iman untuk melindungi diri kita. Tetapi, bila kita akan menggunakan pedang kita, maka kita harus bersiap-siap untuk menyerang musuh dari jarak dekat.
4. Rencana Tindakan Kita
Tidak perlu diragukan lagi bahwa pertempuran kita melawan musuh dari semua tingkatannya merupakan tindakan yang memiliki resiko. Tetapi tidak juga meragukan bahwa kita dipanggil untuk melakukan pertempuran. Jadi pertanyaannya sekarang, bagaimana kita melakukannya? Jika kita akan melakukan peperangan rohani, marilah kita melakukannya sebaik mungkin. Marilah kita sehati dan sepikir dalam suatu rencana tindakan yang bijaksana dan efektif. Salah satu pasal dalam Injil yang sangat menolong dalam menyusun rencana peperangan ada di dalam kitab Yakobus 4:7-8, "Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati." Ayat ini menyebutkan dua buah hubungan dengan tujuh buah kata kerja, lima diantaranya berbentuk aktif dan dua berbentuk pasif. Hubungan yang pertama adalah hubungan ke atas dan hubungan ke dua adalah hubungan ke luar.
a. Hubungan ke Atas -- Allah
Empat kata kerja bentuk aktif dipergunakan untuk menggambarkan hubungan kita dengan Allah: tunduk, mendekat, mentahirkan, dan menyucikan. Pertama, kita harus tunduk kepada Allah. Hal ini berarti, yang pertama dan yang utama adalah menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, dan mengakui bahwa Dia adalah Tuhan. Ketika kita melakukannya, kita masuk ke dalam keluarga Allah. Allah adalah Bapa kita. Ini merupakan situasi yang menyenangkan bagi kita untuk dapat bersama dengan Bapa dan berada dalam pangkuan-Nya, demikian juga berbincang-bincang dengan-Nya. Kedua, kita harus mendekat kepada Allah. Ini artinya bahwa kita harus memberikan waktu kita bersama dengan Bapa. Kita harus mengenal Allah dengan baik, dan sama seperti halnya dalam hubungan antar pribadi, saat bersama-sama merupakan hal yang penting. Salah satu alasan yang jelas mengapa kita harus dekat dengan Allah adalah kita harus mengetahui dari Dia apa yang telah diikat di surga sehingga kita dapat secara efektif mengikatnya di bumi. Lalu, kita harus mentahirkan tangan kita dan menyucikan hati kita. Mentahirkan tangan kita menunjuk kepada apa yang kita lakukan. Menyucikan hati kita menunjuk kepada motivasi kita, apa yang kita pikirkan dan rasakan.
Secara bersamaan kedua hal ini menunjukkan kepada kita mengenai kekudusan. Kekudusan, artinya dipenuhi dengan seluruh kepenuhan Allah sehingga tidak ada tempat untuk yang lainnya. Tanpa kekudusan kita hanya bisa mengharapkan kekuatan yang kecil di dalam peperangan rohani. Lawan kata dari kekudusan adalah keduniawian, dan ayat yang terdapat di dalam kitab Yakobus 4 mengingatkan kita bahwa, "persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah" (Yakobus 4:4). Pada saat kita tidak lagi berusaha mencapai kekudusan melalui usaha manusia seperti juga keselamatan, pada saat kita memutuskan untuk membuka diri kita secara total kepada kepenuhan Roh Kudus, maka Dialah satu-satunya yang akan mentahirkan dan menyucikan kita. Jika kita melakukan tindakan-tindakan tersebut, tunduk, mendekat, mentahirkan dan menyucikan, maka kata kerja bentuk pasif terlaksana, "Ia akan mendekat kepada kamu." Ini adalah tindakan Allah, bukan tindakan kita. Pada saat Dia mendekat kepada kita, keinginan utama kita hanyalah menaati-Nya. Kita ingin menyenangkan Dia yang begitu mengasihi kita. Di dalam menggambarkan senjata peperangan kita di 2 Korintus 10, Paulus menuliskan, "Menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus" (2 Korintus 10:5).
b. Hubungan ke Luar -- Setan
Jika arah gerakan pertama kita di dalam peperangan rohani ke arah atas kepada Tuhan, maka arah gerakan kedua kita adalah ke arah luar, yakni ke arah musuh. Dalam hal ini kita hanya mengenal satu bentuk kata kerja aktif: melawan. Jika kita mengambil tindakan melawan iblis, bentuk kata kerja pasif berlaku dan "dia akan lari dari padamu." Bagian ini merupakan saat yang menakutkan. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi seekor burung kecil daripada dipaksa ke luar dari sarangnya. Tidak ada yang lebih menakutkan kita selain daripada bertemu dengan musuh di dalam suatu pertandingan gulat rohani. Setan seperti seekor singa yang mengaum-aum. Siapakah yang akan pergi ke arah itu? Adalah lebih nyaman bila kita kembali ke rumah menemui ibu. Tetapi kata kerjanya tidak "melarikan diri" atau "tinggal di luar hutan" atau "jangan pedulikan dia," tetapi lawan. Kita mungkin tidak menyukai gagasan ini, tetapi kita harus bergerak ke arah luar. Yesus sendiri telah mengalami proses yang sama. Di dalam kekekalan Dia setara dengan Bapa. Tetapi sebagaimana yang diajarkan di dalam Filipi 2, Dia telah mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia. Yesus harus datang ke bumi, hidup sebagai manusia, mengalami pencobaan seperti halnya kita, dan melawan iblis satu lawan satu, bukan sebagai Tuhan tapi sebagai seorang manusia.
Kedua belas murid telah bersama-sama dengan Yesus selama satu setengah tahun. Mereka telah bertumbuh untuk mengasihi Yesus dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya. Tetapi akhirnya saat itu pun tiba, bahwa mereka harus melayani sendiri. Yesus mengatakan bahwa tuaian telah siap dituai dan mereka harus pergi menuai dengan memberitakan kerajaan Allah dan mengadakan tanda-tanda dan mujizat. Setelah satu setengah tahun mereka bergerak ke atas, sekarang mereka harus bergerak ke luar. Hal ini menakutkan, terutama sekali ketika Yesus berkata, "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala" (Matius 10:16). Tetapi mereka taat dan yang membuat mereka bersukacita adalah bahwa mereka memiliki kuasa untuk mengusir setan dan menyembuhkan orang yang sakit (Markus 6:13). Kemudian Yesus mengutus ketujuh puluh pengikut-Nya, memberikan kepada mereka kuasa "untuk menginjak ular dan kalajengking, dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh" (Lukas 10:19). Pelayanan mereka begitu penuh kuasa sehingga Yesus "melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit" (Lukas 10:18), ketika mereka melakukan penginjilan dan perbuatan baik. Para murid seperti halnya ketujuh puluh orang itu tunduk kepada Allah dan Allah mendekat kepada mereka. Lalu mereka melawan iblis dan iblis benar-benar lari dari mereka seperti yang sudah disebutkan di dalam firman Tuhan.
Saat ini kita belajar bagaimana bergerak ke arah luar dan masuk ke dalam peperangan rohani di semua tingkatannya sebagaimana yang sudah dialami oleh jemaat mula-mula. Adalah penting bagi kita untuk mempertahankan keseimbangan yang sulit antar bergerak ke arah atas dan ke arah luar. Kita tidak boleh bergerak ke arah luar lebih cepat dari bergerak ke arah atas. Gerakan ke arah atas adalah syarat yang sangat diperlukan untuk bergerak ke arah luar, karena tidak ada satupun yang kita lakukan berasal dari kekuatan kita sendiri tetapi dari kekuatan yang sudah disediakan oleh Allah melalui kita. Apa yang terjadi bila kita tidak seimbang? Bergerak ke arah atas tanpa bergerak ke arah luar merupakan bahaya ketidakefektifan di dalam pelayanan. Ini merupakan hal yang cukup serius. Tetapi bahayanya bila bergerak ke arah luar tanpa bergerak ke arah atas jauh lebih serius lagi. Kondisi demikian seumpama seekor domba yang ada di tengah-tengah serigala, tetapi tanpa perlindungan Gembala Agung. Musuh dapat dan akan memakan kita sebagai sarapan paginya.
Seberapa jauhkah sebaiknya kita bergerak ke arah luar? Adalah peran bagi setiap orang Kristen untuk melakukan pelayanan seperti penginjilan, memberi, memberi tumpangan, menyembuhkan, mengajar dan lain-lainnya kepada orang lain sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan yang muncul. Tetapi tidak dapat disangkal lagi bahwa Allah juga memberikan sejumlah karunia tertentu kepada sejumlah anggota tubuh Kristus, karunia-karunia khusus yang cukup dikenal, seperti karunia untuk memberitakan injil, karunia untuk menyembuhkan, atau karunia mengajar sehingga setiap individu yang memilikinya mereka akan lebih luas, lebih sistematis, lebih efektif, dari pada orang-orang Kristen pada umumnya. Hal ini bisa juga diterapkan di dalam peperangan rohani.
Sementara ini, pada saat kita berusaha sebaik-baiknya untuk mendengar suara Allah dan mengenal tingkatan dan intensitas dimana Dia akan memanggil masing-masing kita untuk melakukan peperangan rohani, dan kita bisa memiliki keyakinan bahwa ketika kita bergerak ke arah atas Allah akan mendekat kepada kita, dan bila kita bergerak ke arah luar dengan tepat maka Setan akan lari dari kita. Firman Tuhan sudah menjanjikan hal itu kepada kita. Dan ketika kekuatan musuh dipukul mundur, kemuliaan Allah bersinar, kita akan melihat jumlah tuaian yang dituai akan semakin besar dan sejumlah besar orang-orang yang belum percaya akan berbalik "dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa iblis kepada Allah" (Ki
isah Para Rasul 26:18).

No comments:

Post a Comment