"Saudara-saudara, kalaupun seseorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan." (Galatia 6:1)
Dave dan istrinya, Sue, ditanya tentang seni memberi kritik yg membangun. Sue berkata, "saya pikir teladan Kristus dalam Yohanes 1:14 akan sangat menolong kita. Di dalam ayat itu digambarkan betapa Yesus adalah pribadi yg 'penuh kasih karunia dan kebenaran'. Saya pernah melihat seorang ibu dan anaknya. Jika wajah anaknya kotor, sang ibu tidak akan memarahi anaknya. Sebaliknya, ia melakukan suatu tindakan yang penuh kasih. Ia mengambil lap, membubuhkan sabun dan air, seraya berkata: 'sayang, betapa kotor wajahmu! Ceritakan pada ibu mengapa wajahmu sampai begini kotor?' sambil menegur dan mendengarkan cerita anaknya, sang ibu terus membasuh wajah anaknya. Ketika saya harus bersikap jujur pada Dave, saya berusaha melakukannya dengan cara yg penuh kasih, seperti sang ibu yg mengambil kain lap tadi, sambil tetap berbicara jujur tentang kotoran yang melekat."
Dalam Galatia 6:1, Rasul Paulus menunjukkan sikap yg lembut dan penuh kasih, sebagai teladan bagi kita dalam memberlakukan sesama. Ketika kita hendak menegur kesalahan mereka, ingatlah betapa Kristus sendiri begitu lembut dan penuh kasih ketika menunjukkan kesalahan kita. Walaupun Yesus berduka saat kita gagal, Dia tidak pernah bersikap sinis. Dia memang meminta pertanggung-jawaban kita, tetapi Dia tetap mendukung kita dengan kasih-Nya. Teguran-Nya lembut tetapi tegas. Dia pun selalu cepat mengampuni.
"MANAKALA KITA PERLU MENGKRITIK, PERLAKUKANLAH ORANG LAIN SEBAGAIMANA YESUS KRISTUS MEMPERLAKUKAN KITA"


No comments:
Post a Comment