Wednesday, March 17, 2010

Memahami Hati Tuhan Bagi Kaum Kedar (II)

Sumur Supernatural

Ismael, sekitar umur 15 tahun, diusir bersama Hagar ke padang gurun. Mari kita lihat apa yang terjadi :

Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan dia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: " Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang dia disitu, menagislah ia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, Lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air,kemudian diberinya anak itu minum. Allah menyertai anak itu, sehingga ia beertambah besar; ia menetap di padang Gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah ia dipadang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang Isteri baginya dari tanah Mesir (Kejadian 21:15-21).

Ismael menggembara di padang Gurun bersama Hagar dan kehabisan air. Setelah diusir dari rumah ayahnya, Ismael mendapati dirinya nyaris mati di bawah semak-semak. Hagar tidak tahan melihat penderitaan puteranya yang sekarat. Dalam keputusasaannya, dia meningglakan anaknya di bawah semak dan berjalan pergi,s ambil menjerit kepada Tuhan. Dia tidak sampai hati melihat anaknya mati. Yang bisa dia lakukan hanya menangis dan menjerit dalam kepedihan hatinya. Sementara itu, sang anak lelakipun terkapar sekarat di bawah semak.

Anak itu tidak hanya sekarat secara fisik, tetapi hatinya juga hancur karena penolakan dan jiwanya terkoyak karena kepedihan yang mendalam. Hanya dalam waktu yang begitu singkat, dari seorang anak, dia menjadi pelayan. "Aku ini siapa... anak dari Bapa banyak bangsa atau hanya anak seorang pelayan?" Dia mengalami konflik identitas, dan citranya tentang seorang ayah telah hancur untuk selamanya. Lebih parahnya lagi, diambang kematiannya di apadang Gurun, ibunya sendiri meninggalkan dia dan membiarkan dia mati seorang diri. Kondisinya begitu buruk sehingga ibunya tidak tahan melihatnya.

Jeritan Hati Ismael

Empat ribu tahun kemudian, Kaum Kedar menggembara di padang gurun Rohani, dengan jeritan hati yang semakin mendalam;
Mereka sekarat kehausan, tidak dapat melihat sumur keselamatan mereka. Tetapi Allah akan mendengar jeritan Ismael dan membuka matanya dan menunjukkan padanya sumur air kehidupan-Yesus-supaya dia dapat minum dan hidup. Dia membutuhkan air untuk menyelamatkan hidup jasmaninya: dan untuk menyelamatkan hidup rohaninya dia kan membutuhkan air kehidupan dari sumur Yesus.

Sudah tiba saatnya bagi Kaum Kedar untuk melihat Yesus dan mengenal Bapa. Sebagai Gereja, Kita harus memliki ketajaman untuk membedakan waktu-waktu yang kita jalani sekarang, dan mendengar suara dari Surga. Kita harus bersyafaat bagi Kaum Kedar seperti seorang Ibu yang bersyafaat bagi anak-anakNya yang diambang ajal. Beberapa dari kita pergi meninggalkan Ismael, seperti yang dilakukan oleh ibunya sendiri, karena kondisi Ismael sepertinya sudah tidak ada harapan lagi dalam banyak hal; tetapi kita harus tunduk pada Roh Allah dan berdoa agar Allah akan membangkitkan jeritan yang ada di hati Kaum Kedar dan mengorbankannya sedemikian rupa sehingga itu menyentuh hati yang Maha TInggi. Allah akan mendengar jeritan umat Kaum Kedar pada masa ini. Dalam hikmat-Nya. Allah telah memberi nama Isamel sebelum dia lahir, karena dia tahu bahwa suatu hari nanti akan ada 1,6 milyar Kaum Kedar yang berada di padang gurun Rohani. Gereja, bersiaplah ada satu generasi Kaum Kedar yang seluruhnya akan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Saya percaya bahwa dalam sekejap, 800 juta hingga 1 Milyar Kaum Kedar akan memasuki Kerajaan Allah.

Pada 26 Desember 2004, Terjadi suatu gempa bumi, pusat gempanya berada di Indonesia- yang emnimbulkan tsunami yang dampaknya juga melanda banyak wilayah di negara-negara sekitar, dan menyebabkan kematian ratusan ribu korban.

Ada gempa lain yang akan sering terjadi, dan pusat gempanya adalah umat Kaum Kedar-itu akan menyebabkan terjadinya suatu tsunami Roh Kudus yang akan melanda banyak bangsa lainnya dan membawa kehidupan. Gempa rohani ini akan menghasilkan tuaian terbesar yang pernah dilihat manusia dibumi.

Doa dan Syafaat adalah langkah pertama. Syafaat adalah doa yang "Memeluk" Hati Allah. Rencana -rencana Roh Kudus dilahirkan ke alam jasmani melalui doa. Kita semestinya tidak hanya berdoa, tetapi juga siap untuk bergerak bersama Allah pada masa ini. Allah menggunakan seorang wanita untuk memberikan air minum bagi Ismael di padang gurun, dan Dia akan menggunakan wanita lain, yaitu gereja, untuk memberikan air kehidupan yang kekal. Ismael haus akan air kehidupan dan lapar akan roti yang beru dipanggang dari oven Roh Allah.

Dari dulu, Yesus sellau menjadi penjala manusia. Dia juga rindu untuk menjadikan kita sebagai penjala-penjala manusia, sehingga kita kan siap untuk bergerak pada musim ini. Untuk benar-benar dapat menjadi penjala manusia, kita perlu mengerti akan karakteristik dan jeritan dari hati umat Kaum Kedar.

Untuk mengerti kerakteristik jeritan hati umat Kaum Kedar ini, kita harus melihat pada awal mula jerit tangis ini. Jerit Tangis itu dimulai ketika Ismael diusir dari rumah ayahnya dan pergi tanpa mendapatkan bagian warisan. Selama 15 tahun dia dibesarkan dalam kasih sayang ayahnya, Abraham, tetapi kemudian dia diusir karena anak lelaki dari seorang pelayan (Perempuan budak ) tidak dapat menjadi ahli waris bersama anak lelaki permpuan yang merdeka (Lihat kejadian 21:10). Ismael diusir ke padang gurun dengan sepotong roti dan sebotol air, itulah pemberian terakhir dari ayahnya (Lihat kejadian 21:14)

Ismael pasti menatap ibunya untuk meminta penjelasan tetapi sang ibu mengingatkan dia bahwa dia hanyalah anak seorang pelayan dan tidak memliki seorang ayah. Ismael menunggu di padang gurun berharap ayahnya akan datang mencarinya serta membawakan roti dan air lagi; tetapi sang ayah tidak pernah datang. Saat berikutnya Ismael melihat sang ayah adalah untuk menguburkannya (lihat kejadian 25:9) Ismael tidak hanya menguburkan Abraham, tetapi dia mengubur kesempatannya untuk menjadi seorang anak. Penguburan itu menandakan matinya harapan Ismael untuk diterima atau dikasihi kembali oleh seorang ayah.

Jeritan terdalam Ismael adalah kerinduan untuk dikasihi oleh seorang ayah dan kebutuhan akan suatu identitas. Identitas tidak hanya tentang siapa Anda, tetapi siapakah yang memiliki Anda. Jika Anda tidak tahu Anda milik siapa, maka Anda tidaka kan pernah tahu siapa Anda. Jika Anda tidak tahu identitas Anda, maka Anda akan mencari jati diri Anda lewat apa yang Anda lakukan. Seorang anak dapat dilacak dari -DNA-nya yang dibandingkan dengan DNA ayahnya, tetapi seorang pelayan dideteksi lewat pekerjaan-pekerjaannya.

Ismael diusir dan pergi tanpa ayah, identitas, atau warisan. Tanpa peringatan, Ismael disingkirkan, ditolak, dan tanpa ayah. Setiap anak lelaki memiliki hak untuk menerima warisan dari yahnya. Hak itu direnggut dari Ismael, membuat dia dimateraikan sebagai anak yang tanpa ayah. Hingga sekarang, jeritan itu masih ada dalam hati umat Kaum Kedar.
Back to Messages Edit Subscriptions

No comments:

Post a Comment