Monday, February 1, 2010

Alasan Menikah

Submitted by Standly Sampelan on Tue, 10/14/2008 - 21:35
Ada beragam alasan yang selama ini kita dengar sehingga seseorang memutuskan untuk menikah. Hal yang perlu kita sadari sebelum memasuki pernikahan adalah apakah alasan kita untuk menikah itu adalah alasan yang benar atau salah. Berikut ini ada beberapa dari sekian banyak hal yang mungkin bisa membuat kita menyadari apakah langkah yang (akan/sudah) kita ambil adalah langkah yang benar atau salah.

I. Alasan Yang Salah

Pola pikir yang salah mengenai pernikahan dapat membuat seseorang mereduksi nilai dari pernikahan sehingga berakibat pada terjadinya pernikahan dengan alasan-alasan yang tidak sesui Firman Tuhan.

1. Menikah Karena Usia

Sebagian masyarakat dunia menganut budaya yang mengharuskan seseorang menikah pada usia tertentu. Usia yang ditentukan sangat relatif. Budaya Mongolia mengizinkan seorang anak perempuan berumur delapan tahun untuk menikah. Di masyarakat lainnya, usia seseorang yang dianggap sepantasnya menikah bisa enam belas tahun, delapan belas tahun atau dua puluh tahun.

Pernikahan yang dilakukan hanya berdasarkan pertimbangan usia bukanlah pernikahan yang diinginkan Allah. Tindakan tersebut berimplikasi pada pemujaan budaya atau sejarah, sehingga besar kemungkinan terjadinya pengulangan tindakan yang sama di waktu kemudian.

2. Menikah Karena Desakan Orangtua

Pernikahan yang dilakukan karena adanya impuls dari orangtua yang ingin memiliki cucu jamak terjadi di masyarakat, bahkan dalam masyarakat modern. Pernikahan dengan dasar yang salah akan menghasilkan kesalahan-kesalahan dan masalah di dalamnya.

Setiap orang yang mau menikah harus memiliki pengertian yang benar tentang makna pernikahan yang dikaitkan dengan rencana Allah, sehingga dapat menguasai emosi.

3. Menikah Karena Kehamilan Di Luar Nikah

Fenomena yang sangat bertolak belakang antara masa lalu dan masa sekarang sehubungan dengan pernikahan adalah: di masa lalu pernikahan dipercepat dan seks ditabukan, sedangkan masa sekarang pernikahan ditunda tetapi seks diumbar. Kesucian diabaikan, norma-norma dilanggar dan standar diperlonggar. Konsekwensinya adalah bertambahnya kehamilan di luar nikah yang memiliki saling keterkaitan dengan aborsi dan pernikahan di usia muda. Pernikahan tidak seharusnya didasarkan pada keadaan seperti itu.

4. Menikah Karena Butuh Sarana Pemenuhan Kebutuhan Seks

Seks merupakan ciptaan Allah yang kekal dan kudus, dan Ia mau memberikan satu lembaga bagi manusia untuk menggunakan pemberianNya itu, yaitu dalam pernikahan. Walaupun hubungan seks dalam pernikahan merupakan keajaiban rahasia Allah, namun tidak berarti bahwa seks merupakan tujuan satu-satunya dari pernikahan yang dirancang Tuhan. Pada kenyataannya, seks hanya memegang peranan kecil dalam ruang lingkup pernikahan.

Sebagian orang menganggap pernikahan hanya sebagai sarana untuk melegalisasi pemuasan nafsu seks, baik dari aspek hukum maupun keagamaan. Pernikahan bukanlah sarana pemenuhan kebutuhan seks. Pernikahan berdasarkan keinginan untuk memuaskan seks semata-mata merupakan pernikahan yang rendah dan tidak bertanggung jawab serta rentan terhadap perceraian dan perzinahan. Ketika apa yang diinginkan tidak terpenuhi, maka alasan untuk melakukan penyimpangan seolah-olah mendapat pembenaran.

II. Alasan Yang Benar

Tuhan telah memasukkan pernikahan sebagai bagian integral dari rencanaNya yang kekal. Manusia harus hidup di dalam satu hubungan antar manusia secara relatif.

1. Menikah Sebagai Bagian Dari Rencana Allah

Manusia satu-satunya makhluk yang diberi konsep kemutlakan di dalam kerelatifan. Manusia tidak seharusnya memutlakkan diri. Tetapi manusia yang hidup terus-menerus seorang diri akan masuk ke dalam bahaya hidup memutlakkan diri. Itu sebabnya Allah mengatakan tidak baik menusia hidup seorang diri.

Manusia juga memiliki kekurangan-kekurangan sehingga tidak dapat melakukan segala sesuatu seorang diri.. Allah tidak menciptakan manusia sebagai keseluruhan, sehingga setiap orang hanya merupakan bagian dari keseluruhan yang ada. Manusia membutuhkan bagian yang lain untuk dapat melengkapinya supaya keseluruhan tidak terganggu dan bagian yang lain dapat dihargai.

Itulah sebabnya pernikahan dijadikan sebagai suatu bagian dari keseluruhan rencana Allah yang luar biasa. Dalam pernikahan seseorang dapat terhindar dari memutlakkan diri dan juga menyadari keberadaanya sebagai bagian dari suatu keseluruhan sehingga keseluruhan itu menjadi sesuatu yang utuh.

2. Menikah Sebagai Perwujudan Relasi Kasih

Sekalipun pada dasarnya merupakan tindakan jasmaniah, namun seks mempengaruhi lebih dari pada hanya daging saja. Hubungan ini ditentukan sebagai cara untuk mendapatkan keturunan. Keinginan untuk mengadakan hubungan seks tetap ada walaupun keturunan tidak diinginkan. Hubungan ini demikian menyatu sehingga Alkitab mengungkapkan keduanya sebagai satu daging.

Justru dalam hubungan yang menyatu, kepribadian masing-masing tampak paling menonjol. Dalam penyatuan ini kelihatan hal memberikan diri yang sangat dalam yakni, menyerahkan kuasa untuk menghasilkan keturunan kepada orang lain.

3. Menikah Untuk Kesucian Hidup

Surat yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat Korintus menegaskan dukungannya bagi laki-laki yang masih bujang agar mempertahankan statusnya untuk tidak kawin. Tetapi bukan berarti bahwa Paulus menentang pernikahan atau menganggap pernikahan itu salah. Anjuran ini diberikan sehubungan dengan situasi yang tidak memungkinkan saat itu, di samping adanya keuntungan yang dialami oleh mereka yang berstatus bujang.

Tetapi Paulus menyadari bahwa manusia ciptaan Tuhan memiliki kesanggupan dan organ seks yang bisa disalahgunakan. Karena kebejatan moral di Korintus memungkinkan seseorang yang dalam keadaan membujang jatuh dalam dosa percabulan, Paulus menganjurkan alangkah lebih baiknya laki-laki Kristen mengambil seorang istri baginya, demikian pula dengan wanita Kristen. Paulus beranggapan bahwa lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.

No comments:

Post a Comment