Submitted by Widjaja Kartika on Mon, 10/05/2009 - 20:59
Membaca satu pasal di Lukas 16 yang ditanyakan miliser saya mendapat 3 point yang sudah menjadi judul dari tulisan ini.
Lukas 16 diawali dengan perumpamaan tentang Hamba atau Bendahara yang tidak jujur. Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada murid-muridNya yang juga didengar oleh orang-orang Farisi.
Ada saudagar kaya yang mempunyai hamba yang tidak jujur terhadap harta yang dipercayakan kepadanya. Ia menyia-nyiakan harta tersebut sehingga tuannya merasa dirugikan dan segera meminta pertanggung-jawabannya.
Karena takut dipecat dan takut akan masadepan yang suram, hamba ini memanggil orang-orang yang berhutang kepada tuannya dan menghapuskan sebagian hutang tersebut dengan harapan jika ia dipecat maka si penghutang bisa membalas budi dan menolong kehidupan selanjutnya. Tindakan ini secara otomatis juga menghapuskan bukti bahwa ia telah memboroskan harta tuannya karena saldo hutang yang berkurang akan mengurangi catatan saldo harta juga, dan tuduhan atas pemborosan tidak terbukti diatas kertas. Tuannya (bukan Tuhan) memuji tindakan ini sebagai suatu kecerdikan.
Kita sebagai orang percaya akan menghadapi hal yang sama terhadap apa yang Tuhan sudah percayakan ditangan kita untuk dikelola. Suatu saat di Judgement Seat Of Christ kita harus mempertanggung-jawabkan semua hal tersebut.
Sebagai hamba sudah sepatutnya kita setia, dapat dipercaya dan serius bekerja di ladang Tuhan. Kita memiliki hal yang jauh lebih berharga dari sekedar harta yang fana. Tuhan mempercayakan kepada kita banyak hal untuk dijaga dan dipakai sesuai kehendakNya, untuk kepentingan, keuntungan dan kemuliaanNya saja. Seperti halnya hamba yang tidak jujur, jangan sampai kita pun didapati memboroskan, menyia-nyiakan harta tuan kita untuk keperluan sendiri, atau teledor/alpa/tidak perduli/careless sehingga merugikan kepentingan Tuhan. Bisnis Tuhan....kepentingan Tuhan adalah pemberitaan injil ke seluruh bumi dan jiwa-jiwa yang terhilang..!
Kalau bendahara yang tidak jujur telah menggunakan berbagai cara untuk keselamatan dirinya sendiri, seharusnya kita pun demikian. Berbagai upaya harus kita lakukan untuk keselamatan sehubungan dengan tugas yang Tuhan telah percayakan. Kehidupan masa depan kita tidak hanya sampai di lubang kubur tapi kehidupan masadepan setelah liang kubur yang kekal selama-lamanya. Kita harus hidup untuk Tuhan, Tuan kita.
Luk 16:9 yang menjadi pertanyaan pokok, menjelaskan kepada kita tentang uang (mammon yang tidak jujur). Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan (1 Tim.6:30). Kalau kita mengaku sebagai orang percaya maka kita sadar bahwa semua keberadaan kita hanya oleh kemurahaan dan hanya untuk Tuhan saja. Kita akan bertanggungjawab sungguh-sungguh dalam mengatur, mengalokasikan uang sehubungan dengan pekerjaan Tuhan, pemberitaan injil, dan kepentingan orang lain yang menyangkut keselamatan. Kita harus setia dalam mengelola hal ini. Cara kita mengelola keuangan akan membuktikan siapa kita. Kita tidak bisa mengabdi kepada 2 Tuan. Pilih Tuhan atau Mammon (Uang) Mat.6:24.
Pakai uang untuk pekerjaan Tuhan, dan disaat uang tidak berguna lagi/tidak bisa menolong (saat kematian kita), kita akan diterima di Kemah Abadi, kerajaan kekal Tuhan Yesus Kristus.
Jika kita tidak bisa dipercaya dalam hal keuangan ini maka Tuhan tidak bisa percayakan hal rohaniah yang lebih penting dari semua itu. Tuhan mau tempat pertama didalam hati kita....tidak bisa ditawar...! Kita tidak bisa tempatkan Tuhan dan Uang berdampingan sejajar. Dalam perumpamaan ini Tuhan tidak mengabaikan arti penting dari hal uang. Tidak ada yang salah dengan uang yang kita miliki tapi yang ditekankan adalah tentang kesetiaan dan cara kita mengelolanya. Jangan hambur-hamburkan uang untuk hal yang tak bermanfaat atau sekedar mengikat persahabatan dengan siapa saja yang tidak ada kaitannya dengan keselamatan jiwa.
Di Luk. 16:19 dan selanjutnya adalah pembuktian tentang Prosperity Gospel yang sampai hari ini masih banyak pengikutnya. Orang Yahudi dijaman Tuhan Yesus menyimpulkan bahwa kekayaan atau kemakmuran merupakan bukti dari perkenanan Tuhan atas seseorang sedangkan kemiskinan merupakan kutuk Tuhan.
Ayat ini menceritakan seorang Yahudi kaya (orang yang kenal Tuhan/orang percaya) yang pesta besar-besaran setiap hari. Linen Ungu yang merupakan pakaian paling mewah saat itu merupakan pakaian sehari-harinya sebagai status sosial. Kalau kita pakai bahasa sekarang dirumahnya setiap hari ada "kebaktian ucapan syukur..!" tapi hanya nama, tanpa disertai ketulusan ucapan syukur kepada Tuhan, melainkan suatu pameran dan kesombongan rohaniah karena merasa berkenan bagi Tuhan.
Bersamaan dengan cerita ini ada tukang minta-minta penuh luka busuk bernanah yang setiap hari terbaring di pintu gerbangnya menunggu dan berharap diberi makan dari remah-remah yang jatuh dari meja pesta tersebut. Si kaya pasti sering melihatnya karena ia tahu namanya Lazarus, tapi dia tidak pernah menolong.
Kalau seseorang percaya bahwa kemiskinan adalah kutuk Tuhan, biasanya ia yakin juga bahwa menolong orang tersebut merupakan pelanggaran terhadap rencana Tuhan yang terbaik bagi si miskin...! Dengan mengijinkan Lazarus menikmati remah-remah saja sudah merupakan suatu kemurahabn hati, menurut anggapan si kaya. Karena tercatat lebih sering anjing-anjing yang datang menjilati boroknya, daripada dia mendapat makan. Ada yang menyarankan untuk tidak mengartikan perumpamaan ini secara hurufiah, tapi kalau Tuhan Yesus sudah memberikan nama seseorang dicatat disini, banyak yang percaya bahwa ini bukan sekedar perumpamaan tapi merupakan kisah nyata. Si kaya telah terkontaminasi dengan arti Firman Tuhan yang diputar balikkan yang sampai pada zaman kita masih terus berlangsung. Prosperity Gospel..!
Suatu saat Lazarus mati dan dibawa Malaikat ke pangkuan Abraham (Paradise/firdaus) yang merupakan tempat semua orang percaya yang mati sebelum Yesus disalib. Tempatnya di rahim bumi (Mat.12:40). Disini mereka senang dan tidak menderita tapi masih ditawan iblis karena dalam perjanjian lama, korban darah binatang tidaklah bisa menebus jiwa dan roh seseorang (Heb.10:4), hanya Darah Yesus (Heb.9:12), dan mereka menunggu sampai saatnya Darah Yesus Anak Domba Allah tercurah di Kalvari dan membebaskan (Eph.4:8-9). Zaman Perjanjian Lama iman mereka memandang kepada masa depan di Kalvari sedangkan kita memandang kebelakang juga ke Kalvary yang sama dimana Darah Yesus sudah tercurah.
Setiap orang percaya yang mati maka roh dan jiwanya dikawal Malaikat ke hadapan Tuhan. Si kaya pun mati...! Tidak tercatat Malaikat membawanya kemana karena ia terhilang untuk selamanya, ia dikubur..! Disini terbukti bahwa kekayaan bukan jaminan seseorang berkenan bagi Tuhan atau bisa menyelamatkan roh dan jiwanya. Bukan kekayaan juga yang mengakibatkannya masuk ke neraka karena tidak ada yang salah dengan kekayaan yang dimiliki seseorang. Atau kemiskinan, sakit serta penderitaan seperti Lazarus merupakan kutuk Tuhan yang bisa mengirimnya ke neraka, atau ke Firdaus. Tuhan yang tahu sampai kedalam hati kita. Si kaya tidak mengijinkan kekayaan membawa dirinya kepada Tuhan sedangkan Lazarus tidak membiarkan kemiskinan memisahkan dirinya dari Tuhan...!
Luk.16:23 menjelaskan bahwa Sorga dan Neraka kekal itu nyata...! Roh dan jiwa kita setelah kematian langsung berangkat ke surga atau ke neraka. Kita tidak bisa pindah dari neraka ke surga atau sebaliknya. Kesempatan untuk keselamatan hanya berlaku selama kita hidup didunia saja. Disana kita sadar sama halnya sewaktu kita hidup didunia. Neraka bukanlah tempat yang menyenangkan tapi penderitaan selamanya...! Api di neraka panas dan tak terpadamkan, ini Tuhan Yesus sendiri yang bilang. Mat.18:9, Mark.9:43. Lebih baik kita percaya sejak sekarang daripada terlambat dalam penyesalan. Setialah terhadap hal yang Tuhan sudah percayakan kepada kita dan hati-hati terhadap masalah keuangan atau mamon yang tidak jujur.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment