Submitted by Anonymous on Tue, 10/14/2008 - 21:35
Tuhan berjanji kepada Yosua bahwa dia akan berhasil dan beruntung atau dengan lain kata, sukses, kalau Firman Allah direnungkan, diberitakan dan dilaksanakannya. Kata bahasa Ibrani untuk berhasil dalam ayat ini, ‘sakal’. Kata itu hanya dipakai sekali saja dalam Perjanjian Lama, mengandung arti ‘memiliki pengertian, menjadi bijak, dan mencapai sukses yang baik’. Ternyata kesuksesan itu tergantung pada sikap seseorang terhadap Firman Allah. Kata lain yang mengungkapkan konsep keberhasilan atau kesuksesan dalam bahasa Ibrani adalah kata ‘yaresh’. ‘Yaresh’ diterjemahkan ‘dihalau’ dalam Yos 13:12, “orang Refaim yang telah dikalahkan dan dihalau.”
Arti kata ‘yaresh’ itu adalah “menduduki tempat dengan mengusir penduduk yang ada dan mengambil alih posisinya; menghalau, mengusir, membinasakan mereka dan mengambil alih warisannya sepenuhnya; membuat musuhmu miskin dengan mengambil alih segala miliknya.”
Kata ‘yaresh’ itu dan janji Tuhan kepada Yosua tentu termasuk semua tanah dan kota Kanaan dan segala hak miliknya, namun kesuksesan yang dicapai Yosua tidak diukur oleh harta yang dimilikinya. melainkan Kesuksesannya diukur oleh setianya melaksanakan perintah dan mencapai tujuan yang telah direncanakan Allah baginya. Dari segi Alkitab keberhasilan atau kesuksesan hanya dicapai bila maksud dan rencana Allah digenapi dalam hidup kita.
Kesuksesan dari pandangan Alkitab
Ø Kesuksesan adalah menemui dan menggenapi rencana Allah bagi hidup Anda, Rm 12:1-8; Yer 23:18-22.
Ø Kesuksesan adalah menjadi orang yang dirindukan Tuhan. Orang yang berkenan kepada-Nya adalah orang yang menjadi seperti Yesus dan memiliki karakter-Nya, Ef 4:16-32.
Ø Kesuksesan adalah memenuhi potensi Anda sebagai seorang percaya. Allah dengan bangga mau berkata kepada Anda, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara yang kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota,” Luk 19:17; Mat 25:21.
Ø Kesuksesan adalah memiliki hati persatuan yang menyadari bahwa kesuksesan hanya dicapai dalam kerja sama dengan semua bagian Tubuh Kristus, Fil 2:1-5; 1Kor 1:10; 3:4-9,16-17; 12:12-26; Luk 11:21-23.
Kitab Yosua mengajar kita bahwa definisi keberhasilan dan kesuksesan dalam Kerajaan Allah adalah “mengenal dan mentaati maksud dan rencana Allah” dan/atau “mengalahkan musuh Allah serta mengusirnya, menggantikan posisinya lalu memenuhi tempat itu dengan penduduk-penduduk baru”. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Petrus memberi nasihat yang sangat berguna agar kita memahami konsep kepemimpinan yang berhasil yang kita idamkan itu, katanya, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. ... Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung”, 2Ptr 1:3-10.
Beberapa hal, antara lain, yang disebut Petrus adalah:
Ø Kesanggupan keberhasilan kita adalah kuasa ilahi-Nya. Inilah anugerah-Nya yang diberikan-Nya sesuai panggilan-Nya atas hidup kita dan bukan berdasarkan kekuatan kita sendiri.
Ø Kesuksesan tidak terlepas dari komitmen untuk berusaha agar kita berubah, berbuah dan bertumbuh terus.
Ø Kesuksesan yang benar berkaitan dengan ketekunan untuk hidup dalam persatuan dan kasih persaudaraan.
Ø Kesuksesan tergantung pada pengenalan pribadi akan Yesus Kristus. Dia bukan hanya cerita bagi kita tetapi Dia adalah kehidupan kita, pengalaman kita, dan sobat setia kita. Yesus adalah segalanya dalam kehidupan kita.
Kalau iman dan sikap-sikap ini tetap ada dalam hidup kita, maka kita “tidak akan pernah tersandung.” Oleh sebab itu, pertumbuhan dalam kemampuan untuk berhasil adalah pertumbuhan yang tidak terbatas bagi siapapun yang memiliki konsep, iman, karakter, komitmen dan hati yang sesuai dengan hati Allah. Keberhasilan tidak akan dicapai dari pengetahuan kita tanpa kita terus-menerus memiliki hubungan pribadi dengan Yesus. Tanpa kita mengalami Kristus, kuasa salib-Nya dan kebangkitan-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tidakakan mampu mencapai sukses yang sebenarnya.
Anda harus bertindak
Kesuksesan sebagai pemimpin tidak terjadi karena Anda menonton apa yang orang lain lakukan, kesuksesan hanya akan terwujud kalau Anda bertindak. Anda harus berani bertindak sesuai dengan Firman Allah, bertindak pada saat yang dirancang Tuhan dan dengan motivasi yang murni, “supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil”, Yos 1:8. Yang penting ialah Andalah yang harus bertindak. Tuhan menciptakan suasana dan kesempatan. Tuhan menyediakan hikmat, kuasa dan kemampuan. Tuhan menentukan waktunya dan memberi segala yang Anda perlukan, tetapi Andalah yang harus bertindak! Seorang pemimpin yang sukses bukan penonton sejarah tetapi pencipta sejarah!
Kesuksesan yang tidak baik
Mungkin Anda bertanya, “Bagaimana mungkin ada sukses yang tidak baik?” Pertanyaan itu masuk akal sebab biasanya kesuksesan hanya dipandang dari segi posisi, hormat, material, keuntungan pribadi atau prestasi yang dicapai. Tetapi bagaimana kalau kesuksesan kita merugikan orang lain? Bagaimana kalau karakter kita dirusakkan dalam mencapai ‘sukses’? Apa itu benar-benar kesuksesan? Apa kita seperti Machiavelli yang mencetuskan faham, “hasil membenarkan metode” atau “the end justifies the means”. Tetapi bagaimana kalau metode itu jahat atau berlawanan dengan karakter Kristus? Perhatikan beberapa hal ini dalam poin-poin berikut.
1. Kesuksesan yang dicapai berdasarkan tindakan-tindakan yang merugikan, menghancurkan atau melukai orang lain. Jalan menuju sukses sering penuh persaingan, sehingga untuk setiap orang yang mencapai suksesnya, ada banyak yang gagal. Terlalu sering sukses dicapai dengan mengorbankan orang lain demi kesuksesan bagi diri sendiri. Dalam 3Yoh 9-10, Rasul Yohanes menulis kepada sebuah jemaat di Asia Kecil di mana salah satu penatua, Diotrefes, telah bertindak untuk menjadi pemimpin mutlak dalam jemaat itu. Demi kesuksesan itu, beberapa pemimpin jemaat yang merupakan para penatua[1] setempat, antara lain, Gayus dan Demetrius, difitnah, diberlakukan dengan kasar bahkan dikucilkan dari jemaat. Ternyata Diotrefes itu bersedia melakukan apa saja, termasuk memecahkan jemaat, demi mencapai kesuksesannya. Rasul Paulus telah menasihati para penatua di Efesus untuk berjaga-jaga terhadap gejala demikian. Orang yang mau merebut kesuksesan atas penghancuran orang lain adalah orang yang bersifat serigala. Mereka bersedia mengkompromikan ajaran yang murni demi mencapai tujuannya. Mereka bersedia pula mencuri kemuliaan dari Tuhan agar menarik orang kepada dirinya sendiri. Maka tabiatnya jelas egosentris. Dalam pelayanan, kami pernah menyaksikan beberapa hamba Tuhan yang keluarganya atau isterinya menjadi korban demi kesuksesan hamba Tuhan itu. Mungkin yang demikian dianggap sukses di mata dunia, tetapi nanti segala-galanya harus dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan, Rm 14:12; 1Ptr 4:5.
2. Kesuksesan dicapai dengan mengorbankan karakter pribadi. Demi mencapai sukses, kadang-kadang, ada yang bersedia mengorbankan atau mengkompromikan prinsip-prinsip moral atau kode etiketnya. Dalam dunia usaha pencemaran karakter seperti itu sering terjadi. Kejujuran dan integritas mudah dikorbankan kalau hal-hal itu menghalangi kesuksesan. Tetapi, kalau harga sukses adalah menjual integritas Anda, maka jenis sukses itu adalah terlalu mahal! Sukses demikian pasti tidak akan diperhitungkan sukses di hadapan Allah. Paulus telah menulis kepada sidang jemaat Korintus, 1Kor 13:2-3, untuk menjelaskan prinsip ini. Apapun yang kita hasilkan berdasarkan karakter dan motivasi yang tidak benar, dan yang tidak berdasarkan kasih dan kehendak Allah, sedikit pun tidak akan menjadi berkat kepada kita. “Sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” Kepada para penatua Efesus, Paulus menunjukkan bahwa penatua-penatua yang merusak jemaat telah menjadi cacat dalam karakternya karena kesombongan. Mereka mau ‘naik’ atau ‘muncul’ dan istilah ini menggambarkan kesombongannya. “Dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang”, Kis 20:30. Karakter yang cacat dengan kesombongan seperti itu akan menghasilkan perpecahan. Hal ini nampak dalam 3Yoh 10 di mana karakter Diotrefes menjadi rusak dan dia dinyatakan sebagai seorang pemfitnah yang memiliki roh kontrol.
3. Kesuksesan dicapai namun hasilnya tidak sanggup tahan lama. Kesuksesan duniawi hanya mungkin bertahan selama kita hidup, dan mungkin tidak akan tahan selama itu. Sebagian orang yang paling berhasil di dunia ini akan menjadi orang yang paling hina, melarat dan menderita dalam kekekalan. Kesuksesan sejati dalam hidup ini dimiliki oleh mereka yang menginvest dalam kekekalan. Tuhan Yesus menceritakan hal dua hamba Tuhan yang membangun Rumah Allah. Yang satu mau merebut kesuksesan dengan mengorbankan prinsip-prinsip kebenaran tetapi setelah mengalami pencobaan, semua yang dihasilkannya hancur. Hamba Tuhan yang kedua mau merebut kesuksesan yang sejati sehingga dia bersedia dituduh bahwa dia pelin-pelan, lambat bekerja, atau tidak mengikuti trend zaman. Namun, setelah diuji, ternyata hasil pelayanannya sanggup bertahan terhadap semua tantangan, Mat 7:24-27. Rasul Paulus telah meneguhkan prinsip itu. Dia berkata bahwa ada berjenis-jenis bahan yang dipakai dalam membangun Rumah Tuhan dan ternyata ada yang tahan uji, ada yang tidak. “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian”, 1Kor 3:14-15. Tuhan akan menguji kesuksesan kita, dan meniupinya. Kalau kesuksesan itu dibangun dengan motivasi yang salah, tidak berdasarkan kehendak dan hati Allah, dan tidak berdasarkan kuasa Roh Kudus, maka kesuksesan itu hanya manusiawi. Kesuksesan demikian tidak akan bertahan di hadapan Allah. Kalau ditiup oleh Tuhan, habis lenyap! Jangan ditipu dengan kesuksesan duniawi sebab, “ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”, Ams 14:12.
Dalam usaha Anda menjadi seorang pemimpin yang sukses, tanyalah beberapa pertanyaan penting berikut ini kepada dirimu sendiri:
Ø Mengapa saya mau merebut kesuksesan?
Ø Apa sesungguhnya motivasi hatiku?
Ø Apakah saya mengenal kehendak Allah dan isi hati-Nya?
Ø Kalau saya melakukan sesuatu, siapa diuntungkan dan siapa dirugikan?
Ø Apakah saya memiliki iman, kesanggupan, hikmat, ketekunan dan keberanian yang cukup untuk bertindak sampai apa yang dirancang itu dicapai?
Setelah Anda dapat menjawab semua pertanyaan itu dengan tepat dan dengan hati nurani yang sesuai dengan hati Allah sendiri, barulah Anda siap melangkah menjadi seorang pemimpin yang berhasil.
Kemampuan menjadi pemimpin yang sukses berasal dari Allah
Kesuksesan Yosua telah mulai dengan sepatah kata atau Firman yang disampaikan kepadanya, Yos 1:1-9. Allah telah menantang Yosua untuk menanggapi maksud dan tujuan hidupnya. Kesuksesannya akan terjadi bila dia menemukan dan melaksanakan kehendak Allah. Kesanggupan melaksanakan kehendak Allah itu datangnya dari Allah. Perjalanan Anda menuju sukses juga dimulai ketika Allah menyatakan kepadamu rencana-Nya yang khusus bagi hidupmu, yaitu panggilan-Nya. Mungkin Anda dipanggil menjadi seorang pendeta. Mungkin Anda dipanggil menjadi seorang pengusaha apostolik[2]. Mungkin Anda dipanggil menjadi seorang hamba Tuhan yang bekerja sebagai pegawai profetik[3] atau sebagai karyawan dengan suara kenabian. Apapun tugas dan cara kerja Tuhan berikan kepada Anda, Tuhanlah sumber kesanggupan. Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang juga menyanggupkan! Tuhan berfirman kepada Yosua, “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau,” Yos 1:5. Kalau kita mengevaluasi kemungkinan Musa menjadi seorang pemimpin yang sukses, ada banyak alasan untuk kita meragukan potensinya:
Ø Musa mempunyai gambar diri terlalu rendah, Kel 3:11-14
Ø Musa tidak pandai bicara, Kel 4:1-9
Ø Musa tidak memiliki iman yang kuat, Kel 4:10-12
Ø Musa berdalih-dalih dan membuat Tuhan marah, Kel 4:13-17
Tuhan dapat mengatasi semua kesulitan dan sikap negatif dalam hidup Musa. Tuhan sanggup mengubahnya menjadi pemimpin yang berhasil. Hal itu pasti menjadi dorongan iman kepada Yosua, dan kita juga, bahwa apa yang dibuat untuk Musa, dapat juga dibuat untuk siapa pun yang berani beriman kepada-Nya. Tuhan melakukannya untuk Yosua dan Dia sanggup melakukannya untuk Anda! Perhatikan dorongan iman kepada orang-orang Ibrani: “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”, Ibr 13:7-8. Janji ini adalah janji khusus kepada kita. Sebagaimana Yesus dapat menghasilkan para pemimpin masa lampau yang sukses, Dia tetap sanggup melakukannya sekarang. Dia tetap sama! Anda boleh menjadi seorang pemimpin yang sukses karena kesanggupan menjadi pemimpin yang sukses, semata-mata datangnya dari Yesus. Karena kesanggupan itu ada di tangan-Nya, maka kita hanya perlu menyerahkan diri ke dalam tangan Tuhan dan mengizinkan Dia memproses hati, hidup, sikap, ambisi, karakter, ketaatan dan panggilan kita menjadi apa yang dikehendaki-Nya.
Inventariskan talenta-talenta Anda
Setiap orang dikaruniakan talenta-talenta, karunia-karunia dan jenis-jenis pelayanan yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui apa yang diberikan Tuhan kepada kita, Luk 19:11-27; Mat 25:14-30; Kis 2:17-18; Rm 12:3-8; 1Kor 12:4-11; Ef 4:11-16. Semuanya itu merupakan sumber potensi untuk kita menemukannya dan menggunakannya agar menjadi pemimpin yang sukses. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang dapat memimpin orang melalui perkataannya dan contoh hidupnya sehingga mereka terinspirasi untuk mengikuti contohnya, 1Ptr 5:3; 1Tim 1:16; 2Tim 1:13-14. Sumber potensi itu adalah Kristus, Fil 4:13; Kol 1:27; 2:10. Dia adalah di dalam kita sehingga kita dapat berbuah banyak, Yoh 15:5-8. Di dalam Dia kita bertumbuh dari iman kepada iman, Rm 1:17. Di dalam Dia, “Kita semua menerima kasih karunia demi kasih karunia”, Yoh 1:16. Di dalam Dia kita berubah daripada kemuliaan kepada kemuliaan, 2Kor 3:18. Tuhan memberi anugerah-Nya untuk mentransformasikan kita agar menjadi sesuai dengan gambar Kristus. Tetapi persyaratannya adalah bahwa kita harus menyerahkan diri kita dan mengizinkan Dia memproses hidup kita hingga kesuksesan kita tidak lain dari kesuksesan Tuhan Yesus sendiri, 2Ptr 1:3-10.
Apakah yang di tanganmu itu?
Di manakah akan Anda mulai dalam perjalanan menjadi pemimpin yang sukses? Dengarkanlah pertanyaan yang Tuhan ajukan kepada Musa itu! “Apakah yang di tanganmu itu?” Kel 4:2. Kita mulai dengan apa saja yang ada di tangan kita, apa saja yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Kalau kita setia dalam perkara yang kecil, Tuhan akan menambahkan kepada kita perkara yang besar, Mat 25:23. Tetapi sebelum Tuhan menambahkan apa-apa, kita harus menanggapi dan memanfaatkan apa yang sudah diberikan-Nya. Kalau itu adalah tongkat, pakailah itu sebaik mungkin. Lewat kayu yang kering dan mati pun Tuhan sanggup menyatakan mukjizat-Nya! Kalau kita menganggap apa yang ada pada kita terlalu hina sehingga kita menuntut yang lebih ‘pantas’ atau lebih ‘hebat’, kuasa-Nya tidak akan nyata dan kapasitas kita tidak akan bertumbuh. Mungkin saja Anda orang biasa-biasa saja tanpa karisma yang menarik perhatian orang atau talenta yang gemilang. Tetapi kalau Anda menyerahkan apa yang ada padamu kepada Tuhan dan menggunakannya dengan setia dan iman, potensi perkembangan kapasitas Anda tidak terbatas, selain oleh kehendak dan kemampuan Tuhan yang tak terbatas itu, Pkh 9:14-15. Pahamilah bahwa Anda memiliki talenta-talenta dan karunia-karunia yang masih tersembunyi. Dalam penyerahan hidupmu di kaki salib, Tuhan akan menyatakannya dan mengaruniakan apa yang tersembunyi itu kepada Anda. Anda perlu menyadari apa yang diberikan-Nya, lalu mengembangkannya, melatihnya, menggunakannya dan memberanikan diri untuk memasuki semua pintu kesempatan yang Tuhan buka bagimu. Ketahuilah bahwa Anda ada sebagaimana Anda ada karena Tuhan menciptakan Anda demikian. Dia mengenal Anda lebih daripada Anda mengenal dirimu sendiri. Dia mengetahui segala kekurangan dan keterbatasan Anda namun Dia memanggil Anda menjadi seorang pemimpin yang sukses. Tuhan membuat demikian karena Dia juga mengetahui semua kekuatan, kelebihan, kapasitas dan potensi Anda bila hidupmu itu ada di dalam tangan-Nya. Anda adalah unik, seorang istimewa yang dipilih-Nya secara khusus, Ef 2:10. Apa yang ada padamu bukan padamu secara kebetulan melainkan karena Dia membagikan itu kepadamu sesuai dengan rencana dan kehendak-Nya bagi hidupmu, 1Kor 12:4-6,11.
[gambar] Kedua tiang sisa Gereja Filadelfia, Asia Kecil. Kepemimpinan yang sukses membawa Injil menang di Filadelfia. Di kemudian hari, pemimpin-pemimpin yang meninggalkan kebenaran Tuhan membawa umat Tuhan menjadi hancur***
Bab 2 Prinsip-prinsip Kepemimpinan Sukses.
Kepemimpinan yang baik adalah suatu kunci utama yang diperlukan demi kehidupan yang berhasil, efektif dan sukses. Hal ini berlaku bagi setiap segi kehidupan jasmani dan rohani. Oleh karena itu kita harus mengembangkan keahlian-keahlian yang dianugerahkan kepada kita baik secara jasmani maupun secara rohani, bahkan kita dapat memperoleh keahlian-keahlian dalam kepemimpinan melalui semua pengalaman dan pelajaran yang kita terima dalam kehidupan kita. Semuanya perlu diserahkan di kaki salib dan dipersembahkan kepada Yesus sebagai korban yang hidup agar keahlian-keahlian itu menjadi berguna bagi Kerajaan Allah. Pada masa kini ada keperluan besar untuk mempersiapkan dan melatih pemimpin-pemimpin bagi suatu tuaian yang dahsyat yang sudah dinubuatkan dalam Firman Tuhan dan dikonfirmasikan oleh suara kenabian dalam Tubuh Kristus selama beberapa tahun. Tanpa cukup pemimpin kita tidak akan sanggup menangani tuaian ini. Oleh karena itu perlu terjadi pelipatgandaan dalam kepemimpinan. Dalam Gereja mula-mula, semua jemaat dipimpin secara jamak atau majemuk dan kebiasaan itu bukan untuk mensistemkan atau mengharuskan suatu gaya kepemimpinan melainkan untuk mempersiapkan pelipatgandaan dalam kepemimpinan dan pelayanan agar mereka dapat menangani tuaian yang dihadapinya. Oleh sebab itu, masa kini, Tuhan sedang menggalang suatu gerakan di seluruh dunia untuk membangkitkan jutaan pemimpin yang memiliki karakter Kristus, yang hidup dalam ketaatan dan penundukan diri dan yang dimampukan melayani dengan kuasa Allah.
Mengapa kita perlu pemimpin-pemimpin yang baik?
1. Tanpa pemimpin kekacauan terjadi. Pada waktu bangsa Israel tidak memiliki kepemimpinan, “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri,” Hak 17:6. Tanpa kepemimpinan tidak ada standar atau ukuran untuk menunjukkan jalan yang benar.
2. Tanpa pemimpin yang baik, kesesatan terjadi. Sejarah sedih bangsa Israel adalah bahwa setiap kali ada raja yang baik, bangsanya menjadi baik, dan setiap kali raja adalah jahat bangsanya menjadi jahat, 2Raj 14-25. Artinya, seorang pemimpin sangat berpengaruh atas pembentukan karakter mereka yang dipimpinnya. Oleh sebab itu kita harus memperhatikan baik-baik bagaimana kita memimpin supaya kita menghasilkan buah yang mulia dan berkenan kepada Allah. Prinsip ini sangat jelas dalam Kitab Yeremia ketika nabi-nabi menyesatkan bangsa Israel karena hanya bernubuat menurut rekaan hati mereka sendiri. Mereka mencari popularitas di tengah-tengah masyarakat walaupun tindakan mereka akan menghasilkan kebinasaan dan murka Allah atas umat itu, Yer 23.
3. Tanpa pemimpin yang baik umat Tuhan adalah domba-domba tanpa gembala. Tuhan menyatakan bahwa Dia sendiri adalah Gembala Israel dan bahwa tugas penggembalaan telah diserahkan kepada para gembala. Ternyata para gembala itu lari dari bahaya dan hanya mementingkan diri sendiri saja. Oleh karena itu domba-domba tercerai-berai dan mudah menjadi mangsa bagi serigala. Akhirnya Tuhan berkata bahwa Dia akan melepaskan domba-domba-Nya dari mulut para gembala, dan akan memberikan penggembalaan yang benar, Yeh 34. Hal serupa diuraikan Tuhan Yesus dalam Yoh 10 ketika mengajarkan tabiat seorang gembala yang baik. Di tengah-tengah aniaya, krismon dan kesusahan, domba-domba memerlukan pemimpin-pemimpin yang sanggup menunjukkan jalan yang benar, memberi inspirasi untuk bertahan setia dan untuk bertumbuh dalam iman sampai menang, 1Ptr 5:1-5.
Siapakah seorang pemimpin?
1. Seorang pemimpin adalah seorang yang jalan di depan dan menunjukkan jalan. Yesus berkata bahwa seorang pemimpin, dalam hal ini seorang gembala, “berjalan di depan mereka”, Yoh 10:4. Seorang pemimpin bukanlah seorang yang mendengar suara orang banyak, mengumpulkan informasi tentang apa yang mereka inginkan lalu melakukan keinginan mereka. Seorang pemimpin harus siap menjadi seorang pelopor, harus siap menghadapi bahaya dan menjadi yang pertama yang diserang. Dia harus berani melakukan sesuatu yang mungkin kurang popular demi kebaikan mereka yang dipimpin. Artinya seorang pemimpin harus bersedia mengambil inisiatif dan bertindak dengan berani, bijak dan iman menurut pimpinan Roh Kudus.
2. Seorang pemimpin harus memiliki visi dan tujuan. Seorang yang jalan di depan dan memimpin orang harus tahu ke mana dia akan membawa mereka yang dipimpin. Dia juga harus tahu bagaimana membawa mereka dari titik awal sampai titik akhir. Untuk semuanya itu seorang pemimpin harus memiliki visi dan pemahaman akan strategi-strategi untuk tibakan mereka pada sasaran. Sebagaimana dikatakan oleh Raja Salomo, “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat”, Ams 29:18. Rasul Paulus berkata bahwa dia “telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya”, 1Kor 3:10. Paulus di sini menyatakan bahwa seorang pemimpin harus mengerti asalnya (dasar), strategi (bagaimana membangun) dan tujuannya (bangunan yang dibangun). Kalau seorang pemimpin tidak memahami hal-hal ini kepemimpinannya akan kacau-balau dan mengakibatkan penghancuran dan penyesatan. Yesus berkata bahwa seorang pemimpin harus membuat anggaran biaya dan perhitungan apa sasaran dapat dicapai sebelum mulai, Luk 14:28-32. Terlalu banyak orang ingin menjadi pemimpin tetapi tidak memperhitungkan kemampuannya untuk menyelesaikan tanggung jawabnya. Oleh karena itu mereka dikalahkan oleh stress dan mengalami kerusakan rohani pada gambar dirinya sehingga potensi yang sebenarnya ada padanya tidak dikembangkan atau direalisir. Visi adalah alat stir yang mengarahkan kendaraan hidupmu menuju sasaran yang ditujui. Anda tidak mungkin menjadi pemimpin tanpa memiliki visi. Kepemimpinan adalah suatu fungsi dari visi. Anda melihat, maka Anda memimpin! Hanya karena Anda melihat, Anda dapat memimpin. Karena Anda dapat melihat, Anda tahu apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Visi adalah antisipasi suatu perjalanan dengan tujuan akhir. Anda melihat tujuan itu lalu bertanya – apakah kendaraan saya mampu membawa saya ke tempat tujuan? Apakah kendaraan ini sanggup menahan badai-badai yang akan dialami? Berapa banyak orang diperlukan untuk menjalankannya? Keahlian-keahlian yang mana diperlukan? Persedian apa harus dibawa? Berapa lama baru kita akan tiba pada tujuan kita? Sebagian gembala bukan pemimpin seperti itu tetapi lebih bersifat pengelola. Mereka diberi tugas lalu melakukannya. Beberapa “pengelola” berkata, “Saya seorang pemimpin maka saya harus memiliki visi.” Tetapi seorang yang betul-betul “pemimpin” sudah memiliki visi dan dapat melihat ke depan. Dia tidak harus mencari sebuah visi, dia sudah memilikinya. Seorang panglima tidak akan menang dalam perang dengan pasukan yang diinginkannya, dia harus menang dengan pasukan yang sudah dimilikinya. Seorang pemimpin bergembira atas sedikit emas yang ditemukannya waktu menggali ratus ton tanah tetapi seorang pengelola menjadi pusing memikirkan bagaimana membuang tanah yang digali itu. Para pemimpin memerlukan para pengelola supaya semua tugas terlaksana dengan baik dan supaya kita boleh gali lagi dan menemukan lebih banyak emas! Menjadi seorang pengelola adalah baik dan sangat dibutuhkan, tetapi tidak tentu seorang pengelola adalah pemimpin.
3. Seorang pemimpin adalah orang yang mengarahkan dan menuntun orang lain. Seorang pemimpin bukan seorang yang berjalan sendirian sebab dia juga adalah bagian dari mereka yang dipimpinnya sebab dia bertanggung jawab atas keadaan mereka, seperti diajarkan Paulus, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya”, Ibr 13:17. Petrus menitip pesan khusus kepada para pemimpin di seluruh daerah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 1Ptr 1:1, dengan berkata, “Aku menasihatkan para penatua di antara kamu”, 1Ptr 5:1. Petrus menunjukkan posisi para pemimpin bukan di atas jemaat tetapi di antara mereka. Nasib mereka sebagai Jemaat dan sebagai pemimpin diikat bersama oleh kasih sehingga mereka menjadi satu. Oleh sebab itu Petrus tidak hanya memberi komando kepada mereka, tetapi dia berjalan di antara mereka untuk menuntun dan mengarahkan bahkan turut mengalami apa yang mereka alami sepanjang perjalanannya sampai tiba pada tujuannya, 1Ptr 5:3; Yoh 10:3.
4. Seorang pemimpin akan mempengaruhi sikap dan tindakan orang. Dalam membagikan hikmat Tuhan, Salomo berkata, “Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu”, Ams 27:23. Yesus berkata bahwa seorang pemimpin begitu mengenal domba-dombanya sehingga “ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar”, Yoh 10:3. Seorang pemimpin yang mengenal baik-baik mereka yang dipimpinnya akan lebih mampu menginspirasikan mereka untuk berubah secara positif dan menuntun mereka untuk berjalan terus menuju arah yang benar. Dia akan memotivasikan mereka baik lewat contoh maupun perkataannya sendiri biarpun ada rintangan, perlawanan, aniaya atau kesusahan yang dihadapinya. Demikianlah Petrus dan Paulus mengajar agar seorang pemimpin menjadi inspirasi dan contoh kepada mereka yang dipimpin bahkan membawa mereka kepada keselamatan, 1Ptr 5:3; 1Tim 1:16; 4:12-16; 2Tim 1:11-14. Perhatikan nasihat Raja Salomo, “Siapa memanjakan hambanya sejak muda, akhirnya menjadikan dia keras kepala”, Ams 29:21. Sikap dalam mereka yang dipimpin akan dibentuk oleh tindakan dan contoh pemimpin. Perhatikanlah bagaimana Anda membangun!
5. Seorang pemimpin adalah seorang yang orang lain mau ikut. Seorang pemimpin memiliki karakteristik-karakteristik yang menyebabkan orang lain mau mengikutinya, apa itu semangatnya, ajarannya, pola pelayanannya, keberhasilannya atau hal-hal lain. Pada dasarnya seorang bukanlah seorang pemimpin kalau tidak ada yang mau mengikutinya. Inilah ujian akhir apakah seorang bersifat pemimpin atau tidak. Kalau tidak ada yang mengikutinya, dia bukan seorang pemimpin! Dia mungkin memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang prinsip-prinsip teoretis kepemimpinan, mungkin juga menjadi pengajar topik itu bahkan menulis sebuah buku tentang kepemimpinan, tetapi apakah ada orang yang mau mengikutinya dan apa yang dihasilkannya? Itulah ujian kepemimpinannya! Yesus berkata bahwa “domba-domba itu mengikuti dia”, Yoh 10:4. Seorang pemimpin tidak hanya berbicara, dia akan bertindak, dan itu jauh lebih dihargai orang sehingga mereka mau mengikutinya. “Dengan kata-kata saja seorang hamba tidak dapat diajari, sebab walaupun ia mengerti, namun ia tidak mengindahkannya”, Ams 29:19.
Sembilan karakteristik kepemimpinan yang sukses
1. Mengenal Tuhan. Rasul Petrus dalam 2Ptr 1:3-11 mengatakan bahwa pengenalan akan Yesus Kristus adalah suatu dasar keberhasilan. Setiap pemimpin dalam Alkitab yang berhasil telah mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Pemimpin yang sukses tidak hanya menceritakan dan bertindak berdasarkan cerita dan kesaksian orang lain, karena dia mempunyai kesaksiannya sendiri, kesaksian yang hidup dari pengalaman pergaulannya dengan Tuhan. Hal ini sangat jelas kalau kita menyelidiki kehidupan Abraham, Musa, Daud, Elia, Daniel, Yesaya, Petrus, Yohanes, Paulus dan lain-lain. Mereka mengalami Tuhan. Mereka berjumpa dengan Tuhan. Mereka bergaul dengan Tuhan, dan hal-hal ini menjadi kunci keberhasilannya. Pengenalan dan perjumpaan dengan Tuhan tidak boleh bersifat sesuatu yang masa lampau tetapi harus menjadi pengalaman yang kontinu. Tidak cukup berkata, “Dua puluh tahun yang lalu aku dipenuhi dengan Roh Kudus!” Yang penting adalah apa Anda sekarang penuh dengan Roh Kudus? Apakah Anda sekarang berjalan dalam perjumpaan dan pengenal akan Tuhan secara rutin? Apakah Anda terus-menerus mengalami Kristus, kuasa salib-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya. Tanpa pengenalan akan Tuhan yang bersifat ‘kini’, kita “menjadi buta dan picik”, 2Ptr 1:9, dan pasti tidak akan berhasil menurut standar yang Tuhan berikan kepada kita.
2. Profetik – sanggup mengantisipasikan masa depan. Adalah penting untuk seorang pemimpin yang baik untuk dapat membaca, mengevaluasi, menafsirkan dan mengantisipasi arah dari trend-trend yang sedang berkembang baik di alam dunia maupun di alam roh. Seorang pengusaha yang berkembang dengan cepat biasanya sudah berkembang demikian sebab dia mampu memprediksi keperluan pasar di masa depan sehingga dia siap melayani mereka. Sebaliknya, kalau dia memproduksikan barang-barang yang tidak akan laku, dia akan mengalami kerugian besar atau menjadi bangkrut karena tidak mengenai sasaran. Hal yang sama terjadi dalam pelayanan. Ada pemimpin-pemimpin yang terikat dengan cara-cara yang lama yang tidak lagi efektif untuk pelayanan masa kini. Dia harus siap dan berani berubah. Ada yang hanya mengikuti trend-trend yang sudah dirintis orang lain, tetapi justru perintis, yang merupakan seorang visionaris, adalah seorang yang sudah membaca arah gerakan Roh Kudus, sudah melihat arahnya ke mana lalu membangun pelayanan sesuai dengan itu. Itulah sebabnya Yonggi Cho dapat membangun jemaat terbesar di dunia di Seoul, Korea, dan Caesar Castellanos begitu berhasil di Bogota, Kolombia. Seorang visionaris adalah lebih daripada seorang yang mendapat visi atau pewahyuan dari Tuhan, seorang visionaris adalah orang yang sanggup merasa gerakan dan arah Roh Kudus dan trend-trend dalam masyarakat yang dilayani. Ada jemaat di Melbourne, Australia, Waverley Christian Fellowship, yang dirintis oleh Pdt. Richard Holland. Dia membeli tanah luas di pertengahan perkebunan pada tahun 1980, jauh dari perumahan-perumahan, ketika jemaatnya hanya berjumlah 150 orang. Dia melihat bahwa itulah daerah perluasan kota yang nanti akan ada banyak proyek perumahan. Dia dapat melihat bahwa satu hari akan ada puluhan ribu keluarga muda akan pindah ke daerah kota yang baru itu. Karena dia adalah seorang visionaris jemaat itu sudah mencapai 4000 anggota. Seorang pemimpin perlu memiliki urapan profetik supaya sensitive terhadap suara
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment