Submitted by Anonymous on Tue, 10/14/2008 - 21:35
Ø Berdoa bersama untuk mencari wajah Tuhan dan petunjuk-petunjuk-Nya
Ø Bagikan Firman tentang visi itu untuk menciptakan iman
Ø Mengundang partisipasi dan konfirmasi dari anggota-anggota tim supaya visi itu menjadi miliki bersama
Ø Buatlah perencanaan bersama dan tetapkan seorang koordinator yang memiliki beban dan kapasitas untuk melakukannya
Ø Bagikan tugas-tugas dengan jelas
Ø Delegasikan otoritas untuk melakukan tugas
Ø Laporkan kembali hasil-hasil dan mengevaluasikannya, baik secara pribadi dengan koordinator maupun bersama secara kolektif
Ø Selalu berusaha untuk saling mendukung dan bukan bersaing-saingan.
Berilah visi yang jelas.
Terlalu banyak kali ada pemimpin yang hanya ikut trend yang populer. Dia ingin berhasil tetapi tidak memiliki visi sendiri. Dia hanya membangun atas visi orang lain. Dia melihat Juan Ortiz berhasil, dia ikut. Dia melihat Yonggi Cho berhasil, dia ikut. Dia melihat trend-trend yang lain, dia ikut. Akhirnya jemaatnya tidak lagi ada semangat mengikut karena tidak ada visi atau pewahyuan yang jelas sehingga mereka menjadi bosan, kurang nyaman, bingung bahkan menjadi liar. “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum”, Ams 29:18. Oleh karena itu, Tuhan berkata kepada Nabi Habakuk, “Lalu TUHAN menjawab aku, demikian: “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya”, Hab 2:2. Dan kepada Nabi Yehezkiel, “Maka engkau, hai anak manusia, terangkanlah kepada kaum Israel tentang Bait Suci ini, agar mereka menjadi malu melihat kesalahan-kesalahan mereka, juga bagaimana Bait Suci itu kelihatan dan rancangannya. Dan kalau mereka merasa malu melihat segala sesuatu yang dilakukan mereka, gambarlah Bait Suci itu, bagian-bagiannya, pintu-pintu keluar dan pintu-pintu masuknya dan seluruh bagannya; beritahukanlah kepada mereka segala peraturannya dan hukumnya dan tuliskanlah itu di hadapan mereka, agar mereka melakukan dengan setia segala hukumnya dan peraturannya”, Yeh 43:10-11. Jadi, Tuhan menghendaki visi itu diberitakan dengan jelas supaya umat Tuhan akan dapat mengertinya dan melakukannya. Kalau kita tidak sanggup mengimpartasikan visi kita dan memultiplikasikannya, maka kita belum menjadi pemimpin yang sukses. Agar visi itu diimpartasikan dan dimultiplikasikan, visi itu harus:
Ø Diberitakan dari Firman berulang kali sampai mereka mengimani kebenaran dan tujuan visi itu sebagai kehendak Allah bagi mereka
Ø Catat dan gambarkanlah visi itu agar jemaat dapat mempelajarinya dan mendoakannya
Ø Motivasikan dan bangunkan semangat mereka sampai mereka memiliki visi itu sebagai milik sendiri dan mereka rindu melakukannya
Ø Lengkapi mereka dengan kesanggupan supaya mereka mampu mengambil bagian di dalam visi itu
Ø Tantang semua anggota tim untuk meningkatkan pengertiannya, keahliannya, komitmennya dan disiplinnya, tetapi jangan mengancam mereka sebab iman tidak dapat dipaksakan. Tubuh Kristus bukan perusahaan dengan karyawan melainkan organisme dengan sel-sel yang hidup.
Kembangkan kapasitas tim untuk berkomunikasi dengan jelas
Setiap pemimpin harus menjadi kompeten dalam komunikasi, apa itu dalam kelompok kecil atau kelompok besar akan sesuai dengan karunia pelayanan yang diberikan Tuhan. Khususnya bagi yang akan berkhotbah, keahlian berkomunikasi itu adalah sangat penting. Dalam Perang Dunia Kedua, pidato-pidato Sir Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris, telah sangat berperan dalam membangkitkan semangat bangsanya untuk berperang melawan Jerman pada Perang Dunia Kedua. Bung Karno, yang sangat terkenal penuh karisma, dalam pidato-pidatonya telah menggairahkan pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia untuk melawan Belanda dan meraih kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Pdt. Dr. Martin Luther King Jr. terkenal sebagai seorang motivator dalam pidato-pidatonya dalam melawan rasisme di Amerika Serikat dan telah berhasil mengubah pola pikiran masyarakat Amerika. Seorang pemimpin atau pengkhotbah tidak harus pandai berpidato seperti tokoh-tokoh diatas untuk mencapai sukses, tetapi dia harus:
Ø Jelas – supaya semua orang mengerti apa yang dikatakan
Ø Menarik – berita yang releven bagi keperluan pendengar
Ø Mengimaninya – kalau Anda belum mengimaninya para pendengar tidak akan menerima impartasinya
Ø Berperasaan – para pendengar perlu diyakinkan bahwa apa yang disampaikan itu adalah penting baginya
Ø Bertujuan – jangan hanya mengisi waktu, harus ada tujuan dan maksud.
Walaupun seorang belum pandai berkhotbah, kemampuan itu dapat ditingkatkan dengan melatih. Belajar menggunakan suara dengan tepat. Belajar memakai ilustrasi yang menarik yang akan menolong pengertian dan penangkapan kebenaran yang diberitakan. Belajar menggunakan gairah dan perasaan yang sesuai dengan keadaan tempat pelayanan. Misalnya, dalam pelayanan remaja harus bergairah dan semangat, tetapi kalau di acara pemakaman harus lebih lembut dan hormat.
Jadilah pendengar yang baik
Selain menjadi sanggup berkomunikasi, anggota-anggota tim pemimpin harus juga belajar menjadi pendengar yang baik. Hikmat Allah tidak hanya datang dari satu orang, melainkan melalui banyak orang, Ams 24:6. Seorang pemimpin yang berhasil selalu akan membuka telinganya untuk mendengar nasihat-nasihat dan laporan-laporan atau kesaksian-kesaksian dari timnya, Ayb 34:2; Ams 15:31; 18:15; 20:12; 25:12; Luk 8:8. Demikian rahasia kemenangan bagi ketujuh Sidang Jemaat di Asia Kecil tergantung kepada kesediaannya mendengar, Why 2:7,11,17,29; 3:6,13,22.
Kembangkan karunia masing-masing anggota tim
Sebagai tim pemimpin kita harus melindungi satu dengan yang lain dan menolong membuka kesempatan untuk setiap anggota tim mencapai potensinya. Jangan menjadi penghalang atau perintang keberhasilan orang lain. Tim yang sukses adalah tim yang membebaskan potensi setiap anggota serta melindungi sesama terhadap gejala-gejala yang negatif dan kecenderungan yang menghancurkan. Kalau kita memandang keberhasilan sesama anggota tim, jangan iri melainkan bersukacita karena keberhasilan satu anggota adalah keberhasilan bersama. Jangan mencari kesempatan untuk lebih unggul atas anggota lain tetapi bergandengan tangan maju bersama. Sikap seperti ini tidak mudah dan itulah sebabnya kita harus hidup di dalam karya salib. Kita harus siap disalibkan tiap hari agar rekan-rekan kita berkembang dan agar kedagingan kita atau keakuan kita tidak diizinkan bangkit kembali. Pola kepemimpinan tim di Asia Kecil menjadi hancur karena sikap kasih itu tidak dipertahankan. Di satu kota di Asia Kecil, Diotrefes bertindak untuk mengambil alih kepemimpinan dan untuk melakukannya, “ia meleter melontarkan kata-kata yang kasar” dan “mengucilkan orang-orang” dari jemaat yang tidak mau mengikuti kehendaknya, 3Yoh 9-10. Di Efesus, Yesus menyatakan bahwa mereka sanggup mengalahkan serangan dari luar, Why 2:2; Kis 20:29, tetapi serangan dari dalam, perpecahan, persaingan dan ambisi, menyebabkan mereka meninggalkan kasih mula-mula, Kis 20:30; Why 2:4-5. Sifat kasih yang benar yang akan mentransformasikan suatu tim dari tim biasa atau tim yang bersaing-saingan menjadi tim yang berhasil adalah, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”, 1Kor 13:4-7. Dengan kasih seperti itu mudah untuk kita setuju kata-kata Rasul Paulus, “Karena jika yang seorang berkata: “Aku dari golongan Paulus,” dan yang lain berkata: “Aku dari golongan Apolos,” bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi yang bukan rohani? Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah”, 1Kor 3:4-9. Marilah kita menjadi kawan sekerja Allah sebagai pemimpin-pemimpin yang berhasil yang akan menyaksikan tuaian yang besar di akhir zaman ini.
Persiapan Pemimpin Baru
Prinsip-prinsip pola pembinaan calon pemimpin baru dalam Abbalove Ministries yang sangat sukses dalam pelipatgandaan para pemimpin menjadi dasar untuk pembangunan Jemaat masa depan. Jadi, bagaimana mempersiapkan pemimpin baru? Seringkali seorang pemimpin berkata, “Di tempat saya layani saya sukar sekali menemukan pemimpin yang baru.” Apakah benar bahwa sukar bagi kita untuk menemukan pemimpin yang baru? Ya, memang benar bahwa kita sukar untuk menemukannya. Namun, kita dapat belajar tentang bagaimana cara melatih pemimpin baru. Memang sukar untuk menemukan pemimpin yang sudah jadi dan sudah siap pakai, tetapi kita dapat melatih mereka, seperti Paulus anjurkan: “Jadilah pengikutku sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus. Aku harus memuji kamu, sebab dalam segala sesuatu kamu tetap mengingat akan aku dan teguh berpegang pada ajaran yang kuteruskan kepadamu,” 1Kor.11:1-2. Paulus juga memiliki kesulitan di dalam menemukan pemimpin yang baru, karena menjadi pemimpin di dalam Tubuh Kristus bukan sekedar memiliki kemampuan, tetapi dia harus memiliki kualitas karakter rohani, integritas, dan dia harus seseorang yang sudah teruji dan dapat dipercaya, sanggup menangkap visi dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Bagaimana melatih calon pemimpin baru?
Untuk melatih pemimpin baru, kita perlu memahami dan meyakini beberapa prinsip.
1. Apa yang kita ajarkan bukan sekedar teori, tetapi sesuatu yang harus dialami. Itu sebabnya kita menyebutnya belajar lewat pengalaman atau mengalami sendiri. Tanpa seseorang mengalami, dia mudah melupakannya, misalnya, ketika seseorang belajar berenang, dia bukan butuhkan teori; dia butuh mengalami. Ketika seseorang sudah pandai berenang, artinya dia punya pengalaman yang pribadi sekali bagaimana dia berenang di dalam air, maka sampai kapan pun orang itu tidak akan pernah lupa bagaimana berenang. Walaupun dia tidak pernah berenang lagi selama 20 tahun, ketika dia mengalami suatu peristiwa di lautan maka dengan serta merta dia masih dapat berenang. Mengapa orang itu dapat mengingat bagaimana cara berenang walau 20 tahun dia tidak pernah berenang lagi? Karena dia tahu bukan karena terorinya, tetapi dia sudah mengalaminya sendiri bagaimana cara berenang. Apa yang Tuhan Yesus ajarkan bukan sekedar ajaran di kepala, tetapi suatu ajaran kehidupan. Itu sebabnya kepemimpinan harus diajarkan melalui pengalaman.
2. Seorang calon pemimpin harus belajar dengan menemukan sendiri. Ini bukan berarti dia tidak membutuhkan pengajar, tetapi pengajar lebih bersifat sebagai fasilitator untuk menolong orang itu menemukan, yaitu, menemukan apa yang Allah maksudkan lalu dia menggalinya, terlebih karena pimpinan dan pertolongan Roh Kudus. Menemukan prinsip-prinsip, menemukan sesuatu yang positif jika itu benar, menemukan sesuatu yang berakibat negatif jika itu salah; asal ditemukan sendiri, itulah pelajaran yang tak terlupakan. Jadi, pertama dia belajar melalui mengalami. Kedua, dia belajar dengan menemukan sendiri.
3. Memiliki pengertian akan makna lebih penting dari sekedar mengalihkan informasi. Memahami makna lebih penting daripada menghafal. Paulus berkata bahwa kita harus menjadi pengikutnya karena dia mengikut Kristus. Paulus benar-benar memberikan kita prinsip bagaimana kita harus melatih. Ketiga prinsip di atas ini adalah prinsip-prinsip dasar. Sekarang kita perlu belajar empat langkah tentang bagaimana kita mencapai tujuan itu yakni menghasilkan pemimpin baru.
Empat langkah untuk melatih pemimpin yang baru
1. Langkah pertama - saya melakukan Anda melihat.
2. Langkah kedua - saya melakukan Anda menolong.
3. Langkah ketiga – Anda melakukan saya menolong.
4. Langkah keempat – Anda melakukan saya melihat.
Ketika seorang pemimpin hendak melakukan sesuatu, dia harus mengajak orang yang ingin dia latih untuk menyaksikan apa yang dia lakukan, supaya apa yang dia lakukan itu tidak tersia-sia. Seringkali kita hanya melakukan sesuatu sendirian saja dan tidak ada orang yang melihatnya. Akibatnya kita tidak dapat menghasilkan atau melahirkan pemimpin baru, kenapa? Karena kita tidak pernah mengajak mereka untuk menyaksikan apa yang kita lakukan. Sebagai contoh, di dalam Film “Ee-teouw” yang direkam di Papua New Guinea di pulau New Britain, suku terasing diinjili seorang misionaris. Berikutnya, ia membawa orang percaya dari suku itu bersamanya untuk membantu dia menginjili desa lain. Setelah itu, di desa berikut, mereka yang ditugaskan untuk memberitakan Injil dan misionaris hanya membantu mereka. Di desa keempat dan seterusnya, misionaris itu hanya menjadi penonton sementara orang-orang dari desa pertama sudah menjadi penginjil yang membawa kabar baik di mana-mana di pulau New Britain itu. Inilah contoh baik bagaimana keempat langkah itu dipakai dalam pembinaan pemimpin-pemimpin baru. Tanpa multiplikasi begini, kita tidak dapat dihitung sebagai pemimpin yang sukses. Kita mulai dengan mengajak calaon pemimpin baru untuk melihat apa yang kita lakukan.
Langkah ini kelihatannya sangat sederhana, tetapi mengajak mereka melihat apa yang kita lakukan adalah langkah besar. Mereka bahkan dapat melihat bagaimana kita mempersiapkan khotbah misalnya. Banyak hamba Tuhan, para pemimpin, tidak pernah menceritakan dan mengajak orang-orang yang dilatihnya untuk melihat bagaimana dia mempersiapkan khotbahnya atau mempersiapkan suatu acara, bagaimana mempersiapkan rapat dan bagaimana memimpin suatu acara. Ajak mereka untuk melihat Anda melakukannya; libatkan mereka dalam diskusi persiapan; perlihatkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi, supaya mereka tahu bagaimana menemukan jalan keluarnya. Pada langkah ini mereka pelajari prosesnya. Mereka tidak melakukan apa-apa, selain hanya mengobservasi dan bertanya. Setelah itu lakukan langkah kedua, libatkan mereka. Ketiga kalinya kita mengajaknya maju selangkah lagi. Kita semakin melibatkan dia untuk mulai melakukannya. Melalui langkah-langkah ini dia menemukan bagaimana dia harus sensitif terhadap manusia yang dilayaninya karena setiap orang beda. Akhirnya dia pun belajar menemukan sendiri cara yang benar untuk membagikan Injil dalam cara yang dapat dimengerti, yang relevan dan memenuhi kebutuhannya. Anda dapat melatih seseorang menjadi perintis gereja, pemimpin sel, menjadi pemimpin suatu acara atau bahkan membuka sebuah gereja baru dengan prinsip-prinsip yang sama. Ketika kita melatih seseorang untuk menjadi pemimpin sel, cara melatih terbaik adalah sedikit memberi teorinya, lebih banyak ajak dia ke lapangan. Biarkan mereka melihat bagaimana kita memimpin, lalu kemudian kita membiarkan dia mengambil bagian sedikit demi sedikit supaya semakin terlibat sehingga dia tahu persis bagaimana dia harus peka untuk melakukannya. Setelah kita mengamati bagaimana dia memiliki keyakinan untuk melakukannya, jangan berhenti di langkah yang kedua itu, tetapi lanjutukan dengan langkah yang ketiga, yaitu: Anda melakukannya dan saya menolong. Artinya, orang yang kita latih akan melakukan lebih separuh dari pekerjaan itu dan kita hanya menolong. Untuk memperkuat, untuk meyakinkan dia, dan membuat dia semakin tenang dan merasa aman, kita hanya menolong sedikit saja. Akhirnya dia melakukan lebih dari setengah bahkan hingga 90% pekerjaan itu. Setiap kali dia selesai melakukan tugasnya, kita memberikan dia pujian, berikan dia kata-kata positif sambil tidak lupa mengajak dia menemukan sendiri kekurangannya. Penting sekali untuk dia menjadi mampu mengevaluasi dirinya sendiri.
Langkah keempat terjadi setelah kita melihat bahwa mereka dapat melakukannya dan kita dapat mempercayakan mereka untuk sepenuhnya melakukan pekerjaan itu sendiri. Seringkali para pemimpin belum dapat melakukan hal ini, di mana kadang seorang pemimpin belum rela untuk menyerahkan tugasnya itu kepada para junior. Mungkin pemimpin itu berpikir bahwa orang lain akan melupakannya, atau dia berpikir dia akan tersisih dari panggung; tetapi kerinduan Allah adalah agar setiap kita menghasilkan murid dan para pemimpin yang dua kali lebih baik dari kita sendiri. Langkah ke-empat ini sangat menentukan masa depan Gereja. Kita berkata kepada calon pemimpin itu, “Anda melakukan, saya melihat dan saya akan terus menerus mendukung dan mendoakan Anda.” Jika kita tiba pada tahap ini, maka kita baru layak disebut sebagai pemimpin yang berhasil. Karena kita berhasil menghasilkan pemimpin yang baru.
Ingat saudara-saudara, keempat langkah menghasilkan generasi pemimpin baru yang akan mampu membangun atas dasar yang Anda letakkan! 1Kor 3:10; 2Tim 2:1-7.
1. Saya melakukan, Anda melihat.
2. Saya melakukan, Anda menolong.
3. Anda melakukan, saya menolong.
4. Anda melakukan, saya melihat.
Selamat mempersiapkan pemimpin baru! Lakukan langkah-langkah ini dan Anda akan menjadi pemimpin yang sukses.
Kesimpulan
Sebagai penutup semua materi yang disajikan dalam buku ini perlu kita bertanya: “Siapakah seorang pemimpin yang sukses?” Kesimpulan dari bahan yang diberikan menitikberatkan tujuh hal yang penting:
1. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang menemui dan menggenapi rencana Allah bagi hidupnya.
2. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang hidup menurut gaya hidup Allah, diproses melalui karya salib sehingga karakter Yesus menjadi nyata di dalamnya
3. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang memenuhi potensinya sebagai seorang percaya. Allah dengan bangga akan berkata kepadanya, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik.”
4. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang memiliki hati persatuan dan menyadari bahwa kesuksesannya hanya dicapai karena kerja sama dengan semua bagian Tubuh Kristus.
5. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang pengabdiannya kepada Kristus, pelayanannya, doanya, penginjilannya, pengajarannya, visinya dan misinya menjadi teladan yang baik sehingga orang lain mau mengikuti teladan, visi dan misinya itu.
6. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang memultiplikasi atau melipatgandakan dirinya sendiri supaya apa yang diterima dari Tuhan dapat dipercayakan kepada orang lain yang juga sanggup melanjutkannya dan memultiplikasinya.
7. Pemimpin yang sukses adalah seorang yang setia sampai terakhir.
Itulah doa kami agar Anda menjadi pemimpin yang sukses sebab hari ini Tubuh Kristus memerlukannya. Tantangan-tantangan yang kini kita hadapi memerlukan pemimpin-pemimpin yang setia, visionaris, komit dan seperti Kristus. Mari saudaraku, jadilah seorang pemimpin yang sukses!
[1] Penatua – dalam Perjanjian Baru seorang penatua (Yunani – presbuteros), adalah penilik jemaat (Yunani – episkopos) yang menggembalakan sidang jemaat secara kolektif dengan rekan-rekan penatua. Baca penjelasan dalam Kamus Alkitab yang di bagian belakang Alkitab Anda di bawah kata Penatua, kata Gembala dan kata Penilik jemaat. Baca juga Kis 14:23; 20:17-28; Tit 1:5; 1Ptr 5:1-5; 2Yoh 1; 3Yoh1. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kepemimpinan jemaat lokal dalam Gereja mula-mula dilaksanakan oleh beberapa pelayan dewasa (penatua-penatua) yang memiliki hati gembala, dan yang berkapasitas sebagai pemimpin (penilik).
[2] Pengusaha apostolik – Istilah ini mengungkapkan pelayanan rasuli yang dilaksanakan oleh kaum awam lewat usahanya. Mungkin orang ini bukan seorang pengkotbah atau pendeta, namun mau melayani Tuhan sebagai anggota imamat rajani. Usahanya dan talentanya dipersembahkan kepada Tuhan, dan dia menjadi seorang hamba Tuhan yang mengelola usaha itu untuk pelebaran Kerajaan Allah, pemberitaan Injil, pemuridan dan pembukaan ladang-ladang baru.
[3] Pegawai profetik – Inilah pelayanan kenabian yang dilakukan oleh kaum awam lewat pekerjaannya sehari-hari, menjadi suara Allah yang menjadi berkat dan saksi Injil Kristus di lapangan kerja, Why 19:10. Istilah-istilah ini hanya dipakai untuk membuka wawasan pikiran kita yang kadang-kadang hanya menganggap “pendeta” dapat melakukan tugas-tugas itu.
[4] Kristosentris – artinya, berpusat pada Kristus.
***Polycarpus salah satu pemimpin Gereja mula-mula dan seorang yang dimuridkan oleh Rasul Yohanes telah menjadi inspirasi kepada generasinya dengan mempertahankan kesaksiannya sampai terakhir. Kadang-kadang, inilah biaya kepemimpinan yang sukses!***
Tulisan ini di upload ke gpdiworld atas seijin beliau secara lisan ketika bertemu di NYC dalam persinggahan perjalanannya menuju ke Syria. (red).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment