Monday, February 1, 2010

Rev.Jeff Hammond: Leadership (2)

Submitted by Anonymous on Tue, 10/14/2008 - 21:35
7. Mereka peka terhadap arus pewahyuan dan tahu langkah berikut. “Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorangpun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya. Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: ‘Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya”, Why 5:4-5. Rasul Yohanes menangis karena tidak tahu rahasia pembukaan gulungan kitab yang bermeterai tujuh itu, tetapi para penatua sudah tahu sehingga satu dari antara mereka dapat memberitahukan Yohanes langkah berikut di dalam rencana Allah, yaitu bahwa Yesus, Singa dari suku Yehuda sanggup membuka meterai-meterai itu. Nabi Amos menyatakan bahwa Allah memberitahukan rencana-Nya kepada hamba-hamba-Nya sebelum terjadinya. Artinya, Allah mau supaya para pemimpin tahu dan siap untuk menghadapi langkah-langkah berikut dalam program kerja-Nya. Itulah sebabnya pelayanan kenabian sangat penting dan di dalam setiap tim pemimpin perlu ada kepekaan mendengar suara kenabian. “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota dan Tuhan tidak melakukannya? Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, para nabi. Singa telah mengaum, siapakah yang tidak takut? Tuhan Allah telah berfirman, siapakah yang tidak bernubuat?” Am 3:6-8. Seorang pemimpin yang mau menjadi seorang pemimpin yang sukses akan mendengarkan nasihat dari Raja Yosafat, “Percayalah kepada Tuhan, Allahmu dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!” 2Taw 20:20.

8. Mereka adalah penyembah dengan roh dan kebenaran. “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, Tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan … mereka menyanyikan suatu nyanyian baru”, Why 5:8-9. Mereka terus-menerus tersungkur di hadapan Yesus dan mereka memegang alat musik dan menyanyikan suatu nyanyian baru dalam penyembahan. Nyanyian baru itu adalah nyanyian ilhaman dari Roh Kudus. Raja Daud yang terkenal sebagai pemazmur atau penyanyi nyanyian baru, Mzm 33:1-3; 40:1-4; 47:7-8; 96:1-2; 98:1-2; 147:7; 149:1, telah mengaku bahwa nyanyian-nyanyian itu adalah karya Roh Kudus, “Inilah perkataan Daud yang terakhir: ‘Tutur kata Daud bin Isai dan tutur kata orang yang diangkat tinggi, orang yang diurapi Allah Yakub, pemazmur yang disenangi di Israel: Roh Tuhan berbicara dengan perantaraanku, firman-Nya ada di lidahku”, 2Sam 23:1-2. Para pemimpin yang sukses juga adalah penyembah-penyembah dengan roh dan kebenaran, Yoh 4:23-24, sebab penyembah-penyembah demikian adalah berkenan kepada Allah. Karena kasih kepada Yesus, mereka masuk ke tengah-tengah alam penyembahan dengan tidak peduli pendapat orang lain. Penyembahan mereka adalah radikal, bebas, diurapi dengan tidak menahan diri sampai tersungkur di lantai di hadapan Yesus. Mungkin ada yang menganggap bahwa tindakan demikian merendahkan martabat kepemimpinan dan demikianlah pendapat Mikhal, isteri Daud, ketika Daud dengan bebas telah menyembah dan menari-nari di hadapan Tuhan, tetapi karena sikap Mikhal itu dia menjadi mandul, 2Sam 6:11-23; 1Taw 15:25-29. Banyak pemimpin menjadi mandul rohani karena memiliki sikap Mikhal itu. Pemimpin-pemimpin yang sukses adalah penyembah-penyembah radikal di hadapan Tuhan.

9. Mereka adalah pendoa. “Masing-masing memegang … satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus”, Why 5:8. Para pemimpin yang di dalam kepemimpinan Tubuh Kristus akhir zaman yang diuraikan dalam Wahyu 4-5 adalah pendoa-pendoa. Mereka mengadakan doa syafaat bagi umat Tuhan. Dalam tangan mereka adalah cawan emas penuh dengan kemenyan. Ini adalah pelayanan Mezbah Dupa yang berperang penting dalam acara pendamaian, Im 16:12-13; Ibr 9:1-10; Why 8:1-5; 11:1-3. Pemimpin-pemimpin yang akan berhasil adalah mereka yang menyadari peranan doa dan memiliki rasa diri terikat pada nasib jemaatnya. Mereka meyakini dan bersedia mengalami apa yang Paulus ajarkan tentang kesatuan Tubuh Kristus, “Kepala tidak dapat berkata kepada kaki: ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’ Malahan justru anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.” 1Kor 12:21-27. Oleh karena hati para pemimpin bersatu dengan keadaan jemaat, mereka terdorong oleh rasa kasih bagi mereka. Dengan demikian, mereka akan bertindak seperti para pemimpin yang diinginkan Tuhan. Para pemimpin demikian akan menangisi nasib jemaat, kota dan bangsa sambil berdoa kepada Tuhan. Yoel berseru kepada mereka: “Baiklah para imam, pelayan-pelayan Tuhan, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: ‘Sayangilah, ya Tuhan, umat-Mu, dan jangan biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?” Yl 2:17. Mereka juga adalah orang yang bersedia melamar untuk pekerjaan yang diiklankan Tuhan melalui nabi Yehezkiel ketika umat Tuhan sedang berhadapan dengan disintegrasi, kebinasaan dan murka Tuhan. “Hai anak manusia katakanlah kepadanya … pemimpin-pemimpinnya … imam-imamnya … pemuka-pemukanya … nabi-nabinya … penduduk negeri … Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya”, Yeh 22:23-31. Tuhan telah mencari di antara para pemimpin, pemuka, imam, nabi bahkan rakyat untuk seorang yang bersedia berdiri di hadapan Tuhan dan mengadakan syafaat demi keselamatan umatnya tetapi tidak ada yang bersedia melamar! Seorang pemimpin sukses adalah orang yang berani berkata, “Inilah aku, Tuhan, aku bersedia!” Seorang pemimpin demikian akan mengubah sejarah, menyelamatkan umat Tuhan dari bahaya, dan melepaskan banyak jiwa untuk percaya kepada Tuhan. Pemimpin-pemimpin demikian adalah yang benar-benar pemimpin yang sukses.

10. Mereka sanggup menyelesaikan Amanat Agung atau tugas yang diberikan Tuhan. “Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: … Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa”, Why 5:10. “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta”, Why 7:9. Seorang pemimpin yang akan sukses harus mempunyai visi dan misi untuk menyelesaikan tugas injili yang Tuhan berikan. Hanya akan ada satu generasi dalam sejarah yang akan langsung menyaksikan penggenapan visi ini tetapi semua generasi yang mendahuluinya juga bergerak ke arah itu sesuai dengan bagian tugas yang diberikan Yesus kepadanya. Para pemimpin akhir zaman akan melihat kesudahan itu dan akan memimpin suatu kegerakan dahsyat yang akan menghasilkan tuaian global yang tidak terhitung banyaknya. Yesus berkata bahwa cara Dia memuliakan Allah Bapa adalah dengan jalan menyelesaikan tugas yang diberikan kepada-Nya, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya”, Yoh 17:4. Seorang pemimpin sukses akan menangkap tugas yang diberikan kepadanya oleh Tuhan dan akan melakukannya sampai selesai. Oleh karena kita hidup pada akhir zaman, bahkan merupakan generasi pertama dalam sejarah yang sanggup menyelesaikan tugas penginjilan yang diamanatkan kepada kita oleh Yesus pada tahun 30M. Kini kita tahu berapa banyak suku bangsa belum diinjili, berapa banyak yang belum ada Alkitab atau Perjanjian Baru atau Injil Yohanes atau seorang penginjil ataupun seorang Kristen. Kita tahu di mana lokasinya, jumlahnya, bahasanya dan kebudayaannya. Kita tahu berapa banyak Gereja Injili yang ada di dunia dan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas agung itu, tetapi di manakah pemimpin-pemimpin yang bervisi, bersedia dan berkomitmen untuk melakukannya? Kita memerlukan pemimpin-pemimpin seperti kedua puluh empat penatua itu untuk mewujudkan kepemimpinan yang sanggup menyelesaikan tugas itu di seluruh dunia.

[gambar] 3000 pendoa syafaat dari 66 bangsa berkumpul di Stadion Efesus pada tahun 2000 untuk berdoa agar roh Artemis dihancurkan. Tubuh Kristus masa kini sudah mulai memiliki para pemimpin di seluruh dunia yang siap membuat perencanaan dalam doa puasa untuk menemukan strategi Allah agar setiap suku, kaum, bangsa dan bahasa dijangkau dengan Injil.
Bab 4. Motivasi Kepemimpinan yang Benar
“Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!” Yer 45:5. Kepemimpinan Kristiani memiliki banyak perbedaan dengan kepemimpinan sekuler. Salah satu perbedaan besar adalah motivasi yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Dalam dunia sekuler filsafah Machiavelli, seorang Romawi yang mencetus filsafah bahwa akhiran sesuatu membenarkan sarana atau metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam konsep atau filsafah itu seorang pemimpin mungkin saja sedih kalau ada korban yang jatuh dalam mencapai tujuannya namun kalau tujuan itu sudah tercapai itulah hal yang terutama baginya. Artinya, apapun konsekwensinya, berapa pun harganya, kehendakku harus terjadi! Konsep itu bertentangan dengan hati dan sifat kasih Allah yang mempedulikan apa yang terjadi dengan semua orang. Allah tidak mau mengorbankan anggota-anggota Tubuh Kristus untuk mencapai sesuatu tujuan, dan seorang pemimpin yang sukses tidak akan bersedia mencapai suksesnya berdasarkan orang-orang lain yang dihancurkan. Motivasi dalam kepemimpinannya adalah faktor yang sangat penting dalam kesuksesan seorang pelayan.

Motivasi seorang pemimpin yang berhasil
1. Motivasi kemuliaan Allah - melayani agar Allah diberi semua kemuliaan. “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”, 1Kor 10:33. Kesuksesan seorang pemimpin tidak diukur dari pujian dan hormat dan kemuliaan yang diberikan kepadanya karena keberhasilannya melainkan sebagai hasil pelayanannya, Yesus diberi pujian dan hormat dan kemuliaan. Apakah Anda bersedia menjadi tidak dikenal dan tidak diberi hormat dan tidak dipuji walaupun apa yang Anda lakukan itu sangat berhasil dan membawa kemenangan bagi umat Tuhan? Perhatikan kisah tentang seorang yang diceritakan oleh Raja Salomo, “Hal ini juga kupandang sebagai hikmat di bawah matahari dan nampaknya besar bagiku; ada sebuah kota yang kecil, penduduknya tidak seberapa; seorang raja yang agung menyerang, mengepungnya dan mendirikan tembok-tembok pengepungan yang besar terhadapnya; di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu”, Pkh 9:13-15. Walaupun, hampir semua pemimpin tidak akan seperti orang miskin itu, yaitu tidak dikenal, namun kesediaan untuk tidak dikenal harus menjadi bagian dari motivasinya. Yohanes Pembaptis sudah dikenal tetapi kerinduan hatinya adalah, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”, Yoh 3:30. Yang terutama adalah Yesus ditinggikan, dimuliakan, disanjung tinggi dan tugas yang diberikan-Nya kepada kita dilaksanakan sepenuhnya. Kerinduan utama dalam kehidupan Musa, salah satu pemimpin sukses yang luar biasa, adalah untuk melihat kemuliaan Tuhan, Kel 33:18. Dia tidak mencari kemuliaan dan hormat dan kepujian bagi dirinya sendiri melainkan bagi Tuhan. Kalau Anda mau menjadi pemimpin yang sukses jadikanlah ini tujuan utama kehidupan dan pelayanan Anda.

2. Motivasi penggembalaan - melayani demi kebaikan mereka yang dipimpin. “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat”, 1Kor 10:32-33. Rasul Paulus berulang kali menegaskan prinsip yang sama dalam pelayanannya, yaitu bahwa dia lebih mementingkan mereka yang dilayaninya dari pada menuntut hak-hak bagi dirinya sendiri, 1Kor 6:12; 10:23, dan bahwa tindakan-tindakannya adalah benar-benar bagi kebaikan mereka, 2Kor 2:1-4; 12:14-19; Flp 1:21-26; Kol 2:1. Yesus telah menegaskan motivasi penggembalaan ini sebagai persyaratan mutlak menjadi seorang pemimpin yang sukses. Seorang pemimpin yang sejati bersedia menyerahkan hidupnya demi keselamatan mereka yang dilayani dan tidak akan lari ketika mereka diserang. Dia bersedia berhadapan dengan bahaya dan mengorbankan dirinya sendiri demi melindungi mereka yang dipimpinnya. Itulah kasih yang ada dalam hati seorang pemimpin yang akan sukses. “Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu”, Yoh 10:11-13. Seorang pemimpin yang baik memiliki kepedulian terhadap setiap domba yang langsung dilayaninya. Dia mengenal namanya secara pribadi, Yoh 10:3, dan meninggalkan sembilan puluh sembilan yang aman untuk mencari yang sesat dan membawanya kembali ke kandang domba, Mat 18:12-14.
3. Motivasi injili - melayani demi keselamatan mereka yang belum selamat. Seorang pemimpin yang sukses akan memiliki hasrat yang berkobar-kobar, semangat yang penuh kerinduan dan hati yang penuh kasih yang berapi-api untuk melihat jiwa-jiwa yang belum selamat datang bertobat dan percaya kepada Yesus. Bukan hanya seorang penginjil yang memiliki hasrat (passion) demikian namun semua jenis pelayanan harus mempunyai hasrat dan visi itu. Seorang gembala, misalnya, mempunyai tugas penggembalaan dan perawatan domba-domba, yaitu orang yang sudah percaya. Namun, selain memelihara kesehatan domba-domba, dia juga mengatur pertumbuhan mereka supaya mereka sanggup berkembang-biak, yaitu membawa jiwa-jiwa lain kepada Yesus. Seorang guru, selain mementingkan kemurnian pengajaran dan pemahaman kebenaran di antara umat Tuhan, juga mau melengkapi mereka dengan pengetahuan tentang kerinduan, rencana dan strategi Allah untuk memenangkan jiwa-jiwa. Tanpa memiliki motivasi injili seorang pemimpin tidak akan benar-benar sukses. Paulus sebagai seorang rasul memiliki motivasi injili itu dalam pelayanannya dan menunjukkan bahwa semua jenis pelayan melayani “untuk Injil”, “Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru”, 2Tim 1:11. Kepada jemaat Korintus Paulus katakan, “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. … Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku, sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil”, 1Kor 9:11-23. Misi agung Yesus juga adalah menyelamatkan jiwa-jiwa yang belum selamat, “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”, Luk 19:10. Dalam Injil Matius, Yesus menceritakan kisah seekor domba yang menghilang yang perlu ditemukan kembali sebab Bapa tidak menghendaki ada satu pun dari anak-Nya yang hilang. Jadi itulah tugas penggembalaan untuk memelihara semua domba-domba itu dengan baik. Dalam Injil Lukas, Yesus mengkaitkan cerita itu dengan kepedulian Allah dan sukacita sorgawi atas jiwa-jiwa yang bertobat dan memperoleh keselamatan, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat”, Luk 15:7.
4. Motivasi Kerajaan – melayani untuk mengembangkan Kerajaan Allah. “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”, Mat 6:9-10. Setiap pemimpin harus bermotivasi dan berkomitmen untuk mengembangkan Kerajaan Allah dan bukan mengembangkan agenda dirinya sendiri, atau denominasinya, dan bukan pula jemaat lokal yang dipimpinnya. Kita ini adalah pelayan Sang Raja, Tuhan Yesus Kristus, dan itulah Kerajaan Allah yang harus menjadi fokus kita. Segala sesuatu yang lain harus tunduk kepada itu. Dalam Kitab Hagai, umat Tuhan, karena kecewa dan putus asa terhadap pemulihan Rumah Allah, telah lupa tugas dan visi utama lalu mereka mulai membangun rumah-rumah mereka sendiri, Ezr 4:1-24; Hag 1:2-11. Mereka ditantang untuk kembali kepada fokus utama, yaitu pembangunan Rumah Tuhan. Setelah mereka mengambil keputusan untuk taat kepada Tuhan, terjadilah kegerakan rohani dan Allah menolong mereka, menyertai mereka dan memberi janji-janji tentang kemuliaan-Nya yang akan dicurahkan atasnya, Hag 1:11-14; 2:1-10. Masa kini, kita memerlukan pemimpin-pemimpin seperti Hagai, seorang nabi, Zerubabel, seorang raja dan Yosua, seorang imam, yang sanggup mempersatukan Tubuh Kristus untuk berhenti dari usaha membangun kerajaan-kerajaan sendiri lalu mengarahkannya untuk bersatu dalam pembangunan Kerajaan Allah. Kesuksesan seorang pemimpin di hadapan Tuhan akan diukur dari motivasi itu. Walaupun tugas seseorang adalah dalam bidang khusus, misalnya penggembalaan jemaat lokal, yang tidak bersifat interdenominasi atau usaha persatuan Tubuh Kristus, namun yang penting adalah memiliki hati persatuan dan hati untuk membangun Kerajaan Allah dan bukan kerajaannya sendiri.

Motivasi kepemimpinan yang salah
Kalau Anda ingin menjadi seorang pemimpin yang sukses ada beberapa hal yang harus dihindari. Motivasi-motivasi yang keliru ini akan merusakkan pelayanan Anda dan akan merugikan mereka yang dilayani.

1. Keinginan atau ambisi untuk menjadi yang terutama. Yesus dan para rasul telah menunjukkan motivasi ini sebagai satu bahaya yang akan menantang para pemimpin atau calon pemimpin. Kesombongan dan egoisme telah membuat banyak pemimpin begitu menikmati posisi sebagai pemimpin sehingga mereka bersedia menghancurkan semua orang yang dirasanya adalah saingannya. Itulah sebabnya dalam dunia pemerintahan di seluruh dunia dan di sepanjang sejarah ada pemimpin-pemimpin yang baik yang kemudian menjadi diktator yang bengis dan jahat. Sayang sekali hal yang sama terjadi dalam kalangan orang percaya. Tabiat ini berasal dari Iblis sendiri dan kata-kata Iblis dikutip oleh Yesaya ketika menceritakan kejatuhan Iblis itu, “Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan aku hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh di utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, dan [aku] hendak menyamai Yang Mahatinggi!” Yes 14:13-14. Yudas Iskariot, salah satu murid pilihan Yesus, menjadi hancur karena tabiat Iblis itu lahir di dalam hatinya sehingga dia kerasukan lalu mengkhianati Yesus, Luk 22:3-6; Yoh 13:21-30; Yoh 18:4-9; Mk 14:10-11,21; Kis 1:16-20. Tabiat yang serupa kemudian mulai muncul dalam gereja. Paulus menasihati para pemimpin sidang jemaat Efesus bahwa akan ada dua jenis hamba Tuhan yang akan berusaha menghancurkan pelayanan mereka. Serangan pertama adalah rasul-rasul palsu, nabi-nabi palsu, guru-guru palsu yang disebut “serigala-serigala”, Kis 20:29, yang kemudian ditolak oleh mereka, Why 2:2. Tetapi serangan kedua adalah serangan internal, “Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikuti mereka”, Kis 20:30. Bahwa mereka memiliki tabiat kesombongan dan keinginan menjadi terutama adalah jelas dari kata-kata Paulus. Mereka ‘muncul’ atau naik. Mereka meninggalkan kebenaran lalu mengembangkan pengajaran palsu untuk membenarkan tindakannya untuk memecahkan jemaat, bahkan mereka egosentris bukan Kristosentris[4] sebab mereka mencari menarik orang dari mengikuti Yesus sehingga “mengikuti mereka.” Rasul Yohanes menunjukkan gejala yang sama dalam salah satu jemaat di Asia Kecil. Dari antara para penatua, Gayus, Demetrius dan Diotrefes, Diotrefes itu mengambil tindakan untuk menjadi yang terutama dalam jemaat. Yohanes berkata bahwa Diotrefes itu “ingin menjadi orang terkemuka di antara mereka”, 3Yoh 9-10. Untuk mencapai tujuan itu ia memfitnah Rasul Yohanes, menolak utusan rasuli, dan memecat siapa-siapa yang bersedia menerima mereka. Untuk mengatasi sifat atau kecenderungan itu kita perlu mendengarkan nasihat-nasihat Firman Tuhan dan memiliki pikiran Kristus dan kesediaan-Nya menjadi hamba untuk melayani kita, Flp 2:5-8, dan benar-benar memiliki kasih, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong … dan tidak mencari keuntungan diri sendiri”, 1Kor 13:4-5.
2. Keinginan untuk mengontrol, memanipulasi dan mempengaruhi orang lain untuk kepentingan pribadi. “Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu”, 1Ptr 5:3. Gejala ini nyata dalam Diotrefes, 3Yoh 9-10, yang kita sudah bicarakan. Ada terlalu banyak hamba Tuhan menganggap peranannya sebagai seorang gembala atau pemimpin sebagai suatu hak untuk menuntut orang lain taat kepadanya. Ini adalah pola kepemimpinan yang berlawanan dengan ajaran Yesus. Yesus telah mengajarkan kehambaan bahkan telah menjadi suatu teladan bagi kita, Yoh 10:11-18; Flp 2:1-11. Yesus juga berkata, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”, Mk 10:42-45. Gejala manipulasi dan kontrol juga mulai nyata dalam jemaat-jemaat di Asia Kecil. Di Efesus dan Pergamus kita lihat ajaran Nikolaus yang Yesus katakan dibenci-Nya, Why 2:6. Nikolaus, arti namanya adalah ‘yang mengalahkan rakyat’ atau ‘diktator rakyat’. Suatu roh kontrol yang memerintah dengan kekerasan. Di Pergamus ada juga ajaran Bileam, Why 2:14. Ajaran Bileam adalah ajaran yang menggunakan karunia nubuatan untuk menyesatkan umat Tuhan dan untuk menguntungkan diri sendiri. Manipulasi demikian sangat dibenci oleh Yesus. Di Tiatira Yesus berkata, “Engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku”, Why 2:20. Lewat godaan kecantikan dan janji kesenangan banyak pemimpin dihancurkan, dan karena usaha untuk memuaskan diri banyak hamba Tuhan telah memanipulasi jemaatnya sehingga pelayanannya dan kadang-kadang jemaatnya dihancurkan. Kami sudah melihat tragedi ini melanda beberapa jemaat dan dampaknya sungguh menyedihkan. Kalau Anda ingin menjadi hamba Tuhan yang sukses, perhatikan nasihat Paulus kepada para pemimpin sidang jemaat Efesus, “Jagalah dirimu”, Kis 20:28, dan caranya untuk menjaga dirinya sendiri, 1Kor 9:24-27.
3. Keinginan untuk mencapai sesuatu bagi diri sendiri. Banyak orang merasa perlu mencapai sesuatu supaya mereka menganggap hidup mereka di dunia ini sudah berguna dan berharga. Dari satu segi adalah baik bahwa dalam kehidupan kita ada rasa puas, berguna, berharga dan bahwa kita sudah mencapai sesuatu, asal bukan itu yang menjadi motivasi yang terutama. Tentu, sebagai orang percaya kita mau hidup berguna dan berharga di hadapan Tuhan, dan Tuhan mau supaya kita hidup dengan rasa puas bahwa hidup kita sudah menyenangkan Dia. Tetapi keinginan-keinginan itu dicemari bila keinginan-keinginan itu adalah egosentris sehingga orang-orang lain menjadi korban demi kita mencapai tujuan kita itu. Paulus menyebut orang-orang seperti itu, orang yang “lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah”, 2Tim 3:4. Kehidupan dan pelayanan yang berdasarkan fondasi lain daripada memuaskan hati Allah adalah sama seperti membangun dengan bahan-bahan yang mudah terbakar, tetapi kalau kita membangun dengan motivasi memuaskan Allah, pekerjaan kita akan tahan uji dan pada akhirnya akan juga menghasilkan rasa puas, berguna dan berharga, 1Kor 3:10-17; 1Kor 13:1-5; 1Ptr 5:2. Motivasi yang menyatakan keadaan isi hati, adalah penting kepada Tuhan, Mat 5:27-28; 12:33-37; Mk 7:20-23; Yer 17:9-10; Ams 4:23. Allah mau kita hidup dalam berkat-Nya dan puas, tetapi bukan mencari hal-hal itu yang menjadi motivasi kita. Motivasi sejati adalah menyenangkan hati Allah dan dari dasar itu Allah akan memberikan kita keinginan hati kita. Perhatikan kesaksian Raja Daud: “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram … Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa”, Mzm 16:8-11. “Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu”, Mzm 37:4. Yesus berkata, “Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”, Yoh 10:10. “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”, Mat 6:33. Apakah Anda sebagai seorang pemimpin boleh merasa puas, merasa sudah mencapai sesuatu, dan bahwa hidup Anda sudah berguna dan berharga? Tentu boleh! Itulah buah kehidupan yang diberikan untuk menyenangkan hati Allah, tetapi kalau hal-hal itu menjadi keinginan utama kita, kita tidak akan mencapainya dan sebaliknya akan merasa frustrasi dan tidak berharga. Kalau kita mau menjadi seorang pemimpin yang sukses, ada baiknya kita mendengarkan nasihat yang diberikan Rasul Paulus kepada Timotius sebagai seorang pemimpin muda yang sedang berkembang di dalam kepemimpinannya, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia”, 2Tim 2:21. Dengan demikian ada potensi untuk Anda menjadi seorang pemimpin yang dahsyat yang akan sanggup mengubah sejarah dan kepada-Nya adalah segala kemuliaan! “Nantikanlah Tuhan dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri”, Mzm 37:34.
Bab 5 Pembentukan Para Pemimpin yang SuksesDasar baik dalam kehidupan seorang pemimpin yang sukses
Satu hari ada seorang tua di satu desa yang ditanya, “Apakah pernah ada orang yang terkenal lahir di desa ini?” Setelah berpikir beberapa saat orang yang tua dan bijak itu berkata, “Tidak! Hanya bayi-bayi!” Pemimpin-pemimpin yang sukses tidak lahir, mereka dibentuk. Dalam bab ini kita akan melihat beberapa dasar penting yang harus diletakkan dalam kehidupan seorang supaya dia boleh menjadi seorang pemimpin yang sukses. Lalu kita akan melihat bagaimana hal-hal itu diletakkan di dalam hidupnya.

Pembentukan karakter seorang pemimpin
“Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan”, Mzm 37:37. Tanpa karakter yang baik seorang tidak punya masa depan sebagai pemimpin yang sukses. Allah lebih peduli karakter Anda daripada prestasi Anda! Karakter dibentuk melalui berbagai faktor yang jatuh ke dalam dua bagian besar, yaitu faktor alam jasmani dan faktor alam rohani.

1. Faktor alam jasmani. Keadaan kehidupan jasmani adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter setiap orang. Ini termasuk karakteristik-karakteristik keturunan yang kita warisi dari orang tua kita, lingkungan dan prinsip-prinsip etika, budi pekerti dan pergaulan yang ditanam dalam hidup kita sejak kecil. Pengaruh dari tekanan ekonomi, jenis pelajaran dan pergaulan pendidikan, dan pengalaman yang kita lalui adalah hal-hal lain yang penting dalam pembentukan karakter kita di alam jasmani.

2. Faktor alam rohani. Setelah kita bertobat dan percaya kepada Kristus secara pribadi, akan terbuka bagi kita berbagai pengaruh baru dalam pembentukan karakter kita. Di dalam Kristus kita sudah menjadi “ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”, 2Kor 5:17; Ef 4:17-32; Kol 3:5-17. Ini adalah benih kelahiran yang baru dan lain dari apa yang ada sebelumnya, Yoh 8:37-47; Yoh 3:1-8; 1Ptr 1:23; 1Yoh 3: 7-10. Sekarang Kristus ada di dalam kita, Gal 2:20; Kol 1:27. Oleh karena itu karya Roh Kudus mulai membentuk karakter Kristus di dalam kita dengan buah-buah Roh, Gal 5:22-23; Flp 4:8; dan kesanggupan kuasa Roh, 1Kor 12:7-11; Kol 1:29; 1Kor 3:6. Firman Allah kini hidup di dalam kita dan dari Firman itu kita mengambil bagian di dalam kodrat Ilahi, 2Ptr 1:3-4; Mzm 119:10-11; Ibr 4:11; Kol 3:16. Semuanya itu diproses oleh Allah di dalam kehidupan kita melalui berbagai pengalaman dan pendisiplinan dari Allah, Ibr 12:5-8. Petrus berkata bahwa hal-hal itu akan membuat kita berhasil, 2Ptr 1:3-8, dan penulis Ibrani berkata bahwa oleh karena Yesus menang melalui proses pendisiplinan itu Dia sanggup menjadi Juruselamat kita, Ibr 5:7-10. Raja Daud juga melalui proses-proses itu dalam pembentukan karakternya sehingga dia menjadi seorang pemimpin yang sukses, 1Taw 13-15; Mzm 40:3-4; 51:3-17; 2Sam 23:1-2. Faktor-faktor jasmani dan rohani dapat dimanfaatkan dan dikembangkan di dalam kehidupan kita melalui penyerahan kepada Kristus sehingga apa yang mungkin dianggap kurang beruntung dapat diubahkan menjadi sesuatu keuntungan di dalam perkembangan kapasitas kepemimpinan kita. Segala sesuatu bekerja bersama-sama “untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”, Rom 8:28.
Pembentukan kapasitas kepemimpinan
Kapasitas seorang pemimpin juga terdiri dari faktor-faktor jasmani dan rohani yang akan dipengaruhi oleh kerajinan pemimpin itu dalam mengembangkan dan memanfaatkan apa yang ada padanya.

1. Faktor-faktor jasmani. Setiap orang telah lahir dengan berbagai talenta dan satu orang adalah lain daripada orang yang lain. Faktor-faktor ini termasuk bentuk badan, penampilan, kecerdasan, suara, personalitas dan hal-hal lain. Faktor-faktor itu dapat merupakan keuntungan atau kerugian bagi seorang dalam pemandangan manusia sehingga ada yang lebih mudah dianggap ‘calon pemimpin’, namun dalam jangka waktu yang panjang, yang paling menentukan adalah apa yang seorang berbuat dengan keuntungan atau kerugian itu dan perkembangan karakter Kristus di dalamnya.

2. Faktor-faktor rohani. Tuhan memberikan karunia-karunia dan talenta-talenta yang tidak lahir di dalam kita melainkan dikaruniakan kepada kita oleh kesanggupan Allah sendiri, 1Kor 12:1-11; Ef 4:7-16; Rom 12:3-8; Kol 1:29. Karunia-karunia itu diberikan secara pribadi dengan tujuan khusus, yaitu, untuk melengkapi kita untuk tugas atau panggilan ilahi dalam hidup kita. Hal ini kita tidak warisi dari orang tua atau peroleh dari pendidikan, semuanya diberikan kepada kita bukan berdasarkan faktor-faktor jasmani melainkan semata-mata supaya kita siap melayani Dia menurut rencana dan kehendak-Nya.

3. Faktor kerajinan. Perkembangan dan penggunaan faktor-faktor jasmani dan rohani akan ditentukan oleh faktor kerajinan. Seorang pemimpin yang efektif harus rajin. Dia harus lebih dari seorang ahli Alkitab atau pencetus ide-ide baru. Dia harus aktif, sibuk, rajin dan produktif. Arti dari rajin adalah ‘memberi perhatian, aktif dan tekun.’ “Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa. … Orang mal

No comments:

Post a Comment