Submitted by Adrian Saroinsong on Tue, 12/22/2009 - 10:30
"Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi, dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan"
Ada tiga ciri Natal : 1. seorang bayi
2. dibungkus dengan lampin
3. terbaring di dalam palungan
Tiga ciri Natal ini merupakan gambaran "ciri orang Kristen sejati".
Tanda seseorang adalah Kristen sejati bukanlah : merayakan Natal (non Kristen pun banyak yang ikut merayakan Natal), memasang pohon terang (toko-toko non Kristen pun menjual pohon natal), hadir dalam kebaktian Minggu, berdoa sebelum makan, memberi persembahan, persepuluhan, di lehernya ada kalung salib, menjadi pejabat Gereja (guru sekolah Minggu, ketua wanita, ketua pria, majelis jemaat, Majelis Daerah, Majelis Pusat) pengkhotbah dan ciri agamawi lainnya. Semua itu tidak salah dan bukan masalah, tetapi
sama sekali itu bukanlah ciri-ciri Kristen sejati.
1. Seorang bayi
Ini merupakan gambaran tentang ketulusan dan kemurnian hati.
Bayi itu sangat tulus, hatinya murni, bersih, belum tercemar sedikit pun oleh dendam, iri hati, kebencian, kecurangan, keserakahan, ketamakan, kemunafikan, dusta, gosip, fitnah, haus kedudukan, egois dan segala kejahatan. Andaikata bayi di ludahi, dimarah, difitnah, digosipkan, ia tidak akan membalas. Dia hanya tertawa atau menangis, tidak lebih dari itu. Orang Kristen adalah orang yang hatinya tulus dan murni bagai bayi.
Tanpa ketulusan dan kemurnian hati, maka ia bukan orang Kristen sejati. Dunia ini dirusak oleh orang-orang yang pintar, berbakat, berkharisma, hebat dan luar biasa tetapi hatinya tidak tulus dan murni. Sehingga rela menghancurkan orang lain, kelompok lain dan siapa pun demi kepentingan diri dan kelompoknya. Jangan terjadi dalam gereja!
Alangkah indahnya kalau dalam gereja banyak yang pintar, berbakat, berkharisma, hebat, luar biasa dan hatinya tulus dan murni. Itu sebabnya Yesus berkata : " . . . sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." - Mat.10:16
Cerdik tanpa ketulusan adalah licik, culas yang merugikan dan menghancurkan orang lain, bahkan orang banyak demi maksud dan kepentingan pribadi. Tulus tetapi tidak cerdik, dapat dipermainkan oleh orang cerdik berhati jahat. Tulus harus disertai cerdik atau bijaksana. Raja Daud dimusuhi oleh banyak orang, antara lain rajanya sendiri sewaktu ia menjadi pemetik kecapi di istana raja Saul, anaknya sendiri Absalom dan orang-orang dekatnya. Itulah sebabnya ia selalu menjaga hati supaya tetap tulus dan murni dengan tidak membenci kepada pembencinya, menggosip orang yang menggosipkan dia dan membalas kejahatan dengan kejahatan.
"Ujilah aku, ya Tuhan, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." - Maz.26:2
Jikalau seluruh anggota keluarga tulus dan murni hatinya, maka keluarga bagaikan sorga kecil di dunia. Jikalau dalam sebuah Gereja lokal gembala, pelayan-pelayan dan anggotanya seperti bayi yang tulus dan murni, maka Gereja lokal itu menjadi sorga kecil di dunia. Gereja yang beginilah yang dicari banyak orang yang haus akan Allah dan membutuhkan kedamaian dan ketenangan batin. Jalan terbuka lebar Gereja itu bertumbuh kualitas dan kuantitas.
Jikalau Gereja Pantekosta di Indonesia mulai dari Majelis Pusat, Majelis Daerah, Majelis Wilayah dan gembala-gembalanya berhati tulus dan murni, maka GPdI menjadi sorga kecil di Indonesia, Singapura, Malaysia, Australia, Amerika dan di mana saja GPdI berada. Jikalau GPdI bersih dari gosip, fitnah, kebencian, perpecahan, saling menghancurkan dan menjatuhkan, gila kedudukan, pembohongan, pembodohan, egois dan lain-lain kejahatan, maka GPdI akan bersinar dengan terang Kerajaan Allah sehingga dicari oleh banyak orang. GPdI harus bersiap mengalami panen raya jiwa-jiwa di akhir zaman, sesuai dengan nubuatan Alkitab. - Yes.60:1-7; Yoel 2:28-32; Mikh.4:1-2
Ketulusan dan kemurnian hati sudah menjadi barang langka di dunia.
Puji Tuhan, ketulusan dan kemurnian hati masih menjadi dambaan kita umat pilihanNya.
Doa : "Bapa, sucikanlah hati dan pikiranku dengan kuasa darah Yesus, dan tolonglah
hambaMu ini, agar oleh anugerah Allah dan pertolongan Roh Kudus
memiliki hati yang tulus dan murni."
"Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan. " - 1 Pet.2:1-2.
"Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain lampin..." Luk.2:12
2. Dibungkus dengan kain lampin.
Kain lampin menggambarkan kebenaran Allah. Inilah kekristenan yang sejati, yaitu dibungkus oleh kebenaran Allah. Bukan oleh kebenaran manusia. Ada dua kebenaran : kebenaran Allah dan kebenaran manusia.
Kebenaran manusia adalah kebenaran dalam konsep, pandangan, upaya dan hikmat manusia. Kebenaran manusia seperti kain kotor (Isa. 64:6).
Yesus adalah kebenaran (John.14:6). Firman Allah adalah kebenaran (John.17:17). Roh Kudus adalah Roh Kebenaran (John.16:13). Kebenaran adalah mutlak milik Allah, hanya ada di dalam Allah. Di luar Allah, apa pun itu, apakah nabi, rasul, malaikat, pemimpin agama, buku agama, buku rohani, khotbah (siapa pun), termasuk artikel ini bukanlah kebenaran, tetapi harus sesuai dengan kebenaran.
Tanpa Yesus, kita terbungkus kain kotor. Sebelum dalam Yesus, kita terbungkus kebenaran sendiri. Keramahan, kelembutan, kebaikan, kerohanian, karakter, semua adalah produk manusia lama kita. Sebaik apa pun, sesaleh apa pun seseorang, kebenarannya adalah produk manusia berdosa yang bagaikan kain kotor di hadapan Allah. Tetapi di dalam Yesus, kita dibenarkan oleh sebab iman, sehingga menjadi orang benar oleh sebab darah Yesus yang menebus kita. Haleluyah!
Sebagai orang benar, maka kita harus terbungkus kain lampin. Kebenaran menjadi gaya hidup kita, membungkus seluruh aspek kehidupan kita. Hati dan pikiran, perkataan dan perbuatan, pelayanan dan ibadah, dalam pergaulan dan pekerjaan, seluruhnya terbungkus di dalam kebenaran Allah. Yesus ada dalam hidup kita, Dialah kebenaran kita (John.14:6). Yesuslah yang menjadi pusat dan terutama dalam hidup kita. Kita hidup dalam kebenaran firman Allah yang menjadi pegangan, acuan dan standard kehidupan kita (John.17:17). Kita melakukan kebenaran, bukan berteori atau hanya berteologi kebenaran tetapi tidak mempraktekkannya.
Jangan terperosok kepada kebenaran Farisi. Meneriakkan kebenaran, merasa paling benar, paling rohani, paling alkitabiah, tetapi tidak melakukan kebenaran. Jangan terjebak menjadikan peraturan manusia sebagai kebenaran yang dikendalikan manusia dan disesuaikan dengan kehendak, standard, logika manusia. Jangan menggunakan kebenaran untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk melakukan kehendak Bapa. (Mat.15:7-9).
Kebenaran itu tidak abu-abu kata om RG Brodland dalam Seminar Gembala GPdI Jawa Barat yang baru-baru ini diadakan di Cipanas. Tetapi sekarang banyak yang teorinya putih atau hitam, tetapi prakteknya abu-abu.
Di Eropa dan Amerika sudah ada Gereja yang menikahkan pasangan sejenis. Sefaham dengan dunia. Di Connecticut (USA) seorang Pendeta Gereja Assembelies of God di penjarakan karena menolak pernikahan sejenis dan berkhotbah "pernikahan sejenis" itu dosa. Ia dipenjara karena dianggap melanggar Undang-undang Negara Bagian Coneccticut yang sudah mensahkan pernikahan sejenis. Nonkompromi dengan dunia.
Di dunia politik dan pemerintahan di Indonesia sudah rahasia umum, adanya money politik untuk "mencapai kedudukan tertentu". Pantaskah di Gereja Tuhan pun ada money politik untuk mencapai "suatu Ketua"? Jikalau seorang "kandidat" memang gaya hidupnya suka memberi, walau tidak ada pemilihan suatu Ketua, itu sih no problema. Tetapi bila mendadak menjadi "pemberi" karena atau di masa menjelang pemilihan suatu Ketua, itu sama dengan dunia, kompromi! Mudah-mudahan di GPdI tidak ada. Wait and see. Kita berdoa, supaya GPdI yang kita cintai ini terbungkus oleh kebenaran secara adil.
Orang kristen sejati bukanlah sudah sempurna, tetapi orang kristen yang rindu dan berupaya agar kehidupannya terbungkus dengan kebenaran. Pikiran, perasaan, prilaku, perkataan dan seluruh aspek kehidupan yang menjadikan Yesus sebagai penguasa tunggal, mencintai, memegang dan melakukan firman Allah dengan sepenuh hati, dan dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus menguatkan kita agar terbungkus kain lampin.
Terbungkus kain lampin juga berbicara tentang kesederhanaan dan kesopanan. Memang hal ini relatif, tetapi bukankah kita mempunyai hati nurani masing-masing yang dapat menyesuaikannya dengan ketulusan, kemurnian dan kebenaran?
Kesederhanaan adalah sikap hati yang kemudian keluar menjadi sikap hidup yang apa adanya, berpada dengan yang ada, tidak berlebihan. Tidak pamer atau show, sengaja menunjukkan sesuatu. Apakah itu kekayaan, kemewahan, keistimewaan, kehebatan, juga pamer kemiskinan, kesederhanaan, kesahajaan, supaya dianggap sederhana.
Orang kristen pun harus bersikap sopan santun. Walau itu pun relativ. Tetapi sekali lagi, bukankah kita memiliki hati nurani yang tulus, murni dan terbungkus oleh kebenaran. Kadang-kadang ada orang kristen yang setia, rajin dan aktif di gereja, tetapi sayang kesehariannya tidak tahu sopan santun, dan tidak menyadarinya. Orang Manado menunjuk sesuatu dengan telunjuk, itu sopan. Tetapi ortang Jawa dan Sunda menunjuk sesuatu apalagi menunjuk orang tidak berani dengan telunjuk, itu tidak sopan. Melainkan dengan jempol. Kesopanan pun dimulai dari hati yang menghormat orang lain siapa pun dia tanpa memilih bulu dan memandang muka. Anak Amerika menyebut papa mamanya dengan kata you, bahkan ada yang memanggil dengan nama. Sopan. Jangan coba-coba anak Indonesia menyebut "kamu" kepada orang tuanya apalagi namanya.. Itu sangat tidak sopan! Orang kristen adalah orang yang nampak terbungkus kain lampin. Berbicaralah dengan sopan santun, berperilakulah dengan sopan santun, jadilah orang-orang tua dan anak-anak muda, pria dan wanita, pemimpin dan pelayan yang sopan dan santun. Kebenaran, kesederhanaan dan kesopanan harus membungkus kehidupan kita menjadi gaya hidup. Roh Kudus menolong kita, sehingga kita menjadi berkat. Tuhan memberkati -
" Dan inilah tandanya bagimu :...terbaring di dalam palungan ." Luk. 2 : 12.
3. Terbaring di dalam palungan
Terbaring di dalam palungan gambaran tentang lemah lembut dan rendah hati.
"Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat kesenangan." - Mat.11:29.
Betapa rendah hatinya Yesus Putera Allah, Pencipta langit dan bumi. Sewaktu Ia turun ke dunia menjadi manusia, rela memilih terbaring di dalam palungan.
Sangat berbeda dengan sebagian orang di dunia ini. Sewaktu pegawai biasa, jalannya, cara berbicaranya, sikapnya biasa saja. Seminggu sesudah menjadi Direktur, jadi luar dari biasanya (bukan luar biasa), agak formal, orang lain harus duluan menyapa kalau nggak tidak disapa, tidak boleh dipanggil lagi bapak tapi bapak direktur dan kelebihan
lainnya. Tetapi berbeda dengan orang Kristen yang menjadi Direktur, ia tetap menghormati bawahannya dan sesamanya, tidak gila hormat, puji dan puja, tidak berubah.
Tanpa sadar Natal membuat sebagian orang Kristen berubah tidak Kristen. Bukan terbaring di dalam palungan, tetapi mirip pohon natal yang gebyar-gebyar. Sombong karena baju baru, sepatu baru, rambut gaya baru, acara natal yang ngegebyarrr, dan kegebyaran lainnya. Keluar dari esensi Natal yang menjadi esensi kekristenan yaitu lemah lembut dan rendah hati. Ada gereja yang terpecah gara-gara Natal. Ada yang karena baju seragam, konsumsi, acara, ada yang karena keuangannya tidak beres.
Natal yang tidak kristiani sama sekali. Mengapa? Karena sudah kehilangan kekristenan sejati yaitu lemah lembut dan rendah hati. Sebenarnya bukan masalah baju baru, sepatu atau acara, tetapi masalah hati yang tidak mau terbaring di dalam palungan, tetapi di "kekerasan dan ketinggian hati". Tidak rela untuk merendah.
"Aku bersemayam di tempat tinggi dan tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati" - Isa.57:15.
"Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi." Mat.5:5.
Lemah lembut adalah sikap hati yang rela dibentuk, yang mau menerima pembentukan, kerelaan hati untuk berubah. Lemah lembut adalah respon yang benar terhadap firman
Allah dan kebenaran. Rendah hati adalah sikap hati yang bergantung kepada Allah disertai sikap hati dan sikap hidup yang menempatkan diri di tempat yang lebih rendah dari orang lain. Lawan dari keduanya adalah sombong, dosa pertama dalam kekekalan. (Isa.14:12-15; Eze.28:11-17)
"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani
orang yang rendah hati" (1Pet.5:5-6).
Tujuh manifestasi kesombongan:
1. Merasa diri lebih dari orang lain - suka merendahkan orang lain.
2. Egois - keakuan yang ekstrim, semua untukku, aku, aku. Mau menang sendiri.
3. Pudirsen - puji diri sendiri. Hoby memuji diri sendiri dan berkata "bukannya sombong, aku . . . aku . . . ". Haus pujian, orang Manado bilang "makang puji".
4. Iri hati - dengki.
Tidak senang orang lain atau orang tertentu lebih dari dirinya. Hatinya jahat.
Menangis melihat orang lain tertawa, tertawa melihat orang lain menangis.
5. Keras hati - kepala batu - keras kepala - tegar tengkuk - keras tengkuk.
Sikap hati yang tidak mau diubah dan berubah. Berani berkata yang salah itu benar, yang benar itu salah karena kepentingan. Sekali putih tetap putih, padahal itu merah dan ia sadar bahwa memang itu merah. Sombong!
6. Pemberontakan - perlawanan.
Spirit melawan yang kuat, sehingga selalu berkata "tidak, tidak dan tidak mau."
7. Penolakan.
Sikap hati yang menolak seseorang karena suatu perbedaan atau karena alasan tertentu.
Siapakah orang paling sombong di dunia?
Orang yang menganggap orang lain paling sombong dan dirinya paling rendah hati.
Orang Kristen adalah orang yang lemah lembut dan rendah hati.
Kesimpulan:
Ciri orang Kristen adalah : hati yang tulus dan murni, hidup dalam kebenaran, sederhana dan sopan, lemah lembut dan rendah hati.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment