Mat 26:41 Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."
Memasak nasi memang gampang-gampang susah. Adakalanya niat hati memasak nasi yang enak, malah bubur yang didapat. Kondisi nasi yang sudah jadi bubur tidak dapat lagi dikembalikan menjadi nasi yang baik. Nasi sudah jadi bubur, sering dipakai sebagai kiasan di dalam kehidupan yang terlanjur melangkah ke jalan yang salah. Ketika melangkah ke jalan yang salah, ketika melakukan hal yang merupakan pelanggaran dan mempunyai dampak bagi kehidupan, maka kita tidak dapat mengembalikan kondisi itu kepada keadaan semula. Inilah yang disebut nasi sudah jadi bubur.
Raja Daud pernah melakukan kesalahan yang dampaknya berkelanjutan dan turun temurun serta tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Ketika Daud tertarik kepada Batsyeba, istri Uria, dia melakukan hal yang telah merusak kehidupan orang lain dan juga kehidupan dirinya sendiri yang tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Akibat nafsu duniawi yang tidak terkendalikan, dia melakukan perzinahan dan bersetubuh dengan istri orang lain (2 Samuel 11:4) yang berbuntut panjang dengan pembunuhan Uria (2 Samuel 11:17) dan pedang tidak menyingkir dari garis keturunannya sampai selamanya. (2 Samuel 12:10). Segalanya telah dilakukan oleh Daud dan dia tidak dapat mengembalikan kondisi Besyeba, keadaan Uria dan keadaan dirinya sendiri kepada keadaan yang semula ketika belum melakukan perzinahan. Nasi sudah jadi bubur dan dia harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan.
Ada begitu banyak orang yang melakukan kesalahan seperti yang dilakukan Daud. Sebagai manusia yang hidup masih diliputi keinginan daging, sering keinginan daging yang terpenuhi daripada keinginan roh karena memang daging lebih lemah daripada roh. (Matius 26:41). Hati kita berkata agar mengikuti perkataan firman yang mengatakan jangan berzinah, tapi kita sering kali terjebak kepada keinginan untuk memuaskan hasrat daging dan melakukan perzinahan dengan orang lain yang berdampak kepada rusaknya hubungan rumah tangga, hamil di luar nikah, lahirnya anak di luar pernikahan yang sah dan lain sebagainya. Hati kita berbicara untuk tidak berdusta kepada orang lain, tetapi karena untuk menyelamatkan muka agar jangan malu, kita melakukan dusta. Hati kita mengatakan agar jangan membunuh, tetapi sering kali kita menyakiti hati sesama dengan menebar fitnah yang lebih kejam daripada pembunuhan dan lain sebagainya. Ketika kita telah melakukan pelanggaran-pelanggaran karena telah mengikuti keinginan daging, maka akan timbul dampak yang merupakan kelanjutannya. Hal ini membuat situasi menjadi lain dan tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Mungkin setelah melakukannya, kita segera menyadari kesalahan tersebut dan segera bertobat serta minta ampun kepada Tuhan. Tuhan akan segera mengampuni, pemulihan akan terjadi, namun dampak dari perbuatan kita masih harus dipertanggunjawabkan. Akibat melakukan perzinahan akan menghasilkan anak yang harus dibesarkan. Akibat berdusta, orang tidak mempercayai kita lagi. Akibat melakukan fitnah disana-sini, banyak orang yang hancur yang tidak dapat dikembalikan kepada keadaan semula. Nasi sudah jadi bubur. Oleh karena itu, SEBELUM NASI JADI BUBUR, mari kita diajak untuk selalu waspada dan berjaga-jaga, tetap menjaga hubungan dengan Tuhan dengan berdoa agar jangan jatuh ke dalam percobaan dengan melakukan perbuatan yang tidak berkenan kepada Tuhan karena daging kita masih lemah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (06042010)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment