Wednesday, April 21, 2010

TIDAK ADA ALASAN UNTUK BERCERAI

Ada banyak pasangan suami istri saat ini mengalami perceraian. Perkawinan seakan-akan dianggap sebagai lembaga yang main-main, kawin, bercerai dan kawin lagi adalah hal biasa, tidak ada lagi komitmen dalam perkawinan dan tidak menganggap perkawinan sebagai lembaga yang disyahkan oleh Tuhan. Ketika ditanya alasan perceraian pada umumnya adalah dikarenakan adanya ketidakcocokan. Suatu alasan yang dibuat-buat.


Untuk memahami suatu hubungan suami istri, kita harus memahami awal mula penciptaan manusia. Di dalam Kejadian1:27 firman Tuhan mengatakan : “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Dari cerita penciptaan manusia ini, Tuhan tidak pernah menciptakan sepasang manusia yang sama jenisnya, namun Tuhan menciptakan manusia yang berlainan jenis dan sifat yaitu laki-laki dan perempuan. Yang satu memiliki sifat yang keras dan kelihatan tangguh yaitu lelaki dan yang lain memiliki sifat lemah lembut dan merupakan penolong bagi lelaki yaitu perempuan.


Saudara, dari awal penciptaan manusia ini, sudah jelas bagi kita bahwa Tuhan menciptakan manusia yang berlainan jenis dan tidak sama sifatnya. Manusia yang tidak sama ini kemudian akan dipertemukan dalam suatu pernikahan yang diberkati oleh Tuhan (Kejadian 1:28). Laki-laki akan kawin dengan lawan jenisnya yaitu perempuan dan diperintahkan agar beranak cucu. Tuhan tidak pernah mempertemukan dua manusia yang sama jenisnya, laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, dan hal ini jelas bagi kita bahwa Tuhan menentang homoseks dan lesbian. Lebih dari itu, karena Tuhan mempertemukan dua orang yang berlawanan jenis, maka jelas sifat dan tingkah lakunya tidak akan pernah sama. Sifat suami tidak akan pernah sama dengan sifat istri dan pasti akan saling bertolak belakang. Sampai dunia kiamat, sifat suami dan sifat istri tidak akan pernah menjadi sama dan tidak akan pernah ada kecocokan. Namun yang dibutuhkan disini adalah suatu sikap kerendahan hati dari masing-masing pihak untuk dapat saling menerima di dalam kasih Kristus yang adalah Kepala rumah tangga, suami mengasihi istri seperti diri sendiri dan istri menghormati suaminya. (Efesus 5:33). Jadi dalam hal ini tidak ada alasan bagi orang yang percaya kepada TUhan yang mengatakan bahwa tidak ada lagi kecocokan dalam rumah tangga, kalau mereka saling mengasihi dalam Tuhan. Walau bagaimanapun kondisi suami, apakah pemarah, peminum atau bertingkah laku yang tidak layak, istri harus menghormati suami. Sebaliknya, seorang istri dalam kondisi apapun apakah cerewet, pemarah, gemuk, kurus dan lain sebagainya, suami harus mengasihi istri seperti dirinya sendiri. Tidak ada alasan bagi orang percaya untuk bercerai dengan pasangannya. Oleh karena itu, mari kita sebagai anak TUhan dapat memahami hal ini, agar perkawinan dan rumah tangga kita dapat bertahan sampai maut memisahkan kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin (201009).

No comments:

Post a Comment