Ketika orang baru pertama kali pacaran, rasanya apapun akan dilakukan untuk menunjukkan bahwa dirinya sangat mencintai sang pujaan hati. Rasanya ingin setiap saat datang ke tempat sang Pacar, rasanya ingin setiap saat berada di sisinya. Hati bergetar, pikiran melayang, konsentrasi untuk belajar menjadi berkurang, konsentrasi untuk bekerja menjadi berkurang. Hujan tidak menjadi halangan untuk mendatangi sang pacar, sakit penyakit tidak menjadi penghalang untuk selalu mendampingi sang pacar. Wah, begitu menggetarkan, begitu romantisnya. Namun setelah menikah, apa yang dirasakan tidaklah semanis yang dibayangkan ketika pacaran, harus berbagi rasa, harus berbagi penghasilan, harus berbagi waktu, harus berbagi tenaga, dan harus berbagi segalanya. Rasanya beban hidup semakin meningkat. Penghasilan yang tadinya dirasa cukup ternyata tidak lagi mencukupi. Istri tidak lagi tunduk dan menghormati suami, suami tidak lagi mengasihi istri dan lain sebagainya. Pertengkaran kecil sudah dijadikan alasan untuk dibesar-besarkan. Hubungan menjadi retak karena tidak lagi berdasarkan kasih yang mula-mula, dan lebih jauh lagi bisa menyebabkan perceraian yang berdampak kepada hal yang memalukan umat-umat Tuhan.
Rasul Paulus juga mengingatkan Jemaat di Efesus mengenai hubungan antara Jemaat dan Kristus adalah seperti hubungan pasangan suami dan istri (Efesus 5:20-33). Pada saat baru mengenal Kristus, pada saat pertama kali lahir baru, rasanya ingin melakukan semuanya. Selalu ingin bersaksi, selalu ingin melayani, selalu ingin berdoa, selalu ingin memuji Tuhan, selalu ingin memperbincangkan firman Tuhan dan sejumlah keinginan lainnya. Rasanya selalu ingin dekat dengan Tuhan. Namun seiring berjalannya waktu, ternyata hidup bersama Tuhan tidak seperti yang dibayangkan, rasanya begitu banyak rintangannya, rasanya begitu banyak masalahnya, rasanya begitu banyak kesusahannya daripada enaknya. Hal ini berdampak kepada kehidupan kita selanjutnya, tidak lagi tunduk kepada kebenaran firman Tuhan, tidak lagi menghargai Yesus Kristus yang adalah Kepala Jemaat, menjadi malas berdoa, menjadi malas bersaksi, menjadi malas ke gereja, menjadi malas melayani Tuhan, dan lain sebagainya. Hujan gerimis sudah menjadi alasan untuk tidak masuk gereja, filek sedikit sudah jadi alasan untuk tidak melayani, dan alasan-alasan lain selalu dicari-cari untuk tidak tunduk kepada Yesus Kristus.
Saudara, sebagai anak-anak Tuhan, kita dituntut untuk selalu memiliki kasih yang mula-mula. Kasih yang selalu menggetarkan hati, kasih yang selalu ingin dekat dengan Tuhan. Kita yang adalah jemaat Tuhan diibaratkan sebagai seorang istri yang harus selalu tunduk dan hormat kepada Kristus yang adalah Kepala Jemaat. Kristus sangat mengasihi kita, sangat menyayangi kita dan telah mengorbankan hidup-Nya demi kehidupan kita, akankah kita melupakan itu semua? Tunduk berarti kita harus rela mengorbankan segalanya dari kehidupan kita baik mengorbankan waktu, tenaga, uang, serta perasaan-perasaan yang mungkin akan mengacaukan pikiran, yang akan menjauhkan kita dari Kasih Allah. Hormat berarti mengasihi dan menghargai pengorbanan Yesus Kristus di Kayu Salib. Hormat tidak sebatas pengertian pasif, tetapi memberikan cinta dan penghargaan tertinggi kita kepada karya keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus. Oleh sebab itu, mari Saudara-saudara semua yang membaca artikel ini, agar kembali kepada kasih mula-mula. Hargai pengorbanan Yesus Kristus dan tunduklah kepada kebenaran Firman-Nya, maka kehidupan kita akan diberkati, kehidupan kita tidak akan dipermalukan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment