Marilah kita bayangkan tubuh-Nya yg disakiti dan kedua pergelangan tangan-Nya yg diikatkan pd sebuah pilar di istana Pilatus, kemudian Ia dicambuki dengan tali kulit yg pada ujung2nya diikatkan bulatan2 timah atau potongan2 tulang yg tajam. Sementara mereka memukul-mukulkan benda itu pada tubuh-Nya, butiran2 darah mengalir. Pukulan yg berulang-ulang menyebabkan bilur2 itu berubah menjadi luka. selanhjutnya, mahkota duri ditancapkan di kepala-Nya dan darah berbaur dengan rambut-Nya yg kusut. Ia berusaha memanggul salib itu, ttp ketika Ia terhuyung-huyung, Simon dari Kirene dipaksa untuk menolong Dia. Di Kalvari, pakaian-Nya dilucuti dan Ia "mengalami rasa sakit sedemikian rupa." kemudian Ia dinaikkan ke kayu salib itu sementara para pelaksana penyaliban menancapkan paku2 berbentuk persegi pd telapak tangan-Nya. dengan terlukanya pusat2 saraf besar, Ia mengalami, "rasa sakit yg paling tak terperikan yg dapat dialami seorang manusia....setiap kali tubuh-Nya bergerak, Ia mengalami rasa sakit yg mengerikan itu."
sekalipun sedang sekarat, Yesus tetap seorang raja. Namun, Ia mengubah pandangan kita mengenai keagungan sebesar tiga ratus enam puluh derajat. Bacalah tulisan Brooke Fosss Wescott di bawah ini:
"Kedaulatan Kristus dari salib merupakan sebuah kedaulatan baru. Untuk selama-lamanya, sa;lib menghancurkan formula yg mengatakan bahwa kekuatan adalah benar. Salib telah mempermalukan mereka yg memiliki keyakinan palsu bahwa dirinya adalah pahlawan. Salib telah melingkupi persembahan korban yg sempurna dengan harkat yg tidak dapat punah. Bagi hati yg murni, adalah jelas bahwa hak prerogatif berperan untuk lingkungan yg lebih luas. Raja yg Ilahi memerintah selamanya melalui kematian."


No comments:
Post a Comment