Askese adalah suatu istilah yang mempunyai makna bahwa seseorang mengasingkan diri dari dunia luar dan melakukan penyiksaan diri untuk dapat menjadi seorang yang suci dengan tujuan untuk memperoleh keselamatan. Pada jaman gereja mula-mula, ajaran ini masuk ke dalam gereja dan sampai sekarang masih ada orang yang melakukannya. Ada begitu banyak orang melakukan penyiksaan diri sebagai bentuk pengertian mereka akan penyangkalan diri yang dikatakan Tuhan Yesus karena menganggap bahwa tubuh ini jahat dan harus disucikan dengan cara demikian.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa untuk dapat mengikut Dia, orang tersebut harus dapat menyangkal dirinya (Matius 16:24). Perkataan Tuhan Yesus ini sering disalahartikan dengan menganggap bahwa untuk dapat mengikut Yesus harus mengasingkan diri dari dunia luar, melakukan penyiksaan diri, menyakiti diri sendiri dan lain sebagainya. Ketika menghadapi Paskah, ada begitu banyak orang meniru penderitaan yang dialami oleh Yesus, ada yang disalib dan dipaku kaki dan tangannya, ada yang menyiksa diri, dan lain sebagainya. Menganggap hal demikian akan mempermuliakan Tuhan. Suatu tradisi yang telah turun temurun dan diikuti dari generasi ke generasi.
Saudara, pengertian yang benar mengenai penyangkalan diri yang dimaksud oleh Tuhan Yesus pada saat itu bukanlah dengan cara demikian yaitu dengan mengasingkan diri hiruk pikuknya dunia ini dan menyiksa diri sendiri. Kalau semua pengikut Yesus mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia ini, maka orang percaya tidak akan dapat menjadi berkat bagi orang lain dan nama Tuhan tidak dapat dipermuliakan. Tapi penyangkalan diri dimaksud tidak lebih adalah upaya manusia untuk mengeyampingkan kepentingan dirinya sendiri dan lebih mengutamakan kepentingan Tuhan. Rasa ego, hasrat diri, nafsu duniawi, keserakahan, iri hati dan lain sebagainya harus disingkirkan dari kehidupan kita. Dengan kata lain, kita dituntut untuk memikirkan perkara yang diatas dan bukan yang di bumi (Kolose 3:2). Kita dituntut untuk mematikan segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.(Kolose 3:5). Kalau dahulu sebelum mengenal kebenaran kita suka melakukan hal-hal tersebut, maka setelah mengenal kebenaran, kita tidak lagi mau untuk melakukannya. Yang dahulu adalah suatu kebanggaan untuk dapat melakukan hal tersebut, sekarang menjadi suatu kejijikan untuk melakukannya. Dengan kata lain, mengikut Yesus berarti mengalami hidup baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang. Segala yang ada pada kita tidak lagi dianggap sebagai milik kepunyaan sendiri dalam arti kita menyadari bahwa harta yang dimiliki adalah milik Tuhan. Ketika kita menganggap bahwa kekayaan yang dimiliki adalah harta yang harus dipertahankan, maka kita tidak dapat mengikut Tuhan (Matius 19:21-23). Oleh karena itu, mari kita mengikut Tuhan dengan penyangkalan diri yang benar sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (05042010)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment