Ada seorang teman yang saat ini sedang di rawat di rumah sakit dan sangat kritis. Di dalam kondisi sakit yang sedemikian rupa, teman ini mengatakan bahwa dia tidak kuat untuk menghadapi semuanya, lebih baik segera mengakhiri hidup. Dan dia berusaha mencapai niatnya untuk mengakhiri hidup dengan cara mencabut inpus yang ada di tangannya ketika orang lain tidak ada di sekitarnya, ketika orang lain tidak memperhatikannya. Dia menyerah, dia kalah. Tapi Tuhan masih mengasihi dia dan masih hidup sampai sekarang walau masih berada di rumah sakit. Orang lain menjadi khawatir akan dia, orang lain menjadi cemas akan dia, apabila dia akan melakukan tindakan yang sama. Pertanyaannya bagi kita, apakah kita sebagai anak-anak Tuhan harus bersikap seperti itu ketika masalah datang, ketika sakit penyakit yang tak kunjung sembuh menimpa, ketika jenjang karir dalam pekerjaan tak kunjung meningkat? Apakah kita harus berkata : ”Aku menyerah.” ”Aku tak kuat.” dan lain sebagainya.
Saudara, di dalam sejarah tercatat, bahwa pidato Winston Churchill yang paling berpengaruh adalah ketika dia berpidato di wisuda Universitas Oxford dimana dia hanya mengucapkan tiga kata : 'NEVER GIVE UP' (jangan pernah menyerah). Dengan ucapan yang sangat singkat itu, ternyata dia telah mengubah banyak orang. Dia menyampaikan bahwa kita jangan sampai menyerah. Dan lagi kata orang bijak, kegagalan adalah sukses yang tertunda. Kegagalan atau kekalahan akan menjadi kegagalan apabila seseorang menyerah untuk mencoba gagal. Coba dan gagal, coba lagi dan gagal lagi, coba lagi dan gagal lagi sampai keberhasilan dapat dicapai. Dengan kata lain, keberhasilan tidak akan dapat dicapai kalau kita berhenti untuk gagal.
Membaca Surat Paulus kepada jemaat Korintus dalam rangka meneguhkan jemaat di sana, Paulus mengungkapkan keadaan hatinya yang tidak gampang putus asa dalam menghadapi segala sesuatu. Di dalam II Korintus 4:8-10 disebutkan : ”Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” Paulus sadar betul bahwa dia harus membawa kematian Yesus di dalam dirinya, sehingga dalam kondisi apapun, apakah dalam kondisi susah atau senang, dalam kondisi ditindas atau terjepit, dalam kondisi sehat atau sakit, dia tetap dalam pengharapan kepada Yesus Kristus dan tidak pernah putus asa.
Dan di dalam Roma 5:3-6, Paulus juga menerangkan bahwa : “Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.” Saudara, betapa luarbiasanya Paulus dalam menerapkan prinsip-prinsip hidup yang telah diajarkan Tuhan Yesus kepadanya. Dia benar-benar hidup berlandaskan Yesus Kristus. Seluruh hidupnya diserahkan kepada Yesus Kristus, sehingga tak heran dia tak gampang putu asa, dia tak gampang menyerah. Oleh karena itu, di dalam segala keadaan, mari kita selalu katakan : ’KUTAK AKAN MENYERAH PADA APAPUN JUGA SEBELUM KUCOBA SEMUA YANG KUBISA, TETAPI KUBERSERAH KEPADA KEHENDAK-NYA, HATIKU PERCAYA TUHAN PUNYA RENCANA. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment