Wednesday, April 28, 2010

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

Pentakosta merupakan kekuatan besar dan indah dalam kehidupan orang percaya di tengah jaman yang semakin gelap. Dalam perjalanan sejarah, dunia makin menjadi postmodern yang relativistik, skeptik dan agnostik karena pada hakekatnya manusia telah mencapai titik dimana ia mulai kecewa serta putus asa khususnya ketika hendak mengerti kebenaran, melakukan pertimbangan dengan tepat, mengambil keputusan dan hidup secara benar. Ketika ia meyakini sesuatu itu benar, suatu saat terbukti anggapannya salah.

Karl Popper, filsuf science, pernah menekankan bahwa dunia terus berteori dan tiap teori hanya menunggu kejatuhannya. Tapi manusia tak boleh berhenti berteori karena sangat diperlukan. Akhirnya muncullah falsification (false = salah) dimana tiap orang hanya melempar teori termasuk science. Contohnya, dulu selama ribuan tahun, teori geosentris (oleh Ptolemeus) dipercaya benar. Suatu saat Galileo menumbangkannya dengan teori heliosentris yang kemudian didukung oleh Copernicus. Padahal juga belum tentu benar. Contoh lain, dulu orang juga percaya pada teori Newton. Sekarang, teori tersebut dianggap kuno dan tak akurat. Sebagai gantinya, muncullah teori relativitas oleh Einstein. Maka terjadilah pergeseran paradigma. Ilustrasinya, teori falsifikasi diibaratkan seperti segenggam jagung dilempar ke tengah sekumpulan ayam. O­rang yang melemparkannya tinggal menunggu jagung tersebut habis. Setelah itu, dilemparkan lagi segenggam jagung dan seterusnya. Selain Karl Popper, ada filsuf science lain yang juga sangat terkenal yaitu Thomas Kuhn. Ia berpendapat bahwa dunia science menjadi sekedar permainan pergeseran paradigma. Sebenarnya dengan segala macam teori, dunia hanya ingin mencapai kebenaran asasi.

Di dunia, manusia masuk ke dalam ketegangan dimana sifat skeptisisme dan pragmatisme mulai meracuni hingga tak seorangpun berhak menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa pegangan hidupnya benar. Abad 21 sungguh mendapat warisan postmodern system dari abad 20 yang mirip gerakan sophies di jaman filsafat Yunani kuno. Dalam gerakan tersebut juga tiap hari ada orang berteori baru hingga dibentuk teater khusus yaitu aeropagus. Paulus pernah mengajar Kekristenan di sana. Bahkan 200 tahun sebelum Tuhan lahir ke dunia, skeptisisme, agnostik dan relativisme telah merajalela. Harus disadari bahwa masalah tersebut memang tak dapat diselesaikan selamanya.

Sesungguhnya dunia mendapat conviction (keyakinan) akan kebenaran hanya dari Kristus (Yoh 18:37). Ironisnya, ketika berhadapan denganNya, Pilatus dengan sinis langsung jawab, “Apakah kebenaran itu?” (Yoh 18:38a) Sebenarnya ia tak bermaksud bertanya melainkan justru tak mau tahu tentang kebenaran. Ayat 38b mencatat bahwa setelah itu ia langsung keluar.

Semakin mau belajar, dunia makin jatuh ke dalam skeptisisme karena ketika mencari kebenaran, mereka malah melupakan, menolak dan tak berusaha menemukan sumbernya terlebih dulu yaitu Allah. Padahal semakin pandai, seharusnya makin sadar sedang bermain dengan kebenaran palsu. Inilah gejala ironik yang fatal dalam dunia akademis modern. Itu pula titik pertama mereka membodohi diri sendiri karena mengabaikan Ams 1:7.

Secara signifikan, orang yang bukan anak Tuhan sejati takkan memiliki Roh Kudus dalam dirinya. Tuhan pernah berdoa, “Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu.” (Yoh 17:9)

Pengajaran Kristus sesungguhnya terdiri dari 3 level berdasarkan cara Ia mengajarkannya yang berbeda dengan kebanyakan guru: (1)general teaching (pengajaran umum). Seringkali Ia menggunakan cerita dan perumpamaan tanpa penjelasan lebih jauh apalagi doktrin penting karena didengar oleh banyak orang. Pengajaran tersebut bersifat sangat dasar. (2)extensial teaching. Pengajaran tersebut diberikan pada kelompok kecil terdiri dari mereka yang berkomitmen kepadaNya. Mereka biasanya bertanya dan minta penjelasan yang tak diperoleh dalam general teaching. Contohnya tercatat di Mat 13. Dan mereka mampu mengerti karena telah mendapat anugerah (Mat 13:10-13). Namun Ia tetap tak membuka beberapa bagian. (3)exclusive teaching. Pengajaran tersebut hanya bagi murid sejati. Jikalau didengar oleh murid palsu, ia takkan mampu mengerti. Sebaliknya malah memanipulasi dan menyesatkannya.

Banyak orang Kristen berpikir bahwa Roh Kudus akan membuat hal spektakuler. Padahal itu bukan misiNya. Kalau sekedar mukjizat dsb, dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru sebelum Roh Kudus turun, semua dapat dikerjakan. Banyak juga yang menyalahgunakan dengan menyatakan bahwa Ia menyebabkan kesurupan. Pengertian tentang Ia tinggal dalam diri anak Tuhan memang sulit dimengerti sebelum terjadi pertobatan. Cara kerjaNya tentu beda dengan Setan yang suka menguasai dan merasuk orang hingga tak sadar sedangkan Ia memimpin. Beberapa Gereja rusak karena mengatasnamakan pekerjaan Setan sebagai karyaNya. Contoh, ketawa sambil berguling-guling tiada henti bahkan berhari-hari.

Pekerjaan Roh Kudus membuat orang Kristen berada dalam Tuhan. Inilah the main point. Yoh 14:25-26 menunjukkan bahwa pengertian tentang Dia harus dikoneksikan dengan pusatNya yaitu Kristus. Selain itu juga dijelaskan bahwa Ia memiliki 2 tugas di dunia, “Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah (Kristus) Kukatakan kepadamu.” Ia takkan pernah mengajar dari DiriNya karena Kristuslah Firman yang berinkarnasi (Yoh 16:13-15). Maka jikalau ada yang mengatakan bahwa Ia memberi ajaran baru yang bertentangan dengan Kristus, itu pasti pekerjaan Setan. Dengan demikian, signifikansi hari Pentakosta antara lain:

Pertama, peranan Roh Kudus dalam pengajaran iman, kebenaran dan prinsip Firman. Di dunia, Roh Kudus berposisi sebagai pengganti Kristus setelah kenaikanNya. Maka Ia menjadi sumber kebenaran dalam diri orang percaya. Inilah anugerah pertama terbesar dan terutama. Betapa bahagia anak Tuhan yang dididik dengan ketajaman pengertian karena sumber kebenaran telah jadi bagian hidupnya. Berbahagialah orang yang takluk dan tunduk kepada Allah. Realita tersebut tak dapat dimengerti dengan logika apalagi perasaan. Tanpa semua itu, orang berani menaikkan diri melampaui segalanya, melakukan dan mengatakan apapun.

Roh Kudus takkan berbagi dengan kegelapan. Prinsip kebenaran timbul dalam hidup orang Kristen karena Ia mulai mencerahkan pikirannya. Untuk itu, takkan ada gejala aneh. Memang Alkitab mencatat 4 tanda turunnya Roh Kudus yaitu di Yerusalem, Yudea, Samaria dan ujung bumi. Setelah itu, takkan pernah terjadi lagi. Di Yerusalem, Ia turun dalam rupa lidah api ke atas kepala para rasul agar semua orang mengetahui penggenapan janjiNya. Lalu mereka langsung berkhotbah dalam bahasa Yahudi tapi terdengar dalam 14 bahasa (Kis 2:1-13). Akibatnya, 3000 orang bertobat. Namun intinya bukan pada lidah api melainkan adanya perubahan internal.

Ketika belum bertobat, Paulus menganggap diri paling pandai dan benar. IQnya memang sangat tinggi dan tahu segala pengetahuan seperti Taurat, filsafat Yunani dan Yahudi. Tapi setelah pertobatan, ia mengaku bodoh karena tak mengerti bahwa kebenaran sejati justru berada dalam Kristus sehingga tega membunuh para murid.

Kedua, pekerjaan Roh Kudus memimpin dan mencerahkan pengertian interpretasi orang Kristen tentang kebenaran. Ketika Tuhan mengajar, tak semuanya dapat segera dimengerti karena tak mudah menangkap terobosan pemikiran melampaui logika. Contoh, Yoh 14:1-14. Namun suatu hari Roh Kudus pasti membuat mereka mengerti maksud Tuhan. Orang Kristen cenderung lebih suka iman yang sesuai logika. Padahal bagian tertinggi Alkitab justru sangat tajam dan teliti hingga melampaui pemikiran. Maka diperlukan interpretasi realita yang tepat. Dan itu di luar kuasa manusia. Ironisnya, mereka seringkali take it for granted.

Ketiga, Roh Kudus mengingatkan orang Kristen akan segala perkataan Kristus atau Firman yang sangat solid. Hanya mereka yang lahir baru dan mendapat pembasuhan darahNya boleh menikmati anugerah tersebut. Ia mencelikkan dan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (Yoh 16:7-11). Ia takkan membiarkan umat Allah bermain dengan dosa. TanpaNya, manusia dengan tenang berbuat dosa mengikuti bisikan Setan. Ketika diingatkan, ia malah marah dan melawan.

Selain mengingatkan, Ia juga memberitahukan kebenaran yang seharusnya dijalankan. Ia memimpin anak Tuhan masuk ke dalam righteousness (kebenaran berproses) dan bukan truth (kebenaran azasi). Hanya Kristuslah the Truth sedangkan manusia masih harus diproses dalam kebenaran.

Kadangkala orang Kristen enggan membaca Alkitab dengan sungguh. Padahal Roh menyatakan Diri melalui Firman. Semua yang pernah dikatakan sebelumnya pasti digenapi. Alkitab mencatat mulai dari dunia dicipta hingga kesudahannya, atau dari alpha menuju omega point. Dengan kata lain, Firman menyatakan totality sejarah manusia.

Orang Kristen seharusnya membaca Alkitab mulai dari bagian awal hingga terakhir berulang kali namun tak perlu dihafalkan. Dengan demikian, ia dapat mengalami Roh Kudus yang senantiasa mengingatkan dan menguatkannya. Di tengah kondisi sulit, tiba-tiba Firman muncul kembali dalam ingatan meskipun ayatnya tak hafal. Ketika mendengar ajaran sesat, Firman langsung menyadarkannya. Sedangkan ketika tak ada masalah, Firman yang pernah dibaca sepertinya mengendap dalam pikiran.

Roh Kudus juga mengingatkan adanya keadilan mutlak dari Tuhan. Penghakiman yang tercatat di Yoh 16:11 sangat positif. Orang Kristen seharusnya menyadari bahwa penghakiman pasti datang. Jadi, ketika difitnah atau diperlakukan secara tak adil, ia sebaiknya tenang dan tak membantah karena Roh Kudus mengetahui perbuatan dan pikirannya. Karena orang lain tak tahu motivasinya hingga timbul rasa tak percaya maka penjelasan tak berguna sama sekali. Makin bereaksi menunjukkan Roh Kudus tak ada dalam dirinya hingga ia merasa ketakutan. Padahal ketika anak Tuhan dipermainkan maka itu menjadi urusan Allah.

Selain itu, penghakiman juga dapat berkonotasi negatif. Ketika berdosa, orang Kristen pasti menerima hukuman karena Roh penghakiman tinggal dalam dirinya. Ia berusaha menghalanginya berbuat dosa. Orang lain dapat dikelabui tapi Roh Kudus tidak.

Jadi, penghakiman seharusnya membuat orang Kristen lebih tenang dalam pelayanan. Roh Kudus merupakan kekuatan untuk melangkah dan tetap hidup dalam terang di tengah dunia yang makin gelap. Di dunia yang skeptik, ia telah memiliki kebenaran pasti. Ketika dunia bingung dengan segala keputusan hidup, ia dengan tenang dapat minta pimpinanNya yang tak mungkin salah. Amin.?[b]

No comments:

Post a Comment