Sunday, April 11, 2010

JERITAN DARI SALIB II



Inilah jawaban bagi mereka yg bertanya, "Dimanakah Tuhan ketika..."" Marilah kita sama2 pelajari apa yg dapat kita petik dari sebuah pengalaman seorang wanita muda, yg dilecehkan oleh ayahnya dan yg pada usia 14 th dilemparkan ke jalan-jalan dalam arti yg harfiah. Sekarang bahwa wanita ibi sudah percaya kepada Kristus sebagi Juruselamatnya, ia bertanya, " Dimanakah Tuhan ketika saya kesepian dan terluka? Di manakh Ia ketika ayah saya yg pecandu minuman keras membangunkan seisi rumah pukul 3 subuh dan memukuli kami yg masih di tempat tidur dengan kejam?" Selanjutnya, ia berujar, "saya tahu Tuhan adalah Bapa saya, tetapi waktu itu seakan-akan Ia tidak hadir di saat-saat saya paling membutuhkan Dia."

Dengan cara yg lembut saya mengajak dia untuk mengikuti perjalanan menuju hati Yesus. Dalam penderitaan Yesus di kayu salib, kita tidak hanya menemukan pengampunan, melainkan juga penyembuhan atas luka2 kita yg terdalam. Sebagaiman salib merupakan sarana penukar bagi dosa kita--dosa kita dibebankan kepada Kristus dan kebajikan-Nya membuat kita dibenarkan--demikian juga beban emosional kita dipikulkan ke atas pundak-Nya.
"Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yg ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yg dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yg mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur2nya kita menjadi sembuh."(Yesaya 53:4-5).

IA MEMIKUL KETIDAKSEMPURNAAN DAN KESENGSARAAN KITA.
Ini tidak berati bahwa kita dapat lagi hidup dengan lebih tenang secara emosional daripada kita hidup bebas dari dosa. Namun, ini memang berarti bahwa kita boleh berbesar hati dengan keyakinan yg pasti bahwa ketidakadilan2 yg paling besar yg dialami oleh umat manusia sedang ditangani. Salib adalah jangkauan Bapa yg paling jauh; salib ada di sini agar kita makin dapat menyelami Kristus. Kita tidak dapat, tentu saja, meniru pengalaman-Nya, tetapi kita dapat menghayati luka-luka-Nya. seperti yg akan kita pelajari, Kristus ditinggalkan sehingga kita tidak ditinggalkan; Ia mengalami neraka sehingga kita bisa mengalami Sorga.
Apakah Ia mati untuk kesembuhan jasmani kita? ya, Ia menebus kita secara keseluruhan---tubuh, jiwa, dan roh!! meskipun demikian, akan menjadi sebuah kesalahan untuk beranggapan bahwa ini berarti bahwa kita dapat disembuhkan setiap saat dan bahwa kita memiliki hak untuk "mengklaim kesembuhan kita." Ayat2 Alkitab menjelaskan bahwa kita tidak melihat penyempurnaan dari penebusan kita di dalam hidup sekarang. Memang benar bahwa Ia sudah mengalahkan maut, tetapi kita tetap harus mengalami kematian, shg Ia membeli tubuh baru kita yg menantikan kebangkitan. Mereka yg menginginkan segala sesuatu di muka bumi sedang menyesatkan banyak orang yg menjadi mangsa dari filosofi " sebut apa yg kita inginkan dan klaimlah itu." Di dalam kehidupan sekarang kita menerima pengampunan dosa dan roh Kudus sebagai tanda jadi dari kemuliaan di masa depan.namun, Sorga belum hadir di sini; kesembuhan jasmani, kendati sdh dibayar harganya, masih menunggu saatnya.

No comments:

Post a Comment