Sunday, April 11, 2010

JERITAN DARI SALIB III

....kendati sudah diyar harganya, masih menunggu saatnya.

Salib mengingatkan kita bahwa sikap kita dalam menghukum diri sendiri harus diakhiri. Kita tidak perlu lagi mencatat angkanya. Kita tidak boleh mempercayai bahwa Tuhan memikirkan kita seperti kita memikirkan diri kita sendiri. Menerima pengampunan Tuhan dan menyodorkan pengampunan kepada orang lain merupakan hak istimewa dan tanggung jawab kita. Richard Foster menulis; "dewasa ini, hati Tuhan adalah sebuah luka kasih yg terbuka. Ia merasa tdk nyaman dengan jarak yg memisahkan kita dengan diri-Nya, termasuk keasyikan kita dengan diri kita sendiri. Ia meratap bahwa kita tidak mendekat kepada Dia. Ia berduka bahwa kita tlh melupakan Dia. Ia menangisis obsesi kita untuk memiliki lebih besar dan lebih banyak. Ia merindukan kehadiran kita." YESUS DIIKAT DEMI SAYA, DIKOYAK-KOYAK DEMI SAYA, DITOLAK DEMI SAYA, DAN DIBANGKITKAN UNTUK HIDUP BARU DEMI SAYA JUGA!!

Dietrich Bonhoeffer benar ktk ia mengatakan bhw perasaan bersalah menjadi sebuah pujaan yg sejumlahm orang tdk mau menolaknya. Kita hrs berani untuk menerima apa yg Bapa tawarkan dan tdk menolak Dia. Ada orang2 yg beranggapan bhw mereka sdg menyenangkan hati Bapa apabila mereka menolak pengampunan-Nya. Mereka berdalih bhw Ia begitu marah kpd mereka shgga Ia tdk ingin melihat mereka bagaimanapun juga. Orang2 serupa ini menghina Tuhan, karena mereka hidup seakan-akan kematian Kristus tdk memadai untuk menghapus dosa2 mereka. Pastikan bhw Ia sanggup menyelamatkan semua orang yg memilih untuk percaya. Luka-luka-Nya merupakan bukti dari kasih-Nya.

Di salib kita diperkenalkan kpd misteri dr kehendak Tuhan untuk memelihara kita. Di salib kita mengakhiri upaya menyenangkan diri sendiri dan kita menolak untuk selamanya pendirian bhw kita layak untuk bekerja sama dengan Tuhan dlm hal penyelamatan-Nya.

Di Afrika, sebuah kebakaran melanda sebuah gubuk yg dengan cepat melalapnya habis menewaskan semua yg ada dlm keluarga itu kecuali seorang anak. Seorang asing terlihat berlari-lari menuju rumah yg sdg terbakar tersebut. Ia menggendong anak laki2 itu dr kobaran api, membawanya ke tempat yg aman, dan kemudian ia sendiri menghilang ditelan kegelapan. Keesokan harinya semua yg menjadi warga suku terkait berhimpun untuk memutuskan apa yg hrs dilakukan dg anak kecil td. Agaknya oleh krn kepercayaan mereka pd takhayul, mereka beranggapan bhw anak itu pst seorang anak istimewa krn ia ttp hidup sekalipun sdh dijilat api. aAda seorang pria bijak yg berkeras akan mengadopsi anak itu, seorang pria lain yg kaya menganggap bhw dirinya lbh memenuhi syarat untuk menjd ayah angkatnya. Sementara pembicaraan berlanjut, seorang pria muda yg tdk dikenal masuk ke dlm pembicaraan itu dan mendesak bhw sebelum kejadiaan itu ia sdh menyatakan bhw anak laki2 itu akan menjadi anaknya. Kepada kedua pria td, ia memperlihatkan kedua telapak tangannya, yg masih meninggalkan bekas luka bakar krn kebakaran malam sebelumnya. Ia adalah penyelamat anak itu, ia bersikukuh bhw anak itu menjadi miliknya scr sah. DENGAN CARA INI PULA JURUSELAMAT KITA, DENGAN BILUR-BILURNYA, MENYELAMATKAN KITA.

Tuhan yang terluka parah! Yesus tdk membisu ketika di gantung pd kayu salib. Saat kita mengarahkan pandangan kita pd JERITAN-NYA, kita berdiri di atas tanah kudus. Jerutan-Nya mengekspresikan kerinduan hati-Nya yg terdalam. Di sini kita menyaksikan episode terakhir yg menyiratkan kerelaan-Nya untuk menderita dengan mengabaikan diri-Nya sendiri. Marilah, kita sama-sama mengikuti sebuah perjalanan yg seharusnya membuat kita menjerit, "LIHAT, BETAPA IA MENGASIHI KITA!!"



Sumber: buku, JERITAN DARI SALIB(SEBUAH PERJALANAN MENUJU HATI YESUS), by ERWIN W. LUTZER.


TUHAN MEMBERKATI KITA SEMUA....AMIN^^

No comments:

Post a Comment