Minggu ini merupakan minggu palmarum untuk memperingati masa-masa sengsara yang telah dihadapi Tuhan Yesus Kristus. Kita diajak untuk merenung bagaimana penderitaan yang telah dialami dan dijalani oleh Tuhan Yesus Kristus. Begitu banyak cemooh, hujatan, makian, ejekan, pukulan, tamparan, tusukan, sayatan dan lain sebagainya yang dialami Tuhan Yesus. Ada begitu banyak orang Yahudi pada saat itu yang melakukan kekejian kepada Yesus Kristus. Mereka tega untuk berbuat hal yang sangat sadis kepada Yesus Kristus padahal mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat. Orang Yahudi yang meledek dan mengolok-olok Yesus Kristus, sebenarnya hanya sekedar ikut-ikutan dan hanya karena dihasut oleh imam-imam dan tua-tua Yahudi (Matius 27:20). Akibatnya, Yesus terluka dan bahkan sampai mati di kayu salib karena perilaku orang banyak yang suka ikut-ikutan dan mudah terhasut.
Di dalam kehidupan sehari-hari, ada begitu banyak orang yang kegemarannya hanya ikut-ikutan. Ikut-ikutan teman mabuk-mabukan, ikut-ikutan teman balapan liar yang membahayakan keselamatan diri sendiri dan keselamatan orang lain, ikut-ikutan main perempuan, ikut-ikutan berpesta pora, ikut-ikutan merampok, ikut-ikutan demonstrasi dan lain sebagainya. Mudah terhasut dan mudah larut dalam perilaku kehidupan orang banyak yang tidak baik. Dalam melakukan hal yang jelek, orang selalu dengan gampang ikut-ikutan dan mudah dihasut untuk mengerjakannya. Ketika seseorang memfitnah teman atau tetangga yang dikenal, kita dengan mudah terpengaruh dan ikut-ikutan menyebar fitnah itu dengan menyampaikannya juga kepada orang lain. Ketika mendengar selentingan perselingkuhan tetangga, kita dengan mudah ikut-ikutan mendentingkan kisah perselingkuhan tersebut. Ketika mendengar aib seseorang, kita dengan mudah menyebarkan aib tersebut. Ketika pimpinan tidak menyukai salah seorang anak buah yang ada di kantor, kita ikut-ikutan tidak menyukai orang tersebut. Ada begitu banyak hal yang dilakukan karena ikut-ikutan dan tanpa sadar kita telah melakukan kekejian di mata Tuhan. Kita tidak menjaga hati kita, tidak menjaga hati teman, tetangga, sahabat dan sesama kita. Ada begitu banyak hati orang lain terluka karena kelakuan kita yang ikut-ikutan dan mudah terhasut.
Dalam renungan kali ini, kita diajak untuk merenung pada masa palmarum bukan sekedar mengingat penderitaan Yesus saja, tetapi lebih daripada itu agar kita merenung dan mengambil pelajaran dari kisah orang banyak yang memperlakukan Yesus dengan tidak baik, hanya karena ikut-ikutan dan mudah terhasut. Kita tidak ingin agar perilaku ikut-ikutan dan mudah terhasut menjadi trend di dalam kehidupan anak-anak Tuhan. Tuhan tidak ingin generasi kita menjadi generasi yang mudah terhasut, generasi yang mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa penyesatan, rupa-rupa pengajaran dan lain sebagainya. Tuhan menginginkan agar kehidupan kita yang ada adalah kehidupan yang berpegang pada prinsip kebenaran firman Tuhan dan tidak mudah goyah. Ketika ada selintingan, kita tidak dengan mudah ikut-ikutan untuk mendentingkannya kembali kepada orang lain. Ketika ada masalah rumah tangga tetangga, tidak mudah ikut-ikutan menghasut dan menyebarluaskannya. Ketika ada ajakan teman untuk berbuat yang tidak- benar, tidak mudah untuk ikut-ikutan melakukannya. Ketika ada ajakan seseorang untuk demonstrasi, tidak mudah terhasut untuk ikut-ikutan berdemonstrasi, dan lain sebagainya. Ketika pimpinan kita memusuhi atau tidak menyenangi teman sekantor yang merupakan anak buahnya, kita tidak ikut-ikutan memusuhinya. Kita sebagai umat Tuhan harus dapat memposisikan diri sebagai terang yang dapat menerangi hati setiap orang agar dapat menyadari kesalahannya dan bukan untuk menambah permasalahan. Kita sebagai umat Tuhan harus dapat memposisikan diri sebagai garam yang dapat memberikan rasa yang berbeda bagi orang lain dan bukan menjadi larut dalam perilaku mereka karena hasutan. Oleh karena itu, mari kita untuk tidak dengan mudah ikut-ikutan dan mudah terhasut oleh orang lain. Mari kita menjaga mulut, menjaga hati dan pikiran kita sendiri serta menjaga hati sesama kita sehingga tidak ada seorang pun yang terluka akibat perbuatan kita. Tuhan menginginkan kita menjadi berkat dan bukan untuk menyakiti hati sesama. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (30032010)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment