Melayani Tuhan adalah hal yang baik yang dilakukan orang-orang percaya sebagai ungkapan terima kasih kita kepada Tuhan atas anugrah-Nya yang begitu besar bagi kita. Melayani Tuhan dapat dilakukan di gereja, di tempat-tempat ibadah, di kantor dan di tempat-tempat lain. Namun anak-anak Tuhan seringkali hanya focus kepada pelayanan tanpa ingat lagi untuk selalu mencari wajah-Nya Tuhan dengan membaca dan merenungkan firman Tuhan. Karena asyik sebagai worship leader, sebagai penari tamborin, sebagai penerima tamu, sebagai pengedar kantong-kantong kolekte, sebagai penatua, sebagai majelis dan lain sebagainya di gereja, menjadi lupa untuk mencari wajah-Nya Tuhan. Karena asyik menjalankan rencana organisasi gereja dan jadwal pelayanan yang telah dibuat, menjadi lupa untuk membaca firman Tuhan dan mencari wajah Tuhan. Kita menjadi pelayan Tuhan hanya sebatas melayani secara jasmani tanpa ada rasa ingin tahu siapa yang kita layani secara spiritual, secara rohani.
Ada satu cerita di Perjanjian Lama mengenai seorang pelayan Tuhan yang melayani Tuhan semenjak masih anak-anak yaitu Samuel (1 Samuel 2 :18). Dia menjadi pelayanan Tuhan di bawah pengawasan langsung Imam Eli karena nazar dari orang tuanya. (1 Samuel 3:1). Setiap hari dia berada di rumah Tuhan. Namun satu hal yang membuat Samuel tidak bertumbuh dan tidak mengenal Tuhan adalah karena pada masa itu firman Tuhan jarang diberitakan kepadanya, dan penglihatan-penglihatanpun tidak sering. Sebagai akibatnya, ketika Tuhan memanggil Samuel, dia tidak mengenal suara Tuhan. Samuel menjadi tidak peka terhadap panggilan Tuhan karena tidak mengenal suaranya. Ketika Tuhan memanggil Samuel, justru dia menjadi salah dalam menjawab panggilan Tuhan sampai tiga kali, dia mengira yang memanggil adalah Imam Eli. Setelah Imam Eli menyadari dan menyampaikan firman Tuhan kepada Samuel bahwa yang memanggil dia adalah TUhan, baru dia dapat menjawab suara Tuhan : “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (1 Samuel 3:10). Dan setelah itu kita dapat lihat bahwa pada akhirnya Samuel menjadi alat pilihan Tuhan yang dipakai luarbiasa yaitu sebagai nabi.
Saudara, ketika Samuel membiarkan dirinya tidak mengenal Tuhan karena jarang mendengar firman Tuhan, karena tidak mengerti firman Tuhan, dia menjadi tidak peka kepada panggilan TUhan untuk maksud dan rencana Tuhan yang lebih besar kepada dirinya. Seorang pelayan Tuhan yang jarang mendengar firman Tuhan, yang tidak mengerti firman Tuhan, menjadi tidak peka kepada suara Tuhan dan bisa menjadi salah menangkap maksud dan rencana Tuhan bagi dirinya, bagi pelayanannya. Pelayanan yang dilakukan dapat menjadi hampa, apa yang dilakukan menjadi tidak berarti, setiap tugas pelayanan yang diberikan oleh pendeta menjadi berat untuk dilakukan dan mungkin menjadi terpaksa untuk dilakukan karena segan kepada pendeta. Oleh karena itu, mari kita sebagai pelayan Tuhan, ketika membaca firman Tuhan ini segera menyadari bahwa pelayanan yang kita lakukan tidak akan berarti apabila kita tidak mengenal firman Tuhan, apabila kita tidak berusaha mencari wajah-Nya Tuhan setiap saat. Firman Tuhan itu yang akan memberi kita kekuatan di dalam melakukan pelayanan, sehingga pelayanan yang kita lakukan dapat menjadi lebih baik lagi dan Tuhan dapat memakai kita lebih dahsyat lagi. Tuhan Yesus memberkati. Amin
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment